
"Aku harus gimana ini? gak mungkin aku diem aja di rumah dan biarin Bibi Ika kerja sendiri sedangkan aku santai-santai di rumah," gumam Arin.
Ya, Arin saat ini sudah berada di rumah, ia bingung harus mencari pekerjaan dimana karena ia sudah tidak memiliki pekerjaan lagi ditambah Kinan yang marah dengannya sehingga saat ini Arin merasa sendiri dalam keadaan seperti ini dan ia tidak memiliki siapapun.
Bibi Ika sendiri sudah mengetahui jika Arin berhenti dari kantor dan untung saja Bibi Ika mengerti keadaan Arin dan tidak ingin memaksa Arin untuk tetap bekerja di perusahaan yang sudah membuatnya tidak nyaman itu.
"Rin, ayo makan," ucap Bibi Ika.
"Iya Bi, ini Arin mau ke sana," ucap Arin.
Tak lama, Arin pun sudah berada di meja makan dengan Bibi Ika, "Arin, kamu sudah dapat pekerjaan belum?" tanya Bibi Ika.
"Belum Bi, tapi Arin sudah mengirim surat lamaran ke beberapa perusahaan semoga Arin di terima ya Bi," ucap Arin.
"Pasti Rin, Bibi selalu doain yang terbaik buat kamu," ucap Bibi Ika.
"Oh iya nanti Arin keluar sebentar ya," ucap Arin.
"Mau kemana, Rin?" tanya Bibi Ika.
"Biasa Bi, Arin ada urusan sebentar," ucap Arin.
"Yaudah kalau gitu hati-hati nanti ya," ucap Bibi Ika.
"Iya Bi," ucap Arin dan setelah itu mereka melanjutkan makannya.
Saat ini, Arin sudah berada di depan warung nasi goreng milik Omnya Ezra, ya Ezra yang merupakan teman kerja Arin di toko roti merasa kasihan melihat Arin dan mengatakan jika di warung nasi goreng Omnya sedang membutuhkan karyawan dan barangkali Arin berminat, ia bisa langsung datang ke warung Omnya Ezra.
Sebenarnya Arin tidak mau, namun Arin tidak punya pilihan lain, ia tidak tau harus bagaimana lagi jika ia tidak segera mendapatkan pekerjaan dan akhirnya Arin pun memilih untuk bekerja sementara di warung nasi goreng milik Omnya Ezra.
Meskipun pekerjaannya hanya mencuci piring kotor, namun Arin tetap menerimanya. Saat pulang dari warung, Arin segera pulang karena ia sudah mendapat upah untuk kerja hari ini dan juga membawa dua bungkus nasi goreng untuk ia dan Bibi Ika.
Arin segera masuk ke dalam rumahnya dan saat Arin masuk ia terkejut melihat Pamannya, ya Arin memiliki Paman yang bernama Paman Tommy yang merupakan suami dari Bibi Ika.
Hal yang membuat Arin terkejut ialah dimana Paman Tommy yang tengah memukul Bibi Ika menggunakan sapu.
"Apa yang Paman lakukan?" ucap Arin dengan melepaskan tangan Paman Tommy yang berada di kerah baju Bibi Ika.
"Diam kamu anak gak berguna, sekarang mana uangmu?" tanya Paman Tommy dengan menodongkan pisau ke arah Arin.
"Arin gak punya uang Paman, Arin baru saja di pecat," ucap Arin.
"Halah banyak alasan kamu," ucap Paman Tommy lalu menarik paksa tas Arin dan mengeluarkan semua barang yang ada di dalamnya.
"Paman, jangan," ucap Arin.
__ADS_1
"Ini apa heh, ngomong gak punya uang. Awas aja ya sampai kamu gak punya uang saat Paman di sini, Paman gak bakal segan-segan bunuh kalian berdua," ucap Paman Tommy lalu keluar dari rumah tersebut.
Seketika Arin merasa kakinya lemas, upah untuk pekerjaan hari ini yang rencana awalnya untuk membeli kebutuhan mereka harus hilang karena diambil paksa oleh Paman Tommy.
"Huk huk."
Arin yang melihat Bibi Ika batuk pun langsung menghampiri Bibi Ika yang sudah tidak dapat menahan rasa sakit di dadanya.
"Bibi ayo sekarang kita ke Dokter," ucap Arin, namun Bibi Ika menggelengkan kepalanya.
"Bibi gapapa kok Rin, Bibi cuma butuh istirahat sebentar aja bakal sembuh," ucap Bibi Ika.
"Yaudah kalau gitu Arin antar Bibi ke kamar ya," ucap Arin dan diangguki Bibi Ika.
Saat di dalam kamar, Arin terus berpikir mengenai masa depannya dan Bibi Ika, jujur saja Arin merasa bingung harus mencari pekerjaan dimana lagi.
Saat memikirkan hal itu tangis Arin pun pecah, ia sudah tidak dapat menahannya lagi. Arin tidak kuat menanggung semuanya, namun Arin harus kuat untuk Bibi Ika dan dirinya sendiri.
Tanpa terasa Arin pun terlelap setelah menjalani hari yang panjang dan menguras pikirannya mulai dari berhenti dari kantor dan berhenti dari toko roti serta Paman Tommy yang datang dan mengambil semua uang hasil dari kerja kerasnya di warung nasi goreng.
Pagi yang cerah ini semuanya tampak bersemangat untuk memulai harinya, namun hari ini sangat berbeda bagi Arin lantaran ini adalah hari pertamanya menjadi seorang pengangguran.
Saat masih bermalas-malasan di dalam kamarnya tiba-tiba Bibi Ika mengetuk pintu, "Masuk Bi," ucap Arin lalu masuklah Bibi Ika.
"Kamu makan Rin, Bibi udah bikinin makanan buat kamu," ucap Bibi Ika.
"Bibi mau ke rumah Bu Ani katanya nanti di rumahnya ada arisan sama temen-temennya terus Bibi di suruh bantuin sama Bu Ani," ucap Bibi Ika dan diangguki Arin.
"Arin boleh ikut gak Bi, ya bantuin Bibi gitu daripada Arin di rumah gak ngapa-ngapain kan?" tanya Arin.
"Kamu gak capek emangnya, lebih baik kamu istirahat aja Rin, kan kamu juga jarang banget istirahat akhir-akhir ini," ucap Bibi Ika.
"Arin gapapa kok Bi, justru Arin bosen kali di rumah gak ngapa-ngapain, boleh ya Bi," ucap Arin.
"Yaudah gapapa kamu ikut bantuin Bibi, tapi kamu makan dulu ya soalnya Bibi udah siapin makanannya," ucap Bibi Ika.
"Siap Bos," ucap Arin.
.
Zehan hari ini sangat malas untuk beraktivitas terutama untuk menuju kantornya, ia biasanya sangat tidak sabar untuk datang ke kantor. Namun, hari ini sebaliknya lantaran Arin sudah berhenti dari pekerjaannya dan itu artinya Arin sudah tidak ada di kantor lagi.
Sedangkan, selama ini Arin yang membuat Zehan semangat pergi ke kantor, seperti saat ini jam sudah menunjukkan pukul 8, namun Zehan masih belum mau beranjak dari ranjang king size nya.
"Zehan kamu gak ke kantor?" tanya Mama Naura dari luar kamar Zehan.
__ADS_1
"Zehan males Ma, soalnya di kantor udah gak ada penyemangatnya lagi," ucap Zehan.
"Terus kamu mau Mama gantiin kamu apa, udah sekarang kamu bangun deh, udah jam berapa ini awas aja sampai Mama ke sini lagi dan kamu masih belum siap-siap," ucap Mama Naura lalu pergi dari depan kamar Zehan.
Akhirnya setelah ancaman dari Mama Naura, mau tidak mau Zehan pun beranjak dari ranjangnya dan masuk ke kamar mandi dan setelah itu dengan segala ritualnya Zehan pun turun ke arah meja makan.
Saat Zehan menuruni tangga dan menuju meja makan, Zehan hanya melihat Mama Naura yang berada di ruang tamu menonton tv sambil memakan roti dan Zehan pun beralih ke arah Mama Naura.
"Kamu udah mau berangkat?" tanya Mama Naura saat Zehan sudah berada di sebelahnya.
"Iya Ma," ucap Zehan.
"Mau makan?" tanya Mama Naura.
"Iyalah Ma, kalau gak makan bisa mati kelaparan Zehan," ucap Zehan.
"Yaudah ayo," ajak Mama Naura dan berdiri dan mengambil tasnya.
"Ayo kemana Ma?" tanya Zehan bingung.
"Ayo makan," ucap Mama Naura.
"Terus kenapa Mama bawa tas? kan makanannya ada di meja makan," tanya Zehan.
"Kata siapa kita makan di meja makan, kita akan sarapan roti pagi ini dan Mama tahu toko roti yang enak banget, udah kamu nurut aja sama Mama," ucap Mama Naura dengan menarik tangan Zehan.
"Ma pelan-pelan nariknya sakit tau," ucap Zehan lalu Mama Naura pun melepaskan tarikan tangannya dari lengan Zehan.
"Hehehe lupa Mama, yaudah ayo," ucap Mama Naura.
Saat ini Mama Naura dan Zehan berada di mobil menuju toko roti yang dimaksud Mama Naura, entahlah Zehan tidak tahu toko rotinya yang pasti jika Mama Naura mengatakan enak maka benar enak.
"Ma, Zehan telat dong ini nanti ke kantornya sekarang udah jam 9 lebih," ucap Zehan.
"Udah kamu santai aja, Mama udah bilang ke Panji tadi kalau kamu bakal telat ke kantor karena ada urusan sama Mama," ucap Mama Naura.
"Memang urusan apa sih Ma, Zehan bingung banget loh sama Mama," ucap Zehan.
"Ada deh," ucap Mama Naura.
'Tau gitu tadi gue gak usah bangun,' ucap Zehan dalam hati.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.