Married With Mantan

Married With Mantan
Dasar Pengkhianat!


__ADS_3

"Wah banyak banget lo pesannya, Ndis," ucap Kinan.


"Iya dong buat kedua istri gue apa sih yang gak," ucap Andis dan mendapat tatapan tajam dari Kinan.


"Astaga, santai neng matanya sampai mau keluar gitu," lanjut Andis.


"Ya lo sih," ucap Kinan.


Mereka pun akhirnya memakan makanan yang sudah Andis pesankan, "Kenyangnya," ucap Kinan.


"Seneng gue kalau ngeliat istri-istri gue kenyang," ucap Andis.


"Heh, mulai lagi deh nih orang, gue ogah ya jadi istri lo," ucap Kinan.


"Sebenarnya gue juga ogah kalo, tapi kalau jodoh ya mau gimana lagi dong," ucap Andis.


"Udah deh kalian berdua ini daritadi berantem terus aku doain kalian berjodoh," ucap Arin.


"Ih ogah deh gue, kayak gak ada orang lain aja," ucap Kinan.


"Emang ga ada mau sama lo Nan dan kayaknya cuma gue yang mau nerima lo yang penuh dengan kekurangan," ucap Andis.


"Eh sorry ya masih banyak yang nungguin gue," ucap Kinan.


"Mana? orang sampai sekarang lo jomblo gitu," ucap Andis.


"Eits maaf-maaf nih ya gue gak jomblo, gue udah punya cowok," ucap Kinan.


"Mana foto cowok lo? gue pengen tahu?" tanya Andis.


"Ogah," ucap Kinan.


"Hahaha, itu pasti karena lo gak punya kan," yang Andis.


"Enak aja, gue punya ya. Udah deh males gue sama lo, Rin kita ke kamar yuk soalnya ada mau gue ceritain ke lo," ucap Kinan.


"Apa Nan?" tanya Arin.


"Udah deh lo ikut aja, ini tuh rahasia kalau gue ceritain disini nanti ada yang nguping," ucap Kinan.


"Siapa juga yang nguping gak ada untungnya juga buat gue," ucap Andis.


"Loh kok situ jawab, berarti situ ngerasa ya padahal lagi gak ngomongin situ," ucap Kinan lalu menarik Arin menuju ke kamarnya.


"Gue harap lo bahagia terus Rin," ucap Andis setelah Arin dan Kinan masuk kedalam kamarnya.


"Emang kamu mau cerita apa Nan, kok kayak serius banget sampa narik aku ke kamar gitu?" tanya Arin.


"Gak ada sih, Rin. Tapi, gue cuma males aja disana soalnya ada Andis," ucap Kinan.


"Ada-ada aja sih kalian tuh berantem muluh udah kayak tikus sama kucing," ucap Arin.


"Tikus terlalu imut Rin, gue kucingnya dia kuda Nilnya," ucap Kinan.


"Berarti Andis yang menang dong Nan, kan dia kuda Nil," ucap Arin.


"Eh iya juga ya gak jadi deh kalau gitu Anis gue ganti jadi kutu aja," ucap Kinan lalu mereka berdua pun tertawa.


.


Zehan yang masih belum mendapat kabar mengenai Arin pun menjadi frustasi padahal pernikahannya akan diadakan beberapa hari lagi, "Rin, kamu kemana sih?" gumam Zehan dalam tidurnya.


Mama Naura yang merasa khawatir pun menghampiri Papa Rendra.


^^^Pa, Zehan kok belum turun juga ya dari semalem.^^^


Mama udah ke kamar Zehan?


^^^Udah Pa, tapi dikunci terus Mama panggil juga gak ada jawaban Pa. Mama kok jadi khawatir ya.^^^


Kalau gitu Mama buka kamarnya Zehan aja, ada kan kunci cadangannya.


^^^Mama gak tau kuncinya dimana, Pa. Kalau gitu Mama coba nyari dulu ya Pa.^^^


Iya, kayaknya ada di ruang kerja Papa deh.


^^^Eh, iya Pa. Udah ketemu!^^^


Yaudah kalau gitu Mama buka kamarnya Zehan, takut Zehan kenapa-napa.


^^^Iya, Pa.^^^


Setelah itu, Mama Naura pun memutuskan sambungan telepon tersebut.


Mama Naura membuka pintu kamar Zehan dan betapa terkejutnya Mama Naura saat melihat Zehan yang tidur di karpet bawah.


"Kak, bangun sayang, kamu kok jadi kayak gini sih," ucap Mama Naura lalu memeriksa keadaan Aska.


"Astaga Kak! badan kamu panas banget, Bi tolong bantu saya," ucap Mama Naura lalu Bibi pun datang dan membantu Mama Naura membawa zehan ke atas ranjang.


Setelah itu Mama Naura pun menelpon Dokter Devit agar datang ke rumahnya dan saat dokter Devit datang ia pun segera memeriksa keadaan Zehan.


"Gimana Dok keadaan Zehan? apa dia baik-baik aja?" tanya Mama Naura khawatir.


"Nyonya tidak perlu khawatir, Tuan Zehan hanya kecapean dan butuh istirahat selain itu juga sepertinya Tuan sedang banyak pikiran, tapi kemungkinan besok Tuan sudah membaik," ucap Dokter Devit.


"Terima kasih, Dok," ucap Mama Naura lalu Dokter Devit pun pergi.


"Bangun dong Kak, kenapa kamu gak ceritain semuanya ke Mama sih kalau kamu ada masalah hiks hiks," ucap Mama Naura yang tidak dapat menahan tangisnya.

__ADS_1


Saat tengah fokus pada Zehan tiba-tiba ponsel Zehan berdering dan Mama Naura pun melihat nama penelpon di handphone Zehan dan ternyata Abrar yang menelpon Zehan.


Han, lo dimana? katanya mau ketemuan ini gue, Andis, Okha sama Riko udah pada dateng tinggal lo doang yang belum dateng?


Halo, Abrar ini Tante.


Eh, Tante Naura. Hehehe maaf Tante, Abrar kirain tadi Zehan.


Iya gapapa kok, Tante cuma mau bilang kalau Zehan lagi sakit hiks hiks dan kayaknya di gak bisa ketemu kalian hari ini.


Zehan sakit? sakit apa Tante?


Katanya sih kecapean terus juga banyak pikiran. Tapi, sampai sekarang Zehan belum sadar.


Kalau gitu, Abrar sama yang lainnya bakal jenguk Zehan Tante.


Iya Abrar.


Setelah itu, Mama Naura pun memutuskan sambungan telepon tersebut.


Disisi lain, Andis, Okha dan Riko pun saling tatapan dan akhirnya Okha berdua.


"Zehan kenapa Brar? dia sakit? sakit apa? terus sekarang dia dimana? rumah atau rumah sakit?" tanya Okha.


"Woy! nanyanya satu-satu aja bingung gue jawabnya," ucap Abrar.


"Zehan sakit?" tanya Andis.


"Iya, Zehan sakit," ucap Abrar.


"Sakit apa emang?" tanya Okha.


"Tadi sih kata Tante Naura Zehan sakit karena kecapean terus juga banyak pikiran gitu dan sampai sekarang juga belum sadar, mending kita ke sana aja yuk," ucap Abrar lalu mereka pun menuju ke rumah Zehan.


Saat sampai mereka pun menuju ke kamar Zehan dan saat di kamar Zehan ternyata sudah ada Mama Naura disana.


"Tante," panggil Andis.


"Eh kalian udah dateng," ucap Mama Naura.


"Iya Tante, oh iya Tante kalau Okha boleh tau Zehan sakit apa? karena setau Okha, Zehan sehat-sehat aja deh," tanya Okha.


"Zehan kecapean Kha, sekaligus terlalu banyak pikiran entahlah apa yang dipikiran Zehan dia gak pernah cerita ke Tante, tapi menurut Tante dia sedang ada masalah sama Arin," ucap Mama Naura.


Andis yang mendengarnya pun terkejut karena yang mengetahui masalah Zehan dan Arin hanya dirinya, Andis sebenarnya ingin memberitahukannya pada Zehan, tapi Arin selalu melarangnya padahal Andis yakin jika Arin hanya salah paham.


"Masa si Tan, bukannya bentar lagi Zehan mau nikah sama arin,," ucap Abrar.


"Tante juga gak tau sih itu cuma menurut tante aja soalnya Zehan kayak gak semangat dari kemarin," ucap Mama Naura.


"Semoga aja itu gak bener Tan," ucap Abrar.


"Iya, Tante gak usah khawatir kalau masalah itu," ucap Abrar lalu Mama Naura pun pergi dari kamar Zehan.


"Masa sih Zehan sama Arin berantem padahal mereka baru aja baikan malah mau nikah eh kok berantem," ucap Abrar.


"Gue juga gak tau kalau masalah itu," ucap Riko.


"Diem aja lo Ndis, tumben sih biasanya kan lo yang paling cerewet," ucap Abrar.


"O-oh, itu gu-gue lagi gak mood aja ngomong," ucap Andis.


"Halah! lo ada aja gak mood ngomong mending lo gak mood hidup aja biar hidup gue tenang," ucap Abrar.


"Gak gitu juga bego," ucap Andis.


"Kalian berisik tau gak ganggu orang istirahat aja, sana pulang," ucap Zehan yang masih menutup matanya.


"Astaga masih sakit aja ngeselin nih anak," ucap Abrar.


"Tau gemes gue liatnya di jengukin manusia tampan tuh seharusnya lo seneng Han, eh ini lo malah ngusir," ucap Andis.


"Lo gak mau cerita Han?" tanya Riko dan Zehan pun membuka matanya.


"Cerita apa? kayaknya gak ada yang perlu gue ceritain deh," tanya Zehan.


"Kata Tante Naura tadi," ucap Abrar.


"Lo percaya sama Mama, Mama cuma ngarang," ucap Zehan.


"Tante Naura gak ngarang Han, tapi lo Lo nya aja yang gak mau cerita sama kita," ucap Andis sewot.


"Lo kenapa sih Ndis, kok sewot gitu? kalau emang gue gak mau cerita kenapa? ini masalah gue dan gue bisa nyelesain semuanya," ucap Zehan.


"Tapi Han, kita ini sahabat lo, kita ini udah bareng terus dari kecil untuk masalah gini pun lo gak cerita ke kita Han," ucap Andis.


"Ndis, lo kenapa?" tanya Abrar dengan berbisik.


"Iya Ndis lo kenapa? lo sehat kan?" tanya Okha.


"Gue sehat kok, sangat sehat malahan. Gue cuma pengen Zehan cerita ke kita semua masalahnya, kita ini sahabat dia, kita selalu ada buat dia, gue cuma pengen dia ceritain masalahnya udah cuma itu doang kok," ucap Andis.


"Tapi, Ndis. Gue biasa selesain masalah gue sendiri dan gue rasa gue gak butuh kalian untuk masalah percintaan gue dan Arin," ucap Zehan.


"Tapi Han," ucap Andis.


"Udah deh Ndis, kita juga gak masalah kok kalau emang Zehan gak mau ceritain masalahnya sama Arin," ucap Abrar.


"Tuh Ndis, mereka aja gak masalah kenapa lo jadi mempermasalahkan yang menurut gue gak ada urusannya sama lo," ucap Zehan.

__ADS_1


"Terserah," ucap Andis lalu pergi dari kamar Zehan.


"Andis kenapa sih kok sensi gitu biasanya kan Zehan emang gak cerita apa-apa tentang masalahnya," ucap Abrar.


"Sorry gue masih belum bisa cerita, gue bisa selesain masalah gue, lo semua ngerti kan," ucap Zehan.


"Gue ngerti kok Han," ucap Riko.


"Mungkin hari ini Andis belum minum obatnya kali ya kok sensi gitu bawaannya," ucap Abrar.


"Tau tuh Andis," ucap Okha.


"Guys, pulang yuk kita nyusulin si Bagong," ucap Abrar.


"Bagong siapa?" tanya Okha.


"Andis lah," ucap Abrar.


"Han, kita balik dulu ya cepet sembuh sama selesain masalah lo, bentar lagi lo kan nikah," ucap Okha.


"Thanks ya gue usahain gue bakal selesain masalah ini," ucap Zehan lalu Abrar, Okha dan Riko pun pergi dari kamar Zehan.


"Kalian udah mau pulang ya?" tanya Mama Naura.


"Iya Tante soalnya masih ada urusan lain," ucap Okha.


"Yaudah kalau gitu makasih ya udah jengukin Zehan," ucap Mama Naura.


"Pasti dong Tante, kan Zehan juga temen kita," ucap Abrar.


"Tadi Andis pulang duluan kan ya," ucap Mama Naura.


"iya Tante katanya dia tadi ada urusan," ucap Okha gugup.


"Oalah yaudah kalau gitu, Tante kirain kalian ngeledek Andis sampai Andis nya ngambek," ucap Mama Naura dan tersenyum.


"Ya gak dong Tante," ucap Abrar.


"Kita balik dulu Tante," pamit Okha lalu mereka berdua pun meninggalkan kediaman Gulzar.


"Belum diangkat juga sama si Andis?" tanya Riko.


"Belum ko, kenapa ya Andis kok sikapnya aneh kayak gitu? dan gak kayak biasanya hari ini dia sensi kayak cewek yang lagi kedatangan tamu aja gampang banget ngambek, marah pokoknya ribet," ucap Abrar.


"Lo ini curhat masalah lo Lo apa gimana Brar," ucap Okha.


"Eh maaf nih ya sekarang gue jomblo," ucap Abrar.


"Sok-sok an lo jomblo Brar bentar lagi juga bakal ada yang baru," ucap Okha.


"Nah tuh situ tau," ucap Abrar.


Saat mereka mengendarai mobil menuju rumah Andis tiba-tiba Abrar melihat Andis bersama Arin sedang di parkiran sebuah cafe yang tak jauh dari kediaman Andis.


"Eh Ko, bukannya itu si Andis ya," ucap Abrar.


"Mana Brar?" tanya Riko.


"Tuh Ko," ucap Abrar dengan menunjuk ke arah Andis.


"Iya, Brar. Tapi, Andis kok sama Arin," ucap Riko lalu Abrar pun menoleh pada kedua sahabatnya.


"Apa jangan-jangan Andis sama Arin ada sesuatu ya, makanya tadi Andis marah gitu waktu bahas Arin," ucap Abrar.


"Maksud lo Andis sama Arin pacaran gitu," ucap Okha.


"Tunggu Kha pikiran gue udah mulai mengeluarkan imajinasinya, tapi mungkin aja apa yang lo omongin tadi bener kalau mereka ada apa-apa," ucap Abrar.


"Tapi masa Andis ngekhianatin Zehan sih," ucap Okha.


"Gue juga gak tau sih, tapi lo bisa liat sendiri kan Kha," ucap Abrar.


"Iya juga sih kemungkinan besar emang mereka ada hubungan," ucap Okha.


"Awas aja lo Ndis, lo bakal habis ditangan gue ogah banget gue punya temen kayak lo, dasar pengkhianat!" ucap Abrar.


"Tapi, bisa juga gak Brar. kita gak boleh nyimpulin gitu aja sebelum ada penjelasan dari Andis atau Arin," ucap Riko.


"Menurut lo, kita kasih tau Zehan apa gak Ko?" tanya Abrar.


"Gue juga gak tau Brar, gue takut nanti Zehan makin terpuruk apalagi kali ini sahabatnya sendiri yang ngekhianatin dia," ucap Riko.


"Nah itu Ko, tapi kalau gak kita kasih tau kasihan Zehan karena dia harus mencintai orang yang udah mencintai orang lain," ucap Abrar dan diangguki Riko.


"Arin juga sih kalau ada Andis kenapa dia nerima lamarannya Zehan sih atau jangan-jangan mereka jadiannya baru-baru ini, aduh gue bingung Ko," ucap Abrar.


"Udah deh Brar. Lo Jangan bikin gue jadi mikir yang gak seharusnya gue pikirin," ucap Okha.


"Tapi otak gue udah mikir kalau mereka bermain api di belakang Zehan," ucap Abrar.


"Semoga aja yang kita pikirin salah," ucap Riko.


"Iya, kalau gitu kita balik aja ya," ucap Abrar yang dianggap Riko dan Okha.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2