
Hari ini adalah hari keberangkatan Abrar ke negara D, "Brar, hati-hati ya lo disana jangan buat masalah soalnya kalau lo buat masalah gue bakal ngeledekin lo nanti. Sama satu lagi kalau lo sukses inget gue ya biar gue masuk tv terus terkenal," ucap Andis.
"Pasti Ndis, gue bakal kangen banget sama ledekan lo, doain gue ya," ucap Abrar.
"Hati-hati ya Brar, semoga kamu selamat sampai negara D sana," ucap Dian.
"Thanks, oh iya nanti kalau lo lahiran kabarin gue ya biar gue pulang," ucap Abrar.
"Lo gak usah khawatir pasti gue kabarin," ucap Okha.
"Han, lo gak mau ngomong apa gitu ke gue," ucap Abrar.
"Ngomong apa emangnya, lo kan ke negara D bukan ke bulan lagian kita masih sama-sama di bumi kenapa harus ngucapin perpisahan," ucap Zehan.
"Lo ya Han, sahabat setia lo mau pergi malah kayak gitu, tapi lo bener juga sih Han," ucap Andis.
"Zehan tuh emang orangnya kayak gitu Brar, gengsinya tinggi banget lo maklumin ajalah," ucap Okha.
"Bener Kha, untung aja Zehan sahabat gue kalai gak udah gak tau lagi nasib lo Han, udah ah gue berangkat dulu ya," ucap Abrar.
Zehan pun tiba-tiba memeluk Abrar, "Hati-hati dan semoga lo sukses disana," ucap Zehan.
"Thanks. Han, dadah semuanya," ucap Abrar.
Setelah mengantar Abrar, mereka pun pergi ke kantor Zehan, sedangkan Dian pulang, "Maksud lo apa Han? pernikahannya Chesa di majuin 5 hari lagi kenapa lo gak ngasih tau," ucap Okha.
"Gue baru diskusiin ini kemarin malem sama keluarga gue dan sekarang gue kasih tau ke kalian," ucap Zehan.
"Kenapa di majuin bukannya pernikahan Chesa itu 3 bulan lagi," ucap Andis.
"Iya rencana kayak gitu, tapi ternyata Papanya Bryan ada urusan mulai bulan depan sampai 6 bulan nanti di negara B dan selama itu juga mereka gak bisa pulang kesini makanya Papanya Bryan minta di majuin bulan ini," ucap Zehan.
"Wah gue belum nyari kado buat Chesa lagi, kemarin dia udah nagih terus kado pernikahannya," ucap Andis.
"Ya lo si Ndis bilang bakal kasih kado spesial Chesa kan dia jadi nagih lo terus," ucap Okha.
"Ya mana gue tau kalau Chesa bakal nagih kayak gini," ucap Andis.
Setelah mengobrol cukup lama Andis, Okha dan Riko pun pergi lalu Zehan mulai mengerjakan pekerjaannya, "Awsh...," rintih Zehan dengan memegang kepalanya.
"Kenapa akhir-akhir ini kepala gue sering pusing tiba-tiba ya," tanya Zehan pada dirinya sendiri.
"Pak Zehan tidak apa-apa?" tanya Panji yang melihat Zehan memegang kepalanya.
"Saya gapapa, kenapa kamu kesini?" tanya Zehan.
"Ini Pak saya mendapat laporan mengenai keuangan di kota D yang terus meningkat dari tahun sebelumnya," ucap Panji.
"Bagus saya akan periksa nanti sekarang kamu boleh pergi dan jangan biarin siapapun masuk ke ruangan saya," ucap Zehan.
__ADS_1
"Baik Pak," ucap Panji lalu pergi dari ruangan Zehan.
Zehan pun kembali mengecek berkas-berkasnya, namun ia sudah tidak kuat karena kepalanya sangat sakit hingga ia memutuskan untuk menaruh berkas tersebut dan masuk kedalam kamar pribadinya yang ada di dalam kantornya dan khusus untuk Zehan lalu Zehan pun merebahkan tubuhnya di ranjang king size-nya.
Seharian Zehan tertidur tanpa terasa jam menunjukkan pukul 11 malam lalu Zehan pun bangun dan bergegas untuk pulang ke rumah sebelum Mama Naura mengomelinya.
Setelah beberapa saat kemudian, Zehan pun sampai di kediaman keluarga Gulzar, "Kamu kemana aja Han? kok larut banget pulangnya ini udah jam 11 malem loh kamu gak biasanya pulang jam segini?" tanya Mama Naura.
"Tadi Zehan ketiduran di kantor, Ma," ucap Zehan.
"Kamu kok bisa ketiduran emang Panji gak bangunin kamu?" tanya Mama Naura.
"Gak Ma, tadi Zehan suruh Panji buat jangan ganggu Zehan soalnya dari tadi kepala Zehan sakit makanya Zehan tidur," ucap Zehan.
"Kamu nih ya pasti kecapean kan makanya kamu jangan terlalu forsir tubuh sama pikiran kamu buat kerja terus, udah kamu ke kamar aja dulu kamu bersih-bersih terus nanti mama bawain teh," ucap Mama Naura.
Zehan pun menuju kamarnya dan membersihkan tubuhnya lalu beberapa saat kemudian Mama Naura pun datang dan membawakan teh untuk Zehan, "Ini tehnya diminum biar anget," ucap Mama Naura dengan terus menatap Zehan.
"Mama kenapa?" tanya Zehan.
"Gapapa kok kalau gitu Mama pergi dulu ya dah," ucap Mama Naura lalu keluar dari kamar Zehan.
"Kayaknya emang bener kata Chesa deh kalau Mama makin hari makin aneh aja," gumam Zehan.
Zehan pun membaringkan tubuhnya dan menutup matanya hingga ia perlahan mulai terlelap.
"Zehan, kenapa kamu bisa lupain aku? apa kamu bener-bener udah gak sayang sama aku? apa rasa suka kamu hanya omong kosong Han? hiks hiks," tanya seorang perempuan pada Zehan dengan menangis histeris.
"Bahkan nama aku aja kamu gak inget, aku ini istri sah kamu Han, aku Arin. Aku milih pergi dari kamu biar kamu sadar dan juga demi anak kita, tapi apa? kamu malah ngekhianatin aku Han, aku bener-bener kecewa sama kamu," ucap Arin.
"Saya rasa kamu salah orang," ucap Zehan.
"Kamu bilang apa? aku salah orang, kamu bener Han, aku emang udah salah orang dalam merasakan cinta sampai aku rela disakiti dia," ucap Arin lalu pergi ke ujung tebing.
"Kamu mau ngapain, kamu udah gila ya," ucap Zehan.
"Ya aku udah gila semua ini gara-gara kamu Han," ucap Arin lalu ia melompat.
Teriak Zehan bersamaan dengan matanya yang terbuka lalu Zehan pun duduk dengan keringat di sekujur wajahnya.
"Astaga Han, lo ngimpi apa sih? kenapa akhir-akhir ini mimpi lo tentang dia terus? mending lo tidur lagi aja pasti lo cuma kecapean makanya mimpi lo tentang dia terus," ucap Zehan.
Ya, ini bukan kali pertama Zehan memimpikan seorang perempuan yang bernama Arin.
.
Arin hari ini seperti biasa mengantar Zayden ke sekolah lalu menuju tempat ia bekerja, "Rin, lo udah tau belum kalau Bu Nara mau nikah, akhirnya Bu Nara nikah juga ya," ucap Friska.
"Aku baru tau dari Mbak ini, tapi nih ya selama aku kerja disini aku gak pernah tau gimana wajah Bu Nara loh Mbak," ucap Arin.
__ADS_1
"Iya juga ya Rin, lo belum pernah ketemu sama Bu Nara kalau pun Bu Nara kesini lo nya yang gak ada, tapi tenang aja nanti kita ketemu waktu Bu Nara nikah aja kan malah lebih gimana gitu ya gak Rin," ucap Friska.
"Iya bener Mbak, kapan emangnya pernikahannya?" tanya Arin.
"Kalau gak salah 5 hari lagi deh," ucap Friska.
"Yaudah kalau gitu aku nanti biar aku minta Adel jagain Zay lagi biar gak dadakan gitu Mbak," ucap Arin.
"Iya Rin, yaudah yuk kita kerja lagi," ucap Friska.
"Heh cewek murahan, lo ngapain sih masih kerja disini lo itu gak pantes disini mendingan lo keluar gih," ucap Sarla.
"Kalian lagi emang gak bakal puas kalau aku belum keluar dari sini ya, tapi maaf aku gak bakal keluar kalau kalian gak mau dan gak suka aku kerja disini kalian aja yang keluar," ucap Arin lalu melanjutkan pekerjaannya.
Hingga jam istirahat pun Arin masih berurusan dengan pekerjaannya, "Rin, lo udah makan belum jangan kerja terus ayo makan," ajak Friska.
"Tapi Mbak...," ucapan Arin terhenti lantaran Friska yang menyela pembicaraannya.
"Udah ayo gak pakai tapi-tapian," ucap Friska lalu menarik Arin hingga menuju kantin dan menikmati makan siang mereka.
Tanpa terasa hari menjelang sore dan Arin pun pulang, namun sebelum pulang ia membeli beberapa bahan makanan karena bahan tersebut habis di rumah.
Saat Arin tengah memilih bahan-bahan makanan tiba seseorang menabrak punggungnya "Awsh...," rintih Arin karena orang tersebut cukup kerasa menabraknya.
"Ups sorry sengaja," ucapnya lalu Arin pun melihat ke arah orang itu.
"Siska? kamu kok bisa disini?" tanya Arin.
"Hem, pertanyaan bodoh. Ya bisa lah orang ini supermarket siapapun bisa kesini gitu aja gak tau, makanya kalau bodoh tuh jangan di pelihara," ucap Siska.
"Bukan itu, tapi kan kamu harusnya lagi di negara C ikut suami kamu," ucap Arin.
"Lo terlalu sok tau tentang kehidupan gue Rin," ucap Siska lalu pergi dengan mendorong troli Arin hingga mengenai pinggang Arin.
'Aduh, sakit banget pinggang ku,' ucap Arin dalam hati, namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
Arin pun membayar belanjaannya dan menuju ke rumahnya sampai di rumahnya ia melihat rumahnya tampak sepi lalu Arin menaruh belanjaanya dan saat Arin melihat ke kamarnya ternyata Zayden sudah tidur dan saat Arin melihat ke kamarnya Adel, ia pun tertidur.
"Zay, Adel. Kalian itu ya hehehe," ucap Arin dengan tersenyum.
Selesai bersih-bersih, Arin pun menuju ke ranjangnya menemani zat yang sudah terlebih dahulu menuju alam mimpi.
"Selamat malam sayangnya Mama, maafin Mama ya udah buat kamu susah," gumam Arin dan mencium wajah Zayden lalu menutup matanya dan menuju alam mimpi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.