
Akhirnya yang ditunggu-tunggu oleh Arin pun terjadi, dimana mereka berdua sampai di bawah dengan selamat tanpa terluka sedikitpun.
Dengan cepat Arin melepaskan diri dari Zehan lalu tak lama Kinan menghampiri Arin dan Zehan dengan wajah terkejut karena melihat sahabatnya turun bersama Zehan yang notabennya pria yang paling Arin hindari.
"Lo gapapa Rin?" tanya Kinan dengan menarik lengan Arin agar menjauh dari Zehan.
Arin pun menganggukkan kepalanya, "Iya, aku gapapa kok," ucap Arin.
Selanjutnya mereka menuju ke pantai barat yang terkenal akan pasir putihnya, selama di pantai ombak cukup tenang sehingga mereka dengan santai berkeliling.
Saat Arin akan menghampiri Kinan yang berada di tepi karang, namun tiba-tiba kakinya tersandung karena seorang perempuan yang menyenggol Arin dan membuat Arin tidak seimbang.
Arin pun terjatuh, namun sebelum Arin terjatuh. Zehan terlebih dahulu menahan tangan Arin sehingga tubuh mereka sangat dekat.
Kinan yang melihat hal itu langsung ke arah Arin dan melihat perempuan yang menyenggol Arin, "Maksud lo apa heh? ada masalah lo sama sahabat gue?" tanya Kinan.
Arin lun mulai sadar dan mendorong tubuh Zehan, lalu ia menghampiri Kinan, "Nan, aku gapapa udah gak usah dipermasalahkan," ucap Arin.
"Gak bisa gitu dong Rin, nih cewek tetep aja salah," ucap Kinan yang tidak mau kalah.
"Udah Nan," ucap Arin lagi.
Ari hanya tidak ingin liburan mereka terganggu karena masalah ini, lagipula Arin tidak terluka dan yang terpenting Arin ingin segera menjauh dari Zehan.
"Nih cewek aja gak masalah ngapain malah lo yang sewot?" Yaya perempuan tersebut.
"Iyalah, orang sahabat gue ini orangnya baik banget dan karena terlalu baiknya dia jadi kelewat b*go," ucap Kinan dan mendapat pukulan dari Arin.
"Maksud kamu aku b*go?" tanya Arin.
"Gaklah, udah ya. Lo diem aja dan biar gue yang urus semua ini," ucap Kinan.
"Lo tinggal minta maaf aja apa susahnya sih," lanjut Kinan pada perempuan tersebut.
"Kinan udah yuk," ucap Arin dan menarik Kinan lalu meninggalkan perempuan tersebut.
Zehan yang hanya melihat kejadian tersebut sedari tadi hanya tersenyum, "Udah gak usah senyum-senyum gitu, cepetan lo halalin sebelum diembat orang," ucap Riko.
"Emang gue masih ada kesempatan Ko, gue aja gak yakin si Arin mau ngomong sama gue," ucap Zehan.
"Gue tau kok kalau kalian tuh masih saling suka, jadi tugas lo sekarang buat dia ngasih lo kesempatan," ucap Riko dan diangguki Zehan.
"Thanks ya bro," ucap Zehan pada Riko.
__ADS_1
Tanpa mereka ketahui sedari tadi ada orang yang menguping pembicaraan mereka, orang itu adalah Kinan yang berada di depan, namun tidak terlalu jauh dan ia bisa mendengar suara Zehan dan Riko tadi saat berbicara.
Kinan hanya tersenyum mendengar penuturan Zehan, ia tau kalau Zehan selama ini masih sayang dengan sahabatnya itu, namun Arin saja yang masih menutup hatinya untuk pria manapun meskipun pria itu Zehan.
Mereka sudah berada di atas bebatuan yang tidak terlalu tinggi di pinggir pantai tersebut, mereka begit takjub karena mereka dapat melihat keindahan sekitar pantai bahkan bawah laut pun terlihat jelas karena air laut begitu jernih.
"Wah cantik," ucap Arin.
"Sama cantiknya kayak kamu," ucap Zehan yang tepat berada di sebelah Arin.
Arin pun menatap terkejut Zehan, Arin hanya bertanya-tanya kemana sahabatnya itu padahal tersebut tadi tempat Kinan, namun sekarang justru Zehan yang ada di sana dan dengan cepat Arin mengalihkan pandangannya mencari keberadaan Kinan.
Saat Arin melihat Kinan, ternyata Kinan tengah asik berfoto dengan wisatawan lain, Arin hanya tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang aneh.
"Manis," ucap Zehan lagi dan Arin pun refleks menoleh ke arah Zehan yang tengah tersenyum padanya.
Arin langsung mengalihkan wajahnya dan menghiraukan semua perkataan Zehan dan setelah itu, Arin pergi menghampiri Kinan lebih tepatnya ia menghindari Zehan.
"Kenapa, Rin?" tanya Kinan.
"Kamu jangan ninggalin aku dong Nan, dari tadi Zehan deketin aku tau," ucap Arin.
Eri yang mendengarnya hanya tersenyum "Lo harus beri kesempatan buat Zehan, Rin. Nih ya siapa tau dia itu cuma mau temanan sama lo," ucap Kinan.
"Cuma temenan, gak balikan atau jangan bilang kalau lo masih suka sama Zehan dan lo salah tingkah di dekat Zehan," ucap Kinan.
"Enak aja, aku udah gak ada rasa apa-apa ya dan aku juga gak mau deket dia lagi, udah titik, kayaknya kita pernah bahas ini deh dulu," ucap Arin.
"Iya Rin, santai aja kali. Gue juga cuma bercanda," ucap Kinan.
Zehan yang melihat dari jauh hanya tersenyum karena akhirnya ia dapat melihat Arin tertawa seperti dulu saat bersamanya.
Setelah beberapa saat, akhirnya mereka kembali naik ke atas karena pantai akan di tutup untuk istirahat dan akan buka kembali sore nanti.
Setelah berada di atas, Arin langsung pergi menjauh dari Zehan dan menghampiri Kinan yang sudah berada di pintu keluar.
Saat di parkiran, Arin dan Kinan melihat Zehan, Okha, Andis, Abrar dan Riko tengah berjalan ke arah mobil mereka.
Mereka melihat ke arah Arin dan Kinan dan dengan cepat Arin dan Kinan masuk ke dalam mobilnya.
.
Saat ini Arin dan Kinan menuju pusat kita karena memang hari ini adalah hari terakhir terakhir mereka sebelum kembali ke kota A dan memulai kembali kegiatan mereka.
__ADS_1
"Oh iya Rin, tadi Mas Bayu udah sampai disana," ucap Kinan dan diangguki Arin.
Sebelum berangkat ke pantai barat tadi, Kinan mengatakan bahwa ia akan bertemu dengan Mas Bayu yang merupakan sepupu Kinan yang tinggal di kota L.
Mas Bayu memang dari kecil di kota L, namun waktu liburan pasti keluarga Mas Bayu datang ke kota A atau keluarga Kinan yang ke kota L dan karena Kinan tengah berada di kota L maka keluarganya mengatakan untuk menemui Mas Bayu.
Sebenarnya usia Mas Bayu sama dengan Arin dan Kinan, namun karena budaya kota L yang cukup kental di keluarga Mas Bayu akhirnya Kinan pun memanggilnya dengan sebutan "Mas Bayu" itupun karena perintah orangtuanya dan Arin pun hanya mengikuti panggilan yang digunakan Kinan.
"Lumayan Rin, nanti kita bakal di traktir makanan yang banyak, pasti itu soalnya nih ya Mas Bayu itu pengusaha sukses," lanjut Kinan.
"Kamu belum kenyang Nan? tadi kamu makan lumayan banyak loh," tanya Arin.
"Kan lo tau kapasitas perut gue," ucap Kinan.
Saat Arin tengah mengendarai mobil tersebut, tiba-tiba handphonenya berdering, "Nan, angkatin dong," pinta Arin.
Kinan pun mengambil tas Arin,, "Siapa Nan?" tanya Arin.
"Bibi Ika, Rin. Kira-kira ada apa ya," ucap Kinan.
Tak lama setelah itu, Arin pun memilih untuk menepikan mobilnya dan mengangkat telepon dari Bibi Ika.
^^^Kenapa, Bi?^^^
Gak kenapa-napa kok, Rin. Bibi cuma pengen tau gimana keadaan kamu.
^^^Arin Baik-baik aja, Bi.^^^
Kamu udah ketemu orang tua kamu?
^^^Udah kok Bi, Arin yakin pasti Ayah sama Bunda bahagia di surga.^^^
Yaudah kamu liburan aja dulu nanti kalau udah mau pulang kabari Bibi ya.
^^^Iya Bi, nanti Arin kabari, tapi inget lo Bibi jangan capek-capek, Arin udah minta Mbak Susan urus semaunya.^^^
Iya, Rin. Semua kebutuhan Bibi juga udah di urus sama Susan. Yaudah, kalau gitu kamu sama Kinan hati-hati ya, Bibi tutup teleponnya.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.