
Arin pun mengikuti Zehan menuju kamar dan saat sampai di dalam kamar Arin terkejut karena ia melihat Zehan yang membuka lemarinya dan menaruh bunga mawar putih ke atas ranjang.
"Sekarang kamu jelasin ke aku," ucap Zehan.
"Jelasin apa aku gak paham Han?" tanya Arin.
"Ini semua apa? kamu punya cowok lain Rin," ucap Zehan.
"Aku gak pernah punya cowok lain selain kamu Han dan ini aku juga gak tau siapa yang ngirim," ucap Arin.
"Aku tau Rin, kamu selama ini kamu gak suka sama aku, kamu selama ini cuma manfaatin aku aja kan," ucap Zehan.
"Maksud kamu apa Han, aku gak pernah manfaatin kamu," ucap Arin.
"Kamu mau aku percaya sama seorang pengkhianat," ucap Zehan.
"Tapi, aku memang gak pernah ngelakuin itu Han," ucap Arin.
"Aku udah gak bisa lagi percaya sama kamu Rin, gimana bisa aku percaya sama orang yang suka sama orang lain," ucap Zehan.
"Aku gak tau Han, kenapa kamu bisa berubah gini, tapi asal kamu tau Han kalau semua tuduhan kamu itu gak berdasar dan gak bener, apa karena aku interaksi aku sama Tristan saat liburan waktu itu kamu jadi nuduh aku punya cowok lain, aku benar-benar kecewa sama kamu Han," ucap Arin.
"Aku yang lebih kecewa sama kamu Rin, kamu udah hilangin semua kepercayaanku sama kamu dan kamu juga gak mau jujur sama aku," ucap Zehan.
"Tapi, aku ngelakuin itu karena aku gak mau kamu berfikir yang gak-gak Han," ucap Arin.
"Tapi, karena kamu udah gak jujur sama aku, sekarang aku jadi berfikir yang gak-gak Rin. Harusnya kamu bilang ke aku selama ini," ucap Zehan.
"Maaf Han, aku udah gak jujur sama kamu," ucap Arin.
"Aku udah sulit buat percaya sama kamu dan aku juga udah tau semuanya Rin, kalau ternyata benar apa yang orang lain bilang tentang kamu kalau kamu itu pura-pura polos, tapi sebenarnya kamu itu sama aja kayak perempuan yang ngejual dirinya di luar sana," ucap Zehan.
Plak!
Tamparan keras di dapatkan Zehan, "Aku tau kamu mungkin benci sama aku Han, tapi kamu gak berhak bicara seperti itu," ucap Arin yang mulai meneteskan air matanya.
"Tapi apa yang aku omongin semuanya bener Rin, aku tau semua karyawan ngomongin kamu dan bilang kalau kamu itu selingkuhanku kan," ucap Zehan.
"Asal kamu tau Han, aku gak peduli orang lain mau bilang aku seorang selingkuhan atau apapun itu, tapi saat aku tau kalau kamu tau semuanya dan kamu justru percaya sama omongan mereka, aku lebih sakit Han," ucap Arin.
"Kamu tau Rin, aku sakit saat kamu lebih peduli dengan lelaki lain daripada aku suami kamu sendiri," ucap Zehan.
"Tapi, aku gak pernah nganggap lelaki lain spesial kecuali kamu Han," ucap Arin.
"Kamu mau aku percaya jangan harap itu Rin," ucap Zehan lalu keluar kamar dan menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
Arin yang berada di kamar pun menangis, "Rin, kenapa jadi gini sih?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
Untung saja kamar Zehan dan Arin kedap suara sehingga tidak ada yang mendengar pertengkaran mereka kecuali Chesa, ia tidak sengaja membuka pintu kamar tersebut sehingga ia mendengar pertengkaran Zehan dan Arin.
Sebenarnya Chesa meminta Arin untuk menemani menonton drama, karena Chesa tidak tau jika Zehan sudah pulang akhirnya Chesa membuka pelan pintu kamar tersebut.
"Kenapa Kak Zehan sama Kak Arin bertengkar sih, oke sekarang gue gak boleh disini mending gue pura-pura gak tau aja deh," gumam Chesa lalu menuju kamarnya.
Disisi lain, Arin terus menangis hingga ia terlelap dan saat ia bangun wajahnya terlihat bengkak dan matanya pun sembab, "Astaga Rin, kok sampai kayak gini sih," gumam Arin.
Setelah itu, Arin turun dan melihat Kinan yang menunggunya di ruang tamu, "Udah lama ya Nan, maaf ya," ucap Arin.
"Gapapa kok Rin, yuk kita berangkat," ajak Kinan.
"Ma, Arin berangkat dulu ya," ucap Arin.
"Kamu gak sarapan dulu sayang?" tanya Mama Naura.
"Gak deh Ma, lagian tadi Arin minta Kinan beliin sarapan kok," ucap Arin.
"Loh kenapa gak bilang Mama nanti Mama beliin?" tanya Mama Naura.
"Gak Ma soalnya kan Kinan sekalian kesini," ucap Arin.
"Yaudah deh kalau gitu lain kali kamu bilang ke Mama aja," ucap Mama Naura.
"Nih bubur yang tadi lo pesen," ucap Kinan dengan memberikan bubur yang Arin pesan.
"Makasih ya Nan," ucap Arin.
"Oke, sekarang lo bilang ke gue kenapa lo nangis?" tanya Kinan.
"Gak kok Nan, aku gak nangis tadi kelilipan aja," ucap Arin.
"Rin, gue itu udah kenal sama lo lama banget lo itu gak bisa bohongin gue, sekarang lo jujur ke gue," ucap Kinan.
"Kamu kok tau kalau aku habis nangis emang keliatan ya?" tanya Arin.
"Gue gitu Rin, meskipun sepinter apapun lo nyembunyiinnya gue bakal tau," ucap Kinan.
"Hehehe emang Kinan sahabatku banget ya," ucap Arin.
"Ya iyalah sekarang bilang ke gue kenapa?" tanya Kinan.
Setelah itu, Arin pun menceritakan semuanya pada Kinan dan kemudian Arin menangis didalam mobil, "Kamu tau Nak, aku udah hampir gak kuat, tapi aku harus bisa bertahan demi anak aku," ucap Arin dengan mengusap perutnya.
__ADS_1
"Rin, lo yang sabar ya gue tau lo kuat kok, lo gak usah khawatir, gue bakal selalu ada buat lo sama buat si baby," ucap Kinan.
"Makasih ya Nan, kamu udah baik banget sama aku," ucap Arin yang masih menangis.
"Iya Rindu, lo nangis aja sepuasnya biar hati sama perasaan lo lega," ucap Kinan dan diangguki Arin.
Setelah tangisan Arin mulai mereda Kinan pun memberanikan diri untuk bertanya, "Terus gimana tadi? Zehan ngomong gak sama lo?" tanya Kinan.
"Gak Nan, ini tadi aku belum ketemu Zehan sama sekali," ucap Arin dengan menggelengkan kepalanya.
"Yaudah gak usah dipikirin lagi, lo tuh harus happy Rin biar si baby sehat disana," ucap Kinan.
"Iya Nan, kamu bener sekarang aku harus happy," ucap Arin.
Beberapa saat kemudian, mereka pun sampai di kantor dan Arin langsung menuju ke ruangannya begitupun dengan Kinan, saat masuk ke ruangannya ia melihat bunga mawar putih di mejanya.
"Itu pasti dari laki-laki simpanannya deh Ra," ucap Gabby.
"Bener By, banyak gitu bunganya ternyata setelah ditinggal Pak Zehan dia udah punya gantinya By," ucap Vira.
"Rin, lo gapapa?" tanya Adel.
"Gapapa kok Del, kamu gak usah khawatir," ucap Arin.
"Ya gapapa lah Del, gimana sih lo ini orang baru dapet uang jajan dia, ya gak By," ucap Vira.
"Yup bener banget lo Ra," ucap Gabby.
Arin pura-pura tidak mendengar semua sindiran yang ditujukan padanya dan ia memilih mengambil bunga tersebut dari mejanya dan membawa bunga tersebut keluar kantor untuk dibuang. Namun, saat dalam perjalanan keluar dari kantor Arin terus diperhatikan oleh karyawan lain.
Hingga Arin tidak sengaja berpapasan dengan Zehan, namun Arin masih merasa sakit hati dengan perkataan Zehan sebelumnya sehingga Arin pun terus berjalan hingga keluar kantor dan membuang bunga tersebut.
"Kenapa di buang Rin?" tanya Tristan.
"Gapapa Tan, aku cuma gak mau ada yang salah paham gara-gara bunga ini," ucap Arin.
"Tapi menurutku ya Rin orang yang ngasih bunga itu sayang banget deh sama kamu soalnya dia sampai ngirim bunga mawar putih loh itu kan artinya dia udah sayang banget sama kamu ya kalau bisa dibilang sayangnya tuh tulus Rin," ucap Tristan.
"Aku gak mau ngurusin itu Tan, sekarang aku gak mau ngasih harapan ke siapapun makanya aku buang bunga itu karena kalau aku terima itu artinya aku beri dia harapan Tan," ucap Arin lalu masuk kedalam kantor.
Zehan yang melihat interaksi antara Arin dan Tristan pun semakin yakin jika mereka ada sesuatu, 'Rin, kamu udah gak bisa ngelak lagi,' ucap Zehan dalam hati lalu menuju ke ruangannya.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.