Married With Mantan

Married With Mantan
Mama!


__ADS_3

Pagi harinya, Arin bersiap untuk mencari pekerjaan, "Del, aku nitip Zayden dulu ya, aku bakal usahain cepet pulangnya," ucap Arin.


"Iya Rin, lo cari kerjaan aja dulu, lagian gue juga udah dapet beberapa tempat kerja kok," ucap Adel.


"Yaudah kalau gitu aku pergi dulu makanannya udah aku siapin semuanya kok," ucap Arin lalu pergi meninggalkan kontrakan mereka.


"Gue salut sama lo Rin, lo bisa bertahan ngerawat Zayden sambil kerja lagi," ucap Adel.


Arin sendiri pun mencari pekerjaan di beberapa tempat dan lebih dari 5 kali Arin ditolak mentah-mentah, "Cari kemana lagi aku ini?" tanya Arin pada dirinya sendiri.


Saya tengah beristirahat tiba-tiba Arin mendengar seorang perempuan yang tengah mengobrol dengan seseorang dibalik sambungan telepon.


^^^Aduh gimana dong toko itu kekurangan karyawan banget loh untung lo sahabat gue.^^^


Iya gue tau, terus gimana dong? gini aja aja gue bakal cari, tapi gue gak janji bakal dapet secepatnya ya.


^^^Awas aja ya kalau lo gak dapat, gue butuh karyawan kalau bisa hari ini juga dia ada.^^^


Iya-iya gue usahain.


Setelah itu, perempuan tersebut pun memutuskan sambungan telepon tersebut.


Arin pun memberanikan diri untuk menanyakan mengenai pekerjaan yang tadi perempuan tersebut bicarakan, "Selamat siang, sebelumnya maaf tadi kalau saya tidak salah dengar anda sedang membutuhkan karyawan ya?" tanya Arin.


"Oh iya saya emang lagi butuh karyawan emangnya kenapa ya?" tanya perempuan tersebut.


"Kenalkan saya Arin, apa saya bisa melamar kerja ditempat anda?" tanya Arin.


"Hah kamu mau jadi karyawan di tempat kerja saya?" tanya perempuan itu dengan semangat dan Ari menganggukkan kepalanya.


"Akhirnya yaudah kalau gitu besok kamu bawa surat lamaran kerja kamu ke alamat ini dan satu lagi besok kalau kamu disana bilang aja kalau kamu dapat informasi lowongan kerja ini dari Friska," ucap perempuan tersebut yang bernama Friska.


"Friska," ucap Arin.


"Iya kenalin nama saya Friska," ucap Friska.


"Oh halo Mbak Friska," ucap Arin.


"Jangan panggil Mbak dong panggil Friska aja kayaknya kita seumuran juga," ucap Friska dan diangguki Arin.


"Iya Friska terima kasih ya," ucap Arin.


"Iya sama-sama, justru harusnya saya yang berterimakasih karena kamu udah jadi penyelamat saya untuk cari karyawan," ucap Friska.


"Iya, Friska," ucap Arin.


"Oh ya, aku balik dulu ya mau nyiapin beberapa berkas soalnya," ucap Friska.


"Iya, hati-hati di jalan," ucap Arin dan diangguki Friska.


Setelah itu, Arin pun menuju rumahnya karena ia tidak tenang jika meninggalkan Zayden terlalu lama, saat ini Arin membeli beberapa bahan makanan terlebih dahulu untuk persediaan di rumah lalu selesai membeli Arin kembali menuju ke rumah.

__ADS_1


Saat Arin sedang berjalan tiba-tiba sebuah mobil menyerempetnya dan untung hanya tas Arin yang terkena, "Siapa sih gak bisa pelan-pelan apa kalau nyetir lagian jalanan masih lebar kenapa harus ke arah sini sih," gumam Arin lalu melanjutkan perjalanannya menuju kompleks rumahnya.


"Mbak baru ya disini?" tanya seorang wanita dengan makeup yang cukup tebal dan Arin pun menghentikan langkahnya dan membalas pertanyaan wanita tersebut.


"Oh iya Bu, saya baru pindah kemarin," ucap Arin.


"Hah Mbak panggil saya apa Bu? maksudnya Ibu gitu, maaf nih ya saya masih single saya bukan Ibu-ibu enak aja panggil Bu saya ini masih cantik kayak gini," ucap wanita tersebut.


"Ma-maaf maksud saya Mbak," ucap Arin.


"Mbak kampungan banget sih panggil saya Sis atau Jeng gitu, biasanya sih orang-orang manggil saya Sis Romlah, untung aja Mbak nya masih baru jadi saya maafin kalau sampai terulang lagi awas aja Mbak. Inget ya Sis Romlah," ucap Sis Romlah.


"Iya Sis Romlah," ucap Arin.


"Nah gitu kan enak di dengernya," ucap Sis Romlah lalu pergi meninggalkan Arin.


Arin pun melanjutkan perjalanannya hingga sampai di rumahnya lalu ia masuk dan melihat Kinan yang sudah berada disana, "Mama!" panggil Zayden lalu berlari ke arah Arin dan memeluk kaki Arin.


"Sayang jangan peluk Mama kayak gini, ini Mama lagi bawa barang nanti kalau jatuh gimana terus kena Zay loh," ucap Arin, namun Zayden tidak meresponnya.


Kinan yang melihatnya pun menyuruh Arin memberikan barang belanjaannya, "Sini belanjaannya, lo peluk Zay aja dari tadi dia kangen banget sama lo," ucap Kinan lalu Arin pun memberikan belanjaan tersebut pada Kinan.


"Anak Mama kangen ya sama Mama," ucap Arin yang menyetarakan tingginya dengan tinggi Zayden.


"Iya Ma, Zayden kangen banget sama Mama tadi kata aunty Del bilang kalau Mama lagi pergi sebentar nyari uang buat Zay," ucap Zayden.


"Bener kata aunty Del, Mama lagi nyari uang buat Zay, kan katanya Zay mau mainan baru ya Mama harus cari uang kan," ucap Arin.


"Gimana lo dapet kerja Rin?" tanya Kinan.


"Iya aku dapet kok Nan, tapi besok aku disuruh wawancaranya ya semoga aja aku diterima ya," ucap Arin.


"Amin Rin, semoga lo dapet tapi kalau lo kerja yang jagain Zayden siapa?" tanya Zayden.


"Aku rencananya mau masukin Zayden ke sekolah Nan," ucap Arin.


"Gak terlalu awal Rin, buat lo nyekolahin Zayden," ucap Kinan.


"Kalau menurutku sih gak Nan, aku dulu juga umur segitu udah masuk taman kanak-kanak jadi Zayden bisa, terus kalau Zayden sekolah setidaknya aku gak perlu khawatir dia gimana di rumah Nan," ucap Arin.


"Lo bener juga sih Rin, gue cuma dukung aja deh lo Ibunya Zayden dan lo pasti tau yang terbaik buat Zay," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Oh ya Adel kemana?" tanya Arin.


"Oh Adel tadi izin dia mau ke makam Ayahnya," ucap Kinan.


"Aku kok jadi kangen Ayah, Bunda sama Bibi Ika ya Nan, rasanya kayak aku baru ditinggal mereka kemarin lusa, eh sekarang aku udah punya anak ternyata," ucap Arin.


"Kapan-kapan kita kesana bareng Zayden juga Rin, kita kenalin Zayden sama Kakek, Nenek dan juga Bibi Ika," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Iya Nan, aku bakal kenalin Zay ke mereka," ucap Arin.

__ADS_1


.


Zehan saat ini tengah mengantarkan Chesa ke tempat kerja Chesa dan setelah itu ia pun menuju kantor, ia sengaja telat datang karena hari ini ia merasa malas untuk datang ke kantor, namun ia mendapat telepon dari Panji jika salah satu proyeknya memiliki masalah akhirnya Zehan pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi.


Saat sedang menyetir tiba-tiba Zehan tidak sengaja lebih tepatnya hampir menyerempet seorang perempuan, "Dia gak bisa liat apa kalau ada mobil dan juga dia bisa agak kesanaaan kan jalannya ganggu orang nyetir aja," gumam Zehan lalu kembali melajukan mobilnya.


Zehan pun sampai di kantor dan ia melihat Pak Bobby penanggung jawab proyek tersebut dan tanpa basa-basi Zehan langsung menampar Pak Bobby di depan semua karyawan karena saat ini Zehan berada di lobby kantor.


"Kenapa? gak terima? saya sudah peringatkan bukan waktu itu kalau rencana anda tidak akan berhasil, tapi apa anda malah mendesak saya bahkan anda menjamin ke saya jika rencana tersebut akan berhasil, tapi apa sekarang," ucap Zehan dnegan menekankan setiap katanya.


"Maaf Pak, sekali lagi maaf saya tidak sengaja melakukan kesalahan saya juga berharap Pak Zehan dapat menahan emosi Pak Zehan dan mendiskusikan solusi untuk proyek kita Pak," ucap Pak Bobby.


"Apa anda bilang menahan emosi, asal anda tau saya rugi besar dan anda suruh saya buat nahan emosi saya dan saya rasa tidak ada hal yang harus kita diskusikan," ucap Zehan.


"Tapi ini semua takdir Pak, saya juga tidak tahu jika akan terjadi hal seperti ini," ucap Pak Bobby


"Akting anda terlalu buruk, anda pikir saya tidak tau jika semua uang proyek itu anda buat beli beberapa properti di kota B hah," ucap Zehan.


"Pak Zehan...," ucap Pak Bobby gugup.


Setelah mendengar perkataan Zehan tentunya membuat Pak Bobby diam membeku tidak dapat berkata apa-apa.


"Iya, anda pikir saya tidak tau jika anda dan Pak Basri bersekongkol untuk mengambil uang perusahaan," ucap Zehan.


"Itu semua bohong Pak, saya tidak mungkin melakukan hal seperti itu," ucap Pak Bobby.


"Saya punya buktinya jadi anda tidak bisa mengelak lagi, mulai saat ini anda saya pecat dan anda saya keluarkan dari perusahaan dengan tidak hormat, ah sama satu lagi untuk kasus ini sudah saya laporkan ke polisi anda tinggal menunggu surat panggilan saja kalau begitu anda bisa pergi sekarang," ucap Zehan.


"Maksud Pak Zehan apa? saya dipecat? gak bisa begitu Pak, saya juga orang yang berdedikasi di perusahaan ini, perusahaan ini gak akan sukses jika tidak ada saya," tanya Pak Bobby.


"Apa? dedikasi? maksud anda apa? dedikasi apa anda dengan perusahaan ini, saya rasa perusahaan berhasil bukan karena anda, tapi karena kerja keras seluruh karyawan dan anda hanya duduk diam lalu anda bilang iya iya iya dan setelah itu anda mendapatkan uang, siapa yang gak mau," ucap Zehan.


"Anda hanya orang baru disini," ucap Pak Bobby.


"Baru atau tidak saya adalah pewaris dari perusahaan ini bukan," ucap Zehan.


"Tapi saya gak terima saya akan laporkan semua ini pada Pak Rendra," ucap Pak Bobby.


"Silahkan anda laporkan, saya sangat menunggu saat-saat itu," ucap Zehan.


Setelah itu, Zehan pun memanggil security untuk membawa Pak Bobby pergi dari kantornya.


"Iya Pak," ucap security tersebut.


"Usir dia kalau bisa buang jauh-jauh dari mata saya, saya gak mau menyakiti mata saya dengan melihat benalu seperti dia," ucap Zehan lalu menuju ruangannya.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2