Married With Mantan

Married With Mantan
Cemburu


__ADS_3

"Eh Mario, iya ini mau pulang," ucap Arin.


"Mau bareng?" tawar Mario.


"Oh gak usah," ucap Arin.


"Kenapa? daripada kamu nunggu di sini?" tanya Mario.


Saat akan menjawab tiba-tiba Zehan datang, "Dia pulang dengan saya, jadi terima kasih atas tawarannya, ayo sayang," ucap Zehan lalu menarik tangan Arin menuju mobil.


"Siapa?" tanya Zehan saat mereka sudah di dalam mobil dan menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Dian.


"Siapa maksudnya?" tanya Arin.


"Laki-laki tadi," ucap Zehan.


"Oh itu Mario karyawan toko juga," ucap Arin.


"Kok dia deketin kamu gitu sih jangan-jangan di suka sama kamu," ucap Zehan.


"Deketin gimana orang dia cuma nanya aku mau pulang terus dia nawarin tumpangan ke aku," ucap Arin.


"Kamu terima?" tanya Zehan.


"Kan aku udah bilang gak tadi," ucap Arin.


"Kalau aku gak dateng tadi, kamu bakal jawab iya," ucap Zehan.


"Ya gak lah kan aku lagi nunggu kamu," ucap Arin.


"Kalau kamu ga nunggu aku terus kamu iyain," ucap Zehan.


"Kamu kenapa sih kok tanyanya aneh gini jangan bilang kalau kamu lagi cemburu?" tanya Arin.


"Kalau iya kenapa?" tanya Zehan.


"Ya gapapa juga sih, udah ah pokoknya aku sama Mario tuh gak ada apa-apa, tadi dia cuma tanya sama nawarin doang udah itu aja gak boleh ada sanggahan lagi," ucap Arin.


Setelah itu, mereka berdua sampai di rumah sakit tempat Dian di rawat dan disana sudah ada Kinan, Andis, Abrar.


"Mana Riko?" tanya Zehan.


"Dia lagi ada perjalanan bisnis ke negara B kalau gak salah, baru banget berangkat tadi makanya dia gak bisa ikut jenguk Dian," ucap Abrar dan diangguki Zehan.


"Kok lama sih Rin?" tanya Kinan.


"Masa sih, gak deh Nan. Kan aku kesininya emang agak sore," ucap Arin.

__ADS_1


"Tapi, aku kesini dari jam 3 lebih tau gak," ucap Kinan.


"Bukannya tadi kencan dulu kamu sama Andis," ucap Arin.


"Rencananya gitu Rin, tapi nih orang gila yang gak ada kerjaan ngintilin muluh orang lagi kencan," ucap Andis dengan menunjuk Abrar dengan dagunya.


"Yeh, gak ikhlas banget lo Ndis," ucap Abrar.


"Emang gue gak ikhlas," ucap Andis.


"Udah kalian diem deh, kamu gak masuk jengukin Dian daripada disini sama orang-orang gak jelas," ucap Zehan pada Arin lalu mereka berdua masuk ke kamar inap Dian.


"Tunggu maksud Zehan orang-orang gak jelas tuh kita," ucap Andis dengan menunjuk dirinya sendiri.


"Iya kalian berdua gak jelas," ucap Kinan dan masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Punya temen gak pernah ada beresnya emang, yuk Ndis kita masuk," ucap Abrar.


"Dian kok bisa gini Kha?" tanya Arin.


"Iya Rin, kata dokter tadi Dian keracunan makanan," ucap Okha.


"Kok bisa diam keracunan, bukannya dia tuh orang yang pemilih," ucap Andis.


"Nah itu gue juga gak tau setau gue dia tuh gak makan yang aneh-aneh, Dian juga biasanya makannya yang vegetarian," ucap Okha.


"Masa ada yang sengaja ngeracunin Dian," ucap Kinan.


"Mungkin aja sih Nan, siapa tau ada yang gak suka sama Dian dan akhirnya di ngeracunin Dian," ucap Kinan.


"Kamu pinter banget Nan, kalau bikin naskah cerita, aku yakin kamu pasti bakal sukses deh," lirih Dian.


"Sayang, kamu udah sadar ada yang sakit gak?" tanya Okha dengan nada khawatirnya.


"Aku gapapa kok Yang," ucap Dian.


Beberapa saat kemudian, saat mereka tengah berbicara, suster pun datang ke kamar inap Dian "Maaf sebelumnya, tapi untuk waktu jenguk sudah selesai dan pasien sekarang waktunya untuk istirahat," ucap suster tersebut.


Setelah itu, mereka pun pamit dari rumah sakit dan menuju ke rumah maisng-masing dan hanya Okha yang disana untuk menjaga Dian.


Saat perjalanan menuju kediaman Gulzar, Zehan hanya diam tidak berbicara sedikit pun pada Arin dan juga saat Arin berbicara pun Zehan tidak meresponnya. Dengan sikap Zehan yang cuek ini meyakinkan Arin jika suaminya itu tengah marah dengannya.


"Han, kamu kenapa kok gak ngerespon aku," tanya Arin.


"Zehan," panggil Arin.


"Diem deh Rin, aku masih nyetir," ucap Zehan.

__ADS_1


"Kamu masih marah gara-gara aku tadi ngobrol sama Mario," ucap Arin, namun Zehan hanya diam.


"Aku beneran gak ada hubungan apa-apa sama Mario, lagian aku udah nganggep dia kayak saudaraku sendiri, dia itu baik ke aku bukan hanya ke aku, tapi ke semua karyawan," lanjut Arin yang lagi-lagi diacuhkan oleh Zehan.


Sampai di rumah, Zehan langsung keluar dari mobilnya dan masuk kedalam rumah tanpa menunggu Arin yang masih di dalam mobil.


Setelah itu, Arin pun keluar dari mobil dan berjalan masuk kediaman keluarga Gulzar, "Zehan kenapa kok jadi cuek gitu masa dia masih marah padahal tadi biasa aja loh?" tanya Arin pada dirinya sendiri.


Saat Arin masuk ke dalam rumah, ia tidak menemukan Zehan, "Ma, Zehan tadi ke kamar ya?" tanya Arin.


"Oh Zehan tadi Mama liat ke ruang kerja deh sayang," ucap Mama Naura.


"Ya udah kalau gitu Ma, Arin ke kamar dulu ya," ucap Arin dan diangguki Mama Naura.


Arin pun sampai di dalam kamar dan ia membersihkan dirinya setelah itu Arin merebahkan tubuhnya di ranjang king size nya, "Apa aku jangan tidur di sini ya mungkin aja Zehan gak mau tidur sama aku," gumam Arin lalu beranjak ke sofa untuk tidur di sana.


"Disini lebih baik," lanjut Arin.


Setelah itu, Arin pun menunggu Zehan, namun sampai jam 9 malam Zehan belum juga ke kamar, Arin yang merasakan kantuk pun tidak bisa menahannya dan mulai terlelap.


Zehan sendiri masih cemburu melihat Arin dengan Mario, ia terus mengacuhkan Arin selama perjalanan pulang dan saat sampai Zehan langsung menuju ke ruang kerja untuk menyibukkan dirinya.


Jam menunjukkan pukul 11 malam, Zehan pun menuju ke kamarnya dan saat ia masuk ke dalam ia tidak melihat Arin di ranjang dan ia justru melihat Arin tidur di sofa.


Zehan pun menghampiri Arin dan menatap sendu sang istri, "Maaf ya karena sikapku kamu jadi gak nyaman," ucap Zehan lalu mencium kening Arin dan memindahkannya ke ranjang.


Setelah itu, Zehan masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar lebih segar dan setelah itu Zehan pun keluar dan menuju ke ranjang untuk menyusul Arin yang sudah terlelap.


Pagi harinya, Arin terbangun terlebih dahulu dan ia terkejut lantaran ia sudah berada di ranjang padahal semalam ia tidur di sofa dan ia melihat Zehan yang berada di sebelahnya.


'Apa Zehan yang udah mindahin aku ke sini? tapi kenapa? seharusnya kan dia masih marah sama aku apa jangan-jangan di udah mulai gak marah ya,' ucap Arin dalam hati dan tersenyum.


"Gak usah senyum-senyum gitu," ucap Zehan yang masih menutup matanya.


Arin semakin tersenyum mendengarnya, akhirnya Zehan mau berbicara dengannya tanpa aba-aba Arin langsung mencium bibir Zehan.


Sedangkan, Zehan yang mendapat ciuman dari Arin pun langsung membuka matanya karena terkejut.


"Ini kamu kan Yang, kok tumben biasanya kan aku yang nyosor," ucap Zehan.


"Morning Kiss," ucap Arin lalu beranjak dari tempat tidur, namun Zehan berhasil menahannya hingga membuat Arin jatuh di atas dada bidang Zehan.


"Yang, kita malam pertama yuk mumpung kamu agresif gini aku jadi suka," ucap Zehan yang membuat pipi Arin merah.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2