Married With Mantan

Married With Mantan
Calon Suaminya Arin


__ADS_3

Saat Zehan berada di lampu merah yang masih dekat dengan tempat tinggal Arin, ia melihat sekitar dan ternyata handphone Arin tertinggal dan Zehan memilih untuk mengembalikannya besok, namun entahlah perasaan Zehan tidak enak sehingga Zehan memilih untuk mengembalikan handphone Arin hari itu juga.


Saat Zehan berada di depan pintu rumah Arin, ia mendengar suara barang berjatuhan dan Zehan berfikir bahwa mungkin barang jatuh dengan sendirinya, namun suara selanjutnya yang membuat Zehan kaget adalah suara rintihan seorang perempuan dan Zehan pun langsung membuka pintu tersebut, betapa terkejutnya saat ia melihat Arin yang mulai tidak sadarkan diri.


Zehan yang melihat seorang pria yang hendak memukul Arin pun langsung memukul dengan keras pria tersebut seperti orang yang kesurupan.


Zehan memukul Paman Tommy dengan membabi buta dan Pak Tio yang melihatnya pun tertegun karena inj adalah kali pertamanya melihat anak majikannya ini menggunakan semua ilmu bela diri yang ia pelajari dari kecil.


Pak Tio menghentikan Zehan karena Pak Tio kasihan melihat Paman Tommy yang sudah babak belur.


"Tuan, lebih baik Tuan Zehan bawa Nona ke rumah sakit untuk diobati," ucap Pak Tio yang menyadarkan Zehan akan keberadaan Arin dan ia langsung melihat Arin.


"Astaga Arin, kenapa kamu sampai kayak gini?" tanya Zehan dengan lembut lalu menggendong Arin ala bridal style dan menuju mobilnya.


"Kita ke rumah sekarang Pak," ucap Zehan.


"Ke Rumah sakit Tuan?" tanya Pak Tio.


"Gak Pak, kita ke rumah Gulzar suruh Dokter Devit ke rumah," ucap Zehan dan diangguki Pak Tio.


Sesampainya di kediaman Gulzar, Zehan pun menggendong Arin dan masuk kedalam rumahnya saat melewati ruang tamu Mama Naura terkejut lantaran Zehan pulang dengan menggendong seorang perempuan.


"Siapa Han?" tanya Mama Naura.


"Nanti Ma, Zehan jelasin," ucap Zehan lalu pergi.


Mama Naura, Papa Rendra dan Chesa yang ada di ruang tamu pun hanya menatap satu sama lain seolah bertanya-tanya siapa perempuan tersebut.


"Akhirnya Pa, Mama bakal punya menantu," ucap Mama Naura senang.


Sementara Zehan saat sampai di kamarnya yang bernuansa gelap langsung menidurkan Arin di ranjang king size nya.


"Bangun, Rin," ucap Zehan.


Setelah beberapa saat Dokter Devit yaitu dokter keluarga Gulzar pun datang dan memeriksa keadaan Arin, Mama Naura yang penasaran pun ikut masuk kedalam kamar Zehan dan ia sangat terkejut karena perempuan yang digendong Zehan tadi adalah perempuan yang menolongnya waktu itu dan sekaligus perempuan yang ingin ia jodohkan dengan Zehan.


"Gimana keadaannya Dok?" tanya Zehan khawatir.


"Tuan tidak perlu khawatir, lukanya sebentar lagi juga akan sembuh untung saja lukanya tidak menembus ke dalam jadi kemungkinan Nona akan sembuh sebentar lagi," ucap Dokter Devit.


"Apa Dokter yakin? lalu untuk lebam nya bagaimana?" tanya Zehan.


"Saya akan berikan salep dan juga obat nyeri untuk luka Nona, selama Nona rutin memakainya saya pastikan lebam Nona akan sembuh," ucap Dokter Devit dan diangguki Zehan.


"Kalau begitu saya permisi," pamit Dokter Devit.


"Iya, terimakasih Dok," ucap Zehan dan Dokter Devit pun pergi.


Setelah Dokter Devit pergi, Mama Naura menghampiri Zehan dan menenangkan Zehan yang terlihat sangat khawatir, "Pasti sebentar lagi dia siuman kalau gak nanti ya besok lah jadi gak usah khawatir ya," ucap Mama Naura.


Setalah itu, Mama Naura menarik Zehan menuju ke ruang tamu yang disana sudah ada Papa Rendra dan juga Chesa.


"Sekarang kamu jelasin ke Mama, siapa dia kok kamu bisa bawa dia ke sini?" tanya Mama Naura yang sangat penasaran.


Zehan menghela nafasnya dan ia pun menceritakan semuanya termasuk mengenai Tara dan Paman Tommy.


"Apa! berani sekali Tara itu udah buat calon menantu Mama menderita, satu lagi pria tua itu juga," teriak Mama Naura.


"Sabar Ma," ucap Papa Rendra.


"Gak bisa Pa, kamu juga Han, Mama kan sering bilang ke kamu jangan deket sama si Tara itu, tapi kamu tetep aja, kan jadi kayak gini ah Mama males sama kamu," ucap Mama Naura lalu pergi ke kamarnya.


"Loh kok Mama jadi ngambek sih," ucap Zehan dan Papa Rendra mengangkat bahunya, sedangkan Chesa sibuk dengan handphonenya.


Zehan pun kembali ke kamarnya dan tidur di sofa karena Arin tidur di ranjangnya, ia ingin tidur di sebelah Arin, tapi bisa gawat jika Arin tau bisa-bisa Arin semakin membencinya lagi.


Pagi harinya, Zehan yang selesai membersihkan dirinya pun bersiap untuk turun, namun langkahnya terhenti karena ia melihat Arin yang mulai mengerjapkan matanya.


"Udah bangun," ucap Zehan dan mendekat ke arah Arin dan duduk di tepi ranjang, Arin sendiri yang melihat Zehan merasakan jantungnya yang berdegup kencang bagaimana tidak penampilan Zehan saat ini sangat sempurna meskipun hanya menggunakan kaos putih polos lengan pendek dan celana pendek warna cokelat.


"Ha-haus," lirih Arin dan Zehan memberikan air untuk Arin.


"Are you okey?" tanya Zehan dan Arin hanya menganggukkan kepalanya karena ia terlalu gugup saat ini.


Zehan yang melihat hal itu pun merasa gemas dan ia pun tersenyum lalu mengecup kening Arin yang membuat jantung Arin semakin berpacu dan mukanya merah karena malu.


"Kamu cantik kalau lagi malu," ucap Zehan dan berjalan menuju pintu.


"Oh iya nanti aku suruh pelayan untuk siapin semua keperluan kamu," ucap Zehan dan keluar dari kamar tersebut.


"Gimana keadaan menantu Mama?" tanya Mama Naura jutek.


"Menantu?" tanya Zehan.


"Iya, menantu Mama yang lagi ada di kamar," ucap Mama Naura.


"Oh dia baik-baik aja kok, oh iya Bi tolong bawain beberapa pelayan ya untuk membersihkan Arin," ucap Zehan pada Bibi Wina.


"Baik, Tuan," ucap Bibi Wina.


"Oh jadi namanya Arin," ucap Mama Naura.


"Kenapa emangnya Ma?" tanya Zehan.


"Tau gak sih Kak ternyata Kak Arin yang pengen dijodohin Mama ke Kakak," ucap Chesa.


"Tunggu, jadi maksud Mama. Cewek yang nolongin Mama tuh Arin," ucap Zehan dan diangguki Mama Naura.


Disisi lain, Arin ingin pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya, namun tiba-tiba pintu terbuka dan masuklah tiga perempuan yang mengenakan pakaian pelayan.


"Selamat pagi Nona, saya akan siapkan keperluan Nona hari ini," ucap salah satu pelayan.


"Oh itu, tidak perlu saya bisa sendiri," ucap Arin.

__ADS_1


"Tapi, ini sudah tugas kami Nona," ucapnya lalu mempersiapkan air untuk Arin mandi.


"Nama kamu siapa?" tanya Arin kepada salah satu pelayan yang berada di kamarnya.


"Nama saya Ulya Nona, yang sedang mempersiapkan air namanya Isna dan yang menyiapkan baju Nona namanya Susi," ucap Ulya.


"Aku rasa usia kalian masih sangat muda untuk bekerja," ucap Arin.


"Kita bertiga masih kuliah Nona dan untuk membayar kebutuhan kuliah kita bekerja disini," ucap Ulya dan diangguki Arin.


"Silahkan Nona, airnya sudah siap," ucap Isna.


Arin pun menuju ke kamar mandi, namun para pelayan mengikutinya, "Kalian kenapa mengikuti ku?" tanya Arin.


"Karena Nona akan mandi jadi kami mengikuti Nona bila ada yang Nona perlukan di dalam," ucap Ulya.


"Tidak usah, aku bisa sendiri kalian tunggu disini saja," ucap Arin dan diangguki para pelayan.


"Wah bisa gila aku lama-lama disini," gumam Arin.


Setelah menyelesaikan ritualnya, Arin pun keluar dari kamar dan berganti pakaian dengan dress berwarna biru langit yang nampak elegan ditubuh idealnya.


Setelah itu, para pelayan mengantarkan Arin untuk ke meja makan Karena keluarga Gulzar menunggu Arin.


"Mari Nona," ajak Ulya dan Arin hanya mengikutinya.


Baru saja Arin menuju ke meja makan tiba-tiba Mama Naura berjalan ke arahnya dan memeluknya.


"Astaga menantu Mama udah sadar, gimana keadaan kamu? ada yang sakit atau kamu butuh sesuatu gitu bilang ke Mama ya?" tanya Mama Naura.


Arin sepertinya pernah melihat wanita yang saat ini berbicara dengannya, namun Arin lupa dimana.


"Kamu lupa sama Mama?" tanya Mama Naura sedih.


"Hai Kak," sapa Chesa pada Arin.


"Loh, kamu kan. Astaga! Tante maafin Arin, Arin lupa," ucap Arin dan Mama Naura merajuk.


"Kamu ini ya untung aja kamu menantu Mama kalau bukan udah Mama gantung kamu dan satu lagi jangan panggil Tante panggil Mama," ucap Mama Naura dengan tersenyum.


Arin sendiri tidak tahu harus bagaimana menanggapinya sehingga ia hanya tersenyum.


"Yaudah yuk kita makan Papa udah laper nih," ucap Papa Rendra.


Arin pun spontan menoleh ke arah Papa Rendra dan terkejut saat melihat Papa Rendra dan satu lagi Arin lupa jika Zehan adalah anak dari Papa Rendra yang merupakan atasannya dulu.


"Pak," sapa Arin sopan.


"Gak usah sopan gitu Rin sama saya sekarang kan saya akan jadi mertua kamu jadi kamu panggil Papa aja biar kayak Mama gitu ya kan Ma," ucap Papa Rendra dan diangguki Mama Naura.


"Ayo sayang kita makan," ajak Mama Naura lalu membawa Arin duduk di samping Zehan.


Setelah makan, mereka semua berkumpul di ruang tamu dimana Papa Rendra dan Zehan membahas mengenai pekerjaan mereka sedangkan Mama Naura, Arin dan Chesa menonton tv dengan memakan cemilannya.


"Kapan pernikahan kalian akan dilaksanakan?" tanya Mama Naura pada Zehan.


"Gimana sayang, kapan kamu nikahnya sama Zehan?" tanya Mama Naura lagi, namun kali ini pada Arin.


Arin tidak tahu harus menjawab apa, saya tengah bingung dengan jawabannya tiba-tiba Zehan menjawab dengan santainya.


"Secepatnya sih Ma kalau gak akhir bulan ini ya awal bulan depan," ucap Zehan dengan santai sedangkan Arin hanya melotot mendengar jawaban dari Zehan.


"Bagus deh kalau gitu biar Mama aja yang siapin semuanya," ucap Mama Naura.


Setelah itu, Arin pun menarik Zehan ke taman belakang kediaman Gulzar, "Maksud kamu apa bilang kayak gitu ke Mama?" tanya Arin kesal.


"Ya, aku serius sama kamu, aku mau kamu jadi istriku dan jadi Ibu dari anak-anakku nanti," ucap Zehan yang membuat pipi Arin merah.


"Aduh makin gemes deh kalau kayak gini," ucap Zehan.


"Kamu kok makin cerewet gak kayak dulu waktu kita pacaran," ucap Arin.


"Dulu aku terlalu gengsi untuk mengungkapkan rasa sayang aku ke kamu jadinya waktu kamu pergi aku nyesel deh dan sekarang aku gak mau ngelakuin hal yang sama kayak dulu lagi," ucap Zehan.


"Ohhhh," jawab Arin dengan menganggukkan kepalanya.


"Rin, kamu mau kan?" tanya Zehan.


"Mau apa?" tanya Arin.


"Jadi pendamping hidup aku untuk selamanya," ucap Zehan.


"Hem, a-aku belum bisa kasih jawaban karena aku masih belum yakin dengan perasaanku," ucap Arin.


"Ting Rin, jawab sekarang. Aku gak bisa lagi nunggu kamu, apa 5 tahun lebih kurang untuk kamu yakin dengan perasaan kamu," ucap Zehan.


"Oke, aku bakal jawab. A-aku mau," ucap Arin dan Zehan pun langsung memeluk Arin dengan erat.


"Belum waktunya, udah peluk-peluk aja nunggu akad baru kalian bebas ngapa-ngapain apalagi kalau buat Zehan junior," ucap Mama Naura yang melepaskan pelukan Zehan.


"Mama ganggu aja," ucap Zehan.


"Apa kamu bilang," ucap Mama Naura.


"Enggak kok, Ma," ucap Zehan.


"Ayo sayang kita ke dalam disini dingin loh," ucap Mama Naura lalu membawa Arin masuk ke dalam rumah.


"Perasaan gak dingin deh, ini yang anaknya siapa sih kok gue kayak di cuekin gitu sama Mama," gumam Zehan.


Saat Zehan Tengah duduk dan menonton tv tiba-tiba handphone Arin bergetar dan terlihatlah orang yang menelpon Arin yaitu Dokter Finda.


'Apa Arin sakit,' tanya Zehan dalam hati.

__ADS_1


"Rin, ini ada telpon," ucap Zehan pada Arin yang saat ini di dapur dengan Mama Naura.


"Dari siapa?" tanya Arin.


"Dokter Finda," ucap Zehan.


Arin pun teringat akan Bibi Ika yang saat ini di rawat di rumah sakit, "Astaga!" teriak Arin.


"Kenapa sayang?" tanya Mama Naura.


"Sebentar ya Ma, Arin angkat dulu telponnya," ucap Arin lalu ia pun menghampiri Zehan dan mengambil ponselnya.


Iya halo Dok.


Rin, kondisi Bibi Ika semakin kritis ada pembengkakan di otaknya akibat benturan itu.


Kaila yang mendengarnya pun merasa hancur ia menahan air matanya agar tidak jatuh, sedangkan keluarga Gulzar yang melihatnya hanya kebingungan.


"Kenapa Han?" tanya Mama Naura dan Zehan menggelengkan kepalanya.


Pertahanan Arin hancur ia menangis sejadi-jadinya, "Saya akan segera ke sana Dok tolong selamat dia Dok, dia adalah orang yang sangat saya sayangi di dunia ini Dok. Saya gak mau kehilangan dia," ucap Arin.


Perkataan Arin membuat Zehan kecewa ternyata ada orang lain di hati Arin dan orang itu bukan Zehan.


"Ayo aku antar," ucap Zehan cuek lalu mereka berdua pun menuju rumah sakit.


Saat sampai di rumah sakit, Arin langsung menuju ke kamar inap Bibi Ika dan di sana sudah ada Dokter Finda.


"Gimana Dok keadaannya?" tanya Arin.


"Saya sudah berusaha semaksimal mungkin dan untung saja Bibi Ika sudah sadar," ucap Dokter Finda.


"Saya boleh masuk kan Dok," ucap Arin dan diangguki Dokter Finda.


"Bi bangun ini Arin," ucap Arin pada Bibi Ika yang terbaring lemah.


Zehan yang melihatnya pun menyesal karena ia pikir yang dimaksud Arin adalah pria lain, Bibi Ika pun bangun dan menatap Arin.


"Maafin Bibi ya Rin, karena Bibi gak bisa bertahan sampai kamu sukses," ucap Bibi Ika.


"Gak Bi, Bibi pasti sembuh Bibi pasti bisa ngeliat Arin sukses hiks hiks," ucap Arin.


Bibi Ika pun melihat ke arah Zehan dan Zehan pun langsung menghampiri Bibi Ika lalu menyalaminya.


"Siapa, Rin?" tanya Bibi Ika.


"Saya Zehan, Bi pacarnya sekaligus calon suaminya Arin," ucap Zehan.


Bibi Ika pun tersenyum pada Zehan dan Arin, "Bibi kasih restu buat kamu sama Zehan, Rin. Semoga kalian bahagia dan Zehan, Bibi mohon ya jaga Arin, jangan pernah buat dia sedih," ucap Bibi Ika.


"Iya Bi, Zehan akan berusaha untuk membahagiakan Arin," ucap Zehan.


"Permisi Rin, bisa kita bicara sebentar," ucap Dokter Finda.


Saat Arin keluar dengan Dokter Finda, Bibi Ika pun menggenggam tangan Zehan, "Kamu janji ya jangan pernah buat Arin sedih dan jika suatu saat nanti kamu sudah tidak mencintai Arin dan memiliki perempuan lain tolong jangan bilang itu pada Arin. Jika Bibi masih di beri umur panjang kamu bilang ke Bibi kalau kamu sudah tidak mencintainya maka Bibi yang akan membawa Arin pergi dari hidup kamu," ucap Bibi Ika.


"Zehan janji pada diri Zehan sendiri Bi, jika Zehan akan terus dan terus mencintai Arin," ucap Zehan.


Lalu Arin pun masuk ke dalam ruangannya, ia tadi membahas mengenai biaya administrasi, dimana biaya yang harus ia bayar adalah 75 juta.


Awalnya Arin mempertanyakan mengenai detail biaya yang harus ia bayar karena biaya tersebut sangatlah besar dan ternyata rumah sakit juga menagih beberapa biaya yang belum Arin bayar sebelumnya.


Dimana sebelumnya, Arin membuat perjanjian akan membayar semua biaya rumah sakit saat terdapat tagihan yang lebih dari 10 juta.


Ya, Arin memiliki hak istimewa tersebut karena ia mengenal pemilik rumah sakit yang ternyata teman dari Ayahnya, namun karena sekarang pemilik tersebut sudah meninggal sehingga Arin tidak bisa membuat perjanjian lagi.


"Kenapa Rin?" tanya Bibi Ika.


"Gapapa kok Bi, Bibi gak usah khawatir sekarang Bibi istirahat aja," ucap Arin.


Beberapa menit kemudian, Kinan datang dan terkejut dengan keberadaan Zehan, "Rin, gimana keadaan Bibi?" tanya Kinan khawatir.


"Kata Dokter ini keajaiban Nan karena Bibi bisa sadar," ucap Arin.


"Nan, bisa kita bicara berdua," ucap Arin lalu mereka pun menjauh dari Zehan.


"Kenapa Rin?" tanya Kinan.


"Nan, aku boleh pinjam uang kamu gak, aku gak punya uang untuk biaya rumah sakit Bibi ika," ucap Arin.


"Berapa emang Rin?" tanya Kinan.


"75 juta Nan," ucap Arin.


"Astaga Rin, aku mana punya uang sebanyak itu, bukannya Bibi Ika sehari dirawat," ucap Kinan.


"Iya Nan, tapi perawatan Bibi Ika terbilang mahal untuk obat-obatan dan perawatan Nan. Apalagi perjanjianku juga udah tembus 10 juta, terus aku harus gimana?" tanya Arin.


"Kenapa lo gak pinjam ke Zehan aja, Rin?" tanya Kinan.


"Aku gak enak Nan, kalau pinjam ke Zehan," ucap Arin.


"Kenapa?" tanya Kinan.


"Nanti aku malah di bilang wanita matre lagi,Nan," ucap Arin.


"Terus gimana?" tanya Kinan dan Arin pun menggelengkan kepalanya.


Tanpa mereka sadari Zehan sedari tadi mendengarkan pembicaraan mereka.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2