Married With Mantan

Married With Mantan
Aku Juga Bangga


__ADS_3

"Kak Zay, udah!" teriak seorang perempuan yang menghentikan perkelahian antara dua cowok tersebut.


"Kenapa harus berantem sih, Kak," ucap Nadia marah.


"Harusnya gue yang marah bukan lo," ucap Zayden.


Ya, cowok yang berantem tersebut adalah Zayden dengan Dimas yang merupakan Adik kelasnya.


"Oke, Nadia tau, Nadia salah. Tapi, kan Kak Zay udah kelas 3 dan sebentar lagi mau lulus, jadi gak seharusnya Kak Zay kayak gini," ucap Nadia.


"Bodoh," ucap Zayden dan pergi dari tempat tersebut.


"Kenapa lagi tuh Kak Zay?" tanya Febby, teman Nadia.


"Gak tau," ucap Nadia kesal.


Sore harinya, Zay pun dari sekolah dan baru saja ia masuk ke dalam rumah tiba-tiba langkah Zayden terhenti lantaran Arin yang berdiri di hadapan Zayden.


"Mama," panggil Zayden dan mencium pipi Arin.


"Kamu habis berantem?" tanya Arin penuh selidik pada Zayden.


"Iya, habisnya Dimas ngeselin banget. Dia dorong Nadia sampai kepalanya terbentur terus juga Nadia mimisan karena terbentur," ucap Zayden.


"Oke, Mama tahu kalau ku belain Nadia, tapi kan apa harus dengan berantem gitu terus kamu pukul Dimas sampai dia di bawa ke rumah sakit," ucap Arin.


"Ya, biarin aja. Itu balasan buat Dimas, dia dulu juga pernah buat Nadia di rawat di rumah sakit kan, nah sekarang biar dia ngerasain juga," ucap Zayden dan pergi meninggalkan Arin.


Arin benar-benar pusing dengan sikap Zayden yang semakin hari semakin bebas. Tak lama setelah itu, datanglah Zehan dan memeluknya.


"Kenapa? kok kamu kayak pusing gitu?" tanya Zehan.


"Kamu dulu waktu sekolah nakal ya Yang?" tanya Arin.


Zehan pun mengerutkan keningnya dan tersenyum bangga, "Iya dong, kan aku dulu ketua geng motor, ya walaupun anggotanya cuma Andis, Abrar, Riko sama Okha," tapi Zehan.


Arin pun mendengus sebal mendengar jawaban sang suami, "Ya, karena kamu dulunya nakal makanya sekarang Zay ikut nakal," ucap Arin lalu pergi.


"Lah, kenapa gitu Yang?" tanya Zehan dan mengikuti langkah Arin.


Saat di kamar, Arin langsung mengambil ponselnya dan berniat untuk menghubungi Chesa.


"Yang, kenapa emangnya?" tanya Zehan.


"Diem dulu," ucap Arin.


^^^Halo, Dek.^^^


Iya, Kak. Kenapa?


^^^Nadia udah bilang ke kamu?^^^


Oh, yang soal Zay ya, Chesa minta maaf ya Kak karena Nadia, Zay harus berantem sama temennya. Tapi, Chesa mohon jangan marahin Zay karena semuanya juga karena Nadia.


^^^Gapapa kok, Kakak gak masalah, Kakak khawatir sama Nadia. Gimana keadaan Nadia?^^^


Nadia baik-baik aja kok, Kak, oh iya dia mau ke rumah Kakak, soalnya kata Nadia, Zay marah banget tadi.

__ADS_1


^^^Iya sih wajar kalau Zay marah soalnya kan Nadia juga keluarganya, Kakak juga marah kalau Kakak jadi Zay.^^^


Terimakasih ya Kak, Kakak baik banget.


^^^Iya, Dek. Kapan-kapan kamu ke sini dong, udah lama banget loh Kakak gak ketemu sama kamu.^^^


Iya Kak, nanti ya Chesa usahain kalau Bryan udah selesai kerjanya.


^^^Iya, Kakak tunggu ya.^^^


Iya, Kak.


^^^Yaudah kalau gitu Kakak tutup dulu, kamu sama keluarga kamu jaga kesehatan ya.^^^


Iya Kak.


Setelah itu, Arin pun memutuskan sambungan telepon tersebut.


"Kenapa Yang?" tanya Zehan lagi.


"Huh, Zay berantem lagi," ucap Arin.


"Karena Nadia lagi?" tanya Zehan.


"Iya," jawab Arin.


"Bangga banget punya anak yang bisa jaga keluarganya," ucap Zehan.


"Aku juga bangga, tapi ini udah lebih dari 4 kali Zay berantem loh Yang," ucap Arin.


"Gapapa sayang, Zay kan masih remaja. Dia lagi cari jati diri, yang terpenting Zay gak salah pergaulan," ucap Zehan.


"Kamu kenapa?" tanya Arin.


"Kenapa apanya?" tanya Zehan.


"Kamu kok tiba-tiba dukung Zay kalau berantem padahal kan biasanya kamu yang paling gencar buat marah-marah ke Zay?" tanya Arin penuh curiga.


"Astaga sayang, aku itu cuma mulai sadar aja kalau sikap kerasku ke Zay itu gak akan bisa mempengaruhi Zay. Nah makanya aku kayak gini, mulai berdamai dengan sikap Zay, tapi tetap ada batasnya," ucap Zehan.


"Huh, bener juga kata kamu. Kalau aku terlalu keras juga gak baik buat Zay, dia bakal semakin keras kepala kayak kamu," ucap Arin.


"Iya, aku emang keras kepala," ucap Zehan.


"Ya, emang kamu," ucap Arin.


'Padahal dia yang keras kepala,' yacp Zehan dalam hati.


"Yang," panggil Zehan.


"Kenapa?" tanya Arin.


"Kamu ngerasa gak sih kalau anak-anak itu cepet banget gedenya," ucap Zehan.


"Iya sih, aku juga ngerasa gitu, kayaknya mereka itu baru umur satu tahun kemarin eh taunya udah gede mana Zay udah mau lulus SMA terus kuliah lagi atau gak bisa jadi kita bakal punya menantu," ucap Arin dan tertawa Jiak ia melihat kemungkinan yang akan terjadi nanti.


"Kamu gak pengen ngerawat bayi lagi?" tanya Zehan.

__ADS_1


"Maksudnya?" tanya Arin.


"Ya, maksudku itu, kamu gak pengen ngerawat seorang bayi lagi gitu kayak Zay atau Zelin?" tanya Zehan lagi.


"Kenapa? kamu mau adopsi bayi?" tanya Arin.


"Ish, ya gak lah," ucap Zehan.


"Terus?" tanya Arin.


"Kan ada kamu Yang, kamu kan masih bisa hamil dan melahirkan. Ya, aku buat kamu hamil lah," ucap Zehan dan mendapat pukulan di lengannya.


"Kalau ngomong gak di filter dulu ya," ucap Arin.


"Lagian kan gak ada anak-anak, yuk bikin Zehan junior ketiga. Gimana kalau kali ini kembar aja biar langsung punya 4 anak Yang," ucap Zehan semangat.


"Kebanyakan, aku pengen 2," ucap Arin.


"Anak itu anugrah teri dah Yang, makin banyak anak itu makin banyak anugrah hidup kita. Ayo," ajak Zehan.


Baru saja Zehan menc*um Arin tiba-tiba terdengar suara menggelegar dari luar kamar mereka berdua hingga membuat Arin melepaskan c*uman tersebut.


"Mama," panggil Zelin dari luar kamar.


"Iya sayang sebentar," ucap Arin.


"Nanti malam ya," bisik Arin lalu keluar dari kamar.


"Ish, anak siapa sih itu ganggu aja. Tapi, gapapa deh masih ada nanti malam," ucap Zehan tersenyum cerah.


"Kenapa sayang?" tanya Arin.


"Ma, besok Zelin boleh ikut aunty Nan gak?" tanya Zelin.


"Ikut? ikut kemana?" tanya Arin.


"Aunty Nan mau jalan-jalan ke mall Ma," ucap Zelin.


"Terus kamu ke rumahnya aunty Nan? kan rumahnya gak satu arah sama rumah kita kalah mau ke mall?" tanya Zehan yang baru saja keluar dari kamar.


"Kan Zelin bisa nginep di rumah aunty Nan," ucap Zelin.


"Gak boleh, Papa yang akan antar," ucap Zehan.


"Ish, Papa mah. Kan Zelin pengen ngobrol lama sama Tia," ucap Zelin.


"Kan bisa telepon sayang, Papa gak izinin kalau kamu tidur di rumahnya aunty Nan," ucap Zehan tegas.


"Ma," rengek Zelin.


"Mama juga setuju sama Papa, besok biar di antar Papa ya," ucap Arin yang mencoba memberikan pengertian pada Zelin.


"Ya udah iya deh," ucap Zelin.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2