
Setelah pekerjaannya selesai, Zehan pun menjemput Arin di toko meskipun awalnya Arin menolak, tapi akhirnya Zehan berhasil membujuk Arin.
Saat sampai di toko bunga, Zehan melihat Arin yang duduk sendirian di kursi depan toko.
"Kamu sendirian mana yang lain?" tanya Zehan pada Arin lalu Arin pun mendongak menatap Zehan.
"Yang lain siapa? Mario? nanti kalau Mario nemenin aku kamu marah lagi," tanya Arin.
"Nah gitu dong," ucap Zehan lalu menarik tangan Arin menuju mobil.
Mereka pun menuju kediaman keluarga Gulzar, saat berada di perjalanan tiba-tiba Arin melihat penjual martabak, "Han, kita berhenti disana dulu yuk," ajak Arin.
"Mau apa emangnya kok berhenti di sana?" tanya Zehan.
"Aku lagi pengen martabak manis deh," ucap Arin lalu membeli martabak manis.
"Aku beli 2 ya, sekalian nanti sama Mama," ucap Arin dan diangguki Zehan.
Mereka berdua sudah sampai di kediaman keluarga Gulzar dan langsung masuk, "Kakak bawa apaan itu?" tanya Chesa lalu menghampiri Arin.
"Masalah makanan aja cepet giliran minta bantuan alasan terus," ucap Zehan yang berada di belakang Arin.
"Biarin wleeeeeeh," ucap Chesa.
"Ini nih Kakak bawa martabak manis," ucap Arin lalu memberikan martabak tersebut pada Chesa.
"Wah makasih Kak Arin yang cantik," ucap Chesa.
"Kok tumben kamu beli gitu?" tanya Mama Naura.
Bukannya menjawab pertanyaaan Mama Naura, Zehan justru mendudukkan Arin di sofa ruang tamu bersama Mama Naura, Papa Rendra dan Chesa.
"Itu Ma tadi Arin yang lagi pengen martabak manis ya jadinya beli deh sekalian beli buat Mama eh malah diambil sama tuh," ucap Zehan sambil menunjuk Chesa.
"Oh Arin yang pengen, jangan-jangan Arin lagi hamil ya," ucap Mama Rendra dengan antusias.
'Aku? hamil?' ucap Arin dalam hati.
"Beneran Rin?" tanya Papa Rendra.
"Wah akhirnya Chesa mau punya ponakan," ucap Chesa.
"Eh enggak Ma, bukan gitu. Arin cuma pengen aja lagian ini Arin sama Zehan baru juga nikah belum seminggu masa udah hamil aja," ucap Arin.
"Iya juga sih, tapi siapa tau Rin, jurusnya Zehan manjur terus cepet jadinya," ucap Papa Rendra.
"Iya bener kata Papa, wah pinter banget anak Mama ini," ucap Mama Naura.
Zehan yang di puji hanya diam, ia tidak mungkin bilang ke Papa Rendra dan Mama Naura jika ia dan Arin belum melakukan hubungan suami istri.
'Ini gue gak usah bilang ke Mama kan kalau gue sama Arin belum gituan jadi itu artinya Arin gak mungkin lagi hamil kan,' ucap Zehan dalam hati.
Arin sendiri juga bingung menanggapi Papa Rendra dan Mama Naura yang terlihat antusias mendengar ia hamil padahal ia belum hamil.
__ADS_1
"Arin lagi gak hamil Pa Ma, Arin hari ini aja baru datang bulan," ucap Arin.
"Yahhh gak jadi Kakek deh," ucap Papa Rendra.
Sementara Zehan yang mendengarnya juga terkejut, 'Bukannya nanti bakal ngelanjutin yang tadi pagi tertunda kok tiba-tiba sekarang lagi datang bulan gagal lagi dong,' ucap Zehan dalam hati.
Mereka pun mengobrol dan tak lama setelah itu, Zehan dan Arin ke kamar untuk membersihkan tubuh mereka laku setelah itu mereka turun ke bawah karena makan malam sudah siap.
Setelah makan malam, Zehan memutuskan untuk pergi ke ruang kerjanya, sedangkan Arin membantu Mama Naura untuk membereskan piring setelah makan malam tadi.
Di kediaman keluarga Gulzar para pelayan hanya akan bekerja pada pagi dan siang hari dan untuk malamnya Mama Naura yang mengurus rumah atau jika Mama Naura perlu bantuan pada pelayan.
"Sayang, besok kamu libur kan?" tanya Mama Naura.
"Iya Ma, Arin besok libur kenapa emangnya Ma?" tanya Arin.
"Besok kamu ikut Mama yuk arisan sama teman-temen Mama," ajak Mama Naura.
"Tapi, Ma. Arin kan belum kenal sama temen-temen Mama gimana nanti kalau Arin justru malu-maluin Mama?" tanya Arin.
"Malu-maluin apa sih sayang, orang kamu tuh gak malu-maluin Mama malahan Mama seneng banget kalau kamu ikut sekalian nanti Mama kenalin kamu sama temen-temen Mama gimana?" tanya Mama Naura.
"Arin nurut aja kok Ma," ucap Arin.
"Nah gitu dong sayang, kalau masalah Zehan nanti kamu gak perlu khawatir ya," ucap Mama Naura dengan tersenyum dan diangguki Mama Naura.
"Rin, kamu belum tidur udah jam 9 loh yuk tidur," ajak Zehan saat ia keluar dari ruang kerjanya dan melihat Arin yang tengah mengobrol dengan Mama Naura dan Chesa.
"Tapi, ini udah malem Chesa, Kak Arin juga butuh istirahat," ucap Zehan.
"Alah bilang aja kalau Kak Zehan yang pengen tidur sama Kak Arin," ucap Chesa.
"Nah itu kamu tau, yuk sayang!" ajak Zehan lagi.
"Ma, Arin ke kamar dulu ya bayi besarnya udah mau tidur," bisik Arin pada Mama Naura.
"Hahaha iya sayang, kamu ke kamar gih," ucap Mama Naura, setelah itu Arin dan Zehan pun pergi menuju kamar.
.
Pagi harinya, Arin bangun meskipun hari ini hari libur, tapi Arin tetap menjalankan kewajibannya. Dimana ia harus menyiapkan makanan untuk Zehan dan nanti ia akan menemani Mama Naura untuk arisan.
"Kamu nanti jadi nemenin Mama arisan?" tanya Zehan yang sedang berada di balkon kamarnya sambil menikmati udara pagi.
"Iya, nanti aku nemenin Mama gapapa kan?" tanya Arin.
"Gapapa kok lagian ada Mama kan," ucap Zehan dan diangguki Arin.
"Oh iya Yang, aku mau tanya," ucap Zehan.
"Tanya apa?" tanya Arin.
"Kamu emang lagi datang bulan ya?" tanya Zehan yang membuat wajah Arin merah.
__ADS_1
"Kenapa emangnya?" tanya Arin.
"Jawab dulu iya apa gak," ucap Zehan.
"Han, aku kemarin di ruang tamu kan udah bilang kalau aku lagi datang bulan," ucap Arin.
"Oh iya ya," ucap Aska.
"Kenapa emangnya kok kamu tanya gitu?" tanya Arin.
"Gak, tadi soalnya aku liat seprei ada noda merah aku kirain aku udah gol ternyata kamu nya lagi datang bulan," ucap Zehan yang membuat Arin tertawa.
"Astaga Zehan," ucap Arin.
"Ya mana aku tau coba, waktu kamu ke kamar mandi aku udah seneng banget," ucap Zehan.
Perkataan Zehan membuat Arin tersadar jika ia selama ini belum memenuhi hak Zehan sepenuhnya, sebenarnya Arin bukannya tidak mau melainkan Arin takut karena ia sering mendengar bahwa malam pertama akan terasa sakit.
"Arin, ayo sayang Mama udah siap," ucap Mama Naura di luar kamar.
"Iya Ma, Han aku berangkat dulu ya," ucap Arin.
"Mau di anterin?" tanya Zehan.
"Gak usah deh kemarin Mama bilang bareng Pak Tio," ucap Arin dan diangguki Zehan.
"Yaudah kalau gitu hati-hati ya inget kalau ada apa-apa jangan lupa hubungi aku loh ya," ucap Zehan.
"Iya Zehan, kamu kok makin cerewet gini sih dulu pas pacaran aja kamu cueknya minta ampun bahkan lebih milih si Tara daripada aku," ucap Arin.
"Udah gak usah bahas dia lagi dulu tuh emang si Zehan itu lagi bodoh banget," ucap Zehan.
"Hahaha! bisa aja kamu udah aku pergi dulu," pamit Arin.
"Iya sayang," balas Zehan.
Selama Arin pergi, Zehan sangat bosan dan ia memutuskan untuk menonton televisi, "Kak nonton kartun aja loh, ini nonton apa sih gak jelas kayak gini," ucap Chesa.
"Ya terserah Kakak dong, kan Kakak yang nonton tv duluan," ucap Zehan.
"Kalian kenapa sih ribut terus," ucap seorang perempuan yang langsung duduk di samping Zehan.
"Chika," panggil Chesa lalu menghampiri Chika yang berada di gendongan Tara.
"Tara, ngapain kamu disini?" tanya Zehan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1