Married With Mantan

Married With Mantan
Kangen


__ADS_3

Tak butuh waktu lama Arin pun segera keluar dari kamar mandi dan berjalan menuju ruangannya.


Selama dalam perjalanan, Arin menutupi wajahnya menggunakan tangan agar tidak ada yang tahu jika ia baru saja menangis.


Saat sampai di depan ruangannya, ia pun segera masuk ke dalam ruangan tersebut dan langsung menyibukkan diri dengan segala pekerjaannya.


Saat jam kerja telah usai, Arin segera keluar dari ruangannya, namun belum sempat ia keluar dari ruangannya Gabby terlebih dahulu menghampiri Arin.


"Rin, lo sakit ya kok muka lo pucat gitu?" tanya Gabby.


"Aku gapapa kok By, mungkin cuma capek aja sih, aku pamit dulu ya masih ada urusan soalnya," pamit Arin dan pergi dari ruangan tersebut.


Gabby yang melihat tingkah aneh dari Arin pun langsung memandang Adel yang sejak tadi berada di sana dan juga mempertanyakan mengapa sikap Arin seperti itu.


"Arin kenapa? dia sakit?" tanya Gabby.


"Mana gue tahu, daritadi Arin cuma diem aja ya gue gak tahu kalau dia sakit? gue pikir dia emang sibuk ngurus proyek restoran," ucap Adel.


"Ck, jangan main handphone terus dong makanya, kasihan tau Arin harus kerja sendirian," ucap Gabby.


"Iya iya, nyesel gue," ucap Adel.


Disisi lain, Arin saat ini berada di lift sendirian dan saat lift terbuka dengan cepat Arin melangkah untuk meninggalkan kantornya, namun belum sempat Arin keluar dari area perusahaan lagi-lagi ia di hadang oleh seseorang dan kali ini orang tersebut adalah sahabatnya yakni Kinan.


"Rin bareng yuk!" ajak Kinan.


"Gak usah Jam, aku bisa sendiri kok kalau gitu aku jalan dulu ya," pamit Arin namun baru beberapa langkah, tangannya sudah di tahan oleh Kinan.


"Gue gak minta persetujuan lo," ucap Kinan dan menarik Arin masuk kedalam mobilnya.


Saat ini mereka berada di dalam mobil hanya ada keheningan entah mengapa situasi ini membuat Arin dan Kinan menjadi canggung sendiri.


"Rin, lo mau gak ke taman bermain gitu?" tanya Kinan.


"Hem kenapa emangnya Nan?" tanya Arin.


"Ck, gue yang tanya ke lo, tapi lo malah nanya ke gue jawab dulu pertanyaan gue," ucap Kinan.


"Hehehe ya mau lah Nak, tapi masih belum ada waktu aja," ucap Arin.


"Kenapa emang kok tumben nanyain gitu?" lanjutnya.


"Gapapa sih, gue cuma tanya aja oh ya gimana kalau Sabtu kita ke taman bermain," ucap Kinan dengan semangat.


"Tapi kan aku kerja Nam, biasanya kalau Sabtu tuh rame toko roti," ucap Arin.


"Ya selesai lo kerja, lo kan kalau Sabtu cuma sampe jam 7 malam aja kan biasanya," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Oke Sabtu jam 7 gue jemput lo di toko roti, awas aja sampai lo gak ada," ucap Kinan.

__ADS_1


"Iya bawel," ucap Arin.


Sebenarnya Kinan sudah tau tentang kabar Zehan yang memiliki istri dan karena itu ia mengajak Arin ke taman hiburan untuk menghilangkan stress yang dihadapi sahabatnya itu, meskipun Arin tidak pernah mengatakan tentang kesedihannya tapi Kinan tau jika Arin sebenarnya tertekan dengan situasi yang ia hadapi saat ini.


Kinan juga tidak mau memaksa Arin untuk menceritakan semuanya, Kinan hanya ingin sahabatnya ini menceritakan semuanya saat Arin benar-benar sudah siap untuk bercerita.


Kinan sendiri juga sudah tau alasan Arin menghilang dari kehidupan Zehan dan Kinan mencoba untuk memahami bagaimana perasaan Arin.


"Ini ke toko roti kan?" tanya Kinan.


"Iya Nan," ucap Arin.


Setelah 25 menit perjalanan akhirnya mereka berdua pun sampai di toko roti tempat Arin bekerja, "Makasih ya Nan, udah mau nganter aku," ucap Arin.


"Oke, Rin. Semangat kerjanya ya, kalau gitu aku pergi duluan," pamit Kinan.


Setelah Kinan pergi, barulah Arin masuk ke dalam toko roti dan memulai pekerjaannya, seperti biasanya.


Tak terasa sudah jam 10 malam, Arin bersiap untuk pulang dan saat Arin sedang berjalan ia tidak sengaja melihat seorang wanita yang umurnya kira-kira 50 tahunan mengambil barang belanjaannya yang jatuh di jalanan sontak saja Arin langsung menghampiri dan membantu wanita tersebut.


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Arin pada Ibu tersebut dan tak lupa Arin juga membantu mengambil barang-barang Ibu tersebut yang terjatuh.


"Iya Ibu tidak apa-apa kok nak, terima kasih ya," ucap ibu tersebut.


"Iya Bu, Ibu bisa bawanya? apa saya bantu sampai ke rumah Ibu?" tanya Arin.


"Oh tidak perlu nak tadi anak saya sudah di jalan kok," ucap ibu tersebut.


"Makasih ya nak," ucapnya dan Arin pun tersenyum pada wanita tersebut.


Setelah beberapa saat, sebuah mobil berhenti di depan Arin dan Ibu tersebut lalu keluarlah seorang perempuan yang lebih muda dari Arin.


"Ma, maaf ya lama tadi ngerjain tugas dulu?" ucapnya saat berada di depan Ibu tersebut.


"Iya gapapa kok, untung ada perempuan cantik ini yang bantuin Mama, makasih ya nak," ucap Ibu tersebut.


"Makasih ya Kak, ayo Ma, Papa sama Kakak pasti udah nunggu," ucap perempuan tersebut.


"Iya sayang yaudah ayo, nak Ibu pergi dulu ya," ucap Ibu tersebut.


"Iya, Bu. Hati-hati ya," ucap Arin dan diangguki keduanya.


Arin menatap lekat mobil tersebut, 'Seandainya Bunda ada disini pasti Arin yang bakal antar Bunda kemanapun,' ucap Arin dalam hati.


Tak terasa air matanya jatuh, Arin berjalan dalam keadaan menangis saat sampai taman dekat rumahnya, Arin semakin menangis hingga orang yang lewat menatap Arin karena Arin menangis cukup keras.


"Rin," panggil Kinan dan berlari menuju ke arah Arin.


Kinan merasa tidak tenang dan akhirnya menyusul Arin ke restoran, tapi ternyata kata pelayan disana Arin sudah pulang, akhirnya Kinan ke rumah Arin, namun ditengah perjalanan ia melihat Arin yang tengah menangis sehingga ia segera berlari kearah Arin.

__ADS_1


Arin yang melihat Kinan pun semakin menangis karena sahabatnya ini melihat ia menangis, "Rin, kenapa kok lo nangis, udah tenang aja gue masih ada disini dan gak bakal ninggalin lo sendirian," ucap Kinan dengan memeluk Arin yang masih menangis.


"Nan, a-aku kangen sama Bunda, aku pengen ketemu Bunda sama Ayah hiks hiks," ucap Arin yang masih menangis.


Kinan yang melihat Arin pun ikut menangis dan merasakan perih di hatinya, "Lo tau? lo itu sahabat gue yang paling hebat karena lo bisa nyimpen semua rasa sakit lo, Rin. Lo itu sahabat terbaik gue, inget lo gak sendiri karena masih ada gue dan kalau lo pengen ketemu Ayah sama Bunda lo, lo tinggal bilang ke gue kita bareng kesana dan gue bakal minta izin besok," ucap Kinan panjang lebar.


"Makasih ya Nan dan maaf karena aku udah banyak banget ngerepotin kamu," ucap Arin.


"Santai aja Rin, gue juga gak ngerasa direpotin sama sekali, udah sekarang kita balik yuk," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Besok jam berapa berangkatnya gue nanti izin 3 hari ke Pak Aldo?" tanya Kinan.


"Jam 8 aja gimana Nan, biar gak terlalu kesiangan atau kesorean gitu," ucap Arin dan diangguki Kinan.


"Yaudah jangan lupa izin ke Bu Mika ya," ucap Kinan.


Arin dan Kinan sudah berada di depan rumah Arin, "Ayo masuk dulu Nan," ajak Arin.


"Gak usah deh, Rin. Gue langsung balik aja, gak enak juga nanti bonyok gue nyariin bisa berabe," ucap Kinan.


"Yaudah deh kalau gitu sekali lagi makasih ya Nan," ucap Arin lalu Kinan menjalankan mobilnya.


Saat di dalam rumah, Arin dapat melihat Ika yang sedang merajut di ruang tamu, "Kamu sudah pulang Rin, makan dulu Bibi tadi dapat makanan dari Bu Salma setelah nyuci lumayan lah," ucap Bibi Ika.


"Arin kan udah bilang Bibi di rumah sakit lebih lama, tapi kenapa Bibi malah keluar sih?" tanya Arin.


"Bibi takut tagihan rumah sakit mahal, Rin. Lagian Bibi udah sehat kok," ucap Bibi Ika.


Ya, tadi siang Arin mendapat kabar dari umah sakit jika Bibi Ika sudah keluar dari rumah sakit, pihak ruang sakit sudah meminta Bibi Ika agar tetap di rumah sakit beberapa hari lagi. Tapi, Bibi Ika menolak dan akhirnya mau tidak mau pihak rumah sakit memperbolehkan Bibi Ika pulang.


"Terserah Bibi aja deh, Arin mandi dulu aja," ucap Arin dan diangguki oleh Bibi Ika.


Arin masuk ke kamarnya dan membersihkan dirinya setelah itu keluar untuk makan dan setelah makan Arin menuju ke arah Bibi di ruang tamu.


"Bi, Arin besok mau izin kerja mungkin cuma 3 hari aja, " ucap Arin.


Bibi Ika menoleh ke arah Arin karena kaget dengan apa yang dibicarakan oleh Arin karena tidak biasanya Arin meminta izin kerja.


"Kenapa Rin?" tanya Bibi Ika.


"Arin kangen Bunda sama Ayah, Bi. Jadi, rencananya besok Arin mau ke pemakaman Ayah dan Bunda di kota B sama Kinan, Bi. Gapapa kan?" tanya Arin.


"Gapapa dong Rin, Bibi gak pernah melarang kamu untuk melakukan apapun selama itu masih baik, kamu juga udah lama gak ke makam Ayah sama Bunda kamu," ucap Bibi Ika dengan tersenyum.


"Terima kasih, Bi," ucap Arin dan memeluk Bibi Ika.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2