
Entahlah apa yah dipikirkan Zehan sehingga hari itu juga ia langsung memilih pergi meninggalkan sahabatnya.
Katakan saja Zehan cemburu karena melihat Arin bersama dengan seorang pria dan siapapun yang melihat itu pasti menganggap jika mereka tengah memiliki hubungan spesial.
Saat ini Zehan tengah berada di negara E lebih tepatnya untuk bertemu dengan kakeknya yang sudah lama tidak ia temui.
Zehan berangkat kurang lebih jam 1 dini hari setelah memastikan semuanya, Zehan pergi diam-diam tanpa memberitahu sahabatnya.
Saat ini Zehan berada di rumah berbahan kayu dan bercorak hewan serta tumbuhan yang membuat kesan klasik dan juga taman hijau yang menyejukkan mata.
"Kenapa kok tiba-tiba kesini, ada masalah ya?" tanya Kakek Dion.
"Gak lah Kek, Zehan ke sini kerena kangen Kakek sama Nenek," ucap Zehan.
"Halah, alasan aja kamu itu," ucap Kakek Dion.
Jika ada masalah, Zehan memang akan datang ke rumah Kakek Dion karena menurutnya rumah ini dapat menenangkan pikirannya yang sedang kacau apalagi saat ini bukan hanya pikirannya yang kacau, tapi juga hatinya.
"Coba kamu tanya langsung ke dia," ucap Kakek Dion tiba-tiba.
"Maksud Kakek? tanya ke siapa?" tanya Zehan yang bingung dengan perkataan Kakek Dion ini.
"Kamu jangan percaya sama apa yang kamu lihat, cuma itu pesan Kakek. Kakek mau kamu menyelesaikan masalah kamu dengan bijak paham," ucap Kakek Dion lalu meninggalkan Zehan yang masih berada di kursi taman.
Saat Kakek Dion masuk ke dalam rumah, Nenek Olla menghampiri Kakek Dion dan menanyakan apa permasalahan Zehan.
"Kenapa Zehan? dia baik-baik aja kan?" tanya Nenek Olla karena khawatir dengan cucunya.
"Tidak perlu khawatir, kita akan segera memiliki cucu menantu," bisik Kakek Dion.
"Maksudnya Zehan akan menikah," ucap Nenek Olla dan diangguki Kakek Dion.
Nenek Olla percaya dengan perkataan Kakek Dion karena biasanya semua itu akan benar-benar terjadi.
Sedangkan, Zehan yang masih belum paham dengan apa yang dibicarakan Kakeknya langsung mengecek ponselnya dan ternyata itu adalah Mamanya tercinta.
"Astaga Zehan! lo bego banget kenapa lo lupa sama kanjeng ratu sih," gumam Zehan.
Ya, Zehan lupa tidak mengabari Mama Naura jika saat ini ia berada di rumah Kakek Dion di negara E.
Beberapa menit kemudian, ponsel Zehan kembali berdering dan saat dilihatnya ternyata Mama Naura sedang menelponnya, Zehan sebenarnya malas untuk menjawab teleponnya karena ia pasti akan mendapat teriakan yang mengguncang dunia dari Mama Naura, tapi bagaimanapun Zehan harus mengangkatnya.
Akhirnya Zehan pun mengangkat sambungan telepon tersebut dan benar saja baru saja Zehan menaruh ponselnya di telinganya tiba-tiba Mama Naura sudah meneriakkan namanya diujung telepon sana.
Zehan!
^^^Astaga Ma, jangan teriak-teriak gitu dong, Zehan kaget tau.^^^
Siapa suruh kamu gak ngabarin Mama kalau kamu ke negara E?
__ADS_1
^^^Hehehe maaf Ma, Zehan lupa gak ngabarin Mama. Zehan baru inget waktu Mama nelpon Zehan soalnya Zehan kesini nya juga buru-buru.^^^
Ngapain sih kamu kok ke sana dadakan?
^^^Ya pengen aja Ma, masa Zehan gak boleh ke sini sih.^^^
Bukannya gak boleh, tapi kamu kesana nya jadinya Mama kan mikir yang gak-gak apalagi kamu sampai gak sempet ngabarin Mama.
^^^Iya deh maafin Zehan kalau gitu.^^^
Terus kamu kapan baliknya?
^^^Rencananya sih Zehan mau di sini selama satu Minggu.^^^
Apa! terus nanti perusahaan gimana?
^^^Mama gak usah khawatir, Zehan udah bilang ke Panji dan gak ada acara penting yang mengharuskan Zehan datang kok semuanya juga udah di handle Panji.^^^
Yaudah kalau gitu.
^^^Papa udah tau belum Ma?^^^
Udah, tadi udah Mama kasih tau soalnya.
^^^Terus Papa gimana Ma?^^^
Papa kamu taunya kamu ke negara E doang dan masih belum tau sampai kapan kamu disana. Nanti biar Mama kasih tau setelah Papa kamu pulang dari restoran aja.
Yaudah deh kalau gitu Mama tutup teleponnya jaga kesehatan dan cepet pulang kamu, awas aja kalau sampai seminggu kedepannya kamu gak pulang, mama akan ke sana terus akan Mama penggal kepala kamu.
^^^Astaga sadis banget Ma.^^^
Biarin aja, Udah ya Mama tutup dulu teleponnya.
Setelah itu, Mama Naura pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Maafin Zehan, Ma. Zehan ini seorang pengecut karena bukannya menyelesaikan perasaan Zehan, tapi Zehan justru pergi untuk menenangkan diri. Harusnya Zehan selesaikan semua urusan Zehan sama Arin, tapi ini Zehan justru kabur," gumam Zehan.
Setelah perenungan yang cukup panjang di taman akhirnya Zehan masuk ke dalam dan saat ia masuk ia melihat Kakek Dion dan Nenek Olla tengah ngobrol di ruang tamu.
"Ngobrolin apa nih kok kayak seru gitu, Zehan ikutan dong," ucap Zehan dan duduk di tengah-tengah antara Kakek Dion dan Nenek Olla dengan memeluk Nenek Olla.
"Apaan sih kamu ini, cari pasangan sendiri sana jangan rebut Nenek dari Kakek dong," ucap Kakek Dion.
"Nek, ini loh Kakeknya ganggu," rengek Zehan pada Nenek Olla.
"Udah kalian ini gak usah berantem," ucap Nenek Olla.
"Tapi, cucu kamu itu loh," ucap Kakek Dion.
__ADS_1
"Udah gapapa sekali-kali lagian Zehan juga jarang kan ke sini," ucap Nenek Olla.
Zehan yang merasa menang pun langsung memeluk erat Nenek Olla dan menjulurkan lidahnya ke arah Kakek Dion.
Kakek Dion hanya pasrah dengan muka sedihnya yang membuat Zehan tersenyum kemenangan.
.
Di sisi lain, setelah sampai di rumah, Arin langsung membersihkan diri dan membuatkan makanan untuk Bibi Ika lantaran Bibi Ika harus meminum obatnya.
"Bibi udah makan dan minum obat setiap hari kan Mbak?" tanya Arin pada Mbak Susan yang selama ini menjaga Bibi Ika.
"Iya, udah kok, tapi ya walaupun susah banget bujuk Bi Ika, tapi berhasil kok akhirnya," ucap Mbak Susan dan diangguki Arin.
"Makasih banget ya Mbak, Mbak Susan udah mau bantuin Arin buat rawat Bibi," ucap Arin.
"Iya gapapa kok Rin, kamu kayak sama siapa aja," ucap Mbak Susan.
"Oh iya Mbak, ini Arin ada sedikit oleh-oleh buat Mbak," ucap Arin dengan memberikan bingkisan untuk Mbak Susan.
"Astaga Rin, gak usah repot-repot," ucap Mbak Susan.
"Gak sama sekali kok Mbak, anggap aja sebagai rasa terima kasih dari Arin buat Mbak Susan karena selam Arin pergi Mbak Susan udah mau bantu Arin ngerawat Bibi," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu makasih ya Rin," ucap Mbak Susan.
"Iya Mbak," ucap Arin.
"Mbak pergi dulu ya Ein, nanti suami Mbak keburu dateng," ucap Mbak Susan.
"Iya mbak sekali lagi terima kasih ya," ucap Arin.
"Iya Rin," ucap Mbak Susan lalu berlalu meninggalkan Arin.
Setelah Mbak Susan pergi, Arin pun membuat makanan untuk Bibi Ika dan saat semuanya selesai ia segera membawa makanan tersebut ke kamar Bibi Ika.
"Bibi makan dulu ya, ini Arin udah biarin Bibi makanan," ucap Arin dengan membantu Bibi Ika duduk dan bersandar di ranjangnya.
"Makasih ya Rin, kamu sudah mu merawat bibir," ucap Bibi Ika.
"Bibi ini bicara apa sih, gini ya Bibiku tercinta. Ini itu udah kewajiban Arin buat ngerawat Bibi karena setelah Ayah dan Bunda pergi maka Bibi itu adalah orangtua Arin. Udah ah gak usah bahas ini bikin sedih aja, kita makan aja ya, Bi," ucap Arin.
Setelah Bibi Ika memakan makanan yang ia buat tadi dan meminum obatnya, Arin segera keluar fan menuju kamarnya karena ia juga harus menyiapkan berkas untuk rapat besok, bagaimana bisa ia liburan tanpa memikirkan tugas kerjanya yang justru semakin menumpuk.
"Astaga Arin kenapa kamu lupa sih seharusnya kamu rekap ini buat rapat besok, keasikan liburan sih sampai lupa gini kan. Udah lebih baik aku kerjain aja biar cepet selesai," gumam Arin lalu mengerjakan tugas kerjanya yang sudah menumpuk akibat liburan dadakannya bersama Kinan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.