
Disisi lain, Zehan yang berada di ruang kerja pun terus memikirkan keadaan istrinya karena ia terlihat kotor saat pulang tadi.
"Ah kenapa sih lo Han, lo gak boleh gampang percaya gitu aja, Arin itu udah ngekhianatin lo," tanya Zehan pada dirinya sendiri.
Namun, Zehan tidak mau ambil pusing mengenai hal ini dan melanjutkan pekerjaannya dan saat Zehan melihat jam yang ada di ruang tersebut menunjukkan pukul 1 dini hari, Zehan pun menuju ke sofa untuk beristirahat.
"Capeknya besok gue mau selesain masalah gue sama Arin, gue gak mau kayak gini terus bisa-bisa hancur rumah tangga gue dan gue bosen tidur di sofa terus, gue juga pengen peluk Arin," ucap Zehan lalu ia merebahkan tubuhnya di sofa tersebut dan beberapa saat kemudian ia mulai terlelap.
Saat Zehan tengah tertidur, ia bermimpi berada di sebuah taman dan terdapat air terjun kecil di sebelah taman tersebut, Zehan melihat seorang anak kecil dan menghampirinya, "Halo, namanya siapa kok lucu banget?" tanya Zehan kepada anak tersebut.
"Maaf Om, tapi Mama bilang aku gak boleh ngasih tau namaku ke orang asing di negara ini," ucap anak tersebut.
"Oh kalau gitu kenalin nama Om Zehan kamu bisa panggil Om Zehan," ucap Zehan dan mengulurkan tangannya, namun anak tersebut tidka merespon.
"Sayang," panggil seorang perempuan yang berada di belakang Zehan dan anak tersebut berlari dengan memanggilnya Mama.
"Mama!" teriak anak tersebut.
Zehan pun membalikkan badannya dan melihat Arin yang tengah jongkok dan memeluk anak kecil tersebut.
"Halo jagoannya Mama, udah puas disini mau ke tempat lain gak?" tanya Arin yang belum melihat ke arah Zehan dan saat Arin melihat ke arah Zehan, tidak ada respon dari Arin.
Arin seolah-olah tidak mengenal Zehan dan pergi meninggalkan Zehan sendiri di tempat tersebut, "Tunggu," ucap Zehan yang membuat Arin berhenti.
"Iya, kenapa?" tanya Arin dan membalikkan tubuhnya untuk melihat Zehan.
"Kamu Arin kan?" tanya Zehan.
"Iya, kenapa memangnya?" tanya Arin lagi.
"Kamu gak inget aku? aku Zehan, suami kamu Rin?" tanya Zehan.
"Maksud kamu apa? suami aku? ini adalah pertama kali kita bertemu dan gimana bisa kamu jadi suami aku?" tanya Arin.
"Aku memang suami kamu Rin dan anak kecil ini apa dia anakku? sayang ini Papa," ucap Zehan.
"Maksud Om apa? Papa Tristan pasti marah kalau tau Om bilang kayak gitu," ucap anak tersebut.
"Tristan? maksud kamu apa Rina? apa kamu ninggalin aku dan memilih bersama Tristan?" tanya Zehan, namun Arin tidak merespon dan pergi hingga menghilang dari pandangan Zehan.
Zehan pun terbangun dari tidurnya dan ia merasa gelisah karena apa yang selama ini ia takutkan bisa saja akan terjadi dimana Arin akan meninggalkannya dan memilih bersama orang lain.
"Astaga Han, ini cuma mimpi kenapa lo jadi kayak gini sih ayo semangat Han, besok lo selesain masalah lo dan sekarang lo harus istirahat," ucap Zehan lalu melanjutkan tidurnya.
Pagi harinya, Zehan bangun dan ia merasa tidak tenang karena mimpinya semalam, namun Zehan mencoba melupakannya dan bersiap untuk pergi ke kantor karena hari ini ada rapat yang dihadiri semua karyawannya.
__ADS_1
Zehan pun keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke halaman kediaman keluarga Gulzar dan mengendarai mobilnya menuju perusahaannya.
Saat ditengah perjalanan ia berhenti dan menuju apotek untuk membeli beberapa obat karena ia merasa kepalanya yang sedikit pusing, namun saat ia baru saja keluar dari apotek ia tidak sengaja menabrak seorang pria paruh baya hingga tongkat yang digunakan pria tersebut terjatuh.
"Maaf Pak, saya tidak sengaja," ucap Zehan lalu mengambilkan tongkat pria paruh baya tersebut.
"Iya tidak apa-apa nak," ucap pria paruh baya tersebut.
"Kalau gitu saya permisi," ucap Zehan dan menuju ke mobilnya.
Namun, pria paruh baya tersebut menahan tangan Zehan dan membuat Zehan menghentikan langkahnya lalu menoleh ke arah pria paruh baya tersebut.
"Apa kamu masih menyukainya?" tanya pria tersebut secara tiba-tiba dan Zehan pun mengernyitkan dahinya.
"Kalau kamu menyukainya kamu harus percaya padanya dan turunkan egomu dia sangat berharga bagimu bukan, kamu tidak boleh menyesal jika suatu hari nanti orang yang kamu cintai pergi meninggalkanmu karena kamu sendiri yang tidak mempercayainya," lanjut pria paruh baya tersebut.
"Maksud anda apa saya tidak mengerti?" tanya Zehan.
"Suatu hari nanti kamu akan mendapatkan berita baik sekaligus berita buruk dan kamu harus siap akan keduanya karena semua berita itu terjadi karena dirimu sendiri," ucap pria paruh baya tersebut dan pergi meninggalkan Zehan yang masih bingung dengan ucapan pria paruh baya tersebut.
"Maksudnya apa sih? apa mungkin dia cuma ngasal kali ya," tanya Zehan pada dirinya sendiri lalu kembali ke mobilnya dan mengendarainya menuju perusahaan.
Zehan pun sampai dan di perusahaan dan menuju ke ruangannya dan tiba-tiba pintu terbuka dilihatnya ketiga sahabatnya kecuali Riko tentunya yang sangat betah di luar negeri mengurus bisnisnya, Zehan pun masuk dan langsung duduk di sofa ruangan tersebut.
"Ngapain lo pada kesini?" tanya Zehan.
"Ngaca woy, lo juga kali. Dari kita berlima yang jadwalnya padet cuma Zehan, Riko sama lo, kalau gue sama Abrar sih selalu bisa buat kumpul," ucap Andis.
"Bener kata Andis gue tuh bisa kapan aja sekalipun kalian minta kumpul jam 2 pagi pun gue dateng," ucap Abrar.
"Jam 2 pagi, gila kali lo Brar, ngapain kita kumpulnya jam segitu mau maling apa kita," ucap Andis.
"Ya siapa tau Ndis, kalau lo mau biar gue bantuin lo kok jadi lo gak usah khawatir gimana?" tanya Abrar.
"Wah bener gila nih anak, ogah banget gue bangun dari tidur terus ganteng gue cuma buat nemuin lo mending gue nemuin bidadari surga yang ada di mimpi gue Brar," ucap Andis.
"Sok-sokan lo Ndis, emang siapa bidadari di mimpi lo?" tanya Okha.
"Kinan lah Okha, gimana sih lo ini masa gitu aja gak tau," ucap Abrar.
"Woy kalau ngomong di filter dulu napa," ucap Andis.
"Beneran Ndis, lo masih suka sama Kinan?" tanya Okha.
"Beneran Kha, si Andis nih masih suka sama Kinan," ucap Abrar.
__ADS_1
"Terus kenapa lo putusin dia dan kenapa gak lo perjuangan lagi?" tanya Okha.
"Bukan Andis yang mutusin Kinan, tapi Kinan sendiri yang mutusin Andis dan nih ya kalau Kinan ketemu Andis pasti Kinan ngehindar gitu," ucap Abrar.
"Kayaknya lo tau banget hidup gue Brar," ucap Andis.
"Hehehe, ya gimana gue gak tau gue itu udah ahli dalam segala hal Ndis termasuk percintaan lo sama Kinan," ucap Abrar dengan sombong.
"Kalian kesini ngapain sih? kalau cuma mau ribut mending kalian pergi aja deh gue masih ada urusan nih bentar lagi gue harus rapat," tanya Zehan.
"Lo mau rapat kalau gitu kita ikut," ucap Abrar.
"Ngapain lo ikut? ini rapat bukan main," ucap Zehan.
"Ya, gue tau kok lagian kan di ruang rapat lo kan ada sofa di pojok nah kita bertiga disitu aja janji gak bakal ganggu," ucap Andis.
"Gak, kalian emang gak ada kerjaan apa? mending kalian pergi deh?" tanya Zehan dan mengusir mereka.
"Jahat banget lo Han, kita bertiga udah izin kali dan besok baru kerja lagi," ucap Abrar.
"Boleh ya Han, please," ucap Andis dengan menggenggam tangan Zehan.
"Iuhhh jijik banget sih lo Ndis, oke tapi inget ya awas aja kalau kalian ganggu gue, gue bakal langsung usir kalian bahkan kalian gak boleh kesini lagi," ucap Zehan.
"Janji kok Han, kita gak bakal ganggu ya kan," ucap Abrar yang diangguki Andis dan Okha.
Beberapa saat kemudian, Zehan pun menuju ke dalam ruang rapat dan saat masuk ia tidak melihat Arin di bagian keuangan.
Rapat pun dimulai dan mereka bertiga duduk di sofa dengan tenang karena ruang rapat tersebut sangat luas dan sofa tersebut juga besar.
"Ya, Ndis. Kinan nya gak ada," bisik Abrar.
"Diem lo," bisik Andis.
Zehan sendiri terus saja memikirkan Arin yang tidak menunjukkan kedatangannya, namun bukan hanya Arin yang tidak ada di ruangan tersebut melainkan Adel dan Kinan juga tidak ada disana.
Saat sedang mendengarkan presentasi tiba-tiba pintu ruangan tersebut terbuka lalu seorang perempuan masuk dan menghampiri Zehan.
Plak!
.
.
.
__ADS_1
Tbc.