Married With Mantan

Married With Mantan
Pupus Sudah


__ADS_3

Disisi lain, di kediaman keluarga Gulzar, Nyonya rumah tengah marah-marah karena suami dan anak lelakinya tidak menjemputnya padahal ia sudah menelpon mereka, tapi tidak diangkat dan akhirnya Mama Naura menelpon Chesa yang sedang mengerjakan tugas kuliahnya.


"Ma, maaf ya Papa tadi masih rapat ngurusin Hotel dan handphone Papa, Papa silent," ucap Papa Rendra.


"Iya Ma, Zehan juga minta maaf tadi Zehan lagi rapat," ucap Zehan.


"Kalian itu tau gak sih tadi Mama jatuh dan semua barang bawaan Mama juga ikut jatuh un...," ucapan Mama Naura terhenti lantaran Papa Rendra yang menyelanya.


"Apa! Mama jatuh terus gimana ada yang sakit atau luka gak?" tanya Papa Rendra yang langsung heboh mendengar jika Mama Naura terjatuh.


"Apa sih Pa, Mama gapapa makanya kalau Mama lagi ngomong jangan dipotong," ucap Mama Naura yang masih kesal dengan dua laki-laki di sebelahnya itu.


Zehan di sebelah kanan dan Papa Rendra disebelah kiri sedangkan Chesa duduk di karpet dengan menonton tv.


"Untungnya tadi ada perempuan cantik banget Pa yang bantuin Mama, ya gak Dek?" ucap Mama Naura.


"Iya Ma, Kakak nya tadi cantik banget," ucap Chesa.


"Andai dia jadi istri kamu Kak, Mama pasti seneng banget udah cantik, baik, ramah pokoknya paket komplit lah, dia tuh menantu idaman Mama banget Kak," ucap Mama Naura.


"Emang Mama tau namanya siapa?" tanya Papa Rendra.


"Ya ta... Astaga! Mama tadi belum sempat kenalan sama perempuan itu," ucap Mama Naura.


"Dek, tadi kamu kenalan gak?" tanya Mama Naura dan Chesa hanya menggelengkan kepalanya.


"Ya pupus sudah harapan Mama buat dapetin menantu idaman Mama," ucap Mama Naura sedih.


"Ma, Zehan kan masih fokus kerja udah ya jangan bahas masalah ini dulu, nanti aja kalau Zehan udah siap Zehan pasti bakal bilang ke Mama," ucap Zehan lalu berjalan menuju ke kamarnya.


"Mama sih ngomong kayak gitu kan Zehan jadi ngambek," ucap Papa Rendra.

__ADS_1


"Apa? Mama yang salah iya?" tanya Mama Naura dengan melotot ke arah Papa Rendra.


"Hehehe gapapa kok Ma," ucap Papa Rendra.


.


Meskipun Bibi Ika sudah merasa baikan, tapi Arin tetap melarang Bibi Ika untuk melakukan pekerjaannya, seperti sekarang Arin yang sedang ngambek karena ia melihat Bibi Ika mencuci piring.


"Bibi kenapa sih aku tuh mau Bibi duduk manis di kursi dan biar Arin yang bersihin semuanya," ucap Arin.


Bibi Ika hanya diam karena ia merasa Arin memang benar bahwa ia harus istirahat buktinya setelah ia mencuci piring tadi kepalanya sedikit pusing sehingga ia tadi sempat merintih kesakitan meskipun Arin tidak mengetahui hal itu.


"Iya, Bibi minta maaf, Bibi gak akan lagi kayak gitu, Bibi akan istirahat sampai Bibi merasa lebih baik," ucap Bibi Ika.


"Hari itu, biar Arin aja yang urus pekerjaan rumah," ucap Arin dan diangguki oleh Bibi Ika.


Bibi Ika memang akan merasa takut jika Arin sudah marah seperti sekarang ini karena nanti ujung-ujungnya Arin akan ngambek dan tidak ingin menemui Bibi Ika.


Seperti dulu saat Arin baru bekerja, Arin menyuruh Bibi Ika untuk tidak membeli semua kebutuhan mereka sehari-hari biar Arin yang membelinya, tapi Bibi Ika tetap membeli bahan-bahan tersebut sehingga membuat Arin marah dan akhirnya ngambek tidak keluar kamar bahkan saat berangkat kerja, Arin tidak menyapa Bibi Ika dan hal itu membuat Bibi Ika merasa sedih.


"Oh iya Bi, besok kan Arin sama Kinan ke pemakaman Ayah sama Bunda nanti Arin siapin semua kebutuhan Bibi ya. Ingat Bibi gak boleh kecapean loh, sampai Arin tau Bibi kecapean, Arin gak akan maafin Bibi, nanti biar Arin minta Mbak Susan untuk bantu ngurusin Bibi ya," ucap Arin.


Mbak Susan adalah tentang Bibi Ika dan ia sering membantu Bibi Ika dan juga Arin.


"Gapapa kok Rin, Bibi bisa sendiri lagian Bibi juga masih sehat kok," ucap Bibi Ika.


"Gak Bi, Arin gak mau Bibi kenapa-napa, pokoknya Bibi harus nurutin omongannya Arin untuk kali ini, awas aja sampai Bibi gak mau nurutin," ucap Arin dan Bibi Ika hanya tersenyum melihatnya meskipun begitu ia sangat senang karena Arin sangat perhatian kepadanya.


"Rin, besok kamu berangkat jam berapa memangnya?" tanya Bibi Ika.


"Besok kira-kira Arin sama Kinan berangkat jam 8 an Bi, biar disana agak lama soalnya kan Arin rencananya disana selama 3 hari Bi," ucap Arin.

__ADS_1


"Yaudah kalau gitu," ucap Bibi Ika.


"Nanti Arin bilang ke Mbak Susan waktu pagi aja soalnya biasanya kan Susan ketemu Mbak Susan pas dia mau ke pasar," ucap Arin.


"Yaudah Bibi ke kamar dulu ya," ucap Bibi Ika dan Arin pun membantu Bibi Ika ke kamar Bibi Ika.


Setelah itu, Arin berjalan menuju ke kamarnya, saat sampai ke dalam kamarnya arin melihat bingkai foto kedua orangtuanya.


"Ayah, Bunda. Arin gak sabar banget pengen ketemu kalian, besok adalah hari yang paling Arin tunggu karena besok Arin bisa ketemu lagi sama Ayah dan Bunda, maafin Arin ya Ayah Bunda karena Arin udah lama gak ketemu kalian, sudah 2 tahun lebih Arin gak pernah ketemu kalian dan sekarang Arin kangen banget dan akan ketemu sama kalian," ucap Arin lalu memeluk bingkai foto kedua orangtuanya.


Arin tidak bisa menahan air matanya dan langsung menangis, Arin merasa bersalah pada kedua orangtuanya karena Arin tidak bisa membahagiakan mereka saat mereka masih ada.


"Arin sayang Ayah sama Bunda, sekarang Arin sama Bibi Ika, Bibi baik banget sama Arin, Bibi selalu jaga Arin, setelah Ayah sama Bunda gak ada hidup Arin, Arin dedikasikan untuk Bibi Ika, Arin sayang banget sama Bibi Ika. Arin takut Bibi Ika ninggalin Arin kayak Ayah sama Bunda, Arin juga takut nantinya orang terdekat Arin ninggalin Arin," gumam Arin yang kembali terisak.


Arin tidak menyadari jika sedari tadi Bibi Ika melihat dan mendengar semua yang Arin bicarakan, Bibi Ika sebenarnya tadi ingin memberikan vitamin ke Arin untuk besok, tapi Bibi Ika yang melihat Arin menangis pun urung memberikannya dan tidak sengaja mendengarkan semua perkataan Arin, hal itu juga membuat Bibi Ika sedih karena Kakaknya meninggalkannya terlebih dahulu.


'Mas, Ika juga kangen sama Mas, Mas berhasil mendidik anak Mas menjadi perempuan yang cantik dan baik,' ucap Bibi Ika dalam hati.


Setelah itu, ia pergi ke kamarnya dan ia akan memberikan vitamin yang tadi ia bawa untuk Arin besok sebelum Arin berangkat.


Saat Bibi Ika berada di kamarnya, ia membuka sebuah kotak yang disana terdapat sebuah foto anak kecil, "Seandainya kamu masih ada sayang, Ibu akan senang jika Ibu dikasih kesempatan sama Tuhan untuk bertemu kamu karena apa, karena ibu kangen banget sama kamu, kamu baik-baik di surga ya sayang, semoga kamu bahagia disana," ucap Bibi Ika lalu menangis.


Mbak Putri adalah anak kandung Bibi Ika, ia meninggal saat sedang mengandung dan usianya kandungannya saat itu menginjak 8 bulan sehingga bayi tersebut lahir secara prematur.


Setelah melahirkan, Mbak Putri mengalami pendarahan hebat dan meninggal sedangkan untuk bayi perempuannya yang bernama Alya atau biasa dipanggil Yaya untuk saat ini diasuh oleh Ayahnya yaitu Mas Rudi.


Arin dan Bibi Ika biasanya menjaga Yaya saat akhir bulan karena saat itu Mas Rudi akan pergi ke luar kota.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2