
"Pak Aska ikut gak Ra?" tanya Gabby.
"Gak tau juga sih, tapi katanya ikut," ucap Vira.
"Pasti nanti Pak Zehan ngajak Bu Tara deh," ucap Gabby.
"Loh kamu kenal Tara, By?" tanya Arin.
"Siapa sih Rin, yang gak kenal Bu Tara di kantor ini, semua karyawan tau kali kalau Bu Tara itu siapa. Gue cuma bilang ke lo aja ya Rin, lo mending jangan cari masalah sama dia soalnya nih ya denger-denger dia tuh ada hubungan spesial sama Pak Zehan," ucap Gabby.
"Iya bener kata Gabby, Rin. Bu Tara aja ke kantor hampir tiap hari, tapi udah 3 harian ini sih gak kesini itupun karena Pak Zehan ada urusan," ucap Vira.
"Oh gitu ya, baru tau aku," ucap Arin.
"Ya lo si keluar," ucap Gabby.
"Btw itu beritanya emang beneran kalau Pak Zehan sama Bu Tara ada hubungan atau cuma gosip aja?" tanya Adel.
"Beneran ini tuh beritanya orisinil dari Bu Tara sendiri yang cerita ke karyawan kalau dia itu udah menjalin hubungan sama Pak Zehan dari sekolah malah katanya," ucap Vira.
setelah mendengar perkataan Viar, Adel pun tertawa hingga membuat semua orang yang ada di sana bingung.
"Kenapa lo Del?" tanya Gabby.
"Gapapa kok Bu, gue cuma pengen ketawa aja," ucap Adel.
"Udah gila gue rasa si Adel ini kok ketawa sendiri," ucap Vira.
"Lo gak usah khawatir Rin, itu cuma karangannya Bu Tara," bisik Adel dan diangguki Arin.
"Kalian dari tadi bisikin apa sih?" tanya Gabby.
"Gak kok By, gue cuma mau bilang kalau gue pinjem uangnya Arin," ucap Adel.
"Astaga kenapa lo gak bilang sih kan lo bisa pinjem gue," ucap Gabby.
"Gak usah, ini Arin udah pinjemin kok," ucap Adel.
'Wah pinter juga lo aktingnya Del,' ucap Adel dalam hati.
Arin pun membersihkan mejanya dan bersiap untuk pulang karena saat ini di ruangannya hanya ada Arin, Vira dan Tristan sedangkan yang lainnya pulang terlebih dahulu.
"Rin, Tan gue pulang dulu ya," ucap Vira lalu pergi dari ruangan tersebut.
"Rin, bareng gue yuk," ajak Tristan.
"Eh, maaf ya aku gak bisa bareng kamu aku masih ada urusan habis ini soalnya," ucap Arin.
"Ehm oke deh kalau gitu gue balik dulu," ucap Tristan yang meninggalkan Arin sendirian di ruangan tersebut.
Saat Arin akan beranjak dari tempatnya tiba-tiba ia mendengar suara langkah kaki yang semakin mendekat yang membuatnya takut.
'Aduh ini siapa ya? apa jangan-jangan ada penjahat atau gak hantu? apa jangan-jangan ini penjahat? aduh gimana ini,' tanya Arin dalam hati.
Arin pun mengambil tongkat untuk memukul penjahat tersebut.
Merasa bahunya di pegang Arin dengan sigap langsung membalikkan badannya dan memukul penjahat tersebut dengan mata tertutup.
__ADS_1
"Awsh, Yang, Ini aku Zehan suami kamu," ucap Zehan.
Arin yang mendengarnya pun segera membuka matanya dan terkejut melihat Zehan berada di hadapannya, "Kamu kok bisa disini?" tanya Arin.
"Kan ada itu, makanya aku tau kalau kamu lagi sendirian disini," ucap Zehan dan menunjuk cctv.
"Oh aku kirain tadi ada penjahat Yang, makanya aku siap siaga," ucap Arin.
"Untung deh kalau gitu, aku tenang kalau kamu lagi sendirian," ucap Zehan.
"Kok gitu," ucap Arin.
"Soalnya kamu kalau mukul kenceng banget Yang, sampai aku masih kerasa nih pukulan kamu," ucap Zehan menunjuk lengannya yang tadi dipukul Arin.
"Hehehe, yaudah yuk kita pulang," ajak Arin lalu mereka menuju kediaman keluarga Gulzar.
Setelah makan malam, Zehan pun menuju ke ruang kerjanya sedangkan Arin ke kamar dan menghirup udara segar di balkon, saat didalam kamar seketika Arin teringat Ayah dan Bunda serta Bibi Ika.
"Ayah, Bunda, Bibi Ika, gimana keadaan kalian disana? kalian baik kan? kalian pasti bahagia kan ngeliat Arin sekarang?" ucap Arin yang mulai meneteskan air matanya.
"Hiks hiks Ayah, Bunda, Bibi Ika, Kaila disini bahagia banget. Arin mendapat kasih sayang seorang Ibu dari Mama Naura dan banyak yang sayang sama Arin," lanjut Arin.
Arin tidak menyadari jika Zehan melihat dan mendengar semua perkataan Arin, Zehan merasa sedih melihat Arin menangis lalu Zehan pun berjalan menuju Arin dan memeluknya dari belakang.
"Kamu gak usah khawatir masih ada aku, Mama, Papa sama Chesa yang selalu anggap kamu sebagai keluarga ya," ucap Zehan dan diangguki Arin.
Zehan pun membalikkan tubuh Arin agar menghadapnya, "Udah ya gak usah nangis nanti cantiknya luntur lagi senyum dong," ucap Zehan.
Arin pun tersenyum dan memeluk Zehan, ia menyembunyikan kepalanya di dada bidang Zehan, "Makasih ya karena kamu baik banget sama aku," ucap Arin.
"Yang, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Zehan.
"Gimana ceritanya Ayah sama Bunda kamu bisa meninggal Yang? tapi kalau kamu gak mau cerita juga gapapa kok, aku gak pernah maksa kamu, kamu bisa ceritain ke aku kapan aja selama kamu siap Yang," ucap Zehan.
"Semuanya itu terjadi saat Ayah sama Bunda jenguk aku di negara B, jadi waktu itu aku udah satu tahun di negara B terus saat mereka pulang dari negara B pesawat mereka jatuh, Ayah sama Bunda meninggal saat itu juga hiks hiks, harusnya aku gak minta mereka jenguk aku," ucap Arin yang mulai menangis.
Zehan pun memeluk Arin dan menenangkannya, "Kamu gak usah nangis lagi ya sekarang kamu kan udah ada Mama sama Papa," ucap Zehan.
"Seandainya aja aku gak pergi saat itu Yang, mungkin Ayah sama Bunda masih ada disini sekarang," ucap Arin.
"Hush, ini semua udah takdir Yang, sekuat apapun kita menghindarinya tetep aja bakal sama," ucap Zehan.
"Makasih ya Yang, udah baik sama aku hiks hiks," ucap Arin.
"Pastilah Yang, kamu sekarang adalah tanggungjawab ku apapun yang terjadi sama kamu, aku harus tau," ucap Zehan.
"Oh iya gimana kerjaan kamu tadi?" tanya Zehan.
"Wah Yang, kamu udah gila ya," ucap Arin.
"Gila kenapa?" tanya Zehan.
"Ya kamu banyak banget revisi proyek yang di kota E sampai pusing aku liat berkasnya," ucap Arin.
"Kan emang ada yang kurang Yang, berkasnya makanya aku revisi," ucap Zehan.
"Tapi ya gak sebanyak itu Yang, aku aja sampe minta Adel buat jelasin semuanya," ucap Arin.
__ADS_1
"Kamu jadi sekretaris ku aja gimana biar kamu gak usah ngurus berkasnya?" tanya Zehan.
"Gak mau mending aku lembur daripada jadi sekretaris kamu," ucap Arin.
"Kenapa emangnya? jadi sekretaris ku enak loh gajinya besar ditambah lagi bisa ketemu sama Bos tampan ini," ucap Zehan.
"Hah kamu makin kepedean Yang, merinding aku dengernya," ucap Arin lalu masuk kedalam kamar dan tidur di atas ranjang.
Zehan pun menghampiri sang istri, "Yang, yuk ibadah," ajak Zehan.
"Ibadah apaan sih, udah tidur aja," ucap Arin.
"Gak bisa, junior uda terlanjur bangun," ucap Zehan.
Tanpa menunggu jawaban sang istri, Zehan pun mulai menggempur Arin dan Malam ini pun menjadi pertempuran kembali untuk mereka berdua.
Pagi harinya, Zehan bangun dan bersiap-siap untuk ke kantor, ia melihat Arin yang masih tertidur pulas akibat kelelahan.
"Hah jam 08.35 kenapa kamu gak bangunin aku Yang?" tanya Arin lalu duduk.
"Kamu tidurnya nyenyak banget Yang, ya gak tega aku bangunin lagian kamu bisa izin kok," ucap Zehan.
"Gak, aku mau kerja aja aw aw," rintih Arin.
"Kenapa? sakit ya?" tanya Zehan dengan nada khawatir.
"Menurut kamu? kenapa kamu kasar banget sih?" tanya Arin yang berusaha bangun dengan bantuan Zehan.
"Biasa Yang namanya juga cowok," ucap Zehan.
"Huh dasar udah sana pergi," ucap Arin.
"Kamu gak mau aku mandiin," ucap Zehan.
"Gak, aku bisa mandi sendiri," ucap Arin.
"Beneran nanti kalau sakit gimana?" tanya Zehan.
"Aku bisa sendiri sana," ucap Arin.
Zehan pun menuju ke meja makan begitupun Arin setelah bersiap-siap, ia menuju meja makan.
"Tumben Kak Arin gak bantu Bi Laras hari ini?" tanya Chesa.
"Oh itu kakak tadi kesiangan," ucap Arin.
"Kok bisa kesiangan Kak? biasanya kan Kak Arin yang paling awal bangunnya?" tanya Chesa.
"Kak Arin habis tempur udah jangan ditanya lagi," ucap Zehan.
"Kamu nih Yang," bisik Arin.
Mama Naura yang melihatnya pun tersenyum, 'Mama seneng Han, akhirnya kamu bisa bahagia,' ucap Mama Naura dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.