Married With Mantan

Married With Mantan
Keputusan


__ADS_3

"Semoga apa yang aku lakukan ini benar, aku gak bisa kerja dibayang-bayangi masa lalu, aku mau kerja tenang dan aku bisa ambil lagi rumah Ayah sama Bunda. Ayo Arin semangat berjuang ya," gumam Arin.


Arin berniat untuk mengajukan surat pengunduran dirinya lantaran ia tidak ingin selalu terikat dengan Zehan, ia ingin menghindarinya selamanya.


Saat ini Arin sudah berada di ruangannya, ia ingin memberikan surat ini pada Bu Mika, namun ia takut jika ditanya alasan kenapa ia harus berhenti meskipun dalam surat tersebut ia sudah memberikan alasannya.


Saat melihat Bu Mika masuk ke ruangannya, Arin pun menyusul Bu Mika dan Arin pun sudah berada di depan pintu ruangan Bu Mika dan bersiap untuk mengetuk pintu tersebut.


Saat akan mengetuk pintu tiba-tiba pintu terbuka dan nampak lah Bu Mika, "Kenapa Rin?" tanya Bu Mika.


"I-itu Bu..," ucap Arin gugup.


"Itu apa Rin? kamu ini yang jelas kalau mau ngomong," tanya Bu Mika.


"Nanti aja deh Bu saya bilangnya sampai Bu Mika gak sibuk," ucap Arin.


"Yaudah kalau gitu kamu tunggu aja, saya gak lama kok," ucap Bu Mika.


"Siap, Bu," ucap Arin.


"Kenapa lo, Rin? semangat bener deh ngomong sama Bu Mika," tanya Adel yang ada di belakangnya.


"Astaga kamu ngagetin aja Del, gapapa kok emang gak boleh ya," ucap Mika.


"Ya gapapa juga sih, tapi aneh aja," ucap Adel.


Beberapa saat kemudian, Bu Mika selesai dengan urusannya dan memanggil Arin untuk ke ruangannya.


"Iya Bu, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arin sopan.


"Tadi katanya kamu mau ngomong sama saya kenapa?" tanya Bu Mika.


"Oh itu Bu, saya ingin mengatakan sesuatu kepada Bu Mika," ucap Arin.


"Yaudah kamu ngomongnya nanti dulu ya ini kamu kasih ke Pak Zehan dulu kayaknya dia perlu berkas ini dan bilang dari saya, saya capek banget dari tadi jalan," ucap Bu Mika dengan memberikan beberapa berkas tersebut pada Arin.


Arin hanya bisa diam padahal ia ingin sekali menghindar dari Zehan, tapi ia justru harus menemui Zehan untuk memberikan berkas ini.


Tekad Arin semakin kuat untuk secepatnya keluar dari perusahaan karena jika ia tidak segera keluar maka ia tidak tau apa yang akan terjadi nantinya.


Arin sudah berada di lift menuju ruang kerja Zehan yang berada di lantai paling atas, saat ia berada di depan pintu ruangan Zehan, Arin masih ragu untuk mengetuk pintu tersebut dan juga ia semakin penasaran lantaran ia mendengar suara anak kecil dari dalam ruangan tersebut.


'Mungkin cuma telingaku aja kali yang salah, masa di kantor ada anak kecil,' ucap Arin dalam hati lalu ia pun memberanikan mengetuk pintu ruangan tersebut.


Tok tok tok


"Masuk," ucap Zehan dari dalam ruangannya.


Arin yang mendengar suara Zehan semakin gugup lalu ia membuka pintu tersebut dan betapa terkejutnya ia ternyata disana memang benar ada anak perempuan dan seorang perempuan dimana anak perempuan tersebut berada di pangkuan Zehan.

__ADS_1


Namun, Arin masih dapat mengontrol dirinya supaya tidak terlihat bahwa ia terkejut saat ini, "Arin," ucapan Tara menyadarkan Arin dari lamunannya.


"Permisi Pak, maaf menganggu waktunya ini berkas dari Bu Mika. Beliau menitipkannya ke saya karena beliau ada pekerjaan lain, kalau begitu saya permisi," ucap Arin lalu bergegas keluar dari ruangan tersebut.


Namun, sebelum Arin berhasil keluar dari ruangan tersebut, Tara terlebih dahulu menghampirinya dan berdiri di depan Arin, sontak saja hal itu membuat Arin terkejut dan tidak bisa keluar dari ruangan tersebut.


"Kamu lupa sama aku Rin, aku Tara kita, sekelas waktu SMA," ucap Tara dan Arin hanya diam, ia tidak ingin membicarakan hal apapun dengan Tara apalagi saat ini mereka berada di ruang kerja Zehan.


"Maaf saya masih ada urusan," pamit Arin dengan sopan lalu berjalan meninggalkan Tara, namun langkahnya kembali terhenti karena Tara yang menahan tangannya.


"Kamu beneran lupa, Rin," ucap Tara lalu Arin menghempaskan tangan Tara kasar.


"Iya aku lupa puas," ucap Arin kesal.


"Rin," tegur Zehan langsung berdiri menghampiri Arin dan Tara, namun sebelum Zehan sampai, Arin sudah keluar terlebih dahulu dari ruangan tersebut.


.


Saat melihat Arin masuk ke ruangannya ia sangat terkejut lalu Arin memberikan berkas yang tadi ia minta ke bagian keuangan setelah itu Arin hendak pergi, namun Tara menahannya dan menanyakan hal yang membuatnya penasaran.


Namun, Zehan bingung saat Arin menghempas kasar tangan Tara apa Tara membuat kesalahan sampai Arin bersikap seperti itu.


"Rin," tegur Zehan.


Ia tidak sadar jika ia memanggil nama Arin dengan nada sedikit meninggi, saat ia akan menghampiri Arin tiba-tiba Arin keluar dari ruangannya.


"Han, kenapa kamu manggil Arin seperti itu?" tanya Tara.


.


Disisi lain, Arin yang baru saja keluar dari ruangan Zehan pun segera menuju toilet dan menangis sejadi-jadinya.


Setelah merapikan penampilannya, Arin keluar dari toilet dan menuju ke ruangan Bu Mika, ia tidak mau menyia-nyiakan waktunya di kantor ini.


Saat Arin sudah berada di ruangan Bu Mika, ia duduk di depan Bu Mika, "Kenapa Rin? berkasnya udah kamu kasih ke Pak Zehan kan?" tanya Bu Mika.


"Iya, Bu. Berkasnya sudah saya berikan pada Pak Zehan," ucap Arin dan diangguki Bu Mika.


"Maaf Bu, ada yang ingin saya bicara dengan Bu Mika," ucap Arin.


"Iya silahkan," ucap Bu Mika.


"Ini Bu," ucap Arin dengan memberikan surat pengunduran dirinya ke meja Bu Mika.


Bu Mika yang melihat hal tersebut terkejut, "Maksud kamu apa Arin?" tanya Bu Mika.


"Saya ingin mengundurkan diri Bu," ucap Arin dengan tersenyum.


"Kenapa?" tanya Bu Mika.

__ADS_1


"Saya rasa tujuan saya untuk bekerja di sini sudah tidak selaras dengan tujuan baru perusahaan dan karena itu saya mengundurkan diri karena saya tidak ingin bekerja jika saya sudah tidak nyaman berada di perusahaan," ucap Arin.


Tidak masalah ia harus keluar dari kantor karena ia masih bisa bekerja di restoran, "Hem Ibu sangat menyayangkan keputusan kamu, tapi Ibu gak bisa apa-apa karena ini kemauan kamu lagian juga kontrak kamu juga sebentar lagi habis bukan, tapi perusahaan mungkin akan membicarakan perpanjangan kontrak dengan kamu. Apa kau gak bisa mempertimbangkan dulu sebelum kamu benar-benar keluar dari perusahaan?" tanya Bu Mika.


"Maaf, Bu. Ini sudah keputusan saya dan saya tidak akan mempertimbangkan apapun lagi," ucap Arin.


"Baiklah, kalau memang keputusan kamu sudah bulat maka Ibu hanya berharap kamu sukses untuk kedepannya," ucap Bu Mika.


"Iya, Bu. Terimakasih karena selama ini Bu Mika sudah mengajarkan banyak hal pada saya, hem apa bisa Ibu tidak beritahu ke yang lain mengenai hal ini," ucap Arin.


"Kenapa memangnya?" tanya Bu Mika.


"Saya ingin memberitahukannya sendiri Bu," ucap Arin yang diangguki Bu Mika.


"Senang bisa mengenal kamu Rin," ucap Bu Mika.


"Terima kasih Bu kalau begitu saya permisi,"


pamit Arin dan saat ia keluar dari ruangan Bu Mika, ia melihat Vira yang melihat ke arahnya.


"Kenapa?" tanya Vira.


"Gapapa," ucap Arin.


"Guys, gimana kalau kita makan," ucap Arin.


"tumben lo ngajak duluan Rin?" tanya Adel.


"Gapapa cuma laper aja," ucap Arin.


"Yaudah yuk," ucap Gabby lalu mereka semua menuju ke kantin.


Ternyata di kantin sudah ada Kinan lantaran Arin tadi sempat menyuruh Kinan ke kantin, "Kenapa Rin, kok lo nyuruh gue ke sini," tanya Kinan.


"Emang gak boleh apa Nan?" tanya Arin.


"Ya gapapa lah Rin," ucap Kinan.


Di tengah-tengah makan Gabby tiba-tiba bersuara, "Heh guys kalian tau gak kalau Pak Zehan sama istrinya katanya lagi ada di ruangannya Pak Zehan sama makanya juga," ucap Gabby.


"Kata siapa lo, By?" tanya Kinan dengan melirik Arin.


Arin yang di tatap Kinan hanya diam tidak menoleh, ia sedari tadi mengabaikan semua perkataan mereka mengenai Zehan dan ia hanya fokus pada makanannya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2