
'Dian, kenapa Dian bisa ada disini?' tanya Arin dalam hati lalu ia berjalan secepat mungkin untuk menghindari Dian dan ia bersembunyi di belakang pohon.
Arin benar-benar pergi dari hadapan Dian, bahkan saya suara teriakan Dian yang cukup nyaring di telinganya pun, ia hiraukan dan terus menjauh dari Dian.
"Mama, kenapa kok Mama ada disini mama lagi main petak umpet ya, Zay mau ikut dong Ma," ucap Zayden.
"Gak sayang, Mama cuma ehm... pokoknya gak usah dipikirin mending kita pulang sekarang yuk," ucap Arin lalu mereka pun pulang.
Sesampainya di rumah, Arin menidurkan Zayden terlebih dahulu lalu ia duduk di sofa ruang tamu, "Lo kenapa Rin? jadi aneh setelah pulang dari restoran tadi, lo banyak ngelamun gitu?' tanya Adel.
"Del, aku tadi ketemu sama Dian," ucap Arin.
"Dian? siapa?" tanya Adel.
"Oh kamu gak tau ya Dian itu siapa, jadi Dian itu pacarnya Okha temennya Zehan," ucap Arin.
"Pak Okha, temennya Pak Zehan?" tanya Adel.
"Iya Del, tapi aku liat Dian tadi hamil apa jangan-jangan Dian sama Okha udah nikah ya," ucap Arin.
"Bisa jadi sih Rin kalau itu," ucap Adel.
"Mama!" panggil Zayden.
"Loh anak Mama kok kebangun sih? kenapa kok gak tidur di kamar sayang?" tanya Arin.
"Ma, Zay gak bisa tidur, Zay tadi mimpi ketemu orang yang mau bawa Zay pergi dari Mama. Zay gak mau ninggalin Mama, Zay mau sama Mama terus hiks hiks," ucap Zayden dengan diiringi tangis.
"Udah sayang sekarang kan ada Mama, gak bakal ada yang Zay pergi dan gak bakal ada yang bisa misahin Zay dari Mama ya, udah dong jangan nangis nanti Mama jadi ikutan sedih loh," ucap Arin.
"Aduh kok malah aunty yang sedih sih, gini ya ganteng kalau sampai ada yang misahin Zay sama Mama Arin bilang ke aunty, nanti bakal aunty marahin berani-beraninya orang itu buat Zay dan Mama Arin jauh," ucap Adel.
"Beneran ya aunty bakal marahin orangnya," ucap Zayden.
"Iya sayang, nanti bakal aunty marahin jangankan aunty Del, aunty Nan juga bakal bantuin aunty Del buat marahin orang itu, tapi sekarang Zay gak boleh nangis lagi," ucap Adel.
"Iya aunty, Zay gak nangis lagi soalnya ada aunty Del sama aunty Nan yang bakal marahin orang itu," ucap Zayden yang masih sesenggukan.
"Sekarang Zay tidur ya," ucap Arin.
"Tapi, sama Mama ya Zay masih takut," ucap Zayden.
"Yaudah kalau gitu ayo Mama juga bakal tidur nemenin Zay, Del aku tidur dulu ya," ucap Arin.
"Iya Rin, lo tidur aja kasihan juga gue ngeliat Zay gak bisa tidur kayak gitu," ucap Adel.
Arin pun menuju kamarnya dan merebahkan tubuhnya ke kasur sederhananya, "Udah sekarang Zay tidur ya," ucap Arin.
"Ma, Zay boleh tanya ke Mama," izin Zayden.
"Tanya apa?" tanya Arin.
"Kenapa Zay gak dijemput Papa tadi? tadi Zay liat temen-temen Zayden pulang dijemput sama Papa nya cuma Zay yang dijemput aunty Nan?" tanya Zayden dengan suara khas anak-anak dan sedikit cadel, namun masih dapat di dengar jelas oleh Arin.
__ADS_1
"Zay kok tanya kayak gitu, gini ya sayang Zay itu kan punya Mama, Mama itu kan juga Papanya Zay," ucap Arin.
"Beda Ma, kalau Papanya temen-temen Zayden itu cowok kayak Om Rafael kalau Mama kan cewek kayak Tante Luna," ucap Zayden.
"Sayang maafin Mama ya karena gak bisa jadi orangtua yang sempurna buat Zay," ucap Arin.
"Mama gak salah kok kenapa Mama harus minta maaf, Mama itu Mama terbaik buat Zay dan juga Papa terbaik buat Zay, Zay sayang banget sama Mama, Zay gapapa kok kalau gak ada Papa asalkan Mama ada buat Zay," ucap Zayden.
"Pasti sayang, Mama selalu ada buat Zay kapanpun," ucap Arin dan diangguki oleh Zay.
"Udah ya sekarang Zay tidur kan besok Zay harus bangun pagi buat sekolah," ucap Arin.
"Iya Ma," ucap Zayden lalu ia pun mulai terlelap.
"Maafin Mama ya sayang, Mama gak bisa temuin kamu sama Papa kamu, karena sekarang Papa kamu udah bahagia sama pasangannya, jadi sekarang giliran kita yang harus bahagia," gumam Arin dan mencium wajah Zayn lalu menutup matanya dan mulai terlelap.
.
Saat ini keluarga Gulzar tengah makan malam di salah satu restoran yang menjadi langganan Mama Naura, tentunya makan malam tersebut bukan hanya keluarga Gulzar saja, tapi juga dengan para kerabat termasuk keempat sahabat Zehan, dimana Okha yang membawa Dian, Riko bersama Virna sang istri, Andre dan Bayu yang datang sendiri.
"Gimana rasanya Kak sakit gak?" tanya Chesa.
"Rasanya ya ada rasa gak nyaman gitu sih, tapi gak terlalu sakit banget sih Chesa, Kakak bingung jelasinnya nanti kalau kamu udah nikah pasti kamu bakal tau gimana rasanya," ucap Dian.
"Kamu gak sabar ya Yang pengen cepet punya anak, kalau gitu nanti setelah pesta kita langsung malam pertama aja," ucap Bryan dengan merangkul pundak Chesa.
"Ih males banget jangan macem-macem ya belum tau gimana kalau Mama Naura marah ya," ucap Chesa.
"Mama gak masalah kok kalau malam pertama Bryan langsung ngasih Mama cucu," ucap Mama Naura.
"Ya mau gimana lagi kan emang harus kamu dulu yang ngasih Mama cucu," ucap Mama Naura.
"Ya Kak Zehan dulu lah Ma," ucap Chesa.
"Lupa ya kamu Kakakmu ini belum nikah," ucap Zehan.
"Kak Zehan itu udah nikah cuma Kak Zehan aja yang lupa ingatan," ucap Chesa.
" Chesa udah," ucap Mama Naura.
"Sebel tau gak sama Kak Zehan," ucap Chesa lalu Zehan pun mencubit pipi Chesa.
"Ngapain cubit segala sakit tau Kak," lanjut Chesa.
"Ya kamu sih jadi orang emosian," ucap Zehan.
"Aku ke kamar mandi dulu ya Kha," ucap Dian.
"Sini sama aku aja ke kamarnya," ucap Okha.
"Gak usah, aku bisa sendiri kok," ucap Dian.
"Sama aku aja Kak gimana?" tanya Chesa.
__ADS_1
"Gapapa Kakak bisa sendiri kok lagian kan gak jauh kamarnya gak sampe 1 jam jalannya," ucap Dian lalu berdiri dan menuju kamar mandi.
Namun, saat ia akan masuk ke kamar mandi tiba-tiba seseorang menabraknya hingga barang-barang yang dibawa Dian pun jatuh dan orang tersebut mengambilnya dan memberikannya ke Dian.
Saat orang itu memberikan barangnya, Dian sontak terkejut karena orang yang ada di hadapannya ialah Arin istri Zehan.
Setelah Dian memanggil Arin, Arin justru pergi tanpa membalas sapaan dari Dian, "Arin... Arin!" Panggil Dian.
Dian terus memanggil Arin hingga keluar dari restoran, tapi ia kehilangan jejak Arin hingga akhirnya Dian pun kembali ke kamar mandi setelah itu ia menuju meja makan mereka.
"Kamu kenapa kok kayak aneh gitu gak kayak tadi?" tanya Okha, namun tidak ada jawaban dari Dian.
Dian pun menoleh ke arah Okha, "Nanti aku ceritain ke kamu, tapi ada orang yang harus tau lebih dulu ya," ucap Dian.
Dian pun menarik lengan Mama Naura, "Kenapa sayang?" tanya Mama Naura.
"Tante, tadi Dian ketemu Arin dibawah," bisik Dian.
"Apa! kamu gak salah lihat!" teriak Mama Naura.
Teriakan Mama Naura tentunya membuat semua orang yang ada di sana terkejut dan mereka pun menatap Mama Naura seolah meminta penjelasan.
"Kenapa Ma? kok Mama teriak gitu?" tanya Papa Rendra.
"Kamu beneran Di? kamu gak lagi bohongin Tante kan?" tanya Mama Naura.
"Iya Tante, Dian gak bohong, Dian ketemu langsung sama dia," ucap Dian.
"Terus sekarang dia dimana? Mama pengen banget ketemu?" tanya Mama Naura dan beranjak dari tempat duduknya.
"Tadi Dian udah ikutin dia, tapi Dian kehilangan jejaknya Tante," ucap Dian.
"Kalian berdua ini ngomongin apa sih setidaknya jawab dulu pertanyaan Papa?" tanya Papa Rendra.
"Gini Pa, Dian tadi ketemu sama Arin dibawah," ucap Mama Naura yang membuat semua terkejut.
"Hah Kak Dian ketemu sama Kak Arin dimana? kok Kak Dian gak panggil Chesa kan Chesa kangen banget sama Kak Arin?" tanya Chesa.
"Kakak juga gak tau kalau ketemu Arin tadi terus Kakak coba kejar, tapi dia pergi dan tadi Kakak juga gak bawah handphone," ucap Dian.
"Astaga Dian, Tante kangen banget sama Arin hiks hiks," ucap Mama Naura yang tidak dapat menahan tangisnya.
"Sabar Ma," ucap Papa Rendra.
"Gimana Mama mau sabar Pa, udah hampir 5 tahun Arin ninggalin Mama," ucap Mama Naura.
Disisi lain, Zehan yang melihat Mama Naura menangis pun semakin bingung, namun ia juga penasaran, 'Arin yang katanya istri gue itu kan? kenapa gue gak inget apapun tentang dia dan gue juga bingung kenapa semua orang sayang banget sama Arin?' tanya Zehan dalam hati.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.