
Arin dan Kinan saat ini berada di taman belakang rumah Andis, Arin sendiri sedang menanam bunga sedangkan Kinan hanya duduk di kursi taman.
"Rin, kita pergi yuk, bosen tau di rumah terus," ajak Kinan.
"Kemana emangnya Nan?" tanya Arin.
"Gue juga gak tau, ih mana nih Andis bosen tau," ucap Kinan.
"Andis ada urusan mungkin Nan," ucap Arin.
"Gue telpon aja deh," ucap Kinan lalu menelpon Andis.
Halo kenapa?
^^^Halo Ndis, lo dimana? gue sama Arin bosen nih mau keluar.^^^
Ya, kalau kalian berdua mau keluar ya tinggal keluar aja ngapain pake lapor gue segala.
^^^Gue cuma ngasih tau aja sih, kalau nanti lo pulang gue sama Arin gak ada di rumah itu artinya gue mau kencan sama Arin, bye!^^^
Setelah itu, Kinan pun memutuskan sambungan telepon tersebut.
"Sabar Nan, jangan marah-marah," ucap Arin.
"Gak bisa Rin, tuh anak bikin gue naik pitam terus," ucap Kinan.
"Hati-hati ya Nan," ucap Arin.
"Hati-hati kenapa?" tanya Kinan.
"Hati-hati nanti kamu jatuh cinta sama Andis," ucap Arin lalu berlari menuju ke dalam rumah sebelum mendapat amukan singa betina.
"Arin!" teriak Kinan.
Mereka pun bersiap untuk pergi dan setel Arin dan Kinan menuju ke salah satu cafe yang ada di dekat rumah Andis.
"Wah bagus banget Rin, tempatnya bisa foto juga," ucap Kinan.
Saat tengah santai tiba-tiba ponsel Kinan berdering dan ternyata Andis yang menelponnya.
^^^Halo ngapain lagi sih?^^^
Santai dong, Nan. Gue kan cuma mau nanya kalian perginya kemana gue mau nyusul?
^^^Huh tadi aja ngomongnya aja kalau mau pergi ya tinggal pergi aja dasar, bentar gue kirim dulu alamatnya.^^^
^^^Udah gue kirim, dah kan!^^^
Lagi-lagi Kinan memutuskan sambungan telepon tersebut sebelum Andis menjawab.
"Kenapa Nan?" tanya Arin.
"Katanya si Andis mau nyusul ke sini," ucap Kinan dan diangguki Arin.
"Btw Rin, gue sekarang mau tanya lagi sama lo," ucap Kinan.
"Apa?" tanya Arin.
"Lo beneran bakal batalin pernikahan lo sama Zehan?" tanya Kinan.
"Iya Nan," ucap Arin dengan meminum minuman yang ia pesan.
"Rin, gue serius nanyanya ya," ucap Kinan.
"Iya Kinan, aku juga serius dengan jawabanku kalau aku mau batalin pernikahanku sama Zehan," ucap Arin.
"Bisa gak sih Rin, lo gak usah batalin pernikahan lo, apalagi pernikahan lo cuma kurang satu mingguan gak nyampe malah," ucap Kinan.
"Kamu tau kan Nan, aku itu udah beri Zehan waktu untuk mempertahankan aku atau gak dan dia memilih mempertahankan aku dan aku mempercayainya, tapi apa buktinya Zehan sendiri yang buat aku ragu dengan kepercayaan yan udah aku kasih ke dia, Nan," ucap Arin.
"Tapi, Rin...," ucap Kinan terhenti lantaran kedatangan Andis.
"Hai para istrinya Andis, gimana keadaannya?" tanya Andis lalu duduk di samping Kinan.
"Aw...," lirih Kinan saat perutnya terkena kopi panas.
"Astaga baru juga duduk udah ada tragedi aja," ucap Andis yang mendapat tatapan tajam Arin.
"Hehehe bercanda Rin, serius amat sih," lanjutnya.
"Nan, kamu gapapa?" tanya Arin khawatir.
"Gapapa kok Rin," ucap Kinan.
"Maaf Mbak, saya gak sengaja," ucap pelayan yang menjatuhkan minuman tersebut.
"Iya gapapa kok Mbak," ucap Kinan.
"Nan, baju kamu basah," ucap Arin ya h melihat baju Kinan basah dan mulai terlihat kulit Kinan.
"Aduh Rin, gimana dong," ucap Kinan.
"Kita pulang aja deh Nan," ajaka Rin.
"Kita pulang aja ya Ndis, kasihan Kinan," lanjutnya.
"Iya Rin, kalau gitu ayo gue bantu," ucap Andis.
Lalu Arin membantu Kinan menuju ke mobil milik Kinan, Andis yang berada di mobilnya pun menghubungi Arin dan mengatakan jika di mobilnya ada baju untuk di pakai Kinan agar tidak kedinginan karena baju Kinan yang tipis.
Ya, Arin dan Kinan memang menggunakan mobil, itupun karena Kinan yang malas berjalan kaki meskipun jarak cafe dan rumah Andis cukup dekat.
Arin pun berjalan menuju mobil Andis dan Andis turun dari mobilnya lalu mengambil pakaian untuk dipakai Kinan.
__ADS_1
"Thanks ya Ndis," ucap Arin dan Andis hanya tersenyum.
Setelah sampai di dalam rumah, Arin pun mengantarkan Kinan ke kamar mereka, "Ndis, aku sama Kinan ke kamar dulu ya," ucap Arin.
"Iya Rin," ucap Andis.
Sesampainya di kamar, Kinan langsung menyiram perutnya yang terluka karena terkena kopi tadi dengan air dingin.
"Ya ampun Nan, udah merah gini, kamu gapapa? apa kita perlu ke Dokter aja, Nan. Takutnya nanti kenapa-kenapa lagi kamu nya Nan," ucap Arin.
"Gue gapapa kok Nan, oh iya tadi kan Andis ngasih lo salep, mana coba biar gue pake itu aja," ucap Kinan.
Arin pun mengambil salep tersebut dan memberikannya pada Kinan lalu memakai salep itu ke perutnya dan Arin yang melihat Kinan kesusahan pun membantunya.
"Kamu bisa pakai nya sini biar aku bantu," ucap Arin lalu membantu Kinan memakai salep ke perutnya.
"Udah deh," ucap Arin.
"Makasih ya Rin," ucap Kinan.
"Kamu kayak sama siapa aja sih Nan, kita keluar yuk kamu kan belum makan berat hari ini tadi cuma minum aja kan di cafe," ucap Arin.
"Yaudah yuk," ucap Kinan lalu berdiri.
"Kamu bisa jalannya Nan, sini biar aku bantu," ucap Arin.
"Astaga Rin, gue kan cuma kena air panas di perut bukannya kaki gue patah," ucap Kinan.
"Hehehe beneran bisa jalannya?" tanya Arin.
"Gak percayaan lo Rin sama gue ya bisa lah Arin nih lihat," ucap Kinan.
"Tapi kok gak bisa cepet gitu jalannya," ucap Arin.
"Ya kan masih agak sakit Arin, apalagi ini perut gue ke gesek sama celana sama baju, tapi kalau jalan pelan bisa paham," ucap Kinan.
"Iya iya Kinan, Arin paham," ucap Arin.
Arin dan Kinan memutuskan untuk ke ruang tamu dan saat berada di ruang tamu ternyata sudah ada Andis disana.
"Masih sakit Nan?" tanya Andis.
"Udah mendingan lah thanks ya," ucap Kinan.
"Santai aja kali Nan, apa sih yang gak buat pacar sendiri," ucap Andis.
"Kalian pacaran?" tanya Arin saat mendengar perkataan Andis.
"He'em," ucap Andis dengan santainya.
"Kok kamu gak cerita sih sama aku Nan," ucap Arin lalu Kinan menarik tangan Arin menuju kamar.
"Gi-gini Rin, gue bisa jelasin ke lo. Jadi tuh gue emang udah ditembak sama Andis, tapi gue belum jawab kok, tau dianya aja yang ngomong udah pacaran padahal belum gue jawab beneran deh," ucap Kinan.
"Kapan?" tanya Arin.
"Ya Andis nembak kamu," ucap Arin kesal.
"Kemarin malam waktu aku ke kamar mandi tiba-tiba dia nembak aku gitu Rin, maafin aku belum cerita ya," ucap Kinan.
"Hem ya aku maafin," ucap Arin.
"Nah gitu dong," ucap Kinan lalu mereka kembali ke ruang tamu.
Arin, Kinan dan Andis saat ini berada di ruang tamu dengan suasana yang canggung, "Kenapa sih kok kalian jadi canggung gitu?" tanya Arin.
"Eh gapapa kok Rin," ucap Kinan.
"Sekarang gini aja Nan, jawab dong cintanya Andis," goda Arin.
"Apaan sih lo Rin," ucap Kinan dengan wajah yang memerah.
"Kok merah gitu mukanya," goda Arin.
"Gue setuju Rin, sama ide lo. Ayo Nan jawab dong cinta gue, lo nerima gue atau ya kita hanya temenan aja," ucap Andis.
"Iya dong jawab," ucap Arin.
"Kalian nih apa-apaan sih," ucap Kinan.
"Dan jawabannya adalah...," goda Arin.
"Gue gak tau," ucap Kinan.
"Kok gak tau sih Nan," ucap Arin.
"Ya emang gue gak tau," ucap Kinan.
"Jawabannya cuma dua kok Nan, mau atau gak?" tanya Andis yang mendekat ke arah Kinan.
"Mau," ucap Kinan pelan.
"Apa Nam, gak denger gue," tanya Andis.
"Mau! dasar budeg," ucap Kinan.
"Budeg gini lo masih suka kan Nan," ucap Andis yang terus menggoda Kinan.
"Apaan sih lo Ndis, makin gak jelas aja udah deh gue mau ke kamar mandi dulu, mau cuci muka panas lama-lama muka gue," ucap Kinan.
"Kok bisa panas Nan, karena percikan api cintanya Andis ya," goda Arin.
"Lo Rin udah mulai ngeselin tau gak," ucap Kinan.
__ADS_1
Saat Arin dan Andis sedang berada di ruang tamu dan Kinan di kamar mandi tiba-tiba pintu rumah Andis terbuka dan nampaklah Zehan, Abrar, Okha dan Riko.
.
Sebenarnya Abrar, Okha dan Riko pergi meninggalkan Andis dan Arin, tapi mereka terlalu penasaran sehingga mereka mengikuti mobil Andis dan ternyata mobil yang di kendarai Andis kendarai masuk ke dalam kediaman Andis.
"Satunya itu mobil siapa? kenapa Arin masuk ke mobil satunya? bukannya ke mobil Andis?" tanya Okha.
"Kayaknya biar mereka gak ketahuan deh," ucap Abrar
"Udah Ko, gue gak kuat gue telpon Zehan aja ya biar Zehan tau," lanjut Abrar.
Halo apaan sih Brar, gue tuh lagi istirahat.
^^^Gue tau lo lagi istirahat, gue cuma mau ngasih tau lo mengenai keberadaan Arin, Han.^^^
Dimana?
^^^Di rumah Andre.^^^
Zehan yang mendengar perkataan Abrar pun segera bangkit dan menuju ke rumah Andis. Sedangkan, Mama Naura yang melihat Zehan bangun dan terburu-buru pun terkejut, "Loh Han, kamu mau kemana kamu masih sakit lo istirahat dulu?" tanya Mama Naura.
Zehan terus berjalan tanpa menoleh ataupun menjawab pertanyaan Mama Naura karena yang saat ini ia pikirkan hanya Arin.
Sesampainya di dalam mobil, Zehan segera melaju dengan kecepatan di atas rata-rata, "Awas aja Rin, kalau sampe kamu mengkhianati aku, aku gak bakal diem aja, aku akan buat perhitungan sama kamu dan Andis. Kalau kalian berani ngelakuin ini gue jamin hidup kalian bakal hancur sehancur-hancurnya," ucap Zehan degan penuh emosi.
Zehan berada di depan rumah Andis dan disana juga sudah ada Abrar, Okha dan Riko, "Han, mending lo tenangin dulu pikiran lo semoga ini gak seperti yang kita bayangkan," ucap Riko lalu mereka menuju ke rumah Andis.
Tanpa mengetuk pintu, Zehan langsung masuk ke dalam rumah tersebut dan ia sangat terkejut karena Arin dan Andis berduaan di ruang tamu.
Andis berdiri saat melihat Zehan, namun belum sempat ia berbicara Zehan tiba-tiba memukul keras Andis.
Andis pun berdiri dan ingin pergi dari sana karena ia masih ingin marah dengan Zehan, namun belum sempat ia pergi Zehan terlebih dulu memukulnya, sedangkan Arin yang melihat kejadian itu hanya terkejut dan bingung bagaimana Zehan ada disini.
Zehan terus memukul Andis hingga Arin pun tersadar dengan apa yang dilakukan Zehan, ia langsung menghentikan Zehan yang masih memukuli Andis.
"Zehan, berhenti!" ucap Arin dan menarik Andis agar menjauh dari Zehan.
"Kamu gapapa Ndis?" tanya Arin
Zehan yang melihat hal itu pun semakin emosi dan rasanya ia ingin sekali menghajar Andis, tapi sayang Arin menghalanginya.
Begitupun dengan Abrar, Okha dan Riko yang melihat Arin begitu perhatian dengan Andis dan semakin berspekulasi jika mereka berdua sedang berhubungan.
Arin lalu menatap Zehan, "Kamu kenapa si Han? tiba-tiba mukul orang gak jelas gitu?" tanya Arin.
"Harusnya aku yang tanya apa maksud kamu Rin, pernikahan kita sebentar lagi dan kamu dihubungin gak bisa bahkan kamu gak ada di rumah kamu dan tau-taunya malah di rumah Andis?" tanya Zehan.
"Biar aku tegaskan lagi Han, kalau aku batalin pernikahan kita dan aku gak mau nikah sama kamu Han, aku benci sama kamu," ucap Arin.
Semua orang yang disana terkejut dengan perkataan Arin, bagaimana bisa Arin membatalkan pernikahannya yang akan diadakan 3 hari lagi bahkan semuanya sudah siap dan yang paling mereka takutkan adalah Zehan, ia pasti akan terpukul seperti saat Arin menghilang dulu.
"Kamu kenapa Rin? kenapa kamu jadi kayak gini?" tanya Zehan yang mulai emosi.
"Aku rasa kamu udah tau jawabannya Han, jadi kayaknya aku gak perlu jelasin lagi kan," ucap Arin.
"Tapi, aku yang perlu jelasin ke kamu, apa yang kamu lihat itu gak bener Rin, kamu hanya salah paham," ucap Zehan.
"Udah deh Han, aku masih males bahas ini mending kamu pulang aja," ucap Arin lalu membantu Andis untuk duduk di sofa.
"Kenapa? apa karena Andis?" tanya Zehan membuat Arin menoleh ke arahnya.
"Maksud kamu apa?" tanya Arin.
"Apa karena kamu dan Andis menjalin hubungan di belakang ku sampai kamu gak mau bahas masalah ini, kamu takut melukai hati Andis kan Rin," ucap Zehan.
"Tunggu, maksud kamu, aku sama Andis menjalin hubungan?" tanya Arin.
"Iya kamu tinggal dengan Andis agar bisa menghindar dari aku kan Rin, sekaligus memadu asmara dengan Andis," tuduh Zehan.
Saat mereka sedang berdebat tiba-tiba datanglah Kinan dengan muka segarnya, "Uh segarnya," ucap Kinan yang belum menyadari jika di sana ada Zehan, Abrar, Okha dan Riko bahkan Kinan belum tahu jika muka Andis sudah baba belur.
"Astaga kok kalian ada di sini sih?" tanya Kinan lalu melihat ke arah Andis.
"Ya ampun Ndis, kamu kenapa kok bisa kayak gini sih," lanjut Kinan.
"Maaf Nan, semua ini salahku gara-gara aku Pacar kamu jadi babak belur," ucap Arin dengan menekankan kata 'pacar' agar Zehan tahu jika ia dan Andis tidak memiliki hubungan apa-apa.
Zehan, Abrar, Okha dan Riko yang mendengarnya pun terkejut sejak kapan Andis pacaran dengan Kinan.
"Maksud lo Andis pacaran sama Kinan, sejak kapan Ndis? kenapa lo gak cerita?" tanya Abrar.
"Bukannya gak semua kehidupan gue harus gue ceritain ke orang lain termasuk sahabat kan," ucap Andis.
Zehan lalu menarik Arin menuju ke mobilnya, "Han, sakit tau tanganku," ucap Arin yang berusaha melepaskan cengkraman kuat Zehan.
Semua orang di sana tidak berani menghentikan Zehan karena melihat amarah Zehan yang menakutkan.
Zehan membawa Arin masuk ke dalam mobilnya dan ia mengendarai mobilnya di atas rata-rata, Arin merasa jika Zehan sedang kesetanan sebab ia mengendarai mobilnya terlalu kencang yang membuat Arin berpegangan kuat.
Zehan pun berhenti lalu keluar dari dalam mobil dan membuka pintu Arin, "Han, ini kan kantor kenapa kita ke kantor?" tanya Arin dan tidak mendapat jawaban dari Zehan.
Saat ini hari sudah malam sehingga banyak karyawan yang sudah pulang, Arin dan Zehan berjalan menuju ruang kerja Zehan.
Saat sampai di ruang kerja Zehan, Zehan mendudukkan Arin di kursi kebesarannya, Zehan mendekat pada Arin dan membisikkan sesuatu.
"Sebelum kamu marah seharusnya kamu cari tahu kebenarannya Rin," bisik Zehan yang membuat Arin merinding saat mendengar suara serak seksi Zehan yang begitu menggoda.
'Astaga Arin, kenapa di waktu kayak gini kamu malah mikir yang aneh-aneh sih,' ucap Arin dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.