
Saat Arin ingin makan tiba-tiba ia merasa mual dan Arin pun berlari menuju kamarnya, Mama Naura yang melihat Arin berlari pun bertanya pada Zehan yang berada di ruang tamu.
"Arin, kenapa Han kok lari gitu?" tanya Mama Naura.
"Zehan juga gak tau Ma, coba Mama tanyain ke dianya," ucap Zehan.
Mama Naura pun menuju ke kamar Arin, "Sayang kamu gapapa?" tanya Mama Naura.
"Iya Ma, Arin gapapa kok," ucap Arin yang masih di dalam kamar mandi dan setelah itu Arin menghampiri Mama Naura.
"Kamu beneran gapapa Rin? kok muka kamu pucet gini?" tanya Mama Naura.
"Iya Ma, Arin gapapa kok, Mama gak usah khawatir," ucap Arin.
"Yaudah, kalau gitu kamu ke bawah lanjutin makannya," ucap Mama Naura.
"Gak usah deh Ma, Arin mau istirahat aja," ucap Arin.
"Kamu beneran gapapa atau mau Mama bawain makanan kamu ke kamar?" tanya Mama Naura.
"Gak usah Ma, Arin lagi gak laper nanti kalau Arin laper Arin ke bawah kok," ucap Arin.
"Bener ya nanti kalau laper kamu kebawah atau gak kamu panggil Mama aja," ucap Mama Naura.
"Iya Ma," ucap Arin.
"Yaudah, kalau gitu Mama kebawah dulu," ucap Mama Naura dan diangguki Arin.
"Rin, kamu harus kuat kamu gak boleh lemah kayak gini," gumam Arin lalu membuka laptopnya dan mengerjakan beberapa pekerjaannya.
Jam menunjukkan pukul 11 malam dan Arin pun teringat bahwa ia belum memberitahu Zehan mengenai kehamilannya.
"Astaga udah jam 11 malam apa aku coba ke ruang kerjanya Zehan ya buat ngasih tau kalau aku lagi hamil, pasti Zehan seneng banget," gumam Arin lalu menuju ke ruang kerja Zehan.
Namun, ruang kerja Zehan sedikit terbuka dan Arin pun hendak masuk, tapi langkahnya terhenti saat mendengar suara Zehan yang tengah mengobrol dengan seseorang melalui sambungan telepon.
^^^Kenapa?^^^
Han, gimana hubungan lo sama Arin?
^^^Gue gak tau Ndis, gue bingung sama hubungan rumah tangga gue sekarang, gue udah mau percaya sama Arin, tapi Arin selalu ngehancurin kepercayaan gue.^^^
Arin yang mendengar perkataan Zehan di telepon pun merasa sedih, 'Maksud kamu apa Han? aku udah ngehancurin kepercayaan kamu padahal aku gak ada niat sedikitpun ngelakuin itu Han,' ucap Arin dalam hati.
Terus gimana rencana lo sama Arin yang katanya pengen banget punya?
^^^Kalau gue sih kayaknya gak pengen punya anak dulu deh Ndis mengingat hubungan gue sama Arin lagi kayak gini juga.^^^
Arin benar-benar terkejut, kecewa dan sedih saat mendengar perkataan Zehan jika ia tidak ingin memiliki anak.
Yaudah, kalau gitu gak usah dulu Han, tapi niha ya kalau seandainya Arin udah hamil lo suruh dia gugurin aja kandungannya.
__ADS_1
^^^Gugurin? maksud lo kalua Arin hamil gue suruh gugurin kandungannya gitu?^^^
Iya, lo suruh Arin gugurin aja biar gak jadi beban buat lo nanti ya.
Arin sudah tidak sanggup lagi mendengar pembicaraan antara Zehan dan juga Andis,
'Segitu bencinya kah Han kamu sama aku sampai kamu harus nyuruh aku gugurin anak ini, gak Han, aku gak bakal lakuin itu,' ucap Arin dalam hati lalu pergi menuju kamarnya.
Lo emang gila Ndis, sejahat-jahatnya gue, gue gak bakal biarin Arin gugurin kandungannya kalau dia lagi hamil lagian perempuan yang berhak jadi ibu anak-anak gue itu cuma Arin.
Setelah mengatakan itu, Zehan pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
Disisi lain, Arin yang saat ini ada di dalam kamarnya pun menangis, "Gak Rin, kamu harus kuat gimana pun caranya kamu gak boleh nyerah," ucap Arin dengan mengelus perutnya.
.
Berbeda dengan Rin, Zehan sendiri sebenarnya juga terkejut saat melihat Tara yang ada di depan rumahnya.
"Kenapa Ra? lo kok kesini?" tanya Zehan.
"Han, aku boleh mampir gak tadi aku lewat sini sekalian mampir aja gitu," ucap Tara.
"Kenapa gak langsung masuk aja biasanya kan juga langsung masuk?" tanya Zehan.
"Hem gak enak Han kan kamu belum pulang," ucap Tara.
"Yaudah masuk aja," ucap Zehan.
Setelah membersihkan dirinya, Zehan pun menuju ke ruang tamu yang disana sudah ada Tara saat tengah berbicara tiba-tiba Mama Naura berbicara dengan Arin yang membuat Zehan dan Tara pun melihat ke arah Arin, namun Arin seolah tidak peduli dengan Zehan dan Tara lalu menuju ke kamarnya.
"Han, aku ikut ya," ucap Tara.
"Gak usah Ra, lo disini aja kan lo mau mampir disini," ucap Zehan lalu menuju ke ruang kerjanya.
Namun ia teringat jika beberapa berkasnya masih ada di tasnya yang ada di ruang tamu akhirnya Zehan pun menuju ruang tamu, setelah itu ia beranjak ke ruang kerja, tapi baru saja ia akan berdiri tiba-tiba ia melihat Arin turun dari tangga dan menuju meja makan hingga beberapa saat kemudian Arin berlari menuju ke kamarnya.
"Ra mending lo pulang deh gue masih banyak urusan, tapi kalau lo mau disini ya gapapa asalkan gak ganggu," ucap Zehan.
"Yaudah deh Han, aku pulang dulu," ucap Tara lalu meninggalkan kediaman keluarga Gulzar.
Setelah itu, Zehan pun memutuskan untuk kembali ke ruang kerjanya dan memeriksa beberapa berkas beberapa saat kemudian handphone nya bergetar.
Pagi harinya, Arin kembali merasakan mual hingga bolak-balik ke kamar mandi, "Astaga sayang jangan kayak gini dong Mama gak kuat lagi," ucap Arin sambil mengelus perutnya yang masih rata dan Arin pun melanjutkan tidurnya.
Arin merasa hari ini ia terlalu malas melakukan apa-apa, ia hanya ingin tidur seharian di kamarnya, tapi Arin teringat jika ia harus bekerja.
Saat menuruni tangga ia melihat Tara yang berada di meja makan, "Sayang kamu udah turun, yuk makan ini Mama bikinin makanan banyak banget khusus buat kamu," ucap Mama Naura.
"Iya Ma," ucap Arin lalu duduk di samping Mama Naura.
"Sayang kamu gapapa kan kok muka kamu pucet gitu?" tanya Mama Naura.
__ADS_1
"Arin gapapa kok Ma, mungkin Arin gak pakai makeup kali makanya jadi pucet kayak gini," ucap Arin.
"Iya juga sih yaudah kamu makan yang banyak," ucap Mama Naura.
Selama makan, Arin tidak melihat ke arah Tara dan Zehan sedikitpun, "Ma, makasih ya makanannya enak banget," ucap Arin.
"Iya dong sayang, Mama jadi seneng kalau kamu suka masakan Mama nanti kalau kamu mau makanan yang lain bilang aja biar Mama masakin khusus buat kamu," ucap Mama Naura.
"Iya masakan Tante Naura emang enak ya," ucap Tara, namun Mama Naura tidak merespon.
"Ma, Arin berangkat dulu ya," pamit Arin.
"Kinan udah dateng?" tanya Mama Naura.
"Iya kok Ma, Kinan udah dateng yaudah Arin berangkat dulu," pamit Arin dengan mencium tangan dan pipi Mama Naura.
"Yaudah hati-hati ya," ucap Mama Naura dan diangguki Arin, setelah itu Arin pun keluar dari kediaman keluarga Gulzar.
Sebenarnya, Arin berbohong jika ia berangkat dengan Kinan, karena ia hanya tidak ingin Mama Naura khawatir, Arin pun berjalan menuju halte dan saat sampai di dekat halte ia berjalan menuju kantor.
Disisi lain, Zehan pun selesai makan dan pamit ke Mama Naura, "Ma, Zehan berangkat dulu ya," pamit Zehan, namun Mama Naura tidak merespon.
Saat Zehan masuk kedalam mobil tiba-tiba Tara juga masuk kedalam mobil Zehan, "Kenapa lo masuk Ra?" tanya Zehan.
"Aku cuma mau nebeng sama kamu aja Han, cuma sampai butik aja kok," ucap Tara.
"Yaudah, Pak kita berangkat," ucap Zehan.
Setelah Tara turun dari mobil tersebut, Zehan dan Pak Tio pun menuju ke kantor, "Tuan, bukannya itu Non Arin," ucap Pak Tio dengan menunjuk Arin.
Zehan pun melihat ke arah yang ditunjuk Pak Tio dan benar saja ia melihat Arin berjalan kaki menuju kantornya.
'Kenapa Arin bohong, padahal tadi dia bilang katanya dia berangkat sama Kinan?' tanya Zehan dalam hati.
"Tapi kenapa Non Arin jalan kaki?" tanya Pak Tio.
"Lanjut aja Pak," ucap Zehan.
Baru saja ia turun dari mobil ia melihat salah satu tetangga Arin yaitu Mbak Lusi berada di depan kantornya, Zehan pun menghampiri Mbak Lusi, "Mbak Lusi kan?" tanya Zehan.
"Oh Pak Zehan suaminya Arin kan?" tanya Mbak Lusi.
"Iya Mbak, kenapa Mbak kesini?" tanya Zehan.
"Oh ini saya mau bilang sesuatu ke Arin," ucap Mbak Lusi.
"Arin nya belum datang Mbak, emangnya Mbak mau bilang apa, nanti biar saya sampaikan ke Arin?" tanya Zehan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.