
"Zehan kamu anterin Chesa dulu apa langsung ke kantor?" tanya Mama Naura saat melihat Zehan turun dari tangga menuju meja makan.
"zehan, anterin Chesa dulu Ma, baru ke kantor kenapa emangnya?" tanya Zehan.
"Gapapa kok Mama cuma tanya aja," ucap Mama Naura.
"Halo semuanya," ucap Chesa.
"Halo juga sayangnya Mama, oh iya kamu berangkat sama Kakak kamu kan?" tanya Mama Naura.
"Iya Ma, kenapa emangnya?" tanya Chesa.
"Oh gak cuma tumben aja kamu gak dijemput Bryan dia lagi sibuk banget ya," ucap Mama Naura.
"Oh Bryan sekarang lagi di negara X Ma, buat ngurus salah satu perusahaannya," ucap Chesa.
"Giliran Bryan pergi aja baru deketin Kakak, tapi pas Bryan ada gak pernah tuh ngedeketin Kakak," ucap Zehan.
"Hehehe Kak Zehan ini bisa aja ya," ucap Chesa.
"Udah kalian makan aja," ucap Mama Naura lalu mereka pun memakan sarapannya.
"Oh iya Ma, kita berangkat dulu ya," pamit Chesa.
"Iya hati-hati ya, Zehan inget ya jangan ngebut-ngebut Chesa kan mau nikah, jadi Mama gak mau terjadi apa-apa sama Chesa," ucap Mama Naura.
"Mama kan Chesa masih akhir tahun nanti nikahnya," ucap Chesa.
"Ya pokoknya Mama gak mau kamu lecet sedikit pun," ucap Mama Naura.
"Udah yuk," ucap Zehan lalu mereka pun menuju ke kantor Chesa terlebih dahulu baru Zehan menuju kantornya.
Chesa saat ini bekerja sebagai direktur di salah satu cabang perusahaan baru milik Zehan yang berkecimpung di bidang perhiasan, Zehan memang mempercayakan Chesa menjadi direktur disana karena Chesa juga lah yang menyarankan Zehan untuk membuat sesuatu yang berbeda dan Zehan menemukan ide untuk membuka cabang baru yaitu dalam hal perhiasan.
Setelah mengendarai mobilnya kurang lebih 25 menit mereka pun sampai di kantor Chesa, "Makasih ya Kakakku tersayang kalau gitu Chesa pergi dulu dah," pamit Chesa lalu keluar dari mobil Zehan dan menuju ke kantornya.
Zehan pun mengendarai mobilnya menuju kantornya dan setelah sampai di kantornya Zehan pun mulai mengerjakan pekerjaannya, saat Zehan sedang mengerjakan pekerjaannya tiba-tiba handphonenya bergetar.
Zehan melihat siapa yang meneleponnya lalu ia mengangkat sambungan telepon tersebut.
^^^Halo kenapa?^^^
Han, lo bilang ke anak-anak nanti ya kalau gue gak bisa ikut kumpul bareng malam ini?
^^^Kenapa emangnya? kan lo udah bilang bisa kemarin.^^^
Iya, gue tau gue emang bilang bisa kemarin, tapi tadi Dian masuk ke rumah sakit kayaknya dia mau lahiran deh Han, jadi gue gak mau ninggalin dia gapapa kan.
^^^Yaudah lo gak usah khawatir biar gue bilang ke yang lain aja oh iya Kha, nanti kalau Dian udah lahiran lo kabarin gue, Abrar, Riko atau Andis biar kita jenguk anak lo.^^^
Siap Han, thanks ya kalau gitu gue tutup dulu ya Han.
Setelah itu, Okha pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
Zehan kembali pun melanjutkan kegiatannya hingga jam istirahat tiba barulah Zehan mulai beristirahat sebentar dan menutup mata hingga terdengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Masuk," ucap Zehan lalu orang tersebut pun masuk.
"Kenapa?" tanya Zehan.
"Maaf Pak mengganggu waktu istirahatnya saya kesini untuk membahas mengenai ini Pak," ucap Panji lalu memberikan selembar kertas pada Zehan.
"Maksudnya apa ini?" tanya Zehan.
"Jadi saya dengar Bu Tara akan menikah di negara B Pak dan Bu Tara ingin Pak Zehan hadir," ucap Panji.
"Kapan acara pernikahannya?" tanya Zehan.
"Menurut tanggal sih tanggal 16 Pak, tapi akan saya tanyakan lagi pada Bu Tara untuk lebih pasti," ucap Panji.
"Yaudah kalau gitu kosongkan jadwal saya dari tanggal 15 sampai 17," ucap Zehan.
"Baik Pak, kalau begitu saya permisi," ucap Panji lalu pergi meninggalkan ruangan Zehan.
"Gak nyangka semua temen-temen gue udah banyak yang memulai hidup baru, tapi kenapa gue kayak gak bisa memulai hidup baru ya? gue itu terlalu nyaman sama hidup gue sekarang dan gue ngerasa kayak nunggu seseorang, tapi taulah gue bingung," gumam Zehan.
Hari menjelang sore, Zehan pun menjemput Chesa di kantornya karena tidak kunjung melihat Chesa keluar dari kantor akhirnya Zehan pun menghubungi Chesa
Kamu dimana? udah selesai belum?
Iya, bentar lagi Kak, Kakak masuk aja ada yang mau Chesa omongin juga.
Yaudah kalau gitu Kakak kesana.
Zehan pun memutuskan sambungan telepon tersebut dan memilih keluar dari mobilnya.
"Wah Pak Zehan makin ganteng aja ya walaupun dinginnya minta ampun jangankan balas salam gue, ngelirik aja gak," ucap salah satu karyawan.
"Namanya juga orang ganteng ya bebas lah mau ngapain aja kalau orangnya Pak Zehan pasti banyak yang mau, tapi sayang Pak Zehan sampai sekarang belum punya pasangan. Gue mau kok kalaupun harus jadi pasangannya Pak Zehan," ucap salah satu karyawan lainnya.
"Ngimpi lo," ucapnya.
Zehan sendiri terus berjalan hingga sampai di depan ruang kerja Chesa, "Pak Zehan ingin bertemu dengan Bu Chesa?" tanya sekretaris Chesa.
Tanpa menjawab pertanyaan dari sekretaris Chesa, Zehan pun membuka pintu ruang kerja Chesa dan melihat Chesa yang masih sibuk dengan aktivitasnya.
"Kakak udah sampai," ucap Chesa.
"Katanya ada yang ingin kamu bicarain, apa?" tanya Zehan.
"Oh jadi gini Kak, kan Chesa mau buka cabang di daerah ini menurut Kakak bagus gak?" tanya Chesa.
"Bukannya disitu sudah ada," ucap Zehan.
"Belum Kak, disitu belum ada makanya aku pengen buat disitu soalnya nih ya tempat itu kan banyak banget yang kesana pasti bakal terjual kak perhiasan kita gimana?" tanya Chesa.
"Terserah nanti kamu kirimkan saja proposal nya ke perusahaan," ucap Zehan.
"Okey Kak Zehan memang Kakakku adalah yang terbaik," ucap Chesa.
"Udah cuma itu yang ingin kamu sampaikan?" tanya Zehan.
__ADS_1
"Iya Kak," ucap Chesa dengan menganggukkan kepalanya.
"Yaudah ayo kita pulang nanti Mama malah marah-marah kalau Kakak pulang gak sama kamu," ucap Zehan.
"Bentar Kak, Chesa beresin dulu berkas-berkasnya, yaudah yuk," ucap Chesa lalu mereka pun keluar dari ruang kerja Chesa.
Selama perjalanan banyak pasang mata yang memperhatikan Zehan dan Chesa, mereka menganggap bahwa Zehan dan Chesa adalah Kakak Adik yang sempurna karena Zehan tampan dan Chesa cantik.
Mereka berdua pun sampai di mobil, "Oh iya apa kamu tidak bisa pilih sekretaris yang benar?" tanya Zehan.
"Hah maksud Kakak apa? pilih sekretaris yang benar emang sekretaris Chesa gak bener?" tanya Chesa.
"Bukan gitu, tapi sekretaris mu yang satu ini pakaiannya terlalu terbuka dan juga setiap Kakak datang pasti dia menonjolkan tubuhnya," ucap Zehan.
"Ya gapapa dong Kak, itu artinya dia tertarik sama Kakak seharusnya tuh Kakak seneng karena ada orang yang tertarik dengan Kakak yang dinginnya kayak kulkas," ucap Chesa.
"Kakak bingung itu tadi Kakak anggap pujian atau ejekan," ucap Zehan yang membuat Chesa tertawa.
"Hahaha, Kak Zehan bisa ngelucu juga ternyata," ucap Chesa yang diiringi dengan tawa.
"Kenapa kok malah ketawa?" tanya Zehan.
"Gapapa kok cuma lucu aja," ucap Chesa.
Setelah mengendarai beberapa menit mereka berdua pun sampai di kediaman keluarga Gulzar, "Mama! Chesa sampe," ucap Chesa.
"Huh, anak Mama udah pulang," ucap Mama Naura.
"Ma, Chesa mau ke kamar dulu ya mau mandi udah lengket banget," ucap Chesa.
"Yaudah kamu mandi dulu, oh iya Kakak kamu mana?" tanya Mama Naura.
"Kakak di depan mungkin Chesa juga gak tau," ucap Chesa lalu menuju kamarnya.
Zehan pun masuk ke dalam rumah, "Han, tadi Abrar telepon kalau nanti kamu mau kumpul sama mereka, tapi Okha gak bisa ikut" ucap Mama Naura.
"Oh itu iya Ma nanti mau kumpul, tapi gak tau juga kayaknya Dian mau ngelahirin makanya Okha gak ikut," ucap Zehan.
"Apa, lahiran! Dian mau lahiran aduh Mama pengen banget jengukin Dian deh. Mama penasaran gimana gendong anak kecil lagi," ucap Mama Naura.
"Yaudah Mama kesana sama Chesa aja, tapi Okha belum ngabarin Zehan, Dian udah lahiran apa belum," ucap Zehan.
"Iya nanti Mama ajak Chesa aja," ucap Mama Naura.
"Yaudah ya Ma, Zehan ke kamar dulu," ucap Zehan lalu menuju kamarnya.
"Tapi, Mama lebih pengen gendong cucu Mama sendiri Han, kalau aja kamu sama Arin gak pisah kayak gini mungkin sekarang Mama bisa gendong cucu," gumam Mama Naura.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1