
Setelah mendengar perkataan Zehan, Arin bertanya-tanya mengenai pengirim bunga mawar yang ia dapat, 'Terus siapa yang ngirim bunga mawar kalau bukan Zehan?' tanya Arin dalam hati.
"Kamu gapapa Yang? emangnya kamu dapat bunga?" tanya Zehan saat melihat Arin yang melamun.
"Oh eng-enggak kok," ucap Arin.
"Hai bro selamat ya akhirnya kalian nikah juga," ucap Abrar yang menghampiri Zehan dan Arin.
"Iyalah orang Zehan punya pasangan makanya dia nikah lah lo gebetan aja gak punya," ucap Andis.
"Lo ya mentang-mentang udah punya pacar ngeledekin gue terus dulu aja lo diem waktu kita sama-sama gak punya pacar," ucap Abrar.
"Kalian berdua bisa gak sih gak berantem terus pusing gue dengernya," ucap Kinan.
"Tuh denger," ucap Abrar.
"Iya Nan, aku diem deh," ucap Andis.
"Selamat ya Rin akhirnya lo nikah juga," ucap Kinan dan memeluk Arin.
"Makasih ya Nan," ucap Arin.
"Arin," panggil Dian.
"Diam, lama gak ketemu ya, kamu apa kabar?" tanya Arin.
"Baik Rin, aku kaget loh waktu denger kalau kamu nikah sama Zehan perasaan kalian udah putus eh kok tiba-tiba kalian mau nikah gitu, tapi Okha udah jelasin semuanya sih," ucap Dian.
"Kamu masih sering iri gak Di sama aku?" tanya Arin.
"Kamu kok tau kalau aku pernah iri sama kamu?" tanya Dian.
"Tuh," ucap Arin dan menunjuk Okha dengan dagunya.
"Hehehe kelepasan sayang," ucap Okha.
.
Setelah party, Zehan dan Arin beristirahat di kamar hotel tempat acara di laksanakan, ya mereka menginap di hotel tersebut dan besoknya mereka akan pulang ke kediaman Gulzar.
Saat di dalam kamar, Arin terus memikirkan pengirim dari bunga mawar yang ia dapat, 'Kalau bukan Zehan yang ngirim bunga itu terus siapa?' tanya Arin dalam hati.
"Udah ah Rin, mending tidur aja," gumam Arin lalu mengistirahatkan tubuhnya yang sangat lelah.
Zehan pun keluar dari kamar mandi, namun ia melihat Arin sudah tertidur dan akhirnya Zehan pun memilih tidur di samping sang istri.
Disisi lain, Arin yang sebenarnya belum benar-benar terlelap tiba-tiba merasa canggung karena Zehan memeluknya saat tidur, namun Arin tidak berani bangun sehingga Arin memutuskan untuk berpura-pura tidur hingga Arin terlelap dengan sendirinya.
__ADS_1
Pagi harinya, Arin pun terbangun dengan posisi Arin dan Zehan berpelukan padahal semalam Zehan yang memeluknya, namun sekarang Arin juga memeluk Zehan.
Arin menatap lekat wajah tampan suaminya yang sedang terlelap lalu tersenyum, ini adalah pertama kalinya bagi Arin saat membuka mata di sampingnya ada seorang laki-laki yang saat ini menjadi suaminya.
"Aku tau, aku tampan kalau kamu mau ngeliatin aku terus sih aku gapapa. Hari ini kita di kamar aja sampai kamu puas ngeliatin aku," ucap Zehan yang masih memejamkan mata.
Arin yang merasa ketahuan pun langsung menunduk dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang Zehan.
Zehan yang merasakan kepala Arin di dadanya pun langsung memeluk erat Arin, "Kenapa harus malu gitu sih," ucap Zehan yang masih saja memejamkan matanya dan mencium kening Zehan.
Zehan pun membuka matanya dan mendongakkan kepala Arin agar melihatnya lalu tanpa aba-aba Zehan mencium Arin tepat di bibirnya, sedangkan Arin yang terkejut pun hanya diam karena ini adalah ciuman pertamanya.
Zehan yang melihat Arin diam saja pun langsung kembali mencium Arin, namun kali ini bukan hanya ciuman karena Zehan juga ******* bibir Arin sampai membuat Arin kehabisan nafas dan memukul lengan kokoh Zehan.
Zehan pun menghentikannya dan menatap Arin, "Morning kiss sayang, gak usah tegang gitu mukanya," ucap Zehan yang kembali mencium singkat bibir Arin dan setelah itu Zehan pun berlari menuju kamar mandi sebelum Arin marah.
"Zehan!" teriak Arin dan Zehan pun tertawa di dalam kamar mandi.
'Ish, Zehan ini bikin anak orang kehabisan napas aja, aduh ini kenapa jantungku deg-degan terus sih," gumam Arin.
Setelah Arin dan Zehan selesai menyiapkan semuanya akhirnya mereka pun menuju ke mobilnya untuk pergi ke kediaman Gulzar.
Saat sampai di kediaman Gulzar, Zehan dan Arin pun masuk ke dalam rumah dan betapa terkejutnya mereka saat melihat Mama Naura yang berlari menuju ke arah Arin lalu memeluk Arin hingga Arin sedikit oleng dan hampir saja jatuh, namun Zehan segera menahannya.
"Astaga Arin sayang, Mama kangen banget tau gak sama kamu, kamu kenapa lama banget sih ke rumahnya?" tanya Mama Naura tanpa melepaskan pelukannya.
"Udah kali Ma peluknya, kayaknya Zehan kalau peluk gak lama gitu deh," ucap Zehan.
"Kamu nih, yuk sayang kita masuk Mama udah siapin banyak banget loh makanan buat menantu Mama, nanti kamu cobain ya," ucap Mama Naura dan diangguki Arin lalu Mama Naura dan Arin pun menuju ke meja makan.
Zehan yang merasa tidak dianggap oleh Mama Naura pun berjalan di belakang Mama Naura dan Arin, saat sampai di meja makan Zehan semakin kesal dengan Mama Naura karena Arin di siapkan semua makanannya, sedangkan Zehan harus mengambilnya sendiri.
"Sebenarnya yang anak Mama itu siapa sih Zehan apa Arin, kok Zehan kayak anak tiri gini disini?" tanya Zehan, sedangkan Mama Naura dan Arin pun tertawa mendengarnya.
"Gitu aja cemburu Kak," ucap Chesa lalu duduk di samping Arin.
"Heh itu tempat duduk Kakak, kamu pindah sana," ucap Zehan, namun Chesa tidak meresponnya.
"Kak Arin mau gak nemenin Chesa belanja?" tanya Chesa.
"Gak boleh, Arin gak boleh nemenin siapapun kecuali Kakak," ucap Zehan.
"Ah Kakak mah gak asik, masa Chesa sendirian sih, Chesa kan pengen beli sepatu buat olahraga, Kakak gak kasihan kalau Chesa nanti nyeker waktu olahraga," ucap Chesa dengan manja.
"Tau nih Zehan, biarin aja kenapa sih," ucap Mama Naura.
"Tuh bener kata Mama, gimana Kak Arin mau gak?" tanya Chesa lagi.
__ADS_1
"Eh i-itu Kakak terserah Zehan aja," ucap Arin.
"Kak," ucap Chesa yang semakin manja.
"Yaudah iya, tapi inget loh ya jangan buat Arin capek terus jangan sampai buat Arin lecet awas aja kalau Arin kenapa-napa," ucap Zehan.
"Siap Bos, makasih Kakakku tercinta, sayang Kak Zehan, yuk Kak Arin," ajak Chesa.
"Iya, Kakak ambil tas dulu," ucap Arin dan mengambil tasnya yang ada di atas meja ruang tamu.
"Kalo ada maunya aja sayang Kakak kalau gak ada ngeledekin terus," ucap Zehan dan Chesa hanya tersenyum.
"Udah deh Kak," ucap Mama Naura.
"Yuk Chesa," ajak Arin.
"Ma, Chesa sama Kak Arin pamit dulu ya dah," pamit Chesa lalu mereka berdua pun pergi dari kediaman Gulzar.
"Ma Papa kemana kok gak keliatan biasanya jam segini Papa di rumah?" tanya Zehan karena tidak melihat Papa Rendra.
"Oh Papa kamu lagi di restoran katanya ada bahan yang habis atau apa gitu gak paham Mama," ucap Mama Naura dan diangguki Zehan.
"Ma, Zehan ke ruang kerja dulu ya banyak berkas yang belum Zehan cek," ucap Zehan.
"Iya, tapi jangan lupa loh ya Han kalau capek langsung istirahat jangan kerja terus kamu sekarang udah punya istri loh," ucap Mama Naura.
"Iya Mamaku sayang yaudah Zehan pergi dulu," ucap Zehan lalu menuju ke ruang kerjanya.
Zehan pun memulai kegiatannya yaitu dengan mengecek berkas-berkas yang selama persiapan pernikahannya tidak ia sentuh, "Kenapa ada perbedaan angka ya ini, bener kok tapi kok yang di berkas kota B ada perbedaan angka?" tanya Zehan.
Zehan pun mengambil ponselnya dan menelepon Panji.
^^^Halo Panji, saya minta perincian harga untuk semua fasilitas yang ada di kota B.^^^
Baik Pak.
Setelah itu, Zehan pun memutuskan sambungan teleponnya dan tak lama Panji pun mengirim perincian yang di maksud Zehan.
Saat tengah fokus dengan berkas-berkasnya tiba-tiba ponselnya berdering dan saat Zehan melihat siapa yang menelponnya ternyata Tara.
"Kenapa lagi dia ini?" gumam Zehan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.