
"Hehehe Bel, aku kirain kamu bakal tanya apa, jadi gini ya aku gak mau ngasih tau ke orang lain karena menurutku itu bukan hal yang harus aku beritahu lagian aku juga gak mau sikap karyawan lain nanti malah beda ke aku Bel. Kalau kayak gini kan aku tahu mana yang emang bener-bener mau temenan sama aku dan mana yang cuma manfaatin kau doang," ucap Arin.
"Tapi kan sekarang situasinya beda Rin, kamu malah yang jadi bahan perbincangan di kantor," ucap Bella.
"Gapapa Bel, lagian aku tutup telingaku kok jadi gak kedengaran," ucap Arin.
"Astaga Rin, kamu kok masih bisa sih kayak gini," ucap Bella.
"Kayak gini, gimana maksudnya? emangnya aku kenapa?" tanya Arin.
"Ya kayak gak ada masalah apa-apa gitu," ucap Bella.
"Masalah itu pasti ada Bel, tapi tergantung kita aja sih mau jalan lurus atau berhenti karena omongan orang," ucap Arin.
"Gak salah emang Pak Zehan milih kamu Rin," ucap Bella.
"Bisa aja kamu Bel," ucap Arin.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba handphone Bella bergetar, "Bentar ya Rin, aku angkat dulu," ucap Bella dan diangguki Arin.
"Rin, kayaknya kau harus balik deh soalnya ini Pak Panji lagi butuh beberapa berkas yang ada di ruang kerjaku," ucap Bella.
"Iya Bel, aku juga mau balik kok ini," ucap Arin lalu mereka pun kembali ke ruangan mereka masing-masing.
Sesampainya Arin di ruangannya ia melihat mejanya berantakan dan semua barangnya berserakan, "Astaga kenapa ini?" tanya Arin karena terkejut melihat mejanya lalu ia pun membersihkan mejanya.
"Rin, kok bisa kayak gini sih," ucap Adel yang baru saja masuk kedalam ruangan tersebut.
"Aku gak tau Del, pas aku kesini udah kayak gini," ucap Arin.
"Padahal gue baru aja pergi ke Kinan buat ngembaliin dompetnya kok malah jadi kayak gini," ucap Adel lalu membantu mengambil barang Arin yang berserakan.
"Awsh," rintih Arin dengan memegang perutnya.
"Kenapa Rin, perut lo sakit? jangan-jangan bentar lagi lo bakal lahiran gue panggilan dokter deh," ucap Adel lalu mengambil handphonenya.
"Aku gapapa Del, cuma sakit biasa ini sebentar lagi juga hilang kok rasa sakitnya lagi pula ini baru 2 bulan Del, masa udah mau lahiran aja sih," ucap Arin.
"Ya siapa tau Rin bisa aja kan," ucap Adel.
"Ya gak mungkin juga sih Del," ucap Arin.
"Udah mending sekarang lo rapiin meja aja biar gue yang ngambilin barangnya oke," ucap Adel.
"Tapi Del, itu kan barang-barangku," ucap Arin.
"Nih lo yang ngerapiin di atas meja aja biar gue ambil di bawah kalau lo yang ngambil barang bisa-bisa lo berojol sekarang," ucap Adel.
__ADS_1
"Makasih ya Del," ucap Arin dan diacungi jempol oleh Adel.
Setelah membereskan barang-barangnya, Arin dan Adel pun kembali bekerja, "Mau kemana lo Rin?" tanya Adel.
"Aku mau keluar bentar ca pengen nikmati udara siang hari," ucap Arin.
"Rin, lo udah mulai eror ya, mana ada nikmati udara siang hari yang ada makin item lo," ucap Adel.
"Mungkin ini si baby Del yang pengen keluar," ucap Arin.
"Mau gue temenin gak?" tanya Adel.
"Gak usah Del, aku bisa sendiri kok," ucap Arin.
"Jangan lupa nanti ada rapat loh Rin," ucap Adel.
"Iya Del, aku inget kok lagian kan masih beberapa jam lagi masih lama Del," ucap Arin.
"Yaudah terserah lo, tapi inget ya kalau ada apa-apa lo kabarin ke gue," ucap Adel.
"Iya Adel, dah," ucap Arin lalu pergi dari ruangan tersebut.
"Bagus Rin," ucap Tristan yang berada di belakang Arin.
"Eh Tristan kamu kok disini bukannya kamu ada di hotel Diamond ya?" tanya Arin.
"Ya gapapa juga sih," ucap Arin.
"Oh iya Rin, aku duduk disini gapapa kan?" tanya Tristan menunjuk kursi yang berada di sebelah Arin.
"Gapapa kok Tan, lagian ini juga bukan kursi punyaku kenapa aku harus ngelarang kamu duduk disini," ucap Arin.
"Gimana kerjaan lo eh kamu Rin?" tanya Tristan.
"Kok kamu? tumben akhir-akhir ini kamu panggil aku pake kamu biasanya kan lo Tan?" tanya Arin.
"Ya gapapa sih pengen aja emangnya gak boleh ya?" tanya Tristan.
"Ya gapapa lah Tan, aku gak ngelarang juga itu terserah kamu mau panggil aku apa aja," ucap Arin.
Saat tengah mengobrol tiba-tiba ponsel Tristan bergetar, "Bentar ya Rin, aku ada telepon," ucap Tristan dan diangguki Arin lalu Tristan pun sedikit menjauh untuk mengangkat panggilan teleponnya.
"Ternyata lo pindah haluan ya Rin, setelah Pak Zehan gagal sama Om-om lo juga gagal akhirnya lo mulai deketin Tristan," ucap Gabby.
"Apa sih sebutan buat Arin itu?" tanya Vira.
"Turun tingkat," ucap Alika.
__ADS_1
"Kalian bisa gak sih sehari aja gak usah ganggu aku, aku juga capek kalau kalian ganggu terus, aku juga punya batas kesabaran kalian pikir aku bisa sabar kalau dapat hinaan dari kalian terus. Sebenarnya apa sih salahku hem? apa salahku sama kalian sampai kalian selalu ngelakuin ini ke aku?" tanya Arin.
"Kenapa? lo gak suka heh? asal lo tau lo ada disini aja salah apalagi lo jadi karyawan disini kesalahan lo bertambah dua kali lipat paham lo," ucap Yura dan mendorong Arin hingga Kaila kembali terduduk di kursinya.
"Kamu gapapa Rin?" tanya Tristan yang baru saja kembali.
"Aku gapapa kok Tan, oh iya aku pergi dulu ya kan bentar lagi ada rapat," ucap Arin lalu pergi ke ruangannya.
Tanpa Arin sadari Zehan sedari tadi melihat Interaksi antara Arin dan Tristan yang tertawa bersama dan itu membuat Zehan merasa kecewa pada Arin.
"Rin, apa sih mau kamu sebenarnya? apa kamu mau sikapku kayak gini terus ke kamu? kenapa kamu harus tertawa bersama orang lain Rin apalagi dia pria yang buat aku cemburu kayak gini?" tanya Zehan pada dirinya sendiri.
"Pak, sebentar lagi rapat akan dimulai," ucap Panji.
"Saya akan kesana," ucap Zehan.
Zehan pun menuju ke ruang rapat dan ia melihat Arin yang duduk disebelah Tristan, "Saya mau semua proyek yang ada di presentasikan sekarang," perintah Zehan.
"Tapi, Pak bukannya untuk proyek yang ada di kota C akan kita presentasikan 3 hari lagi," ucap Bu Mika.
"Kenapa? tim keuangan bermasalah dan gak bisa mempresentasikannya atau anggota kalian asik pacaran terus," ucap Zehan di depan semua karyawan yang ada di ruang rapat.
"Oke, karena tim keuangan sedang bermasalah rapat saya tunda sampai besok dan besok saya tidak akan menerima alasan apapun paham," ucap Zehan lalu keluar dari ruang rapat.
Setelah Zehan keluar semua karyawan yang ada disana berbisik mengenai sindiran Zehan pada Arin, "Pasti gara-gara kamu ya, semua anggota jadi ikut bermasalah, kamu itu Rin kalai ada masalah selesain bukan kayak gini sekarang gimana kita yang jadi korbannya, saya peringatkan lagi sama kamu ya Rin sekali lagi kamu bikin masalah mending kamu keluar aja deh dari perusahaan karena perusahaan gak butuh orang yang gak becus kayak kamu paham," ucap Bu Mika yang mulai emosi lalu keluar dari ruang rapat.
"Makanya jangan sok mentang-mentang mantan selingkuhannya Pak Zehan bisa seenaknya," ucap Yura.
Semua karyawan yang ada disana pun keluar, "Kamu gapapa kan Rin?" tanya Tristan.
"Aku gapapa kok Tan, lebih baik kamu gak usah deket-deket aku dulu Tan, takutnya nanti kamu kena imbasnya juga," ucap Arin.
"Rin, aku gak masalah kok, merekanya aja yang terlalu sensitif," ucap Tristan.
"Tan, aku mohon sama kamu buat jauhin aku," ucap Arin.
"Mending lo turutin aja kemauan Arin, Tan," ucap Adel.
"Bener kata Arin, lo harus jauhin Arin karena takutnya banyak berita-berita yang gak bener di luaran sama," ucap Kinan.
Setelah itu, Arin, Adel dan Kinan pun keluar dari ruang rapat, "Kapan kamu bisa ngeliat aku, Rin?" tanya Tristan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.