
"Kamu gapapa?" tanya Mama Naura yang ikut jongkok.
Arin yang mendengar seseorang berada di hadapannya pun mendongak dan menatap ke depan seorang wanita yang pernah ia bantu sebelumnya.
Mama Naura terkejut saat melihat perempuan yang selama ini ingin ia jodohkan dengan anaknya tengah menangis.
Arin yang melihat Mama Naura justru tangisannya semakin kencang dan membuat Mama Naura bingung harus melakukan apa.
Namun, akhirnya Mama Naura membawa Arin ke dalam pelukannya dan mencoba menenangkan Arin, namun tangisan Arin justru semakin kencang.
Arin sendiri yang mendapat pelukan tersebut sangat terharu dan dalam waktu yang bersamaan ia seperti mendapatkan pelukan seorang ibu yang selama ini ia rindukan.
Pelukan yang hangat membuat hati Arin semakin tenang, namun ia langsung sadar bahwa ia sudah telat pulang, 'Pasti Bibi Ika lagi nungguin aku,' ucap Arin dalam hati.
Arin pun segera melepaskan pelukannya dan mencoba berdiri dan menyembunyikan rasa sakit di kakinya.
"Terima kasih Bu, kalau begitu saya permisi," pamit Arin lalu pergi dari tempat tersebut.
Mama Naura yang melihat cara berjalan Arin pun langsung menghampirinya, "Kamu gapapa? sepertinya kaki kamu sakit mau bareng saya nanti saya antar sampai ke rumah kamu gimana?" tanya Mama Naura.
"Tidak usah Bu, saya bisa sendiri kok sekali lagi terima kasih," ucap Arin lalu pergi meninggalkan Mama Naura.
Mama Naura yang melihat itu hanya pasrah, ia tidak mau memaksakan keinginannya pada Arin, setelah itu Mama Naura masuk ke dalam mobilnya dan pulang ke kediaman Gulzar.
Arin masuk ke dalam rumah dan membawa beras tadi ia beli, "Ini Bi berasnya," ucap Arin sambil memberikan beras tersebut pada Bibi Ika.
"Kamu gapapa Rin kok lama beli berasnya?" tanya Bibi Ika.
"Arin gapapa kok Bi, tadi Arin ngobrol dulu sama penjaga tokohnya makanya lama Bi hehehe," ucap Arin.
Arin terpaksa berbohong pada Bibi Ika karena ia tidak ingin Bibi Ika tahu tentang kejadian ini biarlah hanya Arin yang tahu dan tuhan tentunya.
Arin saat ini berada di dalam kamarnya, ia memegangi foto Ayah dan Bundanya, "Ayah, Bunda, Arin kangen banget sama kalian. Kenapa sih kalian ninggalin Arin? kalian kan janji bakal selalu ada buat Arin, katanya hiks hiks Ayah sama Bunda janji mau foto bareng sama Arin saat wisuda, tapi apa! kalian ngingkari semuanya hiks hiks hiks Ayah sama Bunda tau gak saat wisuda itu gak ada satupun yang dateng, Bibi Ika saat itu gak punya uang buat datang padahal Arin juga pengen banget ada yang dateng hiks hiks Arin pengen banget punya foto wisuda bareng Ayah sama Bunda. Tuhan kenapa sih Ayah sama Bunda harus diambil dulu? Arin kan pengen bareng Ayah sama Bunda." Arin mengeluarkan semua uneg-uneg yang ia rasakan selama ini.
Setelah itu, Arin menuju ke alam mimpi karena ia lelah seharian ini lelah hati, pikiran dan fisiknya.
__ADS_1
Pagi harinya, Bibi Ika sudah menyiapkan makanan untuk hari ini lalu Bibi Ika menuju ke kamar Arin dan membangunkan Arin.
"Rin, bangun udah pagi, ayo makan," ucap Bibi Ika.
Namun, tidak ada respon dari Arin, Bibi Ika kembali mencoba mengetuk pintu kamar Arin, namun tetap saja tak ada respon. Akhirnya Bibi Ika membuka pintu tersebut yang ternyata tidak di kunci lalu ia melihat Arin yang masih di ranjangnya.
"Rin, bangun," ucap Bibi Ika, namun tidak mendapat sahutan dari Arin.
Bibi Ika akhirnya menyentuh kening Arin dan betapa terkejutnya Bibi Ika saat memegang kening Arin yang terasa panas.
"Arin, Arin bangun! kamu gapapa kan," ucap Bibi Ika, namun lagi-lagi tak mendapat respon dari Arin.
Lalu Bibi Ika mencoba menelpon Kinan sahabat Arin, namun selalu di tolak oleh Kinan. Bibi Ika pun jadi curiga sepertinya Kinan dan Arin sedang ada masalah.
Bibi Ika langsung membawa Arin ke rumah sakit dan saat di rumah sakit, Bibi Ika terus menghubungi Kinan selama ia menunggu dokter memeriksa keadaan Arin, namun tetap saja tidak di jawab.
Tak lama setelah itu, Kinan memberikan pesan yang membuat Bibi Ika semakin yakin jika Kinan dan Arin tengah ada masalah.
Gue udah bilang gak usah hubungi gue lagi paham gak sih lo!
"Bibi Ika tidak perlu khawatir m, untung saja Bibi Ika cepat membawa Arin ke rumah sakit sehingga masih dapat di tangani," ucap Dokter Finda.
"Sebenarnya apa yang terjadi Dok? kenapa Arin tiba-tiba panas padahal dia jarang sekali sakit Dok?" tanya Bibi Ika.
"Bibi Ika, bisa ikut saya ke ruangan saya biar enak gitu kita bicaranya dari pada di sini," ucap Dokter Finda.
"Baik Dok," ucap Bibi Ika lalu mengikuti langkah dokter Finda ke ruangannya.
Sesampainya di ruangan Dokter Finda, Dokter Finda pun langsung duduk begitupun dengan Bibi Ika yang sebelumnya telah di persilahkan duduk oleh Dokter Finda.
"Jadi bagaimana Dok?" tanya Bibi Ika.
"Jadi, Arin ini sebenarnya hanya kecapean yang saya lihat dan mungkin dia saat ini sedang stress berat," ucap Dokter Finda.
"Astaga Arin," ucap Bibi Ika yang terkejut saat mendengar jika Arin tengah stres berat.
__ADS_1
"Tapi Bi, kalau saya boleh tau apa Arin pernah jatuh atau mungkin kecelakaan?" tanya Dokter Finda.
"Setau saya gak pernah Dok, kenapa memangnya?" tanya Bibi Ika.
"Jadi dalam pemeriksaan tadi, Arin mengalami patah tulang kaki ringan yang sepertinya terjadi baru-baru ini, tapi Bibi Ika tidak perlu khawatir karena sebentar lagi Arin pasti sembuh kok asalkan ia istirahat terlebih dahulu dalam beberapa hari ke depan," ucap Dokter Finda.
"Iya Dok, terima kasih. Kalau begitu saya permisi dulu Dokter, saya ingin bertemu Arin," ucap Bibi Ika.
"Silahkan," ucap Dokter Finda lalu Bibi Ika pun keluar dari ruangan Dokter Ika dan berjalan menuju kamar inap Arin.
Saat Bibi Ika berada di kamar inap Arin, ia melihat Arin yang terbaring lemah di sana, "Maafin Bibi, Rin. Selama ini Bibi udah nyusahin kamu," ucap Bibi Ika yang sudah tidak dapat menahan tangisnya.
Bibi Ika tiba-tiba teringat Kinan, ia harus memberitahukan keadaan Arin pada Kinan karena bagaimanapun Kinan adalah sahabat Arin, meskipun saat ini mereka tengah ada masalah.
Bibi Ika terus mencoba menghubungi Kinan, namun tetap saja Kinan tidak menjawab panggilannya.
Bibi Ika bingung harus berbuat apa, ia tetap berusaha menghubungi Kinan dan akhirnya Kinan pun menjawab sambungan teleponnya.
Lo tuh ganggu banget ya, kan gue udah bilang anggap aja kalau kita itu gak pernah kenal!
Ini Bibi, Nan.
Eh, Bibi. Aduh maaf, Bi. Ada apa ya, Bi?
Bibi cuma mau kasih tahu ke kamu kalau Arin saat ini sedang di rawat di rumah sakit, Arin cuma kelelahan dan butuh istirahat. Hem, maafin Arin ya jika Arin selama ini punya salah sama aku, Bibi yakin Arin gak ada maksud buat ngelakuin hal yang buat kamu tidak suka sama Arin. Kalau gitu Bibi tutup dulu ya, terimakasih.
Setelah itu Bibi Ika pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
Bibi Ika mendekat ke arah Arin, "Cepet sembuh ya Rin, Bibi janji Bibi bakal berusaha lebih giat supaya hidup kita lebih baik lagi," bisik Bibi Ika di telinga Arin lalu Bibi Ika kembali duduk di sofa yang ada di kamar inap tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.