
"Yura," panggil Arin.
"Ngapain lo manggil nama gue, kangen ya lo, hahahaha," ejek Yura.
Saat Arin mencoba untuk berdiri tiba-tiba Alika mendorongnya hingga Arin terjatuh kembali.
"Mau lo apa? emang kurang lo deketin Pak Zehan sama Om-om simpenan lo dan sekarang lo justru deket-deket sama Tristan," ucap Vira.
"Maksud kamu apa Ra? aku gak paham?" tanya Arin.
"Alah gak usah sok polos deh Rin, gue tau lo pasti tau kan kalau Vira itu suka sama Tristan dari dulu," ucap Gabby.
"Kamu suka sama Tristan, Ra? tapi aku emang beneran gak tau dan aku baru tau ini tadi kalau kamu suka sama Tristan, Ra," ucap Arin.
"Banyak bacot lo, Rin," ucap Yura lalu menarik rambut Arin.
"Ahhhh Yu-yura, sakit...," rintih Arin dan mencoba melepaskan tarikan Yura.
"Lo tau cewek kayak lo itu gak pantes ada di kantor, gue kan udah pernah bilang ke lo buat pergi jauh-jauh dari kantor, tapi lo tetep aja bertahan," ucap Yura.
"Tapi, aku juga butuh biaya hidup Ra, aku gak bisa pergi gitu aja," ucap Arin.
"Lo tau selain lo simpanannya Om-om lo juga orang yang keras kepala pantesan Pak Zehan sama Om-om lo itu pergi dari lo dan lo pindah haluan ke Tristan," ucap Alika.
"Aku gak seperti yang kalian pikirin aku gak pernah jadi simpenan Om-om dan juga gak pernah godain Pak Zehan apalagi sampai dekat sama Tristan," ucap Arin.
"Alah mana ada maling teriak maling Rin," ucap Gabby.
"Tapi, aku beneran. Kalian semuanya udah salah paham," ucap Arin.
"Gue gak pernah salah dalam menilai hal apapun, paham lo curut," ucap Yura.
Setelah itu, Yura pun menarik rambut Arin dengan kencang lalu menendang perut Arin hingga Arin berteriak kesakitan bahkan Yura pun langsung mendorong Arin hingga jatuh di tanah yang membuat baju Arin kotor.
Setelah puas mereka semua pergi meninggalkan Arin yang setengah sadar, "Ah..," rintih Arin dengan memegang perutnya yang teramat sakit.
Dengan sekuat tenaga Arin berdiri dan berjalan untuk pulang, Arin pulang dengan keadaan kotor dan selama perjalanan menuju kediaman keluarga Gulzar, Arin diperhatikan orang banyak yang menganggap bahwa Arin adalah seorang gelandangan.
Sesampainya di rumah, Arin pun masuk dan ia melihat Zehan yang berada di dapur, Zehan pun melihat Arin, namun segera mengalihkan pandangannya.
"Kamu mau buat jus sini biar aku aja yang buatin," ucap Arin.
"Gak usah aku bisa sendiri mending kamu bersihin tubuh kamu aja males aku liat kamu kotor kayak gini," ucap Zehan lalu menuju ke ruang kerjanya.
__ADS_1
"Han, kamu mau anterin aku ke Dokter gak?" tanya Arin.
"Ngapain ke Dokter? kamu sakit emangnya?" tanya Zehan.
"Perutku sakit, Han," ucap Arin.
"Oh cuma perut, minum obat aja ada di laci meja kamar gak usah manja dikit-dikit ke rumah sakit," ucap Zehan.
"Tapi Han, aku itu lagi ha..," ucapan Arin terhenti lantaran Zehan yang menyelanya.
"Udah deh Rin, kamu gak usah manja kayak gitu. Kalau kamu mau ke rumah sakit mending kamu minta anterin Kinan atau gak pacar baru kamu aja sana," ucap Zehan lalu kembali ke ruang kerjanya.
"Han, bahkan saat aku kayak gini kamu gak ngeliat aku sama sekali dan nuduh aku yang gak-gak" gumam Arin lalu menuju ke kamarnya.
"Kayaknya bener Han, aku udah gak punya kesempatan untuk berada di samping kamu," gumam Arin saat berada di kamarnya dan mulai mengemasi barang-barangnya.
Arin pun keluar dari kediaman keluarga Gulzar dan menuju ke rumah Kinan, selama perjalanan Arin merasakan sakit di perutnya karena tendangan dari Yura.
Arin terus memegang perutnya bahkan Arin berjalan sangat pelan menuju halte dan sesampainya di depan rumah Kinan, Arin pun mengetuk pintu rumah Kinan.
Beberapa saat kemudian, Kinan pun membuka pintu rumahnya dan ia terkejut dengan keadaan Arin yang sangat berantakan itu.
"Rin, kok lo ada disini malem-malem? ini jam 10 loh?" tanya Kinan yang membuka pintunya dan terkejut melihat Arin yang berada di depannya.
"Nan...," rintih Arin.
"Nan, bisa aku masuk," ucap Arin yang sangat pelan, namun Kinan masih bisa mendengarnya.
"Yaudah yuk masuk," ucap Kinan lalu menuntun Arin untuk masuk ke dalam rumahnya.
Arin pun masuk kedalam rumah Kinan, namun saat akan duduk di sofa ruang tamu Arin merasa lemas di tubuhnya dan terjatuh, Kinan pun yang melihatnya semakin panik.
"Rin, lo kenapa? bangun dong Rin," panggil Kinan yang berusaha membangunkan Arin dengan menggoyangkan tubuh Arin.
Kinan pun membawa Arin menuju kamarnya dan menelpon Dokter keluarganya, Kinan tinggal sendiri di rumahnya yang merupakan hadiah dari Ayahnya.
Beberapa saat kemudian, Dokter pun datang dan memeriksa keadaan Arin, "Gimana Dok?" tanya Kinan.
"Apa Arin saat ini lagi hamil?" tanya Dokter Lili.
"Iya Dok, kenapa emangnya apa ada masalah sama anaknya?" tanya Kinan.
"Anak didalam kandungan Arin sangat kuat kok kamu gak usah khawatir," ucap Dokter Lili.
__ADS_1
"Terus gimana Dok keadaan Arin?" tanya Kinan.
"Arin hanya kecapean dan dia sepertinya mengalami kekerasan fisik karena di perut dan tangannya ada memar," ucap Dokter Lili.
"Maksudnya Dokter apa? Kinan gak ngerti, Arin habis dipukuli gitu?" tanya Kinan.
"Ya, dari lukanya sepertinya memang Arin habis dipukuli dan kayaknya dia baru banget dipukulinya soalnya masih ada beberapa bercak darah," ucap dokter Lili.
"Hah, gak mungkin Dok, siapa yang berani mukulin Arin? apa Zehan? kayaknya gak mungkin Zehan setega itu sampai mukulin Arin?" tanya Kinan.
"Dokter juga gak tau Nan, tapi ini resep untuk Arin dan untuk mengurangi rasa sakitnya Arin bisa minum obat ini," ucap Dokter Lili dan memberikan obat tersebut ke Kinan.
"Makasih banget ya Dok, udah mau dateng malem-malem kayak gini," ucap Kinan.
"Iya gapapa kok Nan, lalau gitu Dokter balik dulu ya," ucap Dokter Lili lalu pergi.
Kinan yang masih berada dikamar pun melihat tangan dan perut Arin yang memang terlihat memar, "Rin, lo kenapa lagi sih ini? kenapa lo gak cerita ke gue? hiks hiks, lo tau Rin gue ngerasa jadi sahabat yang gak berguna buat lo, kenapa juga dulu gue biarin lo nikah sama Zehan sih Rin," ucap Kinan dan tidak dapat menahan tangisnya lagi hingga ia pun menangis kencang di samping Arin yang tidak sadarkan diri.
Setelah Kinan menunggu kurang lebih 20 menit akhir Arin pun sadar, "Rin, lo gapapa? ada yang sakit gak? lo pengen apa gitu?" tanya Kinan.
"Pelan-pelan Nan, aku makin pusing denger kamu ngomongnya kayak gitu," ucap Arin.
"Hehehe, iya maaf Rin, refleks terus sekarang gimana keadaan lo?" tanya Kinan.
"Aku udah mendingan kok Nan, kamu gak usah khawatir," ucap Arin.
"Gimana gue gak khawatir tiba-tiba lo pingsan," ucap Kinan dan Arin hanya tersenyum.
"Oke, sekarang lo ceritain ke gue kenapa lo kok ada disini bawa koper segala?" tanya Kinan.
Arin pun menceritakan semuanya, "Zehan tega banget sih, dia itu emang cowok b*go banget," ucap Kinan.
"Sabar Nan," ucap Arin.
"Gue gak bisa sabar lagi Rin, buat ngadepin Zehan. Terus tangan sama perut lo kok bisa memar gitu kenapa?" tanya Kinan.
"Oh i-itu Nan, aku gak sengaja nabrak orang pas keluar tadi," bohong Arin karena ia tidak mau Kinan tau jika semua ini perbuatan Yura dan teman-temannya.
"Lo pikir gue anak kecil apa Rin, yang gak tau mana yang ketabrak sama mana yang habis dipukulin. Mending lo jujur sama gue deh Rin, lo nganggep gue sahabat apa gak gitu aja deh Rin, lagian gue juga gak maksa lo buat cerita kok," ucap Kinan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.