Married With Mantan

Married With Mantan
Terserah Kamu, Rin.


__ADS_3

Arin pun masuk kedalam ruangannya dan menangis disana lalu Adel dan Kinan mengikutinya, "Rin," panggil Kinan.


"Nan, aku udah gak kuat, kenapa Zehan kayak gini ke aku? kenapa dia gak pernah dengerin penjelasanku? hiks hiks," tanya Arin.


"Rin, gue gak tau gimana perasaan lo, tapi yang pasti Zehan itu bodoh karena dia udah buat kesalahan besar dengan gak percaya sama lo, tapi lo harus percaya sama gue kalau Zehan itu sayang banget sama lo dan dia kayak gini karena dia itu cemburu ngeliat lo sana sama cowok lain Rin," ucap Kinan.


"Tapi Nan, aku lagi hamil bahkan aku gak bisa bilang ke dia kalau aku lagi hamil karena dia selalu ngehindar dari aku, aku juga pengen kayak orang hamil lainnya di perhatiin sama suaminya, mau ini mau itu selalu di turutin, tapi aku malah harus sendiri bahkan apa yang aku pengenin hiks hiks," Arin benar-benar tidak dapat melanjutkan ucapannya karena terlalu kuat menangis.


"Rin, lo harus kuat, lo gak boleh nyerah kayak gini, semuanya ini demi anak lo," ucap Adel.


"Makasih ya kalian udah mau deket sama aku disaat semua orang pergi dan ngehina aku," ucap Arin.


"Rin, gue udah kenal lo dari lo jomblo sampai lo pacaran sama Zehan dan gue tau semua sifat baik buruk lo, jadi lo gak perlu ngucapin makasih lagi paham," ucap Kinan dan diangguki Arin.


"Yaudah mending lo lanjutin kerjaan lo aja Rin," ucap Adel.


Sore harinya, Kinan menghampiri Arin yang masih berada di ruang kerjanya.


"Rin, lo bareng gue kan?" tanya Kinan yang saat ini berada di lift dengan Arin.


"Iya Nan, kenapa emangnya? kamu ada acara ya? kalau gitu aku pulang sendiri aja gapapa," tanya Arin.


"Astaga, Rin. Gue cuma tanya aja kok," ucap Kinan.


Mereka pun menuju ke mobil dan saat didalam mobil Arin merasa perutnya semakin sakit, "Kenapa Rin? lo gapapa?" tanya kini yang melihat Arin memegang perutnya.


"Aku gapapa kok Nan mungkin cuma kebanyakan makan tadi kali ya," ucap Arin.


"Beneran Rin, kok lo kayaknya sakit banget gitu? kita ke dokter aja gimana?" tanya Kinan.


"Gak usah Nan, aku gapapa kok cuma butuh istirahat aja mungkin," ucap Arin.


"Lo tadi ngambil sambelnya kebanyakan kali Rin," ucap Kinan.


"Ya gak mungkinlah Nan, kan aku gak suka pedes," ucap Arin.


"Iya juga sih, apa jangan-jangan si baby lagi laper," tebak Kinan.


"Maksudnya?" tanya Arin.


"Ya masa anak lo gak makan di dalam Run, mungkin dia lagi laper kali," ucap Kinan.


"Tapi, kan aku tadi udah makan lumayan banyak Nan, kok bisa dia laper," ucap Arin.


"Mana gue tau Rin, gue aja belum pernah hamil jangankan hamil nikah aja belum," ucap Kinan.


"Sabar ya Nan, saranku cuma kamu yakinin diri kamu dulu aja jangan buru-buru," saran Arin.

__ADS_1


"Curhat Bu," ucap Kinan.


"Ya, cuma ngasih saran aja sih kan aku lebih berpengalaman kalau masalah kayak gini, hehehe," ucap Arin.


"Iya iya Rin, gue nurut apa kata lo aja," ucap Kinan.


"Nak, kok aku jadi pengen jeruk ya," ucap Arin.


"Jangan bilang kalau lo sekarang lagi ngidam Rin," ucap Kinan.


"Gak tau juga sih Nan, tapi kayaknya iya deh," ucap Arin.


"Yaudah kalau gitu kita beli jeruk dulu, berapa sekantong atau se-gerobaknya?" tanya Kinan.


"Aku cuma pengen satu aja Nan," ucap Arin.


"Maksud lo apa masa cuma beli satu Rin," ucap Kinan.


"Yaudah kita beli berapa gitu terus nanti kita bagiin gitu aja," ucap Arin.


"Oke, kalau gitu sekarang kita nyari penjual buah dulu," ucap Kinan dan diangguki Arin.


Kinan pun mulai mengendarai mobilnya dan mencari penjual buah, "Tuh ada yang jualan jeruk, beli disitu aja ya Rin," ucap Kinan.


"Iya Nan, disitu aja yuk," ucap Arin lalu mereka berdua pun turun.


"Kalian habis beli buah?" tanya Andis.


"Eh iya Ndis," ucap Arin canggung karena ia masih mengingat jelas perkataan buruk Andis tentang dirinya.


"Apa kabar, Nan?" tanya Andis.


"Yuk Arin, lama banget lo. Panas tau gak disini," ucap Kinan lalu menarik Arin masuk ke dalam mobilnya.


"Kamu kenapa Nan? kayaknya gak terlalu panas banget deh," tanya Arin.


"Udah, mending sekarang kita balik aja," ucap Kinan lalu menuju kediaman keluarga Gulzar.


Mereka pun sampai dikediaman keluarga Gulzar, "Kamu yakin gak mau mampir dulu Nan?" tanya Arin.


"Iya Rin, gue lagi banyak tugas buat ngelanjutin drama gue," ucap Kinan.


"Yaudah deh, kalau gitu aku duluan ya dah," ucap Arin lalu keluar dari mobil Kinan.


Kinan yang melihat jeruk yang tadi ia dan Arin beli tertinggal pun memanggil Arin, "Rin, ini jeruknya," ucap Kinan.


"Udah Nan, aku udah ambil buahnya," ucap Arin dengan menunjukkan jeruk yang ia ambil.

__ADS_1


"Lo beneran ngambil cuma satu padahal kita beli hampir sekantong loh," ucap Kinan.


"Hehehe, aku pengennya cuma satu Nan, yang lain buat kamu atau gak kamu kasih ke orang lain aja deh Nan," ucap Arin lalu masuk ke dalam rumah kediaman keluarga Gulzar.


Saat Arin masuk kedalam kamarnya ia melihat Zehan yang duduk di duduk di sofa, "Kamu udah dari tadi pulangnya? mau aku siapin air hangat atau mau aku siapin makanan dulu?" tanya Arin.


"Aku kesini cuma mau nanya sama kamu, sebenarnya mau kamu apa?" tanya Zehan.


"Maksud kamu apa Han? aku gak paham?" tanya Arin.


"Hehehe, setelah kamu nerima bunga terus kamu bareng sama siapa Tristan itu kamu masih gak paham sama pertanyaanku Rin," ucap Zehan.


"Oke, sekarang aku jelasin ke kamu kalau masalah bunga itu, aku gak tau siapa yang ngirim dan kalau masalah Tristan, aku cuma nganggap dia temen udah itu aja," ucap Arin.


"Terserah kamu, Rin. Aku lagi males ngobrol sama kamu karena kamu gak pernah jujur ke aku," ucap Zehan.


"Aku gak jujur gimana sih Han, aku tuh selalu jujur sama kamu kalau masalah bunga oke aku akui aku salah gak ngasih tau kamu, tapi saat kamu tanya ke aku, aku jawab dengan jujur Han," ucap Arin.


Tanpa merespon perkataan Arin, Zehan pun pergi dari kamar tersebut, Arin pun tidak ingin memikirkan masalah ini dan ia memutuskan untuk membersihkan tubuhnya.


Arin sedang merebahkan tubuhnya di ranjang king size-nya dan tiba-tiba ia ingin makan yang manis-manis.


"Kok aku pengen makan yang manis-manis gini ya," gumam Arin.


Setelah itu, Arin pun menuju ke ruang kerja Zehan, namun saat ia sampai di ruang tamu, Arin melihat Zehan yang berada di sana.


Entahlah tiba-tiba saja Arin ingin Zehan menemaninya keluar karena sudah jam 9 malam dan Arin takut jika harus keluar sendiri.


"Han, kamu sibuk gak, kamu bisa anterin aku ke minimarket depan gak aku pengen makan yang manis-manis soalnya," ucap Arin saat melihat Zehan duduk di ruang tamu.


"Minta anterin Pak Tio aja, aku bukan supir kamu," ucap Zehan.


"Pak Tio kan lagi nganterin Mama ke rumah temennya katanya Mama kan nginep disana," ucap Arin.


"Yaudah pesen taksi aja, kan kamu masih ada uang, apa kurang uang dari Om-om kamu?" tanya Zehan lalu menuju ke ruang kerjanya.


Arin merasa sakit hati saat Zehan mengatakan hal tersebut lalu Arin pun keluar dari rumahnya dan memutuskan untuk pergi sendiri.


Saat Arin akan menuju ke halte ia mendapat pukulan di bagian belakang kepalanya yang membuat Arin jatuh, namun ia masih sadar dan melihat siapa yang memukulnya.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2