Married With Mantan

Married With Mantan
Terus Aku?


__ADS_3

"Kamu udah siap-siap, Nan?" tanya Arin.


"Udah dong, semuanya udah gue tata ulang, jadi kita tinggal pulangnya aja," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Ini punya siapa?" tanya Arin saat melihat jaket yang ada di atas sofa.


"Itu punya gue, rencananya mau gue pakai pas pulang nanti," ucap Kinan.


"Oh yaudah, aku kirain kamu lupa masukin," ucap Arin.


Hari ini adalah hari terakhir Arin dan Kinan berada di kita L dan nanti mereka harus kembali ke kota A dan memulai kembali rutinitas mereka yang begitu melelahkan.


Mereka akan mengunjungi pantai yang berada di daerah barat, pantai yang sangat terkenal dengan keindahan pasir putih dan juga bahwa lautnya dan yang menjadi ciri khas dari pantai tersebut adalah perjalanan memasuki area pantai yang bisa dibilang cukup sulit.


Dimana para pengunjung harus turun melalui bukit di sekeliling pantai karena pantai tersebut tidak memiliki akses lain kecuali penurunan melalui tebing dan itupun pengunjung harus memesan tiketnya terlebih dahulu.


Setelah di rasa semuanya sudah siap, Arin dan Kinan pun menuju mobil dan untuk hari ini Arin yang menyetir karena ia kasihan jika Kinan yang selalu menyetir.


Jika kemarin saat mereka mengunjungi bukit untuk melihat sunrise mereka masih dapat melihat rumah penduduk, namun untuk kali ini mereka banyak di suguhi pemandangan pohon dan itu membuat mereka sedikit takut.


"Rin, kok agak serem ya jalannya," ucap Kinan.


"Iya Nan, aku juga agak takut," ucap Arin.


Namun, setelah beberapa saat mereka dibuat takjub karena mereka melewati pantai yang hamparan laut biru bercampur dengan warna hijau dari pohon di pinggir jalan.


"Wah bagus banget," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Gue akhirnya tau kenapa orang-orang selalu bilang kalau ke kota L gak ke sini itu artinya liburan mereka belum sempurna, gila tempatnya ciamik banget," lanjut Kinan.


"Bener Nan, aku juga setuju banget kalau disini tuh bagus banget dan juga tenang aja," ucap Arin.


"Gue jadi gak sabar sampai ke tempatnya Kai," ucap Kinan dengan semangat.


Setelah sampai tempat yang mereka tuju, Arin dan Kinan segera keluar dari mobil dan masuk ke tempat tersebut dan saat mereka sudah membeli tiket serta menunggu untuk giliran mereka tiba-tiba mereka dikejutkan dengan kedatangan orang-orang yang tidak mereka duga.


.


Zehan, Andis, Riko, Okha dan Abrar, pergi menuju tempat wisata mereka selanjutnya yakni pantai barat, tempat ini direkomendasikan oleh Okha dan ia bilang harus ke sana sebab kemarin rencananya gagal.


Awalnya mereka berempat menolak rencana Okha karena tempat yang Okha katakan cukup menantang untuk sampai di pantainya. Namun, Okha tetap bersikeras dan akhirnya kita semua pasrah dan setuju untuk ke tempat tersebut.

__ADS_1


Zehan mengendari mobil yang mereka sewa untuk sampai ditempat tersebut dan setelah beristirahat di rest area akhirnya mereka sampai.


Mereka pun segera membeli tiket untuk masuk ke tempat tersebut dan saat mereka memasuki tempat untuk menunggu giliran mereka Zehan bertemu dengan orang yang sejak beberapa hari lalu mengganggu pikirannya.


Arin dan Kinan saat ini tengah menunggu giliran mereka untuk turun, namun suasana canggung justru menerpa keduanya dan juga kelima laki-laki yang baru saja mereka temui setelah beberapa tahun lamanya dan begitupun dengan kelima laki-laki tersebut.


Andis dan barat yang biasanya heboh kini berubah menjadi manusia es yang hanya diam tidak bersuara.


"Kenapa lo diem aja sih?" tanya Abrar pada Andis dengan berbisik.


"Gue bingung mau ngomong apa," bisik Andis.


"Oh hai Arin, Kinan," sapa Abrar.


Arin hanya tersenyum lalu melihat ke arah lain, ia tidak ingin melihat orang-orang yang ada di hadapannya.


Kinan sendiri sudah melotot mendengar suara Abrar, tapi ia paham jika arin tidak ingin bertemu mereka sehingga Kinan memutuskan untuk mengajak Arin pulang.


"Rin, kita pulang aja gimana?" tanya Kinan.


"Kenapa emang Nan? aku gapapa kok lagian sayang kita kan udah beli tiket," ucap Arin dan diangguki Kinan.


Setelah cukup lama menunggu, sebentar lagi giliran Arin dan Kinan, saat Kinan melihat ke bawah ia begitu terkejut karena tempat tersebut sangat tinggi.


"Tinggi banget, Nan?" tanya Arin yang mulai takut.


"Banget!" teriak Kinan.


"Mbak kalau Mbak dua-duanya takut mending Mbak jangan turun bareng soalnya malah bikin takut, mending bareng cowok aja Mbak biar gak takut," ucap salah satu pegawai sana.


"Oh iya terima kasih Pak," ucap Arin.


Saat Arin melihat ke Kinan ternyata Kinan sudah bersama seorang pria entah siapa itu, "Siapa Nan?" tanya Arin.


"Gak tahu, tapi ini gue bareng sama dia aja deh, tadi kan Bapaknya bilang kalau takut bareng cowok aja, ya gue ngajakin dia," ucap Kinan.


"Terus aku?" tanya Arin.


"Cari aja Rin, masih banyak kok," ucap Kinan.


Arin pun mengajak seorang pria yang akan turun bersamanya entahlah Arin juga tak tahu siapa pria tersebut, tapi yang jelas pria itu tidak Arin suka.

__ADS_1


Arin sudah bersama pria yang akan bersamanya saat Arin melihat Kinan turun, ia sedikit ragu untuk turun kebawah bersama pria disebelahnya lantaran pria ini sepertinya mesum sebab dari tadi ia hanya melihat lekuk tubuh Arin.


Zehan sendiri yang melihat kejadian tersebut sejak tadi merasa geram terutama saat pria tersebut mulai melihat tubuh Arin dan saat Arin harus mendekat ke arah pria yang akan menemaninya turun, Zehan langsung berdiri dan berada di tengah-tengah antara Arin dan pria tersebut.


Untuk para sahabatnya Zehan, mereka tau kalau Zehan akan menghalangi Arin agar tidak berpasangan dengan pria tersebut dan benar saja baru saja Arin berhadapan dengan pria tersebut, Zehan langsung berdiri dan berada diantara mereka.


"Heh, ngapain disini? ini belum giliran situ," tanya pria tersebut yang berada di belakang Zehan, sedangkan Zehan hanya menatap Arin.


Arin yang di tatap seperti itu pun merasa salah tingkah, namun ia sangat lega karena tidak jadi berpasangan dengan pria mesum tersebut, tapi ia juga tidak mau berpasangan dengan Zehan.


"Mas, saya sama Mbak ini," ucap Zehan pada pegawai tersebut lalu mengikatkan tali sebagai pengaman pada Arin dan juga Zehan.


Untuk pria pasangan Arin tadi pasrah dan mundur ke tempat tunggu.


Saat ini Arin dan Zehan sangat dekat bahkan Arin dapat merasakan hembusan napas Zehan menerpa wajahnya.


Setelah itu, Arin dan Zehan menuju ke pinggir untuk turun dan menuju Goa pantai, saat akan turun tiba-tiba Zehan meraih pinggang Arin dan hal itu sontak membuat Arin terkejut dan refleks memegang pundak Zehan, Zehan yang melihat hal tersebut pun tersenyum.


Saat tangan Arin masih berada di pundak Zehan tiba-tiba ia teringat saat Zehan bersama anak kecil dan seorang perempuan di kantornya, Arin buru-buru melepaskan tangannya dari pundak Zehan karena Arin tidak mau dianggap merayu ataupun menggoda pasangan orang.


Saat Zehan mengetahui tindakan Arin, ia hanya mengerutkan keningnya karena sikap Arin yang tiba-tiba berubah.


"Kenapa dilepas ini belum sampai nanti kalau jatuh gimana?" tanya Zehan lembut.


Bahkan Arin yang mendengar suara Zehan sempat terpesona, namun ia segera menepis segala pemikirannya.


"Gapapa kok, saya bisa sendiri lebih baik anda singkirkan tangan anda karena saya tidak nyaman," ucap Arin dengan sopan karena bagaimanapun Zehan adalah Bosnya di kantor.


"Aku akan lepas tangan ini setelah kita sampai karena aku gak mau kamu kenapa-napa," ucap Zehan dan Arin hanya menurut dengan apa yang dilakukan oleh Zehan.


Selama turun ke bawah Zehan hanya menatap Arin tanpa mencoba menatap ke arah lain.


"Anda bisa tidak, jangan menatap saya terus," ucap Arin kesal.


"Aku gak mau menyia-nyiakan kesempatan ini, dimana aku bisa memandang kamu sedekat ini setelah sekian lama, asal kamu tau Rin, kamu makin cantik kalau lagi kesel gini," ucap Zehan yang masih memandang Arin.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2