
"Harusnya juga kamu jangan ke rumah Andis kalau lagi ada masalah sama aku, ayo kita selesain masalah kita," bisik Zehan.
Arin yang sudah tidak kuat mendengar bisikan Zehan pun langsung mendorong tubuh Zehan agar menjauh darinya.
"Mak-maksud kamu apa sih Han?" tanya Arin.
Zehan pun menyalakan komputernya dan menunjukkan rekaman cctv saat Tara datang dan Arin pun melihat rekaman tersebut, ternyata yang memeluk Zehan terlebih dahulu ialah Tara dari rekaman tersebut terlihat jika Zehan mencoba untuk melepaskan Tara, namun Tara menahannya.
Zehan pun mematikan rekaman cctv tersebut dan membalikkan kursi yang di duduki Arin agar menghadapnya.
"Gimana masih mau marah, aku gak pernah ada hubungan apapun sama Tara, dia nya aja yang ngejar aku, tapi aku selalu nolak dia. Rin, percaya sama aku," ucap Arin dengan memegang tangan Arin.
"Arin," ucap Arin dengan menundukkan kepalanya, Zehan pun mengangkat dagu Arin.
"Kamu gak salah Rin, emang aku aja yang kurang bersikap tegas ke Tara," ucap Zehan.
"Tapi tetep aja aku salah soalnya gak dengerin penjelasan kamu dulu malah kabur gak jelas, maaf ya Han," ucap Arin.
"Aku juga minta maaf Rin karena aku udah nuduh kamu selingkuh sama Andis yang notabene nya adalah sahabat aku sendiri, aku cemburu Rin, kamu lagi marah sama aku dan malah berduaan sama Andis," ucap Zehan.
"Kamu sih makanya jangan asal mukul aja," ucap Arin.
"Ya, tadi kamu berduaan sih," ucap Zehan.
"Kan tadi Kinan, tapi dia lagi ke kamar mandi ya makanya aku sama Andis di ruang tamu," ucap Arin.
"Udah ya, masalah kayak gini jadi pembelajaran aja buat kedepannya," ucap Zehan dan diangguki Arin.
"Tapi, kita tetep nikah kan Rin, aku udah siapin semuanya loh tinggal hari H nya aja," ucap Zehan.
"Gimana ya," ucap Arin dengan berpikir.
"Kok mikir sih Rin, jangan mikir tinggal bilang iya aja kok," ucap Zehan.
"Hehe iya Zehan jadi," ucap Arin.
"Makasih ya Rin," ucap Zehan dan memeluk Arin.
"Aku rasa sikap kekanak-kanakan aku bakal ada waktu kita nikah nanti dan mau ngilanginnya pun butuh waktu, kamu masih mau sama aku?" tanya Arin.
"Aku terima segala kekurangan kamu, Arin," ucap Zehan.
Saat Zehan tengah memeluk Arin tiba-tiba Arin mendorong tubuh Zehan agar menjauh darinya.
"Kenapa Rin? ada yang salah?" tanya Zehan.
"Iya, kamu yang salah," ucap Arin.
'Kayaknya gue baru aja baikan deh kok salah sih gue,' ucap Zehan dalam hati.
"Kamu salah karena kamu meluk aku," ucap Arin.
"Hah maksudnya gimana deh gak paham aku?" tanya Zehan.
"Hadeh kamu tuh meluk aku padahal kita belum nikah, udah pegang-pegang aja," ucap Arin.
"Oh itu yaudah biarin aja deh," ucap Zehan lalu menggenggam tangan Arin.
Arin pun segera menghempaskan tangan Zehan, "Gak boleh pegang-pegang sebelum sah inget," ucap Arin lalu berjalan menuju pintu.
"Kamu mau kemana?" tanya Zehan.
"Mau nemuin Kinan nanti Kinan malah ngamuk soalnya aku yang maksa Kinan buat nemenin aku tinggal di rumah Andis," ucap Arin.
"Yaudah aku antar, berarti kita ke rumah Andis nih," ucap Zehan.
"Iya, Kinan masih di sana soalnya," ucap Arin dan diangguki Zehan lalu Zehan pun melajukan mobilnya menuju rumah Andis.
Saat akan memasuki rumah Andis, Arin menyuruh Zehan untuk meminta maaf karena bagaimanapun Zehan salah sudah memukul Andis.
"Inget loh ya kamu harus minta maaf ke Andis karena udah mukul dia padahal dia udah baik banget sama aku," ucap Arin.
"Iya Arin, aku inget kok," ucap Zehan.
Mereka berdua pun memasuki rumah Andis dan ternyata di dalam masih ada Abrar, Okha, dan Riko.
Saat ini Kinan tengah mengobati luka Andis akibat pukulan dari Zehan, Zehan pun menghampiri Andis dan meminta maaf, "Ndis, gue minta maaf karena kelepasan tadi, gue terlalu emosi ngeliat lo berduaan sama Arin," ucap Zehan.
Andis hanya menatap Zehan lalu berdiri dan memeluk Zehan, "Gue juga minta maaf Han karena gue, lo jadi salah paham sama Arin, lo gak usah khawatir gue gak ada hubungan apa-apa sama Arin karena niat gue cuma
bantu aja," ucap Andis.
"Gue juga minta maaf tadi waktu di rumah, gue gak ceritain masalah gue ke kalian padahal kan kalian sahabat gue dari kecil," ucap Zehan.
"Santai Han, gue paham kok sifat lo gue cuma mau tau aja dari sudut pandang lo kenapa Arin marah sama lo, tapi lo nya gak mau cerita. Lagian gue juga terlalu egois yang harus tahu semuanya padahal semua orang punya kehidupan masing-masing," ucap Andis.
"Tunggu deh Ndis, setelah lo jadian ama Kinan kenapa kata-kata lo jadi bijak gini sih biasanya juga asal-asalan lo ngomongnya," ucap Abrar.
"Sialan lo Brar, gue emang dari dulu bijak tapi gue sembunyiin aja dari lo nanti kalau gue umbar makin banyak orang yang minta motivasi lagi sama gue," ucap Andis.
"Mulai kayak Andis yang dulu jadi gue tarik lagi kata-kata gue barusan," ucap Abrar.
"Gimana Rin, udah selesai?" tanya Kinan dan diangguki Arin.
"Jadi nikah gak nih," goda Okha pada Arin.
"Apaan sih, udah deh jangan mulai," ucap Arin yang mukanya merah.
"Makin gemes tau kalau merah gitu mukanya," bisik Zehan.
"Main bisik-bisik tetangga nih," goda Abrar.
"Gimana Arin, jadi apa gak?" goda Okha lagi.
"Tau ah tanya Zehan aja Kha, kita ke kamar yuk," ucap Arin lalu menarik tangan Kinan.
__ADS_1
"Gimana Han?" tanya Okha.
"Apanya?" tanya Zehan.
"Ya lo sama Arin, jadi nikah gak?" tanya Okha.
"Ya jadilah tiga hari lagi masa gak jadi," ucap Zehan.
"Sumringah banget lo Han," ucap Andis.
"Ya iya lah gue sumringah bentar lagi gue bakal nikah, gue kirain gue gak bakal bisa ketemu sama Arin lagi eh ternyata ketemu lagi dong," ucap Zehan.
"Bisa aja lo Han," ucap Okha.
"Ya bisalah lo tau gak ini tuh pertandanya apa," ucap Zehan.
"Apa emang?" tanya Abrar.
"Ini tuh pertanda kalau Arin itu emang jodoh gue," ucap Zehan.
"Mulai nih anak, mending kita pulang aja," ucap Okha.
"Yuk," ucap Abrar lalu mereka beranjak pergi.
"Lo gak pulang Han?" tanya Abrar.
"Gak, gue mau jagain bidadari gue," ucap Zehan.
"Enak aja, gak lo pulang sana ada gue yang jagain, udah bawa nih anak pulang gih," ucap Andis.
"Tapi Ndis," ucap Zehan.
"Gak ada tapi-tapian," ucap Andis.
Riko pun menarik Zehan yang dibantu Abrar karena Zehan tidak ingin pergi dari rumah Andis.
Zehan pun pulang menuju rumahnya saat akan menaiki anak tangga Mama Naura menghampirinya, "Kamu darimana aja Kak? kamu tuh belum sehat loh gimana ada yang sakit gak?" tanya Mama Naura khawatir.
"Zehan baik-baik aja Ma," ucap Zehan lalu memeluk Mama Naura dan mengajaknya berdansa.
"Kamu kenapa Kak? kamu baik-baik aja kan?" tanya Mama Naura yang melihat perubahan Zehan.
"Itu artinya Kak Zehan udah baikan sama Kak Arin, Ma," ucap Chesa yang dari tadi duduk di sofa ruang tamu dan melihat kelakuan ajaib Zehan.
"Beneran Kak? kamu udah gak berantem lagi sama menantu Mama?" tanya Mama Naura dan diangguki Zehan.
"Akhirnya Mama punya menantu juga yeyeye," ucap Mama Naura lalu mengajak Zehan berdansa.
.
Hari ini Zehan bangun lebih pagi, pagi ini berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya karena hari ini adalah hari terakhir melajang, ya besok ia akan melepas masa lajangnya dengan sang pujaan hatinya yaitu Arin.
Zehan bangun dari kasur king size nya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya setelah itu Zehan pun menuju ke ruang tamu yang penuh dengan saudara dan sahabatnya.
"Gimana nih Kha, lo keduluan sama Zehan?" tanya Andis.
"Iya nih padahal gue yang langgeng ama Dian eh dia yang nikah dulu, alamat Dian iri nih sama Arin kayak SMA dulu," ucap Okha lalu mereka pun tertawa.
"Zehan tuh cakep banget seharusnya Mbak Naura kenalin ke anak saya dulu iya kan Pa," ucap salah satu ibu-ibu disana.
Mama Naura yang mendengarnya pun hanya tersenyum palsu, 'Saya sih ogah banget jodohin Zehan sama anak situ, males banget punya mertua yang lemes banget mulutnya,' ucap Mama Naura dalam hati.
"Iya bener Ma," ucap suami ibu-ibu tersebut.
"Hai," sapa seorang perempuan entahlah Zehan tidak mengetahui siapa namanya.
Zehan hanya berdehem membalas sapaan perempuan yang tidak ia kenal itu.
"Kenalin Febby," sapa Febby dengan mengulurkan tangannya.
"Kita ke ke taman yuk," ajak Zehan.
Zehan dan para sahabatnya pun pergi dari sana dan menuju ke taman belakang kediaman Gulzar.
"Cantik Han," ucap Abrar.
"Terus," tanya Zehan.
"Ya, gue cuma bilang aja buat gue boleh gak tuh," ucap Abrar.
"Terserah lo, gue gak peduli juga," ucap Zehan.
"Jahat banget lo Han," ucap Okha.
"Kan emang gue gak peduli, apa urusannya sama gue, kecuali lo mau ngambil Arin ya gue hajar sampai babak belur lo lebih dari Andis," ucap Zehan.
"Duh gue ogah Han, gue yang ngeliat aja sampai ngilu," ucap Abrar.
"Tau nih Zehan kalau mukul sakit banget woy," ucap Andis.
Wajah Andis sekarang memang lebih baik dari pada saat Zehan memukulnya, memarnya sudah mulai hilang tapi tetap sedikit sakit jika ditekan.
"Kan gue udah minta maaf juga Ndis," ucap Zehan.
"Iye iye," ucap Andis.
"Oh iya Han, lo rencananya setelah nikah bakal bulan madu kemana?" tanya Riko.
"Gue belum tau sih, kalau gue sih terserah Arin aja dia maunya kemana," ucap Zehan.
"Gue denger-denger sih tempat yang bagus tuh di negara H," ucap Abrar.
"Negara H mah udah biasa Brar, ke tempat lain aja," ucap Andis.
"Terus kemana?" tanya Zehan.
__ADS_1
"Gimana kalo kita ke negara F aja," ucap Abrar.
"Kita, sorry nih Brar, ini tuh bulan madu gue sama Arin, ngapain gue ngajak lo. Lagian gue mau nentuin bulan madunya kemana sama Arin aja pilihan kalian gak cocok buat gue," ucap Zehan.
"Yeh kita nih cuma ngasih saran Han, ke sungai di kota D aja ka lumayan sekalian belajar mengenai alam terus nanti lo bawa Abrar aja nanti lo kasih ke ikan-ikan di sana gitu," ucap Andis.
"Enak aja, daripada gue ya mending lo aja yang di kasih ke ikan-ikan," ucap Abrar.
"Mulai deh," ucap Riko.
"Tunggu deh Ko, lo kan mau nikah juga kan sama si Virna," ucap Andis.
"Iya, rencananya gue mau nikah tahun ini sih," ucap Riko.
"Gila, baru juga putus terus dijodohin eh udah mau nikah aja," ucap Andis.
"Namanya juga jodoh gak ada yang tahu," ucap Riko.
"Berarti di antara kita yang masih sendiri nih orang dong," ucap Andis dan melirik ke arah Abrar.
"Biasa aja dong mentang-mentang udah punya pacar sombong, gue bakal bawa pacar gue nanti," ucap Abrar.
"Kapan Brar?" tanya Okha.
"Ya nanti Kha," ucap Abrar.
"Ya kapan nantinya itu?" tanya Okha lagi.
"Kok jadi gue sih yang diledekin, lo pada mah gak asik dulu aja Andis yang diledekin eh giliran dia udah punya cewek gue yang diledekin," ucap Abrar.
"Makanya jangan menjomblo kalau gak mau di ledekin," ucap Okha.
.
Kaila sendiri saat ini berada rumahnya dengan Kinan dan Mbak Lusi yang membantunya.
"Makasih ya Nan, Mbak udah bantuin Arin," ucap Arin.
"Iya gapapa kok Rin, kalau butuh apa aja kamu tinggal bilang Mbak, nanti kalau mbak bisa, pasti mbak bantuin," ucap Mbak Lusi.
"Iya, Mbak," ucap Arin.
"Kalau gitu mbak pulang dulu ya," pamit Mbak Lusi dan diangguki Arin.
"Siap?" tanya Kinan.
"Siap Nan, yuk," ucap Arin.
Hari ini Arin dan Kinan akan mengunjungi makam Bibi Ika, Arin ingin memberitahu Bibi Ika mengenai rencana pernikahannya.
Saat menuju pemakaman Arin begitu gugup sebab ini adalah pertama kalinya Arin mengunjungi Bibi Ika setalah pemakaman waktu itu.
Saat dalam perjalanan perasaan Arin bercampur antara senang dan sedih, "Rin, kok lo nangis?" tanya Kinan saat melihat Arin meneteskan air matanya.
"Aku gapapa kok Nan, aku cuma seneng aja akhirnya aku ketemu sama Bibi," ucap Arin.
Tak lama setelah itu, Arin dan Kinan pun sampai dia area pemakaman dan mereka menuju ke makam Bibi Ika.
"Bibi, Arin datang," ucap Arin saat sampai di makam Bibi Ika.
"Halo Bi, Kinan juga ada," ucap Kinan.
Arin pun menaruh bunga yang ia bawa tadi dan menyiram makam Bibi Ika, tak lupa Arin juga membersihkan makam yang terlihat banyak daun yang berjatuhan di sana.
"Bi, Arin ada berita penting banget buat Bibi, Arin yakin Bibi pasti seneng deh dengernya," ucap Arin lalu mengambil sebuah undangan pernikahan yaitu undangan pernikahannya dengan Zehan lalu menaruhnya ke atas makam Bibi Ika.
"Bi, Arin akhirnya mau nikah, Bibi seneng kan Arin tau hiks hiks. Bibi pa-pasti seneng," ucap Arin yang mulai meneteskan air matanya.
Kinan yang melihatnya pun menenangkan Arin, ia tidak bisa membayangkan jika masalah yang menimpah Arin juga menimpah dirinya, ia pasti akan putus asa dan menyerah pada hidupnya.
'Gue tau lo kuat Rin, lo itu perempuan terkuat yang pernah gue temuin,' ucap Kinan dalam hati.
Setelah beberapa saat, Arin dan Kinan pun memutuskan untuk pulang, "Bi, Arin pergi dulu ya, nanti Arin bakal sering kesini ya untuk ketemu Bibi," ucap Arin.
Mereka berdua pulang dan saat sampai di rumah mereka langsung membuat makanan tepatnya Arin membuat makanan untuk dirinya dan Kinan.
"Rin, akhirnya besok lo jadi istri orang, selamat ya," ucap Kinan dan memeluk Arin.
"Makasih ya Nan, kamu itu salah satu faktor yang ngebuat aku akhirnya nikah sama Zehan, kalau seandainya kamu dukung buat aku batalin pernikahanku sama Zehan waktu itu aku yakin pasti besok aku gak akan nikah sama Zehan," ucap Arin.
"Lo tau gak sih Rin, sebenernya gue tuh juga ragu gitu mengenai hubungan lo sama Zehan, tapi tiap gue ngeliat Zehan, gue tuh kayak ngeliat gimana tulus nya Zehan sama lo Rin, makanya gue sampai tanya sama lo, lo yakin mau batalin pernikahan lo," ucap Kinan.
"Hem, sayang banget sama Kinan," ucap Arin.
"Huh ada-ada aja lo Rin," ucap Kinan.
"Aku berdoa semoga Kinan dan Andis segera menikah," ucap Arin.
"Amin," ucap Kinan.
"Di pernikahan lo, Tara lo undang gak?" tanya Kinan.
"Gue undang kok Tara," ucap Arin.
"Lo yakin ngundang Tara?" tanya Kinan dan diangguki Arin.
"Zehan juga nanya gitu ke aku sebenarnya Zehan gak mau ngundang Tara, tapi aku minta buat Tara di undang dan gitu deh," ucap Arin.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1