
Arin pun terbangun saat mendengar suara berbisik dari luar kamarnya lebih tepatnya suara ombak yang terdengar dari jendela.
Arin pun membuka matanya dan menatap sang sahabat yang masih terlelap, Arin pun beranjak menuju kamar mandi untuk bersih-bersih.
Setelah itu, Arin pun bersiap dan saat Kinan yang masih terlelap membuat Arin tidak bisa berkata-kata lagi, padahal kemarin Kinan tidur terlebih dahulu dulu dan Kinan bilang kalau besok harus bangun pagi, tapi nyatanya Kinan sendiri yang masih masih tidur.
Ya, kemarin saat Arin baru saja terlelap tiba-tiba pintu kamar di ketuk oleh seseorang dan saat melihat Kinan yang masih terlelap akhirnya Arin yang membukanya.
Ternyata orang tersebut adalah pengunjung lain yang meminta bantuan Arin, dimana orang tersebut baru saja kehilangan ponselnya dan ia berniat untuk meminta bantuan pada Arin dengan meminjam ponselnya.
Arin pun meminjamkannya dan setelah itu, gak lama teman yang dihubungi orang tersebut datang dan barulah Arin kembali ke dalam kamar lalu terlelap menyusul Kinan.
Setelah semuanya selesai, Arin pun membangunkan Kinan, "Nan, bangun ini udah mau jam 5 katanya kamu harus bangun pagi," ucap Arin dengan menggoyangkan tubuh Kinan.
"Astaga, Rin kamu ganggu aja sih," ucap Kinan dengan suara khas bangun tidurnya.
"Jadi apa gak kita lihat sunrise nya? tanya Arin.
"Ya jadilah Rin," ucap Kinan dengan sewot.
"Cepet sana mandi kalau sampe jam 04:20 kan katanya jam 05:00 itu sunrise nya bagus banget," ucap Arin.
Kinan yang mendengar perkataan Kaila lalu buru-buru berdiri dan berjalan menuju kamar mandi.
Sembari menunggu Kinan yang tengah bersiap-siap maka Arin memutuskan untuk menonton televisi yang ada di kamar hotel tersebut.
Kinan keluar dari kamar mandi dan ia sudah memakai pakaiannya, "Ini kita langsung berangkat aja nih?" tanya Kinan.
"Iya, biar keburu lihat sunrise nya," ucap Arin dan diangguki Kinan.
Setelah selesai makan Arin dan Kinan masuk ke dalam mobil yang disediakan hotel karena sebelumnya mereka memang sudah memesan mobil agar dapat mereka gunakan.
Selama di perjalanan menuju bukit yang ada di dekat sana baik Arin maupun Kinan tak henti-hentinya takjub dengan pemandangan yang ada di depan matanya meskipun Arin lahir di kota L dan besar di kota L, tapi ia tidak pernah ke tempat seperti ini sebelumnya dan inilah kali pertama untuk Arin ke tempat yang indah seperti ini di kota L.
"Wah bagus banget ternyata kita L," ucap Arin dengan memandang keluar jendela kaca mobil.
"Emang bagus Banga, Rin. Kapan-kapan kita liburan ke kota L lagi, tapi izinnya agak lamaan biar kita bisa ke banyak tempat," ucap Kinan.
"Iya Nan, aku mau banget tau," ucap Arin.
"Perjalanannya masih lama ya Nan?" tanya Arin.
"Gak kok, kayaknya bentar lagi sampai kenapa emangnya Rin? lo udah capek ya," tanya Kinan dan Arin menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Gantian Nan, biar aku aja yang nyetir," ucap Arin.
"Gak usah, itu tempatnya udah kelihatan kok, Rin," ucap Kinan.
Ya, Arin sebenernya bisa membawa mobil dan bahkan sudah mempunyai surat izin, tapi karena ia tidak mempunyai uang untuk membeli mobil jadi ia menggunakan transportasi umum atau tidak ia biasanya dijemput oleh temannya.
Arin dan Kinan sampai di bukit tempat mereka akan menikmati sunrise, sata mereka berdua keluar dari mobil ternyata di sana sudah ramai.
"Gila rame bener, ini masih kurang 10 menit lagi jam 5 loh, tapi rame bener mana banyak yang jualan bakar-bakaran lagi," ucap Kinan.
"Iya Nan, rame banget. Tapi, masa pagi-pagi makan bakar-bakaran sih kayaknya lebih enak minum yang anget-anget deh," ucap Arin.
"Beli itu yuk buat nanti lihat sunrise," ajak Kinan.
Arin dan Kinan memutuskan untuk membeli minuman jahe hangat dan mereka bawa naik ke atas bukit.
Selama di atas bukit mereka saling mengobrol dan akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba dimana sunrise terlihat dengan jelas dan indah.
Arin pun mengabadikan momen tersebut baik itu secara langsung ataupun menggunakan kamera ponselnya dan tak lupa ia juga berfoto bersama Kinan dengan latar belakang sunrise.
Dimana Kinan yang meminta bantuan pada salah satu pengunjung disana untuk memfoto kan mereka berdua dan setelah itu, Kinan yang memfoto kan orang tersebut.
"Gimana Rin, bagus gak?" tanya Kinan.
"Gak deh Nan, ini udah bagus banget malah," ucap Arin karena sudah lebih dari 5 kali mereka mengambil foto, tapi Kinan masih belum merasa puas.
Arin merasa tidak enak pada orang yang memfoto kan mereka sebab itu Arin merasa semua diri tersebut bagus-bagus saja.
"Masa iya sih Rin, udah sekarang gantian lo ke tempat gue tadi coba gue fotoin lo," ucap Kinan.
"Gak ah Nan, aku gak mau foto," ucap Arin.
"Udah gak usah protes cepetan," ucap Kinan.
Dengan berat hati akhirnya Arin menurut perkataan Kinan, "Ck, Rin. Lo pose dikit napa sepet mata gue liat gaya lo norak banget kayak mau foto kelulusan apa gimana lo tuh," ucap Kinan kesal.
"Terus gimana dong Nan?" tanya Arin pada Kinan karena ia tidak bisa untuk berpose.
"Sekarang kaki lo majuin kesamping terus tangan kiri lo, lo taruh di depan tangan kanan nah terus lo bentuk angka empat gitu," ucap Kinan dengan memperagakannya.
"Gini Nan?" tanya Arin.
"Yes, kayak gitu, bentar ya gue foto dulu," ucap Kinan lalu menempatkan kameranya ke arah Arin.
__ADS_1
"Wah bagus banget Rin, gue yang minta difotoin hasilnya gak bagus eh lo malah bagus kayak gini," ucap Kinan dan Kaila hanya tersenyum saat melihat Kinan sedang mengomel.
"Sabar Nan," ucap Arin.
Saat tengah memandangi sunrise dan juga pemandangan daerah-daerah di sekitarnya tiba-tiba suasana menjadi sedih karena Arin.
"Nan, makasih banget ya kamu udah mau jadi sahabat aku," ucap Arin dan tiba-tiba menangis.
"Loh, Rin. Kenapa lo selalu bilang kayak gitu sih, gue malah seneng banget bisa punya sahabat yang baik kayak lo, udah ah jangan nangis lagi orang-orang pada liatin kita loh nanti dikiranya gue habis ngehajar lo lagi udah," ucap Kinan yang juga ikut menangis, tapi langsung ia hapus air matanya.
"Nan, kalau gak ada kamu mungkin sekarang aku udah masuk ke rumah sakit jiwa kali ya," ucap Arin dan tertawa.
"Hust, gak boleh ngomong kayak gitu," ucap Kinan lalu memeluk Arin.
"Inget Rin, gue bakal ada di samping lo sampai kapanpun, jadi lo tuh gak sendirian paham," ucap Kinan dan Arin hanya mengangguk.
"Kamu akhir-akhir ini banyak ngeluarin kata-kata mutiara Nan hehehe," ucap Arin.
"Ya, lo kira gue gak bisa apa jadi orang bener kayak gitu," ucap Kinan.
"Iya," ucap Arin.
"Ck, dasar," ucap Kinan dan akhirnya mereka berdua tertawa bersama.
Kinan dan keluarganya sudah menganggap Arin sebagai bagian dari keluarga mereka, Kinan memiliki 2 kakak, yang pertama laki-laki namanya Kak Indra yang kedua perempuan namanya kak Keisha.
Bahkan yang mengurus pemakaman kedua orangtua Arin saat itu adalah keluarga Kinan, saat itu semua keluarga Arin tidak bisa membantu Arin untuk membiayai pemakaman kedua orangtuanya dan mereka malah mengambil semua harta dari kedua orangtuanya akhirnya keluarga Kinan lah yang membantu.
Arin merasa tidak enak sehingga ia ingin mengembalikan uang tersebut, namun mereka selalu menolak. Bagi Arin itu tetap menjadi hutang maka dari itu Arin bekerja untuk melunasi hutangnya sendiri pada keluarga Kinan yang telah membiayai pemakaman kedua orangtuanya dan juga melunasi hutang pamannya yang selalu dilimpahkan pada Arin dan juga Bibi Ika.
Begitupun dengan Arin ia selalu menganggap bahwa Kinan sebagai keluarganya karena Kinan dan keluarganya sudah banyak membantu Arin, Arin tidak tau bagaimana keadaannya sekarang kalau tidak ada mereka semua.
Impian Arin sampai saat ini adalah mengambil rumah yang sudah di ambil oleh Om Haris padahal rumah tersebut diwariskan untuknya, namun sampai sekarang rumah tersebut masih berada di tangan Om Haris.
Anehnya lagi, Arin tidak boleh mengambil rumah tersebut dan jika Arin ingin rumah tersebut ia harus membelinya dari Om Haris, sehingga saat ini ia harus bekerja lebih keras agar dapat mengambil rumah peninggalan kedua orangtuanya.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1