
Mama Naura pun tersenyum melihat sikap Zehan yang semakin dewasa dalam menyikapi Tara.
Sedangkan, Arin merasa detak jantungnya yang tidak normal karena berdebar sangat kencang dan mukanya memerah karena Zehan mengatakan jika ia akan memiliki anak dari rahimnya.
'Astaga Rin, cuma kayak gitu aja muka kamu udah merah sama jantung gak karuan gini,' ucap Arin dalam hati.
"Yuk masuk Rin," ajak Mama Naura lalu mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
"Mama, Kak Arin," panggil Chesa saat melihat Mama Naura dan Arin masuk ke dalam.
Tara langsung melihat ka arah Arin dengan tatapan sinis, "Oh Tara kamu disini," ucap Mama Naura.
"Iya Tante, Tante apa kabar?" tanya Tara lalu menghampiri Mama Naura, namun langkahnya terhenti karena Mama Naura menuju ke arah Chesa dan duduk di samping Chesa.
"Sayang, duduk sini kamu gak capek apa," ucap Mama Naura.
Tara yang merasa di acuhkan pun merasa kesal, namun ia tidak menunjukkannya, "Kamu tadi tanya kabar Tante kan, kabar Tante baik banget apalagi semenjak ada yang merhatiin Tante," ucap Mama Naura dengan melihat Arin.
Arin sendiri bingung karena ia merasa jika Mama Naura sedang memanas-manasi Tara, "Tante, Tara pamit dulu ya sama Chika soalnya masih ada urusan," pamit Tara yang tidak mendapat respon dari Mama Naura.
Setelah Tara pergi Mama Naura pun tertawa yang membuat Arin dan Chesa saling menatap dan bertanya-tanya.
"Mama kenapa ketawa? emang ada yang lucu ya?" tanya Chesa.
"Ya gak ada yang lucu sih, tapi Mama seneng aja gitu karena akhirnya Tara pergi. Mama tuh gak suka sama Tara dari dulu, soalnya Tara itu orangnya sok kenal," ucap Mama Naura.
"Kalau gitu sama dong Ma, Chesa juga gak suka sama Kak Tara," ucap Chesa.
"Jadi Tara sering kesini ya Ma," ucap Arin.
"Iya sayang, Tara tuh sering banget kesini dulu sampe malem lagi. Tapi, Tara itu seringnya kalau Zehan pulang ke rumah, soalnya kan Zehan sering di luar negeri jadi ya waktu Zehan pulang hampir setiap hari Tara ke sini," ucap Mama Naura.
"Iya bener Kak kata Mama, Kak Tara itu sering banget ke sini sampai dan malem alasannya gak ada orang lah di rumah padahal kan masih ada Mamanya di rumah," ucap Chesa.
"Tapi, kamu gak usah khawatir sayang Zehan itu gak pernah suka sama Tara dan cuma Tara aja yang kegatelan jadi kamu jangan pikirin Tara ya," ucap Mama Naura.
"Iya Ma, Arin ngerti kok. Oh iya Arin ke kamar dulu ya nanti Zehan nyariin lagi," ucap Arin.
"Iya sayang kamu ke kamar gih jangan lupa bikin anak yang banyak," ucap Mama Naura.
"Mama!" panggil Arin terkejut saat mendengar perkataan Mama Naura dan Mama Naura hanya tersenyum.
Saat Arin masuk ke dalam kamar, ia merasa kamar tersebut sangat sepi bahkan gelap karena lampu kamar mati, Arin pun berusaha untuk menyalakan lampunya dan ia terkejut saat menyalakan lampunya karena kamarnya penuh dengan bunga.
"Kenapa banyak banget bunganya?" tanya Arin pada dirinya sendiri.
"Kamu suka?" tanya Zehan dengan memeluk Arin dari belakang dan tentunya membuat Arin terkejut.
"Kamu yang nyiapin semua ini Han?" tanya Arin lalu balik badan menatap Zehan.
"Iya aku nyiapin ini semua buat orang yang sangat spesial di hidup aku," ucap Zehan.
"Tapi kapan kamu nyiapin semua ini?" tanya Arin.
"Dari tadi pagi sih, gimana kamu suka?" tanya Zehan.
"Suka banget," ucap Arin lalu membalas pelukan Zehan.
__ADS_1
"Aku seneng kalau kamu suka sayang," ucap Zehan dan mereka pun menikmati kegiatan berpelukan mereka
"Sayang," panggil Zehan.
"Kenapa?" tanya Arin dan menatap Zehan.
"Boleh?" tanya Zehan.
"Boleh apa?" tanya Arin.
"Itu...," ucap Zehan.
Arin yang mengerti maksud Zehan pun langsung salah tingkah dan bersemu merah, "Tapi, aku kan lagi kedatangan tamu," ucap Arin.
"Belum selesai juga," ucap Zehan.
"Belum, kan baru kemarin," ucap Arin.
"Terus kapan dong selesai masa harus nunggu?" tanya Zehan.
"Paling gak semingguan lah," ucap Arin.
"Hah semingguan, Yang masa aku puasa lagi sih," ucap Zehan.
"Iya kamu puasa lagi, hahaha," ucap Arin langsung tertawa melihat ekspresi Zehan yang terlihat murung.
"Yaudah deh yuk tidur aja," ucap Zehan.
"Terus bunga ini gimana? banyak banget loh," tanya Arin.
"Dibersihin besok aja Yang, sekarang tidur aja," ucap Zehan.
Meskipun begitu mereka berdua pun terlelap dengan saling berpelukan.
Pagi harinya, Arin bangun dan betapa terkejutnya ia saat melihat jam yang ternyata pukul 8 pagi, Arin lun segera membangunkan Zehan.
"Zehan, bangun ini udah jam 8 lebih loh nanti kalau kamu telat gimana, masa kamu kasih contoh yang gak baik sih sama karyawan kamu," ucap Arin yang terus membangunkan Zehan.
Arin terus membangunkan Zehan, tapi Zehan tidak bergerak sedikitpun lalu Arin pun menuju ke meja makan dan melihat Mama Naura disana.
"Kenapa sayang? Zehan nya mana?" tanya Mama Naura.
"Nah itu Ma, Arin kesini mau minta bantuan Mama," ucap Arin.
"Bantuan? bantuan apa emangnya?" tanya Mama Naura.
"Bantuin Arin buat bangunin Zehan ya Ma, dari tadi Arin bangunin Zehan, tapi Zehan gak bangun-bangun sampai capek Arin," ucap Arin.
"Astaga Zehan gimana sih dibangunin istirnya gak bangun-bangun, biar Mama yang kasih pelajaran ke Zehan," ucap Mama Naura lalu menuju ke kamar Zehan, sedangkan Arin menggantikan Mama Naura untuk merapikan makanan di meja makan.
Zehan yang tidak tau jika Mama Naura akan ke kamarnya terus saja terlelap hingga suara Mama Naura membangunkannya.
"Zehan bangun!" teriak Mama Naura.
"Astaga sayang, suara kamu kok kayak Mama sih. Kayak toa kenceng banget, bentar lagi sayang ya," ucap Zehan yang masih memejamkan matanya dan tidak menyadari jika yang membangunkannya adalah Mama Naura.
"Sayang, sayang gak ada sayang sayangan bangun sekarang kamu," ucap Mama Naura.
__ADS_1
'Ini bukan suaranya Arin deh,' ucap Zehan dalam hatinya lalu membuka matanya dan terkejut lantaran Mama Naura yang sudah ada di depannya.
"Loh Mama ngapain disini mana istri Zehan?" tanya Zehan.
"Kamu tuh ya Han, kalau istri kamu bangunin kamu ya harusnya kamu bangun jangan malah molor gimana sih, Arin ada di meja makan, awas aja ya kalau dalam waktu 15 menit kamu gak turun," ucap Mama Naura lalu pergi dari kamar Zehan.
"Astaga serem banget Mama gue," ucap Zehan.
Arin sendiri tidak dapat menahan tawanya saat mendengar teriakkan Mama Naura, "Mama kenapa Kak? kok teriak-teriak gitu dikamar Kak Zehan," tanya Chesa.
"Kakak minta bantuan ke Mama buat bangunin Kak Zehan jadinya kayak gini deh soalnya Kakak kamu dari tadi gak bangun-bangun," ucap Arin yang masih tertawa.
"Ohhhh kasihan banget Kak Zehan ya," ucap Chesa yang ikut tertawa dengan Arin.
"Kenapa kalian berdua tertawa" tanya Papa Rendra yang baru saja duduk di meja makan.
"Papa gak denger toa nya Mama ya," ucap Chesa.
"Denger lah sayang orang toa nya Mama menggelegar," ucap Papa Rendra yang membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Tapi kenapa? kok Mama kamu teriak gitu biasanya kan Mama teriak kalau bangunin Zehan doang, tapikan Zehan udah punya istri jadi gak mungkin teriak ke Zehan kan?" tanya Papa Rendra.
"Papa salah, Mama tuh emang teriak buat bangunin Kak Zehan soalnya dari tadi Kak Arin bangunin Kak Zehan, tapi Kak Zehan nya gak bangun-bangun Pa," ucap Chesa.
"Ternyata Zehan gak berubah padahal dia udah nikah," ucap Papa Rendra.
Setelah membangunkan Zehan, Mama Naura pun menuju ke meja makan, "Gimana Ma Zehan udah bangun?" tanya Papa Rendra.
"Udah Pa, Zehan udah bangun awas aja kalau gak bangun," ucap Mama Naura.
"Sayang, kalau kamu bangunin Zehan dan dia gak mau bangun kamu bilang ke Mama biar Mama siram pake kuah cabe," ucap Mama Naura.
"Iya Ma, nanti Arin bakal bilang ke Mama kok," ucap Arin.
Beberapa saat kemudian, Zehan sudah siap dan menuju ke meja makan dan ia melihat Arin yang sedang tersenyum kepadanya.
"Kenapa?" tanya Zehan.
"Gapapa kok," ucap Arin lalu mereka pun sarapan bersama. Setelah sarapan, keluarga Gulzar pun melakukan kegiatan masing-masing.
Zehan saat ini berada di kantor dan saat Zehan tengah sibuk dengan pekerjaannya tiba-tiba seseorang mengetuk pintu ruangan Zehan.
"Masuk," ucap Zehan lalu orang itu pun membuka pintu Zehan.
"Maaf Pak, saya mengganggu waktu Bapak, saya cuma mau nitip ini Pak soalnya Arin pesen ini dan menyuruh saya untuk memberikannya ke Bapak," ucap Adel.
"Yaudah kamu taruh disitu," ucap Zehan.
Adel pun menaruh kotak tersebut di meja Zehan lalu pergi meninggalkan ruangan Zehan.
"Arin pesen apa emangnya?" tanya Zehan.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.