
"Udahlah, Ndis. Terima aja, lagian gak ada salahnya kan kita pergi ke bagian barat, kita biasanya kan emang di sekitaran sini dan belum pernah ke sana," ucap Okha.
"Iya iya, tapi nih masa gak ada yang ngasih tahu gue sih soal rencana itu," ucap Andis.
"Ya, anggap aja kejutan buat lo," ucap Riko.
"Kejutan kalian parah banget," ucap Andis.
Ya, hari ini Andis dibuat jengkel oleh keempat sahabatnya, bagaimana tidak rencana yang ia buat hari ini mereka akan ke Gua dan restoran gagal dan mereka justru memilih ke kota L sebelah barat dan Andis tidak bisa berbuat apa-apa, seperti saat ini mereka sedang bermain air seperti anak kecil di kolam renang yang ada di hotel.
"Woy gimana kalau kita balap kuda," ucap Abrar.
"Kudanya mana?" tanya Andis.
"Itu ada lapangan kuda," ucap Abrar dan memang benar jika di sebelah hitam tersebut terdapat lapangan kuda yang cukup luas.
"Yaudah, ayo naik kuda," ucap Andis.
"Gimana kalau kita lomba balap kuda," ucap Abrar.
"Boleh," ucap Okha.
"Jadi, nanti siapa yang duluan sampe di garis akhir, dia bakal menang dan dia bakal jadi raja sehari," ucap Abrar dengan semangat.
"Raja?" tanya Andis yang masih bingung.
"Iya, jadi nanti dia boleh nyuruh apa aja ke yang kalah, pokoknya yang kalah harus nurut apapun perintah orang yang menang paham," ucap Abrar dan diangguki oleh Andis.
"Gimana lo Han?" tanya Okha pada Zehan.
"Gue ngikut lo pada aja deh," ucap Zehan.
"Oke kalau gitu sekarang ke tempat kudanya," ucap Abrar dan mereka berlima pun bersiap-siap untuk ke arena balap kuda.
Beberapa saat kemudian, mereka sudah menaiki kuda mereka masing-masing dan siap untuk adu cepat.
"Kalian siap?" tanya Abrar dan diangguki oleh mereka berempat.
"Oke, 1 2 3!" lanjut Abrar.
Mereka pun saling adu kecepatan dan tak lama setelah itu seseorang dari kelima pria tersebut telah sampai di garis akhir.
Dai adalah Andis, ya pemenang dari adu cepat kali ini adalah Andis yang artinya Andis dapat memerintahkan apa saja pada Zehan, Abrar, Riko dan Okha selama satu hari.
"Ini gak adil! gue gak terima," ucap Abrar saat mereka sudah berada di salah satu tempat makan di dekat pacu kuda.
"Eits, gak boleh gitu dong Brar, kan lo udah kalah lagian itu juga ide lo kok lo yang gak terima sih," ucap Andis.
"Brar laper nih," lanjut Andis.
"Ya terus?" tanya Abrar.
"Pesenin lah kan gue rajanya disini, oh ya sekalian pesenin buat yang lain juga," ucap Andis.
Meskipun kesal, tapi Abrar tetap melakukan apa yang di suruh Andis karena bagaimanapun ini semua juga ide Abrar.
"Lo pada pesen apa?" tanya Abrar.
"Gue Pesenin cumi goreng," ucap Andis.
"Gue gak nanya lo, gue nanya yang lain ya," ucap Abrar.
"Eh gue raja loh disini, kalau lo lupa gue udah menang tadi," ucap Andis sewot.
"Yaudah yeh, yang lain?" tanya Abrar lagi.
__ADS_1
"Gue ikan bakar aja deh lo apa Han?" tanya Okha
"Gue udang goreng mentega saus tiram aja," ucap Zehan.
"Gue samain sama Okha aja," ucap Riko.
"Terus minumnya apa?" tanya Abrar.
"Gue jus nanas aja," ucap Andis.
"Gue juga," ucap Okha dan Riko.
"Kalau gue air putih aja," ucap Zehan.
"Oke," ucap Abrar lalu memesan makanan.
"Lo nih Han, kita tuh lagi liburan pesen jus atau es apa gitu eh malah air putih," ucap Okha.
"Udah kebiasaan aja Kha, dari dulu air putih terus juga hampir gak pernah minum yang ada rasanya gitu," ucap Zehan.
"Hadeh pusing gue kalau bilangin lo tuh," ucap Okha.
Setelah beberapa saat akhirnya Abrar kembali ke meja setelah memesan makanan tadi, "Cepet bener," ucap Zehan.
"Ya kan tinggal pesen terus nanti dianterin ke sini," ucap Abrar dan diangguki Zehan.
"Kalian gimana kerjanya sekarang?" tanya Zehan pada Andis.
"Ya gitu-gitu aja Han, gue juga sama kayak lo suruh nerusin usaha keluarga," ucap Andis.
"Kalau Lo?" tanya Zehan pada Okha.
"Gue sih sekarang di rumah sakit udah dari Minggu lalu gue kerjanya," ucap Okha.
"Lo gimana? kayanya lo jarang banget ada kabar," tanya Zehan pada Riko.
"Eh btw lo pada inget si Cecil gak?" tanya Andis.
"Cecil yang mana?" tanya Okha.
"Itu loh yang pernah nembak Zehan waktu jam olahraga," ucap Andis.
"Oh yang cewek kegatelan itu," ucap Abrar dan diangguki Andis.
"Kenapa emangnya?" tanya Okha.
"Dia kan mau nikah," ucap Andis.
"Sumpah Ndis, emang ada yang mau modelan cewek kayak gitu, gak habis pikir gue," ucap Riko.
"Tau gak, yang gue denger nih katanya dia tuh lagi hamil," ucap Andis.
"Maksud lo, dia hamil di luar nikah?" tanya Okha.
"Yoi," ucap Andis.
"Wah gila sih ini," ucap Abrar.
"Lo tau gak yang lebih parahnya apa?" tanya Andis.
"Apa emangnya?" tanya Okha.
Saat akan berbicara tiba-tiba makanan yang mereka pesan akhirnya sampai lalu mereka mulai memasukkan makan ke dalam mulut mereka.
"Tadi kenapa citra Ndis gue penasaran tau?" tanya Abrar dengan mengunyah makanannya.
__ADS_1
"Dia hamil anak orang lain," ucap Andis dengan santai, namun ucapan Andis membuat keempat sahabatnya tersedak.
"Uhuk uhuk! Wah beneran lo Ndis?" tanya Abrar.
"Beneran, ngapain juga gue bohong sama lo semua sih," ucap Andis.
"Terus cowoknya tau gak kalau itu bukan anaknya?" tanya Okha.
"Gue denger si cowoknya tau kalau Cecil ini lagi hamil dan anak yang dikandung Cecil ini bukan anaknya," ucap Andis.
"Wah bucin banget tuh cowok sampai mau nerima Cecil sama anaknya Cecil," ucap Okha.
"Tapi nih ya, itu cuma katanya belum tentu bener sih," ucap Andis.
"Gue tuh emang udah ngerasa kalau dia itu cewek yang gak bener waktu dia mulai deketin lo Han, pake bedak tebel banget lipstik ngejreng pokoknya kayak tante-tante, bayangin aja kalau sekolah udah kayak tante-tante lah apa kabar kalau dia udah lulus kan," ucap Abrar.
Mereka saat ini berada ditempat oleh-oleh yang ada di dekat hotel, "Lo mau beliin si Chesa apaan Han?" ucap Andis.
"Gue juga bingung mau gue beliin apaan dia soalnya barangnya udah banyak, tapi katanya dia mau oleh-oleh," ucap Zehan.
"Gimana kalau lo kasih tas sama baju ini bagus ka motifnya, gimana?" tanya Riko.
"Boleh juga Ko," ucap Zehan.
"Lo udah dapet Brar?" tanya Okha saat melihat Bayu membawa 2 kantong plastik.
"Udah dong," ucap Abrar.
"Banyak banget lo belinya," ucap Zehan karena melihat banyaknya barang yang di beli oleh Abrar.
"Yang ini punya gue yang ini punya tuh orang," ucap Abrar sambil mengangkat barang belanjaannya lalu menunjuk Andis dengan dagunya.
"Kenapa kan gue masih raja disini," ucap Andis.
"Sabar Brar," ucap Okha dan Riko.
"Ndis, gantian napa masa gue terus sih, kan masih ada Zehan, Riko sama Okha," ucap Abrar.
"Gue itu maunya lo Abrar," ucap Andis lalu berjalan mengelilingi toko.
"Sabar Abrar untung aja dia sahabat lo, kalau gak udah di pastiin dia sekarang di rumah sakit," gumam Abrar.
"Han, ini bagus gak?" tanya Okha pada Zehan.
"Bagus kok Kha, btw buat siapa nih perasaan Mbak Tika gak segini deh ukuran bajunya?" tanya Zehan yang curiga dengan Okha.
"Ya masa lo gak tau sih Han, biasa cewek gue," ucap Okha.
"Yang mana nih?" tanya Zehan yang menggoda Okha.
"Masih yang dulu Han, gak pindah ke lain hati," ucap Okha.
"Masih langgeng aja lo, gue kira setelah lo pindah lo bakal putus," ucap Zehan.
"Gak lah Ham, padahal nih dulu si Dian iri banget kalau liat lo sama Arin, Han," ucap Okha.
"Ya mau gimana lagi Kha, udah takdir," ucap Zehan.
"Gue selalu dukung lo kok Han, apapun yang terjadi," ucap Okha dengan menepuk bahu Zehan seolah memberikan semangat pada sahabatnya itu.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.