
Arin pun terbangun dan mendapati ia berada di pelukan Zehan dan Arin pun berusaha membangunkan Zehan, "Yang, bangun," ucap Arin dan Zehan pun membuka matanya.
"Jam berapa?" tanya Zehan.
"Jam 18.35 udah mau makan malam, aku mau balik ke kamar pasti mereka lagi nyariin aku," ucap Arin.
"Ngapain sih disini aja dulu," ucap Zehan.
"Gak bisa Yang, kalau aku disini terus nanti mereka malah curiga lagi, aku pergi dulu ya dah," ucap Arin dan mengecup bibir Zehan singkat lalu pergi dari kamar Zehan.
"Dasar Arin, pinter banget kalau godain suaminya," gumam Zehan.
Arin pun menuju ke kamarnya untuk membersihkan diri dan baru saja masuk Arin langsung mendapatkan pertanyaan dari Gabby dan Vira.
"Kemana aja Rin, kok lama banget?" tanya Vira.
"Iya, lo gak di apa-apain kan sama sih pelayan itu sampai sore gini lo sama pelayan itu?" tanya Gabby.
"Aku gapapa kok tadi cuma cerita-cerita aja gitu sama berbagi pengalaman," ucap Arin.
'Pinter banget lo ngomongnya Rin,' ucap Kinan dalam hati.
Arin pun memberi kode pada Kinan dan Adel agar membantunya, Adel yang sadar akan kode tersebut pun mengalihkan pembicaraan Vira dan Gabby.
"Eh ini tas punya siapa kok taruh di bawah sih gue buang aja gimana?" tanya Adel.
"Tas gue itu, enak aja di buang tas kesayangan gue ya," ucap Vira lalu mengambil tasnya.
"Oke kalau gitu aku mandi dulu ya," ucap Arin lalu menuju ke kamar mandi.
Setelah selesai mereka berlima menuju ke ruang makan yang begitu luas, "Ini mah restoran bukan ruang makan," ucap Vira.
"Sekarang gini kita ke ruang makan untuk apa?" tanya Adel.
"Untuk makan," jawab Vira.
"Terus kita kesini untuk apa?" tanya Adel lagi.
"Untuk makan, Adel," jawab Vira.
"Berarti sama aja kan ruang makan," ucap Adel.
"Iya juga ya," ucap Vira.
"Alah masalah ruang makan aja di permasalahin mending sekarang kita makan yuk keburu habis makanannya nanti," ajak Gabby lalu mereka pun mengambil makanan tersebut.
"Tuh liat enak banget jadi bagian dari keluarga Gulzar ya," ucap Vira dengan menunjuk keluarga Gulzar dengan dagunya.
"Iya Ra, kalau gue jadi istrinya Pak Zehan gue pasti jadi cewek yang paling beruntung ya, tapi sayang cewek yang paling beruntung tuh Bu Tara," ucap Gabby.
Arin yang mendengarnya pun sampai tersedak, "Ini airnya Rin," ucap Kinan dan memberikan air untuk diminum Arin.
"Rin, lo gapapa? makanya kalau makan pelan-pelan gak bakal ada yang minta makanan lo kok," tanya Vira.
"Gapapa kok aku Ra," ucap Arin.
"Makanya kalian ini kalau lagi makan gak usah gosip terus," ucap Adel.
"Yeh apa hubungannya Del?" tanya Gabby.
"Ada pokoknya, mending lanjut makan dan bahas yang lain aja," ucap Adel.
Setelah makan mereka tidak beranjak dari duduknya, tapi mereka mengobrol hingga seseorang datang menyapa mereka.
__ADS_1
"Halo semuanya," sapa Mama Naura.
"Tante boleh duduk disini," lanjutnya.
Semua orang yang ada di meja tersebut diam tanpa mengeluarkan sepatah katapun termasuk Arin yang sudah ketakutan setengah mati.
"Maaf saya mengganggu obrolan kalian ya kok kalian diam begitu?" tanya Mama Naura.
"Tidak Tante eh Bu Naura, saya malah merasa terhormat anda kau duduk disini dengan kami yang hanya karyawan biasa," ucap Vira.
"Perkenalkan saya Tante Naura panggil aja Tante gak usah Ibu, saya Mamanya Zehan," ucap Mama Naura.
"Iya l, sepertinya hampir seluruh karyawan tau siapa anda," ucap Gabby.
"Ah bisa aja," ucap Mama Naura.
"Tante mau makan yang ini?" tanya Gabby.
"Saya sudah kenyang kok, oh iya ngomong-ngomong ini siapa kok cantik banget kayak menantu saya?" tanya Mama Naura.
'Astaga Rin, mertua lo suka ngelawak juga ternyata, ya emang lo menantunya,' ucap Kinan dalam hati.
Kinan dan Adel hanya memandangi satu sama lain karena bingung harus merespon candaan Mama Naura.
"Ah terima kasih atas pujiannya Bu," ucap Arin.
"Kok panggil Bu sih panggil Mama aja," ucap Mama Naura.
'Aduh Mama kok kayak gini sih nanti kalau yang lain curiga gimana,' ucap Arin dalam hati.
"Ma, kok disini sih dari tadi Chesa cariin juga yuk kita ke Papa," ajak Chesa.
"Oh yaudah, sayang Mama ke sana dulu ya," ucap Mama Naura lalu pergi meninggalkan Arin dan yang lainnya.
"Kok Mamanya Pak Zehan akrab banget sama lo, Rin. Mana tadi Mamanya Pak Zehan sampai nganggep lo kayak menantunya, gimana kalau Bu Tara tau bisa habis lo Rin, lo kenal ya sama Mamanya Pak Zehan?" tanya Vira.
"Tapi ya Mamanya Pak Zehan tuh cakep banget meskipun udah berumur gitu jadi gak salah sih kalo Pak Zehan cakep nya kebangetan," ucap Adel.
"Iya juga sih bener kata lo Del, btw lo belum jawab pertanyaan gue Rin, lo kenal sama Mamanya Pak Zehan ya?" tanya Vira.
"Udah deh, Ra. Ya kali Arin kenal sama Mamanya Pak Zehan sih, oh iya kita ke atas aja yuk biasanya kalau malem tambah bagus tau gak," ajak Kinan.
"Yuk kita ke atas," ucap Vira lalu mereka pun menuju ke atas kapal pesiar.
"Wah dingin banget disini, tapi bagus sih pemandangannya," ucap Vira.
"Eh liat tuh ada bintang siapa yang mau foto disana," ucap Gabby.
"Gue dong By, tapi fotoin," ucap Adel.
Mereka pun mengambil gambar sebanyak-banyaknya untuk dijadikan kenangan, saat akan pergi tiba-tiba tangan Arin di tahan oleh seseorang.
"Kamu gak mau foto sama aku Rin?" tanya Tristan.
Arin pun melepaskan tangan Tristan karena Zehan sedari tadi melihatnya yang membuat Arin takut, "Eh i-itu Tan aku gak bisa foto sama kamu," ucap Arin gugup.
"Udah foto aja sini biar gue yang fotoin," ucap Vira dan mendorong Arin hingga menabrak Tristan.
"Maaf Tan," ucap Arin.
"Iya gapapa kok," ucap Tristan dengan tersenyum.
"Oke yuk 1 2 3," ucap Vira.
__ADS_1
"Lebih deketan dong," ucap Vira.
Tristan pun memegang pinggang Arin dan sontak membuat Arin terkejut lalu menjauh dari Tristan, "Maaf Tan, aku balik dulu, yuk," ucap Arin lalu menarik tangan Kinan dan Adel.
"Ya kok gue ditinggal sih Rin, nih Tan. Hasilnya cocok banget deh lo berdua, kalau gitu gue pergi dulu dah," ucap Vira lalu mengikuti Arin.
Zehan yang melihatnya pun menjadi emosi, 'S*alan berani-beraninya dia pegang Arin, Arin juga kenapa dia terima aja sih ajakan itu orang, apa emang Arin sengaja atau jangan-jangan karena ini kamu gak mau hubungan kita terungkap Rin,' ucap Zehan dalam hati yang mulai emosi.
"Sabar Han," ucap Andis.
"Han, tuh Arin nelpon lo," ucap Abrar.
"Biarin aja gue pergi dulu," ucap Zehan lalu pergi.
.
Disisi lain, Arin saat ini berada di kamar bersama Kinan dan Adel. Kinan pun berusaha untuk menelpon Zehan, namun tak ada jawaban.
"Gimana Rin?" tanya Adel dan Arin pun menggelengkan kepalanya lalu menangis.
"Gimana ini, Zehan tadi liat aku sama Tristan foto dan juga waktu Tristan pegang aku hiks hiks," ucap Arin yang mulai meneteskan air mata.
"Rin, lo kenapa?" tanya Vira saat sampai di kamar dan melihat Arin menangis.
"Arin gapapa kok dia cuma butuh istirahat," ucap Kinan.
Arin pun merebahkan tubuhnya dan membelakangi Kinan lalu kembali menangis dalam diam dan beberapa saat kemudian ia terlelap.
Vira melihat ke arah Adel seolah bertanya ada apa dengan Arin, namun Adel hanya mengangguk sebagai jawaban Arin tidak apa-apa.
"Mau kemana Nan?" tanya Gabby saat melihat Kinan berdiri.
"Gue ada urusan bentar, kalian disini aja istirahat udah malem," ucap Kinan.
Kinan berjalan menuju ruangan dengan pintu yang terlihat mewah dan masuk kedalam yang sudah ada Andis, Abrar dan Okha.
"Zehan, dimana?" tanya Kinan.
"Yang, kamu kok ada disini?" tanya Andis.
"Zehan, dimana?" tanya Kinan lagi dengan meninggikan suaranya.
"Pelan-pelan Yang, Zehan tadi keluar," ucap Andis.
"Keluar kemana?" tanya Kinan.
"Gak tau, udah sih gak usah nyari Zehan mungkin dia lagi butuh refreshing lagian Arin juga sih jadi cewek kok mau aja di pegang-pegang gitu kayak cewek murahan," ucap Andis.
Plak!
"Maksud kamu apa Yang, kenapa kamu nampar aku?" tanya Andis.
"Harusnya lo tanya sama diri lo sendiri kenapa gue nampar lo," ucap Andis.
"Apa karena Arin? emang bener kan tadi aku sama yang lain juga liat Arin foto sama cowok habis itu pegang-pegang gitu kan, salah aku dimana?" tanya Andis.
"Gue gak nyangka ternyata otak lo dangkal Ndis," ucap Kinan lalu pergi dari ruangan tersebut.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.