Married With Mantan

Married With Mantan
Terpaksa


__ADS_3

Arin saat ini sedang berada di toko bunga milik Kinan, ya ia saat ini bekerja disini sebagai pegawai, sebenarnya Kinan menawarkan untuk menjadi pengawas atau manager, namun Arin menolaknya dan memilih menjadi pegawai biasa.


"Maaf Bu, ada yang bisa saya bantu!" tanya Arin saat seorang wanita yang usianya 40-50 an masuk ke dalam toko bunga tersebut.


"Saya mau cari mawar merah Mbak," ucap wanita tersebut lalu menatap Arin.


"Astaga kamu yang bantuin saya kan," lanjut wanita tersebut dan memeluk Arin.


Ya wanita tersebut yang tak lain adalah Mama Naura.


"I-iya Bu," ucap Arin gugup.


"Siapa Ma?" tanya Chesa.


"Ini Dek, calon mantu Mama," ucap Mama Naura yang membuat Arin terkejut.


'Calon mantu,' ucap Arin dalam hati.


"Hai Kak, ketemu lagi dong kita," sapa Chesa lalu memeluk Arin.


"Oh iya hai, eh maaf kalau begitu saya carikan dulu mawar merah yang Ibu cari," ucap Arin


"Ini Bu," ucap Arin dan memberikan beberapa tangkai mawar merah.


"Jangan panggil Bu dong panggil Mama aja," ucap Mama Naura dan Chesa yang melihatnya hanya geleng-geleng dan tersenyum melihat kelakuan Mamanya.


"Ngomong-ngomong nama kamu siapa? saya sampai lupa loh gak nanyain nama kamu," tanya Mama Naura.


"Nama saya...," ucapan Arin terhenti saat segerombolan Ibu-ibu datang.


"Jeng apa kabar nih?" tanya salah satu Ibu-ibu tersebut.


"Baik dong Jeng," ucap Mama Naura.


"Mending kita ke rumah Jeng aja yuk daripada disini gak leluasa ngobrolnya," ajak salah satu Ibu-ibu tersebut.


"Yuk, oh ya sayang kapan-kapan lagi kita ketemu ya, oh iya Dek Yong beli beberapa tangkai mawar merah ya," ucap Mama Naura lalu pergi meninggalkan Arin dan juga Chesa.


"Hehehe, maaf ya Kak. Aku jadi beli ini aja," ucap Chesa.


"Oh iya," ucap Arin dan tak lama setelah membayar bunga tersebut Chesa pun pergi.


"Siapa Rin?" tanya Kinan yang dari tadi melihat interaksi antara Arin dan Mama Naura.


"Gak tau juga Nan, tapi aku dulu pernah nolongin Ibu itu," ucap Arin.


"Oh gue kirain siapa, tapi gue ucapin selamat ya," ucap Kinan.


"Selamat apa?" tanya Arin yang bingung dengan ucapan Kinan.


"Ya selamat karena bentar lagi bakal punya calon mertua," ucap Kinan sambil mengangkat dagunya ke arah Mama Naura yang saat ini sedang berada di parkiran dengan Ibu-ibu lainnya.


"Apaan sih Nan," ucap Arin lalu pergi meninggalkan Kinan.


"Cie malu," ucap Kinan.


Sore harinya, Arin dan Kinan bersiap untuk menghadiri acara reuni SMA yang diadakan oleh angkatan mereka.


"Udah Rin?" tanya Kinan.


"Udah Nan, yuk," ajak Arin.


"Sumpah Rin, lo cantik banget sih pasti nih bakal banyak yang naksir sama lo," ucap Kinan.


Kaila saat ini menggunakan dress sederhana berenda pada bagian lengan yang menambah kesan anggun, "Bisa aja kamu, kita berangkat sekarang aja deh nanti telat loh," ucap Arin.


Setelah itu, mereka pun pergi menuju restoran yang akan dijadikan tempat reuni mereka.


Saat sampai di restoran tersebut Arin dan Kinan menuju ke tempat VIP yaitu tempat reuni mereka, baru saja Arin dan Kinan sampai di tempat tersebut semua pasang mata terus saja memperhatikan Arin dan hal itu membuat Arin risih.


"Tuh kan apa gue bilang pasti mereka tersihir sama kecantikan lo, Rin hehehe," ucap Kinan.


"Apa sih udah ah gak usah mulai deh, Nan," ucap Arin lalu mereka duduk di salah satu kursi yang disediakan.


"Hai Rin, lo inget gue gak?" tanya seorang pria yang duduk dengan Arin dan Kinan.


"Hem...," Sejujurnya Arin tidak ingat siapa pria tersebut.


"Gue Daniel temen satu kelas lo dulu masa gak inget sih Rin," ucap Daniel dan Arin hanya tersenyum kaku.


"Emang lo penting banget ya buat di inget kayaknya gak deh," ucap Zehan.


Saat Zehan datang, ia langsung duduk di samping Arin dan tentunya dengan keempat sahabatnya Abrar, Riko, Andis dan juga Okha, bukan hanya mereka, taku juga pacar Okha Dian dan juga pacar Riko Yolla.


"Oh udah ada pawangnya nih kalau gitu gue balik dulu ya Rin, h iya Rin gue cuma mau bilang aja kalo lo cantik banget hari ini," ucap Daniel lalu pergi meninggalkan Arin.


"Tuh anak emang bener-bener mau di gantung kali ya," ucap Zehan dengan emosi karena Daniel secara terang-terangan menggoda Arin.


"Hai Rin, Nan," sapa Andis pada Arin dan juga Kinan.


"Hem," jawab Kinan.


"Kita pindah tempat yuk Rin," ajak Kinan.


Namun, langkah Kinan terhenti lantaran Andis yang secara tiba-tiba menarik lengan Kinan dan membawanya pergi.


Setelah kepergian Kinan dan Andis, Arin bingung harus kemana karena ia orangnya tidak mudah akrab seperti Kinan dan jika acara reuni seperti ini ia selalu mengandalkan Kinan.


Abrar, Okha, Dian dan Yolla pun pergi meninggalkan Arin dan Zehan. Saat Arin akan pergi dari tempat tersebut tiba-tiba tangannya di tarik oleh Arin ke suatu tempat yaitu taman di restoran tersebut yang ternyata sepi.

__ADS_1


"Maaf," ucap Zehan.


"Untuk?" tanya Arin.


"Semuanya, aku mau kita perbaiki hubungan kita dan mulai semuanya dari awal," ucap Zehan.


"Saya rasa hubungan kita sudah berakhir dari dulu Pak Zehan dan semuanya sudah tidak bisa di perbaiki baik dari saya ataupun dari Pak Zehan," ucap Arin.


"Zehan aku nungguin kamu dari tadi tahu," ucap Tara yang menghampiri Zehan dan Arin.


"Udah kan Pak Zehan bicaranya kalau begitu saya permisi," ucap Arin lalu pergi dari tempat tersebut.


"Apa salahku sampai kamu selalu ngehindar dari aku, kamu ngehilang dari aku? Aku gak akan pernah tau kalau kamu gak bilang Rin, bilang ke aku dan aku akan jelasin apa kesalahanku. Apa kamu gak liat gimana sengsaranya aku saat kamu ngehindar terus dari aku," tanya Zehan, namun Arin tetap berjalan pergi dari tempat tersebut.


"Harusnya lo sadar Han, apa alasan Arin terus ngehindar dari lo," ucap Kinan yang memberhentikan Arin.


Arin hanya menggelengkan kepalanya berharap Kinan tidak mengatakan alasannya pergi dari zehan.


Kinan membalikkan tubuh Arin agar menghadap Zehan, "Lo pikir arin benci sama lo, asal lo tau ya kalau Arin gak pernah benci sama lo, Han. Arin sayang sama lo, tapi lo sendiri yang membuat Arin ragu sama perasaannya Han dan juga Arin terlanjur kecewa sama apa yang udah lo lakuin ke dia," lanjut Kinan.


"Nan, udah kita balik aja yuk," ajak Arin, namun Kinan menahan tangan Arin.


"Gak Rin, masalah lo ini harus segera di selesain biar Zehan tau apa kesalahannya," ucap Kinan lalu menghampiri Zehan.


"Kinan," panggil Arin, namun Kinan seolah menulikan pendengarannya.


"Lo mau tau kesalahan lo apa?" tanya Kinan saat ia berada di hadapan Zehan.


"Ya, gue mau tau apa alasan Arin ngehindarin gue," ucap Zehan.


"Semua itu karena nih cewek," ucap Kinan dan menunjuk Tara.


"Maksud lo apa Nan? gue tau kalian gak suka sama Tara, tapi kalian gak bisa nuduhnya gitu aja dong," ucap Zehan.


"Ini kesalahan lo, Han. Lo lebih percaya ratu drama ini daripada Arin," ucap Kinan.


"Maksud kamu apa Nan, aku bener-bener gak paham deh?" tanya Tara.


"Lo gak usah drama deh, gue tau semuanya, Ra. Dulu lo kan yang nyuruh Arin ninggalin Zehan karena lo hamil anak Zehan," ucap Kinan yang membuat Zehan terkejut mendengarnya.


"Maksud lo apa Nan? anak? gue gak pernah punya anak," tanya Zehan.


"Ya dan nih orang yang udah buat Arin ngehindar dari lo ngerti," ucap Kinan kesal lantaran Zehan masih saja membela Tara.


"Tapi Nan, Tara tuh udah kayak saudara gue sendiri gak mungkin kan dia kayak gitu ke Arin," ucap Zehan dan Arin sedari tadi sudah menunduk dan meneteskan air matanya.


"Tapi emang itu Han kenyataannya," ucap Kinan.


"Bener Ra?" tanya Zehan.


"Gak, itu gak bener. Kinan pasti lagi buat cerita biar aku buruk di mata orang-orang," ucap Tara.


"Jadi, semua yang dikatakan Kinan bener?" tamat Zehan lagi.


"Aku bisa jelasin semuanya Han," ucap Tara dengan berpura-pura menangis.


"Oke sekarang lo jelasin apa maksudnya Ra," ucap Zehan.


"Aku terpaksa Han," ucap Tara.


"Jadi bener lo yang selama ini nyuruh Arin buat ngejauhin gue?" tanya Zehan.


# Flashback On #


"Kenapa Ra? kok kamu ngajakin aku ketemu di taman sih kan ngomong di kelas juga bisa," tanya Arin.


"Rin, aku minta maaf banget sama kamu," ucap Tara dengan menangis.


"Kamu kenapa Ra? kok nangis udah jangan nangis lagi sekarang coba kamu ceritain masalah kamu apa? siapa tau aku bisa bantu," tanya Arin.


"Aku tau, aku salah Rin. Tapi, tolong jangan benci Zehan, dia itu sayang banget sama kamu," ucap Tara yang semakin membuat Arin bingung.


"Maksud kamu apa sih Ra? sumpah aku bingung banget tau gak," tanya Arin.


"Aku hamil Rin," ucap Tara yang membuat Arin terkejut.


"Ra, kamu lagi gak bercanda kan?" tanya Arin.


"Gak, Rin. Aku gak bercanda," ucap Tara dengan menggelengkan kepalanya.


"Oke, sekarang kamu bilang ke aku, siapa Ayahnya? biar aku yang bilang ke Ayahnya buat tanggungjawab enak aja cuma mau di ranjangnya gak mau tanggungjawab," tanya Arin.


"Gapapa, Rin. Biar aku aja yang bilang ke Ayahnya meskipun aku gak yakin dia bakal nerima anak ini," ucap Tara.


"Apaan sih Ra, kalau Ayahnya gak mau tanggungjawab aku bakal bantuin ngerawat anak kamu Ra, inget kamu gak sendirian oke," ucap Arin dan diangguki Tara.


Saat di kelas, Arin terus memperhatikan Tara yang lemas karena sedang hamil, "Kamu gapapa Ra? apa perlu aku bawain obat?" tanya Arin.


"Gak usah Rin, aku gapapa kok," ucap Tara.


"Kalau sakit kamu bilang loh ya," ucap Arin dan diangguki Tara.


"Han, beliin makanan dong," ucap Tara.


"Biar aku aja Ra, Zehan pasti capek habis latihan basket tadi," ucap Arin.


"Gapapa kok Rin, biar aku aja," ucap Zehan.


Selama Zehan dan Arin pacaran memang selalu ada Tara entah itu cuma nonton ataupun ke cafe Arin sempat protes ke Zehan, namun Zehan bilang jika Tara itu hanya temannya.

__ADS_1


Arin juga sempat marah pada Zehan lantaran waktu yang seharusnya untuk Arin justru ia gunakan untuk Tara, namun sekali lagi Zehan berhasil membujuk Arin dan mengatakan jika Tara sudah ia anggap sebagai saudaranya.


Sama halnya saat ini biasanya Zehan akan menolak karena ia baru saja selesai latihan basket, namun Zehan justru membelikan Tara makanan bahkan Zehan pernah menolak untuk mengambilkan buku Arin di loker.


Arin merasa seperti orang asing jika bersama dengan Zehan dan Tara sebab itu Arin jarang mengajak keluar berdua Zehan dan ia lebih memilih selalu mengajak Kinan.


Setelah pulang sekolah Tara menyuruh Arin untuk bertemu di taman, namun saat Arin disana tidak ada tanda-tanda kedatangan Tara hingga matanya melihat Zehan yang berjalan menuju atap.


"Bukannya itu Zehan ya? tapi kan dia tadi udah pulang," gumam Arin dan mengikuti langkah Zehan menuju atap.


"Zehan," panggil Tara.


Arin yang mendengar suara Tara pun terkejut karena seharusnya Tara bertemu dengannya buka dengan Tara.


"Kenapa?" tanya Zehan.


"A-aku hamil ka hiks hiks hiks," ucap Tara yang membuat Arin semakin terkejut.


"Berapa bulan?" tanya Zehan.


"Sembilan Minggu Han," ucap Tara lalu memeluk Zehan.


'Jadi anak yang dikandung Tara itu anaknya Zehan,' ucap Arin dalam hati dan Arin memilih pergi dari tempat tersebut dan menuju ke rumahnya.


Arin tidak mengetahui jika semua ini adalah tipu muslihat dari Tara agar Arin segera putus dengan Zehan.


"Terus Roby tau masalah ini?" tanya Zehan.


Ya, anak yang dikandung Tara adalah anak Roby yang merupakan sepupu jauh dari Zehan.


"Dia gak tau, aku takut nanti dia marah sama aku," ucap Tara.


"Dia harus tau karena dia itu Ayahnya," ucap Zehan lalu pergi dari tempat tersebut.


Pagi harinya, Arin berangkat sekolah seolah tidak terjadi apa-apa, "Hai Rin," sapa Andis dan Arin hanya tersenyum.


"Lo gapapa kan Rin, biasanya aja cerewetnya minta ampun?" tanya Andis saat melihat sikap Anek Arin.


"Aku gapapa kok," ucap Arin.


Setelah itu, ia pun pergi ke mejanya tanpa melihat ke arah Zehan sedikitpun bahkan ia pindah tempat duduk yang seharusnya di depan Zehan menjadi duduk di dekat guru.


Selesai pelajaran Arin pergi ke kantin dengan Kinan dan menghiraukan Zehan yang menuju ke arahnya.


"Kenapa Han? si Arin kok aneh banget sikapnya hari ini?" tanya Abrar pada Zehan.


"Gue juga gak tau," ucap Zehan.


Saat pulang sekolah Zehan langsung menarik Arin ke motornya dan mengenakan helmnya pada Arin, Arin hanya diam ia tidak merespon setiap perlakuan Zehan hingga mereka tiba di taman perumahan tempat tinggal Arin lalu Zehan turun dari motor dan diikuti dengan Arin, setelah itu mereka duduk di bangku taman tersebut.


"Sekarang kamu jelasin sama aku, apa aku buat kesalahan?" tanya Zehan.


"Gak kok, emang lagi bad mood aja aku," ucap Arin santai.


"Ingat kalau aku ada salah kamu bilang jangan marah sendiri paham," ucap Zehan dan diangguki Arin.


'Apa aku emang udah salah kalau mikir akar yang gak-gak, gak mungkin lah Zehan kayak gitu, Arin kamu harus percaya sama Zehan,' ucap Arin dalam hati.


Setelah beberapa saat akhirnya Zehan pun mengantarkan Arin pulang, "Udah sampai aku duluan ya," ucap Arin.


Baru saja Arin balik badan, Ayahnya sudah membuka pintu, "Kamu masih aja berhubungan dengan cowok gak jelas ini Rin," ucap Ayah Arin.


Zehan pun turun dan menyalami Ayah Arin, "Om," panggil Zehan dan ia pun berniat untuk menyalami tangan Ayah Arin, namun Ayah Arin menepis tangannya.


"Saya gak sudi, ingat ya jangan pernah kamu nyentuh saya dengan tangan kotor kamu. Saya gak bakal pernah restuin kamu sama Arin kecuali kamu bawa apa yang sudah saya pernah bilang," ucap Ayah Arin.


Ayah Arin memang pernah meminta Zehan untuk membawa uang sebesar lima ratus juta agar ia bisa menjalin hubungan dengan Arin, namun Zehan tidak dapat menyanggupi hal tersebut karena ia masih seorang pelajar.


"Ayah udah, ayo masuk kamu hati-hati ya pulangnya," ucap Arin lalu masuk ke dalam rumahnya.


Pagi harinya, Arin berangkat ke sekolah saat masuk ke kelasnya ia melihat Tara, namun Arin menahan untuk tidak menanyakannya ia yakin bahwa apa yang ia lihat dan ia dengar hanya kesalahpahaman.


"Hai Rin," sapa Tara.


"Hai juga Ra," sapa Arin.


"Rin, nanti bisa ketemuan gak waktu itu aku ada urusan jadi gak bisa ketemu di taman," ucap Tara.


"Bisa kok Ra," ucap Arin.


"Gimana udah baikan?" tanya Zehan pada Tara yang membuat pikiran Arin semakin ragu.


"Udah baikan kok Han, makasih ya buah kemarin aku emang lagi pengen buah itu," ucap Tara dan diangguki Zehan.


'Sabar Rin, ini gak seperti yang kamu pikirkan,' ucap Arin dalam hati.


Saat istirahat Tara menarik Arin dan mereka saat ini berada di taman sekolah, "Sabar Ra, kenapa sih kok narik aku gitu?" tanya Arin.


"Rin, kamu janji ya jangan marah sama Zehan," ucap Tara.


"Kenapa juga aku marah sama Zehan, kayaknya gak ada alasan aku marah sama Zehan deh," ucap Arin.


"Aku hamil anaknya Zehan, Rin," ucap Tara yang membuat Arin terdiam tak percaya dengan apa yang diucapkan Tara.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2