
Setelah liburan bersama Kinan kemarin, Arin memang merasa lelah bahkan ia merasa istirahatnya kurang, tapi ini adalah resiko karena ia mengambil izin hanya untuk beberapa hari lagipula banyak berkas yang menumpuk karena ia tinggal beberapa hari.
Arin menatap dirinya di cermin yang ada di kamarnya, "Ayo Arin, kamu pasti bisa. Kamu itu wanita kuat, kamu itu pekerja keras, kamu udah tahu gimana kejamnya dunia dan kamu harus bisa dan ingat Arin tujuan kamu cari uang itu buat ambil lagi rumah Ayah sama Bunda, Arin kamu pasti bisa!" ucap Arin yang menyemangati dirinya sendiri.
"Arin ayo makan," ucap Bibi Ika yang mengetuk pintu kamar Arin.
"Iya Bi, sebentar lagi Arin udah mau keluar kok," ucap Arin lalu mengambil tasnya dan keluar dari kamarnya.
"Kok Bibi sih yang masak, emang Bibi udah enakan badannya apa masih ada yang sakit kenapa gak nunggu Arin aja," ucap Arin.
"Bibi udah gapapa kok Rin, lihat Bibi aja udah gak ngerasa pusing lagian kan kata Dokter, Bibi bisa melakukan aktivitas seperti biasanya, tapi lebih di kurangin aja kan," ucap Bibi Ika.
"Iya juga sih pokoknya mulai sekarang Bibi kalau ada yang sakit langsung bilang ke Arin ya paham," ucap Arin.
"Iya Bibi paham, yaudah cepet dimakan nanti kamu telat lagi, katanya hari ini kamu ada rapat," ucap Bibi Ika dan diangguki Arin.
Setelah sarapan, Arin pun pergi menuju Hara grup dan saat ini Arin sedang berada di halte tempat ia biasanya menunggu bus jika Kinan tidak menjemputnya, tempatnya tidak terlalu jauh dari rumah Arin, ia hanya perlu berjalan kaki sekitar 15 menit.
Saat Arin masih fokus ke layar ponselnya tiba-tiba ada yang memanggil namanya, "Arin," panggil seorang perempuan yang membuat Arin menatap perempuan yang berdiri di depannya.
Arin terkejut menatap perempuan yang tadi memanggil namanya dimana saat ini ia tengah berada di depannya, namun Arin dapat mengontrol dirinya lalu bersikap acuh seolah ia tidak mengenal perempuan tersebut.
Saat Arin mengalihkan pandangannya dari perempuan tersebut ke layar ponselnya, sekali lagi ia di kejutkan dengan kedatangan anak perempuan yang memanggil perempuan yang ada di depannya.
"Mama," ucap anak perempuan tersebut.
"Chika, kenapa di sini kamu tunggu di mobil dulu ya," ucap Tara.
Chika pun menuruti perkataan Tara lalu masuk ke dalam mobil, "Rin, udah lama banget loh kita gak pernah ketemu gimana keadaan kamu?" tanya Tara.
Arin hanya mengernyitkan keningnya, "Aku Tara, Rin. Masa kamu lupa sama aku sih Rin," ucap Tara.
Arin tentu saja tau dan ingat siapa perempuan di depannya ini, namun ia tak ingin berurusan dengannya.
Tara duduk di sebelah Arin dan Arin hanya bersikap acuh dengan Yara bahkan tidak melihat ke arah Tara melainkan ke arah ponselnya.
"Kamu kalau ada reuni gitu kenapa gak pernah dateng? tau gak sih Rin yang lain tuh terus nyariin kamu loh pada...," ucapan Tara terhenti lantaran Arin yang sudah berjalan ke arah busnya dan meninggalkan Tara sendirian.
Tara tentunya bingung dengan sikap Arin, pasalnya mereka dulu dekat, namun untuk sekarang mereka sangat canggung.
__ADS_1
Tara adalah teman sekelas Arin sejak SMA, namun ada hal yang membuat pertemanan mereka retak, lebih tepatnya Arin yang menghindar dari Tara dan Tara tidak tau mengenai alasan Arin yang menghindarinya.
Sedangkan, Arin di dalam bus sudah tidak dapat menahan air matanya, ia pun menangis.
Pertemuan dengan Tara membuatnya teringat akan masa lalu dan kejadian yang baru saja terjadi lebih tepatnya satu hari sebelum Arin pergi mengunjungi makam orang tuanya.
Saat Kaila melihat anak perempuan tadi hatinya pedih, ia tidak mau menjadi penghalang atau bahkan yang lebih parah perusak hubungan orang.
"Gak Rin, kamu harus segera keluar dari perusahaan, kamu gak boleh kayak gini terus," ucap Arin dan mencoba untuk menyemangati dirinya sendiri.
Saat Arin sudah berada di kantornya ia segera menuju toilet dan merapikan make-upnya yang sedikit berantakan karena menangis di dalam bus tadi.
Dirasa cukup Arin pun keluar dan menuju ruangannya saat sampai di dalam ruangannya ternyata di dalam sana sudah ada Tristan, Gabby, Adel dan Vira.
"Tumben banget neng telat ," ucap Vira.
"Hehehe biasa Ra, tadi ada urusan bentar," ucap Arin.
"Yaudah deh kalau gitu nih Rin, ini berkas yang kemarin di kasih bagian sekretaris, ini lo benahi dulu soalnya dananya ada penambahan katanya," ucap Vira dan memberikan berkas yang ada di tangannya ke meja Arin dan Arin hanya mengangguk.
"Lo habis nangis ya Rin?" tanya Tristan yang membuat Arin melotot bahkan Vira yang awalnya beranjak dari meja Arin pun membalikkan badan dan menatap Arin.
"Aku gapapa kok, aku tadi cuma ngeliat video sedih aja eh jadi sedih deh," ucap Arin.
"Kebiasaan lo Rin," ucap Adel.
Untungnya mereka percaya dan tidak bertanya lagi, Arin memang sudah menyiapkan jawaban jika mereka bertanya dan benar saja mereka memang mengetahui jika Arin adalah orang yang mudah sekali menangis jadi gak heran dengan jawaban yang Arin berikan.
Saat ini tim keuangan sudah berada di ruang rapat dan hanya menunggu kedatangan Presdir mereka yaitu Zehan.
Arin sendiri sudah was-was di tempat duduknya saat pintu terbuka, semua yang ada di dalam sontak menoleh dan terlihatlah Panji namun tidak ada Zehan.
"Untuk hari ini akan di adakan rapat secara online karena Pak Zehan sedang berada di luar negeri untuk alasan pribadi, 5 menit lagi rapat akan di mulai," ucap Panji dengan menyiapkan segala perlengkapan untuk rapat.
Jangan ditanya lagi bagaimana perasaan Arin, ia sangat senang mendengar tidak ada Zehan di sana ya meskipun ia akan bertemu Zehan melalui layar.
Rapat pun dimulai dan terlihatlah Zehan di layar dengan menggunakan kemeja biru polos membuatnya tampak lebih tampan.
Selama rapat dimula, Arin hanya menunduk ia tidak ingin melakukan kontak mata dengan Zehan.
__ADS_1
Arin pun hanya mengangkat wajahnya saat Zehan akan mengakhiri rapat.
.
Zehan sendiri saat ini menyiapkan untuk rapat onlinenya ya karena ia masih berada di rumah Kakek Dion dan Nenek Olla.
Entah kenapa dari tadi ia merasa gugup setelah di beritahu bahwa ia akan mengadakan rapat dengan tim keuangan yang di sana terdapat Arin, perempuan yang membuatnya melarikan diri saat liburan di kota L kemarin.
"Ayo Han, sadar," gumam Zehan.
Rapat dimulai selama rapat Zehan hanya melihat Arin yang sedari tadi menunduk entah apa yang dipikirkan gadis itu, yang pasti sekali lagi Zehan penasaran.
Saat rapat akan berakhir Arin akhirnya mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Zehan, Zehan sendiri terkejut bukan main melihat Arin yang terlihat baru saja menangis tersebut, namun ia masih bisa mengontrol raut wajahnya agar tidak kelihatan jika ia tengah terkejut.
Rapat berakhir dan Zehan hanya bisa di buat bingung, pikirannya melayang jauh entah kemana melihat mata Arin yang sembab karena baru saja menangis.
"Apa cowok br*ngsek itu yang buat Arin nangis, awas aja kalau sampai orang itu buat Arin nangis," gumam Zehan.
"Siapa yang nangis Han?" tanya Nenek Olla yang tiba-tiba duduk di sebelah Zehan.
"Astaga Nek, Zehan sampai kaget," ucap Zehan.
"Siapa yang tadi nangis?" tanya Nenek Olla lagi.
"Bukan apa-apa kok Nek, ini tadi katanya Chesa nangis habis nonton drama apa gitu yang dari negara lain," ucap Zehan dan diangguki Nenek Olla.
"Kamu rapatnya udah?" tanya Nenek Olla.
"Iya, Nek. Ini baru selesai," ucap zehan.
"Yaudah kalau gitu kamu bantuin Kakek kamu nanam bunga di halaman belakang," ucap Nenek Olla.
"Siap Bu bos," ucap Zehan dengan hormat selayaknya tentara kearah Nenek Olla dan Nenek Olla hanya tersenyum melihat cucunya itu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.