
Akhirnya setelah acara pemberkatan tadi pagi, siang harinya acara resepsi untuk tamu undangan selain keluarga diadakan dan mereka hanya mengundang rekan bisnis Zehan yang cukup dengan Zehan tentunya.
Sedangkan, malam hari nanti akan diadakan party yang khusus untuk keluarga terdekat saja.
Arin saat ini berada dengan Kinan di salah satu meja karena memang acara hampir selesai bahkan tamu undangan mulai berkurang.
"Nan, ikut yuk," ajak Arin.
"Kemana?" tanya Kinan.
"Ke kamar," ucap Arin.
"Gila lo Rin, lo ngajak gue ke kamar buat ngeliat lo nyetak gol sama Zehan," ucap Kinan.
"Gak Nan, aku cuma canggung aja kalau berduaan sama Zehan, kalau ada kamu kan masih ada yang bisa diajak ngobrol," ucap Arin.
"Gak mau ah Rin," ucap Kinan.
"Ayolah Nan," ucap Arin.
"Iya-iya gue mau karena gue kasihan ngeliat muka lo yang melas banget Rin," ucap Kinan.
"Makasih Nan," ucap Arin.
"Ayo Rin, Mama juga mau kok nemenin kamu iya akan Dek," ucap Mama Naura dan diangguki Chesa.
Mereka pun menghampiri Zehan yang sedari tadi menunggu Arin, "Loh kok kalian ikut ke kamar?" tanya Zehan.
"Arin yang ngajak gue," ucap Kinan.
"Iya Han, Mama maj nemenin menantu Mama," ucap Mama Naura.
"Kok gitu ya gak bisa dong, kalau gak boleh ikut" ucap Zehan.
"Tapi, masa kita cuma berdua sih, udah ayo ke kamar," ucap Arin.
Mau tidak mau mereka pun menuju ke kamar dan selama menuju ke kamar Zehan hanya cemberut.
Awalnya Zehan ingin berduaan dengan Arin, namun Arin justru mengajak Kinan dan Mama Naura pun ikut.
"Kenapa sih kamu Han kok cemberut terus?" tanya Mama Naura.
"Mama gak tau kenapa Zehan cemberut gini?" tanya Zehan dengan wajah kesal karena Mama Naura tidak tau kenapa Zehan terlihat cemberut.
"Gak, Mama gak tau kenapa emangnya?" tanya Mama Naura.
'Ya karena Mama disini lah kan Zehan mau berduaan sama Arin lah eh malah ada pengganggu,' ucap Zehan dalam hati.
Saat sedang mengobrol tiba-tiba pintu kamar tersebut terbuka lalu tampaklah Abrar, Andis, Riko, Okha dan Dian.
"Ini kenapa semua disini sih kan kasihan pengantin barunya gak bisa berduaan," ucap Abrar.
__ADS_1
"Apaan sih Brar, gapapa kok aku kalau mereka disini," ucap Arin.
"Akunya yang apa-apa," ucap zehan.
"Iya Nan, kenapa kamu disini kan kasihan Zehan tuh liat mukanya asem banget," ucap Andis.
"Gue tuh juga gak pengen disini, tapi Arin nih yang ngajakin padahal gue udah nolak dari tadi," ucap Kinan.
"Lebih baik sekarang semua keluar aja," ucap Papa Rendra yang tiba-tiba masuk.
"Tapi Pa, Mama kan pengen deket terus sama menantu Mama," ucap Mama Naura.
"Nanti kalau udah di rumah Mama kan bisa deket terus sama Arin, sekarang kita keluar dulu ya kasihan Zehan kalau diganggu," ucap Papa Rendra lalu membawa Mama Naura keluar.
Semua orang pun keluar dari kamar tersebut, Arin sendiri merasa canggung saat semua orang pergi dari kamar tersebut.
"Gapapa kok Yang, kamu gak usah takut kayak gitu aku tuh cuma pengen berduaan aja sama kamu," ucap Zehan menghampiri Arin yang berada di sofa.
"Yang?" tanya Arin.
"Iya sayang, kan kita udah nikah, jadi aku manggil kamu sayang, bolehkan?" tanya Zehan.
"Eh i-iya," ucap Arin gugup.
"Kenapa kamu gugup gitu jangan bilang kalau kamu mikir yang aneh-aneh gitu?" tanya Zehan.
"Gak tuh aku mau bersih-bersih dulu nanti kan masih ada resepsi, kamu udah mandi kan?" tanya Arin.
"Udah dari tadi malahan, aku ke sana tadi itu nungguin kamu soalnya gak balik-balik" ucap Zehan.
Zehan pun merebahkan tubuhnya di ranjang dan mulai terlelap, saat keluar dari kamar mandi Arin melihat Zehan yang sudah tertidur pulas.
Seulas senyuman tertera di wajah Arin, ia tidak pernah menyangka bahwa ia akan menikah dengan Zehan yang notabenenya adalah kekasihnya saat SMA.
Arin pun merebahkan ke ranjang dan tidur di samping Zehan lalu mengikuti Zehan menuju alam mimpi.
Sore harinya, Arin terbangun dan ia pun melihat jam yang menunjukkan pukul 16.45 yang artinya ia harus segera bangun untuk di rias.
Arin melihat ke sampingnya dan melihat Zehan yang masih tertidur saat akan bangun Arin merasakan perutnya yang terasa berat dan ia pun melihat tangan Zehan tengah berada di perutnya.
Arin mengangkat tangan Zehan pelan agar tidak membangunkan Zehan dan setelah itu ia membersihkan tubuhnya agar terlihat segar, setelah membersihkan tubuhnya Arin pun membangunkan Zehan yang masih terlelap.
"Han, bangun udah sore loh kamu juga belum makan dari tadi," ucap Arin dan menggoyangkan lengan Zehan.
"Eungh, iya sayang," ucap Zehan dengan suara serak bangun tidur.
Arin sendiri merasa mukanya merah akibat panggilan Zehan, 'zwhan nih main panggil-panggil aja gak tau apa kalau sekarang aku mau kehabisan nafas,' ucap Arin dalam hati.
Zehan pun beranjak menuju ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya dan Arin merapikan tempat tidur tersebut.
Setelah membersihkan tubuhnya Zehan lalu menuju ke kamar yang berbeda karena Arin akan di rias di kamar tersebut.
__ADS_1
Arin terlihat cantik dengan gaun panjangnya yang berwarna abu-abu, mereka pun berjalan menuju singgah sana mereka.
Banyak pasang mata yang memuji ketampanan Zehan dan juga kecantikan Arin "Astaga Arin, sama Zehan cocok banget sih," ucap Kinan.
"Tenang aja Nan, nanti kalau kita nikah kita juga bakal kayak gitu kok," ucap Andis.
"Lebay lo berdua," ucap Abrar.
"Biarin sih, eh Brar btw mana lo kok gue gak ngeliat sih, gue, Okha sama Riko aja bawa pasangan," ejek Andis.
"Iya Brar mana kok gak keliatan apa jangan-jangan pasangan lo itu ghaib ya alias gak keliatan," ucap Okha yang membuat mereka tertawa.
"Terus aja ledekin gue sampai lo pada puas, awas aja ya kalau nanti gue kenalin sama pasangan gue, lo jangan kaget," ucap Abrar.
"Kaget kenapa emangnya Brar? emang siapa pasangan kamu?" tanya Dian.
"Hantu, bwahahaha," ucap Andis.
"Eh bukanlah kampret, tapi model ternama dunia," ucap Abrar.
"Siapa tuh Brar?" tanya Dian.
"Biasalah pacar haluannya si Abrar, itu loh model siapa namanya Yeslin yang baru aja jadi brand ambassador tas terkenal," ucap Andis.
"Sirik aja lo," ucap Abrar.
"Tenang Brar, gue paham kok kehaluan lo soalnya kita sama," ucap Kinan lalu menatap tajam Andis.
"Tuh cewek lo aja suka sama model-model dunia, gitu ngeledekin gue," ucap Abrar.
"Diem lo," ucap Andis.
"Bercanda Nan, Aku cuma bilang ke Abrar kalau ke kamu ya gak dong," ucap Andis.
"Tapi kalau bercanda jangan waktu ada aku, aku tuh juga ngerasa kala kamu ngeledekin aku juga," ucap Kinan.
"Hayo Andis, gue gak ikut-ikutan ya," ucap Abrar.
"Udah gak usah berantem yuk kita ke sana salaman sama pengantinnya," ucap Riko lalu mereka pun akhirnya menghampiri Zehan dan Arin.
Disisi lain, Zehan dan Arin terus menyalami para tamu yang ada, "Katanya dikit Han, kok gak berhenti sih," ucap Arin.
"Aku juga gak tau Yang, ini semuanya Mama yang ngundang padahal kata mama yang diundang cuma keluarga doang loh," ucap Zehan.
Mereka pun duduk karena belum ada para tamu yang datang, "Oh iya Han, makasih ya bunganya" ucap Arin yang tiba-tiba teringat bunga mawar putih yang ia dapat.
"Bunga, bunga apa Yang?" tanya Zehan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.