Married With Mantan

Married With Mantan
Iya, Mama.


__ADS_3

"Menganggu saja," ucap Zehan setelah berada di ruangannya dan menghubungi Panji.


^^^Panji ke ruangan saya sekarang.^^^


Beberapa saat kemudian, Panji pun masuk ke ruangan Zehan, "Pak Zehan memanggil saya?" tanya Panji.


"Iya, kamu duduk saya mau bicara mengenai pembukaan cabang baru untuk perhiasan," ucap Zehan lalu Panji pun duduk.


Setelah itu, mereka membicarakan mengenai pekerjaan tersebut hingga beberapa saat. Setelah mendiskusikan hal tersebut Zehan pun memutuskan untuk mengikuti rencana dari Chesa, "Oke, kalau gitu kamu bisa pergi dan saya akan pulang cepat jadi kosongkan jadwal saya dari jam 3 nanti," ucap Zehan.


"Baik Pak," ucap Panji lalu pergi dari ruangan Zehan.


Jam menunjukkan pukul 3 sore, Zehan pun segera menjemput Chesa dan menuju ke salah satu gedung yang akan dijadikan tempat resepsi Chesa dan Bryan.


"Menurut kamu gimana bagus gak? ini udah yang ke 5 kali kita ganti gedung?" tanya Zehan.


"Bagus Kak, aku suka yang ini tempatnya luas terus perjalanan kesini gak terlalu ribet, aku suka yang ini Kak, pake yang ini aja," ucap Chesa.


"Oke kalau gitu gedung pakai yang ini terus kita liat vendor, Kakak mau tau kamu suka apa gak kalau gak kita bisa ganti vendor lagi," ucap Zehan.


"Yaudah yuk Kak," ucap Chesa lalu mereka pun menuju tempat vendor, namun saat sampai sana Chesa tidak terlalu suka dengan vendor yang yang dipilih Zehan.


"Kak aku itu suka banget sama vendor waktu Kak Zehan nikah dulu," ucap Chesa.


"Hah Kakak nikah, kamu mulai lagi deh sejak kapan juga Kakak nikah," ucap Zehan.


"Kakak kan masih lupa ingatan makanya gak inget, tapi nih ya Kak pas Kakak nikah itu bagus banget loh terus aku bilang ke Mama, tapi kata Mama vendor itu di saranin Kak Arin dan pas Mama kesana ternyata tempatnya udah pindah," ucap Chesa.


"Yaudah kamu mau pakai vendor yang mana atau kamu mau gak pake vendor?" tanya Zehan.


"Ya gak dong Kak, Chesa mau pake vendor, kan ini pernikahan sekali seumur hidupnya Chesa," ucap Chesa.


"Yaudah kamu cari sama Mama aja bingung Kakak kalau masalah kayak gini," ucap Zehan.


"Besok Chesa cari sama Bryan aja Kak," ucap Chesa.


"Bryan udah pulang?" tanya Zehan.


"Iya dia pulang lebih awal nanti malam sih katanya, jadi besok biar Chesa sama Bryan aja yang pergi nyarinya," ucap Chesa.


"Itu lebih bagus biar Kakak gak bingung, kamu yang nikah, tapi malah Kakak yang mikir," ucap Chesa.


"Hahaha makasih deh buat Kakakku tercinta love you banget," ucap Chesa.


"Ihh jijik banget," ucap Zehan lalu mereka pun melajukan mobilnya ke kediaman keluarga Gulzar.


.

__ADS_1


Disisi lain, Arin pun bersiap-siap untuk melakukan wawancara, "Rin, lo jadi wawancara kerjanya sekarang?" tanya Adel.


"Iya Del, jadi," ucap Arin.


"Terus Zay gimana kan gue hari ini juga kerja?" tanya Adel.


"Hem aku bakal nitipin Zay di penitipan anak dulu deh Del, nanti kalai aku udah selesai wawancaranya aku bakal jemput Zay," ucap Arin.


"Yaudah kalau gak nanti pas gue pulang duluan biar gue yang jemput Zay, jadi lo tinggal kirim alamatnya aja," ucap Adel dan diangguki Arin.


"Oh iya Rin terus katanya Zay mau sekolah, kapan emang rencana lo mau sekolahin Zay?" tanya Adel.


"Aku juga gak tau sih Del, kata Kinan dia yang nyari sekolahnya, tapi tadi Kinan bilang kalau hari ini dia bakal ke sekolahannya buat daftarin Zay jadi besok atau besok lusa Zay bakal masuk," ucap Arin.


"Yaudah bagus deh, kalau gitu yuk Rin, kita berangkat," ucap Adel.


"Iya Del, yuk Zay udah ya makannya ayo minum kita mau pergi," ucap Arin.


"Ayo ganteng jangan makan terus, kamu udah habisin 2 mangkok loh nanti pakaiannya kotor loh," ucap Adel.


"Iya aunty, Zay berhenti makannya," ucap Zayden.


Mereka pun pergi ke tempat penitipan anak, "Zay, inget ya kata Mama. Zay harus nurut gak boleh nakal nanti kalau nakal Mama marah sama Zay loh terus ini kalai ada apa-apa Zay tinggal pencet tombol ini dan bicara nanti Mama pasti denger ya," ucap Arin.


"Iya, Mama. Zay, inget kok, kan kata Mama, Mama udah banyak banget bilang kayak tadi," ucap Zayden dengan sedikit kesusahan.


"Iya deh anak Mama ini memang pinter banget Mama aja kalah sama Zay," ucap Arin.


"Hehehe iya dong Zay gitu," ucap Zayden.


"Yaudah kalau gitu Zay masuk ya, Mama sama aunty Del pergi dulu," ucap Arin dan diangguki Zayden.


"Dadah Mama, dadah aunty Del, jangan lupa jemput Zay ya," ucap Zayden.


"Iya sayang, dadah," ucap Arin lalu mereka berdua pun menuju tempat kerja masing-masing.


"Ini bukan sih tempatnya?" tanya Arin pada dirinya sendiri saat ia sampai di tempat yang sudah di beritahu sebelumnya.


Arin pun masuk kedalam tempat tersebut, "Maaf saya sebelumnya di suruh ke sini untuk wawancara, kalau boleh tau apa benar ini tempatnya?" tanya Arin.


"Oh wawancara bisa liat persyaratannya," ucap pegawai disana.


"Oh iya ini Mbak," ucap Arin lalu memberikan persyaratannya.


"Mbak bisa langsung ke ruangan yang ada disana, tapi Mbak tunggu diluar dulu soalnya masih ada beberapa pelamar yang belum melakukan wawancara," ucapnya.


"Oh iya makasih ya Mbak, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Arin lalu menuju tempat yang ditunjukkan pegawai tersebut.

__ADS_1


Kurang lebih 1 jam Arin sudah menunggu, namun nama Arin masih belum dipanggil, "Arin kan ya? yang kemarin ketemu sama aku dan butuh pekerjaan?" tanya Friska.


"Friska kan," ucap Arin.


"Iya, kenapa kamu gak masuk kedalam?" tanya Friska.


"Aku dari tadi nunggu namaku dipanggil, tapi belum juga dipanggil," ucap Arin.


"Astaga kemarin kan aku bilang kalau kesini bilang aja dapet informasi dari aku kenapa kamu gak bilang sih kan kamu jadi lama nunggunya?" tanya Friska.


"Aku gak enak soalnya tadi banyak yang nunggu takutnya aku curang lagi kalau nyebut nama kamu makanya aku gak sebutin nama kamu dari tadi," ucap Arin.


"Kamu nih ya Rin, yaudah kalau gitu kamu masuk aja tadi aku liat udah tinggal dua orang kan," ucap Friska lalu mereka pun masuk.


Setelah melakukan wawancara akhirnya Arin diterima di tempat tersebut, "Terima kasih banget ya Friska, kamu udah mau bantuin aku berkat kamu aku udah dapet pekerjaan," ucap Arin.


"Sama-sama Rin, aku juga seneng kok bisa bantu kamu berarti kamu besok udah mulai kerja dong," ucap Friska.


"Tapi nih ya untung aja tadi gak ada Bu Nara direktur perusahaan ini," ucap Friska.


"Kenapa emangnya Bu Nara? dia galak banget ya Ka?" tanya Arin.


"Ya gak terlalu galak sih, tapi dia kalau lagi wawancarai orang itu bawaannya kayak mau marah-marah terus," ucap Friska.


"Beneran Ka, aku kok jadi takut gini ya nanti kalai aku buat kesalahan gimana bisa habis dong aku," ucap Arin.


"Kamu sih mending deh cuma ketemu sama Bu Nara bukan Presdir," ucap Friska.


"Kenapa emangnya Ka?" tanya Arin.


"Soalnya nih ya Presdir disini galak banget, udah dingin banget gak pernah senyum pokoknya kayak kulkas berjalan kalau ketemu dia tuh," ucap Friska.


"Kamu kok makin nakut-nakutin aku sih Ka," ucap Arin.


"Hehehe aku cuma bilang aja Rin biar kamu nya gak kaget nanti, tapi kamu beruntung loh diterima kerja disini," ucap Friska.


"Iya Ka, aku bersyukur banget karena aku masih dikasih kesempatan buat kerja," ucap Arin dan diangguki Friska.


"Oh ya, aku mau ke ruangan dulu gapapa kan Rin soalnya masih ada beberapa kerjaan," ucap Friska.


"Iya gapapa kok, kalau gitu aku juga pamit pergi dulu ya Ka" ucap Arin.


"Iya Rin, hati-hati loh ya," ucap Friska lalu Arin pun pergi.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2