
Sudah seminggu Arin bekerja di tempat perhiasan tersebut dan sudah 5 hari Zayden sekolah, Arin sebenarnya sangat lelah. Namun, ia harus menjalani bekerja untuk membiayai kebutuhan hidupnya.
"Rin, kamu ke depan sana aku udah selesai sekarang shift kamu," ucap Wina.
Arin memilih untuk bekerja di shift pagi dan malamnya ia akan menjaga Zayden, namun rencana itu berubah karena malam harinya Arin bekerja menjadi pelayan disalah satu restoran.
"Yaudah, kalau gitu aku ke depan dulu ya," ucap Arin lalu ia pun menuju etalase perhiasan.
Saat Arin tengah merapikan beberapa perhiasan tiba-tiba seseorang datang dan memanggil Arin, 'Suara ini kenapa sangat familiar di telingaku ya,' ucap Arin dalam hati lalu ia pun mendongakkan kepalanya melihat orang tersebut.
Saat Arin melihat orang tersebut, ia terkejut karena orang yang berada di depannya ialah Zehan suaminya yang ia tinggal 5 tahun yang lalu.
"Maaf saya mau cari perhiasan ini apa ada?" tanya Zehan dengan menunjukkan foto sepasang cincin pernikahan.
'Hah! Zehan, gak kenal sama aku? apa dia udah mulai ngelupain aku? terus dia cari cincin pernikahan? apa dia mau menikah? jadi sekarang dia udah punya seseorang dihatinya,' tanya Arin dalam hati dengan perasaan kecewa.
"Mbak saya bicara dengan anda loh," ucap Zehan yang menyadarkan lamunan Arin.
"Oh iya maaf, Mas. Kalau begitu saya cek dulu untuk model perhiasannya," ucap Arin lalu mengeceknya.
"Maaf Mas, untuk model perhiasan tersebut sudah habis dan akan ada 3 bulan lagi," ucap Arin yang menahan agar ia tidak meneteskan air mata.
"Yaudah saya hanya tanya kalau begitu saya pergi," ucap Zehan lalu pergi.
'Kamu udah bener-bener berubah Han, kamu gak kayak Zehan yang dulu ternyata kamu udah punya pasangan yang baru sekarang aku kecewa, tapi aku bahagia karena kamu udah mulai melupakan aku itu artinya kamu gak akan ganggu aku sama Zayden, Han,' ucap Arin dalam hati dan tanpa terasa ia meneteskan air mata.
"Kamu kenapa? kok kamu nangis sih?" tanya Friska yang melihat Arin meneteskan air mata.
"Huh aku gapapa kok Mbak, aku tadi hem tadi tanganku gak sengaja kena ke mataku jadi merah gini terus nangis deh aku," ucap Arin.
"Astaga, yaudah aku kirain kamu kenapa-napa Rin, oh iya gimana Zayden dia udah bisa baca belum?" tanya Friska.
Di tempat kerjanya yang tau jika Arin sudah mempunyai anak hanya Friska bahkan Friska sendiri sudah akrab dengan Adel dan Kinan, kadang-kadang Friska juga ikut pergi jalan-jalan dengan Arin, Adel, Kinan dan juga Zayden.
"Zay udah bisa kok ya walaupun kadang-kadang masih bingung gimana bacanya," ucap Arin.
"Wajar sih Rin, namanya juga masih umur 4 tahun jadi agak susah bacanya," ucap Friska.
"Iya Mbak, aku juga gak terlalu memforsir dia, aku gak mau Zay kecapean malah sakit nanti," ucap Arin dan Friska hanya menganggukkan kepalanya.
"Oh iya terus hari ini Zay siapa yang jemput kalau kamu masih disini Rin? mending kamu izin sebentar aja," ucap Friska.
"Hari ini Zay dijemput Kinan kok Mbak, sekalian Kinan nanti mau ngajak jalan-jalan Zay sama Papa dan Mami Kinan, katanya sih mereka pengen ketemu sama Zay," ucap Arin.
"Oh gitu okey deh Rin, kalau gitu aku ke pusat dulu ya soalnya Bu Nara mau beberapa design perhiasan baru buat disini," ucap Friska.
"Yaudah hati-hati ya Mbak," ucap Arin.
"Oke Rin, dah," pamit Friska lalu ia pun meninggalkan tempat kerjanya.
__ADS_1
Setelah Friska pergi beberapa karyawan pun mendatangi Arin dan seolah-olah meremehkan Arin, "Halah, baru juga seminggu kerja udah caper aja sama Mbak Friska," ucap Sarla.
"Lo bener La, anak baru aja udah caper mungkin Mbak Friska dikasih jampi-jampi kali makanya Mbak Friska baik ke dia," ucap Lina.
Arin tidak merespon ucapan dari rekan kerjanya karena menurutnya itu akan membuang waktu sama seperti dulu saat Yura, Alika, Gabby dan Vira menghina Arin habis-habisan.
"Woy budeg ya lo," bentak Lina tepat di telinga ariny dan sontak saja hal itu membuat Arin terkejut.
"Maaf Mbak saya denger kok, tapi memang saya tidak ada respon mengenai perkataan Mbak Lina sama Mbak Sarla, kalau memang Mbak merasa seperti itu Mbak bisa tanyakan langsung ke Mbak Friska takutnya kalau saya yang ngomong mbak-mbak gak percaya," ucap Arin lalu ia menuju pelanggan yang baru aja masuk.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Arin pada pelanggan tersebut dan ia pun berbalik.
"Mbak Rina," panggil Arin.
"Arin," panggil Mbak Rina.
"Kok kamu bisa ada disini?" tanya Mbak Rina.
"Oh itu Mbak, Arin memang kerja disini sebenarnya sih baru seminggu," ucap Arin.
"Kenapa kamu gak ke toko roti aja, banyak karyawan yang kangen banget loh sama kamu, semenjak kamu keluar toko roti kayak sepi gitu," ucap Mbak Rina.
"Masa Mbak, kan karyawan disana banyak ada Ezra, udah lama aku gak ketemu Ezra, Mbak," ucap Arin.
"Ezra udah keluar Rin," ucap Mbak Rina.
"Iya, jadi selang beberapa hari kamu keluar, Ezra juga ikut keluar kalau gak salah kurang dari semingguan deh terus aku juga gak denger lagi kabarnya Ezra," ucap Mbak Rina.
"Ternyata banyak banget yang berubah ya Mbak, Arin gak tau kalau Ezra udah keluar," ucap Arin.
"Iya Rin, ini udah hampir 5 atau 6 tahunan kita gak ketemu loh, kamu kemana aja banyak banget yang Mbak pengen tanyain padahal kamu itu gak ada masalah apa-apa di toko, tapi kok tiba-tiba keluar kan Mbak jadi bingung," ucap Mbak Rina.
"Hehehe namanya juga takdir Mbak, mungkin waktu itu udah jadi takdirnya Arin buat keluar dari toko," ucap Arin.
"Mbak denger kamu udah nikah ya, kapan? kok kamu gak undang Mbak sih?" tanya Mbak Rina.
"Gimana ya Mbak, Arin emang udah nikah, tapi semuanya gak berjalan lancar sesuai keinginan Arin," ucap Arin.
"Sabar ya, Mbak paham gimana perasaan kamu, Mbak yakin kamu pasti dapat yang lebih baik nantinya," ucap Mbak Rina.
"Iya Mbak, oh iya maaf nih ya Mbak kalau seandainya pertanyaan Arin gimana gitu,. Gimana Mbak Rina udah punya momongan sama Mas Adit?" tanya Arin.
"Iya gapapa kok Rin, lagian Mbak juga udah punya anak namanya Fiko dia umur 5 tahun, setelah kamu keluar waktu itu kan Mbak positif hamil Rin," ucap Mbak Rina.
"Beneran mbak, seneng banget Arin dengernya," ucap Arin.
"Rin, kenapa kamu disini masih banyak pelanggan yang ngantri ini," ucap Lina sinis.
"Iya, ini aku lagi melayani pelanggan," ucap Arin.
__ADS_1
"Maaf, Mbak. Mbak Rina mau lihat perhiasan yang mana biar Arin ambilkan?" tanya Arin.
"Ah, Mbak mau yang ini aja deh Rin," yfao Mbak Rina lalu Arin pun mengambilkan perhiasan tersebut.
"Bagus Rin, Mbak ambil ini aja," ucap Mbak Rina.
"Iya, Mbak," ucap Arin.
"Makasih ya Mbak," ucap Arin setelah Mbak Rina menyelesaikan pembayaran untuk beberapa perhiasan yang Mbak Rina beli.
"Iya, Rin. Kapan-kapan kamu ke toko ya biar kamu tau gimana sepinya toko gak ada kamu sama Ezra," ucap Mbak Rina.
"Iya Mbak, nanti kalau ada waktu Arin usahain mampir ke toko ya," ucap Arin.
"Iya, kalau gitu Mbak pergi dulu ya," pamit Mbak Rina.
"Iya, Mbak. Hati-hati Mbak," ucap Arin dan diangguki Mbak Rina.
.
Disisi lain, Zehan sendiri sedang memakan sarapannya dan tiba-tiba Chesa datang, "Kak tolong bantuin Chesa dong," ucap Chesa.
"Apalagi sekarang?" tanya Zehan yang jengah dengan Chesa.
"Kak tolong cek perhiasan yang model kayak gini di toko perhiasaan ini ya," ucap Chesa sambil menunjukkan alamatnya.
"Kenapa gak kamu aja atau gak kamu kabarin cabang itu, buat apa beli handphone bagus kalau gak bisa digunain?" tanya Zehan.
"Gak bisa Kak dari tadi Chesa itu udah hubungin pegawai sana, tapi gagal makanya Chesa minta Kak Zehan buat kesana kalau Chesa yang kesana juga gak bisa, kan Chesa mau cari vendor sama Bryan kasihan nanti kalau Bryan nungguin Chesa," ucap Chesa.
"Sama Bryan aja kasihan takut dia nungguin lama kalau sama Kakak," ucap Zehan.
"Gitu aja ngambek Kak Zehan tersayangnya Chesa ini," ucap Chesa.
"Udah sana, kalau ada maunya baiknya minta ampun," ucap Zehan.
"Hehehe gapapa, tapi Kak Zehan mau kan ya Kak," ucap Chesa.
"Iya iya Kakak mau, tapi kali ini aja ya Kakak ini atasan kamu loh di perusahaan masa kamu nyuruh atasan seenak jidat kamu sih," ucap Zehan.
"Apa sih ini pagi-pagi udah berantem aja," ucap Mama Naura yang baru saja datang ke meja makan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1