
'Apa yang aku takutkan ternyata benar,' ucap Arin dalam hati.
"Terus Zehan gimana?" tanya Arin yang menahan air matanya, ia sangat kecewa dengan Zehan dan juga Tara karena telah mengkhianatinya.
"Zehan gak mau ngakuin ini anaknya Rin karena dia masih ada kamu," ucap Tara dengan menangis.
"Udah gak usah nangis lagi Ra, aku janji Zehan bakal tanggungjawab kok dan dia bakal lupain aku," ucap Arin lalu pergi meninggalkan Tara tanpa Arin sadari Tara sedari tadi memasang wajah kemenangannya.
"Akhirnya gue bisa dapet lo Han," ucap Tara saat Arin tidak terlihat lagi.
Arin menyusuri koridor sekolah dengan pikiran yang entah kemana ia bingung menyikapi permasalahan yang ia hadapi saat ini.
"Hai Ein," sapa Andis, namun tak ada respon dari Arin dan terus berjalan bahkan tanpa melihat ke Andis, Zehan, Abrar, Riko dan Okha.
"Kenapa lagi tuh si Arin, kayaknya akhir-akhir ini sering banget nyuekin gue deh," ucap Andis.
Saat pulang sekolah, Zehan terus menunggu Arin, namun tidak ada tanda-tanda Arin keluar dari sekolah dan akhirnya Zehan pun menuju ke kelas untuk menjemput Arin.
"Nan, Arin mana?" tanya Zehan yang berada di kelas Arin
"Loh tadi kata Arin dia pulang sama lo Han," ucap Kinan dan Zehan hanya mengangkat alis kanannya.
"Oh oke deh," ucap Zehan lalu pergi meninggalkan Kinan.
Zehan terus mencoba menghubungi Arin, namun tidak ada jawaban dari Arin, ia ingin ke rumah Arin, namun Mama Naura mengatakan jika Papa Rendra kecelakaan dan karena itu Zehan pun menuju rumah sakit.
"Ma, Papa gimana?" tanya Zehan.
"Zehan, Papa gapapa cuma patah tulang aja dan gak terlalu parah," ucap Mama Naura dengan meneteskan air matanya.
"Udah Mama, gak usah nangis untung Papa baik-baik aja," ucap Zehan mencoba untuk menenangkan Mama Naura.
Disisi lain, Arin yang berhasil menghindar dari Zehan pun pulang ke rumahnya dan saat Arin sedang di ruang tamu Ayahnya datang dan Arin pun mengatakan jika ia ingin pindah ke negara B tempat Kakek dan Neneknya tinggal.
"Yah, Arin pengen pindah ke negara B deh," ucap Arin.
"Maksud kamu apa Rin? pindah? kenapa emang?" tanya Ayah Arin.
"Gapapa Yah, Arin pengen aja gitu terus Arin rasa kalau Arin disini Arin gak bakal belajar yang ada malah pacaran terus," ucap Arin.
"Kenapa gak dari dulu aja sih kamu minta pindahnya, tapi kamu bentar lagi kenaikan kelas loh," ucap Ayah Arin.
"Iya Yah, gapapa kok," ucap Arin.
"Yaudah terus kamu minta pindahnya kapan?" tanya Ayah Arin.
"Besok Yah," ucap Arin.
"Apa gak kecepatan itu Rin?" tanya Ayah Arin.
"Gak kok Yah," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu besok kita ke sekolah kamu," ucap Ayah Arin dan diangguki Arin.
Benar saja, pagi harinya Arin dan kedua orangtuanya pergi ke sekolah untuk mengurus kepindahan Arin ke negara B, Bunda Arin yang mendengar awalnya terkejut namun setelah dibujuk Arin akhirnya ia menyetujuinya.
"Ini berkas sudah selesai semoga kamu betah disana ya Rin," Ucap Bu Madi wali kelas Arin.
"Iya Bu, terima kasih," ucap Arin.
Setelah itu, Arin dan kedua orangtuanya pun pergi dari sekolah tersebut dan menuju ke rumah paman Tommy dan Bibi Ika lalu besok lusa Arin akan berangkat ke negara B.
Di dalam kelas, Zehan hanya memandangi bangku Arin yang tampak kosong padahal sebentar lagi masuk, "Kemana sih Arin?" gumam Zehan.
Beberapa menit kemudian datanglah Bu Madi, "Halo semuanya," sapa Bu Madi.
"Halo juga Bu Madi," ucap mereka.
"Oke kalau gitu kita lanjutkan pelajaran Minggu lalu ya," ucap Bu Madi.
"Bu masih ada yang belum dateng loh," ucap Andis.
"Siapa?" tanya Bu Madi.
"Arin, Bu," ucap Andis.
"Oh Arin, mulai hari ini Arin udah gak sekolah disini lagi," ucap Bu Madi yang membuat Zehan terkejut.
"Maksud Bu Mida apa? Arin pindah sekolah?" tanya Zehan.
"Iya, Arin sama orangtuanya tadi udah ambil semua berkasnya untuk pindahan Arin," ucap Bu Mida.
Mengenai kepindahan Arin sendiri hanya Kinan lah yang tau karena semalam Arin memberitahunya dan menceritakan semuanya.
Zehan memang bersikap cuek pada Arin, meskipun Arin pacarnya namun Zehan sangat mencintai Arin bisa dibilang Zehan lah yang bucinnya parah pada Arin, namun ia tak menunjukkannya secara langsung.
zehan segera menuju ke rumah Arin setelah pulang sekolah, namun rumah Arin nampak kosong.
__ADS_1
"Maaf Bu, pemilik rumah ini ada tidak ya?" tanya Zehan pada tetangga Arin.
"Oh setau saya mereka sekeluarga ke rumah Pamannya deh dan bakal pindah gitu, tapi gatau juga sih," ucap Ibu tersebut.
"Apa Ibu tahu alamat Pamannya?" tanya Zehan.
"Wah, saya tidak tahu," ucap Ibu tersebut.
"Kalau pindah kemananya apa Ibu tahu?" tanya Zehan.
"Kalau itu saya gak tau juga, kalau gitu saya permisi dulu," ucap Ibu tersebut lalu pergi meninggalkan Zehan.
Setelah mencari keberadaan Arin, Zehan memutuskan untuk pulang dan saya ini ia berada di kamarnya, rasanya hari ini adalah hari terberatnya karena ia harus kehilangan Arin.
Mama Naura yang melihatnya pun merasa kasihan dengan Zehan yang murung, beberapa kali Mama Naura menanyakan keadaan Zehan dan Zehan selalu mengatakan jika ia baik-baik saja dan ingin sendirian.
"Rin, kenapa kamu ninggalin aku?" tanya Zehan pada dirinya sendiri.
Hari terus berlalu sampai kelulusan dan Zehan memutuskan untuk meneruskan pendidikannya di negara C, ia terus berusaha mencari Arin, namun hasilnya nihil hingga perlahan ia pun mulai melupakan hubungannya dengan Arin.
Meskipun begitu, Zehan tetap berharap suatu saat nanti ia akan dipertemukan dengan Arin dan kembali bersama seperti rencana mereka yang akan menikah dan bersama sampai mau memisahkan.
# Flashback Off #
"Maafin aku Han, aku nyesel ngelakuin itu semua," ucap Tara dengan menangis.
"Tunggu Ra, kenapa lo lakuin ini semua? lo itu udah gue anggap saudara gue sendiri, tapi lo malah yang ngehancurin hubungan gue sama Arin, kenapa?" tanya Zehan yang sudah emosi mendengar semua penjelasan Tara.
"Aku cinta sama Han, ka tapi kamu gak pernah ngeliat aku, kamu terus ngeliat Arin," ucap Tara.
"Ra, gue emang gak pernah suka sama lo dan satu lagi gye bantuin lo karena gue kasihan selama ini kan lo gak pernah dapet kasih sayang dari orangtua lo makanya gue bersikap baik dan sikap baik gue itu bukan berarti gue suka sama lo kalaupun ada orang yang gue cintai ya dia cuma Arin gak ada yang lain," ucap Zehan.
Sedangkan, Arin yang mendengarnya hanya menunduk, ia tidak mau Zehan melihat jika ia saat ini tengah menangis.
"Maafin aku Han, aku nyesel, aku juga bingung Roby gak mau ngakuin Chika sebagai anaknya makanya aku bilang ke Arin kalau Chika itu anak kamu," ucap Tara.
"Gila lo, Ra," ucap Aska lalu menghampiri Arin.
"Maaf ya," lanjutnya sambil menggenggam tangan Arin.
Arin pun sudah tidak mampu membendung air matanya hingga ia menangis, "Udah jangan nangis lagi aku gak bisa liat orang yang aku cintai nangis," ucap Zehan.
Zehan pun mengangkat wajah cantik Arin dan terlihatlah wajah merah Arin yang dipenuhi dengan air mata lalu Zehan menghapus air mata Arin dengan tangannya.
"Maaf ya Rin, semuanya ini salahku, aku salah karena aku berharap Zehan suka sama aku padahal Zehan hanya nganggep aku saudaranya," ucap Tara dan diangguki Arin.
"Gak bisa, Rin pulang bareng gue aja Nan," ucap Zehan.
"Huh mentang-mentang udah baikan lo, mau gue buat berantem lagi apa? pokoknya hari ini Arin bareng gue paham," ucap Kinan lalu menarik Arin dan menuju ke mobilnya.
.
Arin saat ini di kamarnya, ia tidak menyangka bahwa semua masalahnya dengan Zehan akhirnya terselesaikan dan Arin menyadari jika semua masalah tersebut hanya butuh beberapa menit untuk menyelesaikannya dan mengesampingkan ego masing-masing pihak.
Saat akan menutup matanya tiba-tiba terdengar suara berisik dari luar akhirnya Arin pun segera keluar dari kamarnya dan saat keluar kamar ia melihat Bibi Ika yang terduduk di lantai.
"Bibi," panggil Arin lalu mendorong Paman Tommy yang akan memukul Bibi Ika.
"Bibi gapapa apa ada yang sakit?" tanya Arin khawatir yang melihat Bibi Ika.
"Bibi gapapa kok Rin," ucap Bibi Ika.
"Heh anak gak guna mana uangnya," ucap Paman Tommy.
"Uang apa Paman, udah tau Arin gak guna itu artinya Arin gak punya uang," ucap Arin dan membantu Bibi Ika berdiri.
"Dasar sialan! besok kamu ke tempat ini kalau kamu gak dateng Paman pastikan Bibimu besok tinggal nama," ucap Paman tommy lalu pergi meninggalkan Arin.
"Maafin Bibi ya Rin," ucap Bibi Ika.
"Bibi gak salah kok, jadi Bibi gak usah minta maaf ya," ucap Arin.
Saat Arin tengah membantu Bibi Ika menuju kamarnya tiba-tiba Bibi Ika tidak sadarkan diri dan melihat kepala Bibi Ika mengeluarkan darah yang cukup banyak karena terbentur tadi.
"Bibi," panggil Arin panik lalu membawa Bibi Ika ke rumah sakit.
"Gimana Dok keadaan Bibi?" tanya Arin.
"Kita berdoa aja ya Rin, semoga ada keajaiban untuk Bibi Ika," ucap Dokter Finda lalu pergi meninggalkan Arin.
Arin segera masuk kedalam kamar inap Bibi Ika, "Bibi pasti sembuh, Arin yakin itu," ucap Arin lalu tertidur di sofa rumah sakit.
Pagi harinya, Arin sudah berada di toko bunga yang hari ini cukup ramai, entahlah tapi hari ini memang banyak yang datang ke toko bunga tersebut untuk membeli beberapa bunga serta merangkai bunga untuk di berikan pada orang spesialnya.
Setelah bekerja di toko bunga, Arin langsung pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bibi Ika, namun langkah kakinya terhenti karena Paman Tommy menelponnya.
Iya, Paman. Ada apa?
__ADS_1
^^^Ada apa, ada apa. Kamu sekarang harus ke alamat yang paman kasih ke kamu itu, paham kamu! awas kalau kamu gak ke sana!^^^
Setelah mengatakan hal tersebut, Paman Tommy pun memutuskan sambungan teleponnya.
Arin menghela napasnya berat, ia takut jika Pamannya merencanakan hal buruk untuknya, namun akhirnya Arin pergi ketempat yang dimaksud Paman Tommy.
Entahlah, Arin merasa gelisah lantaran ia berada di sebuah restoran yang sangat aneh dengan suasananya yang tenang.
Arin sudah berada di ruangan nomor 5, restoran ini memiliki bilik tersendiri dan terlihat sangat ekslusif.
Arin pun membuka pintu ruangan tersebut dan ternyata disana sudah ada lima pria dewasa yang usianya sama seperti Paman Tommy.
"Wah kamu yang diutus Tommy ya?" tanya salah satu pria tersebut dan Arin hanya menganggukkan kepalanya.
Arin semakin takut lantaran pria tersebut terus mendekatinya, selain itu semua pria disini memiliki perempuan yang menemaninya dan hanya pria ini yang tidak punya.
'Jangan bilang Paman ngejual aku,' ucap Arin dalam hati.
"Ternyata si Tommy gak salah juga ngasih cewek cantik seksi lagi," ucap pria tersebut sambil memandangi Arin mulai dari atas sampe bawah.
Arin hanya diam, ia semakin takut terutama saat ia melihat pria lain tengah berc*uman dengan wanitanya.
Pria yang tadi mendekati Arin pun mengarahkan tangannya ke pinggang Arin, namun ditepis oleh Arin, "Maaf Pak saya permisi," ucap Arin.
Namun, saat ia akan pergi dari ruangan tersebut tiba-tiba saja pria tersebut menarik tangannya dan memeluk Arin dari belakang.
Arin pun berusaha melepaskan pelukan pria tersebut saat terlepas Arin langsung keluar dari ruangan tersebut dan berlari namun pria tersebut tetap mengejarnya.
Arin tidak menyadari jika bajunya sudah acak-acakan karena ulah dari pria tersebut hingga akhirnya Arin berhenti lantaran ia menabrak dada seseorang dan jatuh dengan posisi duduk. Saat Arin mendongak, ia terkejut lantaran ternyata yang tabrak adalah Zehan.
Disisi lain, Zehan sendiri saat ini berada di salah satu restoran untuk membahas mengenai proyek perusahaannya, saat ini Zehan dalam mood terbaik lantaran ia akhirnya berbaikkan dengan Arin.
Saat Zehan akan keluar dari restoran tersebut ia terkejut lantaran ia di tabrak oleh seorang perempuan, Zehan awalnya ingin memarahi perempuan tersebut, namun tidak jadi saat ia melihat perempuan tersebut mendongak dan ternyata ia adalah Arin.
Arin pun berdiri dan menuju ke belakang Zehan karena pria tadi terus mengejarnya, "Han, tolongin aku," ucap Arin dengan tangan yang gemetaran.
"Hei kamu mau kemana ayo urusan kita belum selesai," ucap pria itu dan Zehan melihat ke arah Arin yang menggelengkan kepalanya.
"Sorry nih ya, tapi dia gak mau," ucap Zehan.
"Bukan urusan lo, sekarang balikin tuh cewek hari ini dia milik gue paham," ucap pria itu.
Zehan yang mendengarnya pun emosi berani-beraninya dia bilang jika Arin miliknya padahal Arin hanya milik Zehan.
Zehan berjalan menuju pria tersebut dan menghajarnya, "Lo bilang apa, dia milik lo! heh lo salah karena dia milik gue, asal lo tau hanya gue yang bisa miliki dia," ucap Zehan lalu melepaskan tangannya dari kerah pria itu yang sudah babak belur.
Zehan pun menarik Arin sampai di mobilnya, "Masuk," ucap Zehan yang terkesan dingin.
"Aku bisa pulang sendiri kok," ucap Arin.
Setelah itu, Arin pun beranjak pergi dari tempat tersebut, namun Zehan menahan tangannya hingga Arin kembali duduk di dalam mobil lalu Zehan juga ikut duduk di samping Arin dan Pak Tio pun mengikutinya.
Arin sudah memberitahukan alamat rumahnya pada Pak Tio dan saat di dalam mobil hanya keheningan dan tidak ada pembicaraan.
Sesampainya di depan rumah, Arin pun segera keluar dari mobil Zehan, "Terima kasih atas tumpangannya dan juga terima kasih atas bantuannya tadi kalau gitu saya permisi," ucap Arin lalu masuklah ke dalam rumahnya.
Setelah itu, Zehan dan Pak Tio pun melajukan mobilnya untuk menuju ke kediaman Gulzar.
Arin pun segera masuk kedalam rumahnya dan saat sampai didalam rumahnya, Arin terkejut karena semua barang di ruang tamu hancur berantakan.
"Astaga kenapa in Aaaa Sa-sakit!" teriak Arin saat merasakan rambutnya ditarik sangat kuat dari belakang.
Tak hanya itu orang tersebut tiba-tiba mendorong Arin hingga kepala Arin terbentur ke meja dan saat Arin melihat ternyata Paman Tommy yang melakukannya.
"Apa maksudmu kabur tadi heh, kamu pikir Paman selama ini ngerawat kamu gak pakai uang apa," ucap Paman Tommy dan menc*kik Arin.
"Ta-pi selama ini Bibi yang u-udah merawat Arin," ucap Arin.
"Berani ngelawan ya," ucap Paman Tommy yang semakin mengencangkan tangannya pada leher Arin.
"Huk huk Paman sakit," rintih Arin.
"Makanya jadi anak itu yang nurut, kamu tahu karena kamu paman kehilangan 1 milyar. Lagian ngapain sih kamu kabur segala, sekarang Paman yang akan kesulitan tau gak!" teriak Paman Tommy.
"Paman jual aku, makanya aku kabur. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih baik Pamana," ucapan Rin.
"Gini ya kamu pelac*r satu bulan aja pasti dapat uang banyak, tapi kamu malah gagalin semuanya," ucap Paman Tommy lalu menghempaskan Arin dan sekali lagi kepala Arin membentur dinding dan mulai tidak sadarkan diri.
Sebelum benar-benar tidak sadarkan diri ia melihat Paman Tommy juga jatuh akibat pukulan seseorang, namun Arin tidak mengetahui siapa orang tersebut karena ia pun tidak sadarkan diri.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1