
"Hai, Arin. Lama ya kita gak ketemu apalagi setelah kamu berhenti kerja," ucap perempuan yang duduk di samping Arin.
Arin hanya melihat sekilas pada perempuan yang laki-laki yang baru saja datang tersebut, lalu ia kembali menatap Kinan.
"Oh iya Rin, ini aku bawain buah. Sebenarnya tadi aku ke kamar inap kamu, tapi kata susternya kamu lagi di taman yaudah aku kesini deh, gimana keadaan kamu?" tanya Tara.
'Jadi kamu bilang akan kesini lagi itu maksudnya dengan Tara,' ucap Arin dalam hati.
Sebenarnya Arin sangat senang kemarin Zehan menjenguknya dan mengatakan akan kembali datang lagi, namun semuanya lenyap karena Zehan datang kesini bersama dengan Tara.
"Ngapain kalian disini kalian ngikutin gue ya?" tanya Kinan.
"Aku rasa mereka gak ngikutin kamu, Nan," ucap Arin yang membuat Kinan terkejut.
"Maksud lo?" tanya Kinan.
"Kemarin Pak Zehan datang kesini, jadi mungkin Pak Zehan bawa dia juga kesini," ucap Arin.
"Apa! kemarin nih orang kesini," ucap Kinan dengan menunjuk Zehan.
"Udah yuk Nan, kita ke kamar aja pusing aku," ucap Arin.
Namun, saat Kinan akan membantu Arin tiba-tiba Zehan menggendong Arin ala bridal style yang tentunya membuat Arin terkejut.
"Turunin aku," ucap Arin, namun Zehan tidak meresponnya dan terus saja menggendongnya.
Arin yang merasa tidak nyaman terus saja memukul bahu Zehan dengan keras dan untuk Zehan sendiri tidak merasakan pukulan tersebut. Apa yang dilakukan Zehan ini tentu saja membuat wajah Arin merah lantaran malu saat melewati orang-orang yang terus melihatnya.
Saat sampai di kamar inap, Arin dengan cepat turun dari gendongan Zehan dan duduk di ranjang rumah sakit dan tidak lama setelah itu Kinan dan Tara masuk ke kamar inap Arin.
Saat masuk ke kamar inap Arin, Kinan terus saja melihat sinis ke arah Zehan, "Rin, tadi Bibi Ika bakal kesini agak malem jadi gue disini dulu terus nanti pas Bibi Ika kesini gue balik," ucap Kinan.
"Iya, Nan," ucap Arin.
"Kalau gitu, aku juga Nan. Aku mau bareng Arin iya kan Rin," ucap Tara yang sontak membuat Kinan melihatnya dengan sinis.
"Huh, mending kalian berdua pulang deh ganggu mata gue tau gak, iya kan Rin?" tanya Kinan.
"Iya, Nan. Bener kata kamu," ucap Arin dengan menganggukkan kepala.
"Loh kenapa Rin, kan kita udah lama banget gak ketemu masa aku gak boleh jagain kamu cuma sampe jam 5 aja deh," ucap Tara.
"Nih anak ya ngeyel banget dibilangin, kalau Arin bilang gak ya gak paham," ucap Kinan dengan sewot.
"Nan," panggil Arin saat mendengar suara Kinan yang cukup keras.
"Biarin aja Rin, biar mereka tuh paham kalau mereka tuh gak diterima disini," ucap Kinan.
"Kamu kenapa sih Nan, aku salah apa sih sama kamu sampai kamu kayak gini banget sama aku dan satu lagi kamu juga Rin, kenapa sih kok kayak gak suka gitu sama aku padahal kan kita dulu temenan bahkan selalu bareng, tapi kenapa sekarang kalian kayak gini ke aku," tanya Tara yang mulai berkaca-kaca.
Arin merasa sangat tidak enak melihat Tara yang mulai berkaca-kaca, "Bukan gitu Ra," ucap Arin yang langsung mendapat tatapan tajam dari Kinan.
"Aku cuma capek dan pusing aja gak pengen diganggu," ucap Arin.
"Beneran," ucap Tara.
"Iya," ucap Arin.
"Yaudah, kalau gitu aku balik ya dan besok aku jengukin kamu lagi dah Arin," ucap Tara.
Setelah itu, Tara dan Zehan pergi dari kamar tersebut, setelah mereka berdua keluar kamar Kinan segera menghampiri Arin.
"Maksud lo apaan Rin, lo biarin tuh anak kesini lagi heh?" tanya Kinan kesal.
"Aku gak tega Nan, ngeliat Tara udah mau nangis gitu," ucap Arin.
"Ya, tapi gak gitu juga kali, Rin. Gimana sih lo, akhirnya kan mereka bakal kesini lagi," ucap Kinan.
"Sabar Nan, kamu lupa ya besok kan aku udah boleh pulang jadi sebelum Tara kesini aku udah pulang gitu," ucap Arin.
"Astaga Rin, bener juga ya kok gue gak kepikiran gitu, pinter banget emang lo Rin," ucap Kinan.
"Sekarang lo cerita sama gue gimana bisa Zehan bisa kesini kemarin," tanya Kinan yang begitu penasaran dengan cerita Arin.
Setelah itu, Arin pun mulai menceritakan saat Zehan datang kemarin tanpa mengurangi ataupun menambah cerita tersebut.
"Kok bisa ya terus Zehan bilang kalau dia bakal kesini lagi gitu kemarin makanya lo minta jalan-jalan ke taman biar gak ketemu Zehan?" tanya Kinan.
"Bukan gitu Nan, aku emang bosen di kamar makanya pengen jalan-jalan ke taman gitu dan aku juga gak tau kalau Zehan bakal ke sini bareng Tara, malahan aku pikir dia bakal kesini sendiri ternyata bareng Tara gitu," ucap Arin.
"Hem sabar Rin, lo pasti bisa kok lewati semua ini. Tengah aja ya gue doain lo secepatnya dapet pria yang lebih baik, pengertian dan yang terpenting lebih peka sama lo gak kayak si Zehan itu yang gak peka banget gitu," ucap Kinan dan mereka pun tertawa bersama.
Tanpa mereka sadari Zehan dari tadi melihat dan mendengar apa yang mereka bicarakan, Zehan yang melihat Arin tertawa pun sangat senang akhirnya ia bisa melihat wanitanya tertawa meskipun bukan karena Zehan.
Ya, Zehan sudah menganggap jika Arin adalah wanitanya yang artinya tidak bisa dimiliki siapapun kecuali Zehan.
"Maaf karena aku gak peka sama kamu, Rin. Karena itu aku gak tahu apa salahku sama kamu, tapi apa kamu masih mau menerimaku Rin?" gumam Zehan yang masih terus memperhatikan Arin.
"Semoga kamu dapat melihat seberapa sayangnya aku sama kamu Rin," gumam Zehan.
Zehan terus saja tersenyum saat melihat Arin yang terus saja tertawa dan terlihat sangat cantik dimata Zehan, setelah itu Zehan pun pergi.
Arin yang sedang tidur pun terganggu dengan tangan seseorang yang membelai pipinya saat Arin akan membuka matanya tiba-tiba orang tersebut berbicara.
__ADS_1
"Rin, maafin Bibi ya udah buat kamu menderita seperti ini," ucap Bibi Ika dengan menangis.
Arin segera membuka matanya dan mendapati Bibi Ika yang menangis "Bibi gak salah apa-apa malahan Arin yang harus berterima kasih sama Bibi karena Bibi mau menerima Arin bahkan Bibi udah menganggap Arin kayak anak Bibi sendiri, Arin sangat bersyukur dari semua keluarga Ayah dan Bunda hanya Bibi yang mau menerima Arin," ucap Arin.
"Bibi juga saya bersyukur karena ada kamu di samping Bibi," ucap Bibi Ika setelah itu memeluk Arin yang sudah menangis.
"Kenapa kalian pelukan?" tanya Kinan yang baru saja masuk ke dalam kamar melihat Arin dan Bibi Ika sedang berpelukan.
Arin dan Bibi Ika pun terkejut setelah itu mereka berdua melihat ke arah Kinan, "Gapapa kok Nan," ucap Arin dengan suara serak.
"Kenapa lo Rin kok nangis gitu Bibi Ika juga? ini pasti ada apa-apa, gue yakin. Lo gak bisa bohong sama gue, jadi kenapa?" tanya Kinan pada Kaila dan Bibi Ika.
"Gapapa Nan, cuma tadi agak drama aja aku sama Bibi," ucap Arin.
"Gue kirain ada apa huh," ucap Kinan lalu memeluk Bibi Ika dan juga Arin.
"Ini udah malam mending kita istirahat, kamu katanya pulang kok balik lagi?" tanya Bibi Ika.
"Hehehe iya Bi, ini jam tangan Kinan ketinggalan," ucap Kinan lalu mengambil jam tangannya yang ada di atas meja.
"Ada-ada aja kamu ini, yaudah kamu pulang istirahat gih," ucap Bibi Ika.
"Siap Bi, besok Kinan kesini jam set 7 ya buat jemput Arin pulang dari rumah sakit," ucap Kinan dan diangguki Bibi Ika.
"Makasih banget ya, Nan," ucap Arin.
"Sama-sama," ucap Kinan lalu ia pun keluar dari kamar inap Arin.
#
Pagi harinya, Kinan sudah berada di rumah sakit untuk menjemput Arin, "udah beres Rin," ucap Kinan.
"Yaudah kalau gitu ayo sebelum Tara kesini," ajak Arin dan diangguki Kinan.
"Tara siapa Rin? emang ada temen kamu yang mau kesini?" ucap Bibi Ika.
"Oh itu bi hem...," ucap Arin gugup.
"Biasa Bi temennya Kinan, dia tuh gak suka sama Arin bawaannya ngajak ribut terus," ucap Kinan.
"Iya Bi itu maksud Arin," ucap Arin.
"Ada-ada aja anak jaman sekarang sukanya ribut terus," ucap Bibi Ika.
"Namanya juga masa muda Bi, kayak Bi Ika gak pernah muda aja hehehe," ucap Kinan.
"Udah yuk pulang udah bosen banget disini," ajak Arin dan diangguki Bibi Ika.
Sesampainya di rumah, Arin langsung merebahkan dirinya di ranjangnya yang terbilang sederhana namun nyaman baginya.
"Hem kangen banget tidur disini," gumam Arin.
"Nyaman banget lo, Rin. Kayak gak mau lepas dari tuh ranjang," ucap Kinan yang masuk ke dalam kamar Arin.
"Iya dong Nan, ini tuh ranjang ternyaman yang pernah ada," ucap Arin.
"Yeh itu mah menurut lo, Rin. Tapi, kalau menurut gue ya ranjang gue lah," ucap Kinan dan kamar tersebut pun di penuhi tawa mereka berdua.
"Oh iya Nan, kapan aku bisa kerja di toko bunga?" tanya Arin pada Kinan yang sat ini duduk di lantai.
Kinan memang biasanya duduk di lantai kamar Arin karena kamar Arin yang sempit dan tidak ada sofa hanya ada karpet di lantai sehingga Kinan duduk di atas karpet tersebut.
"Kalau gue sih terserah lo aja Rin, yang penting lo udah sehat aja baru lo boleh ke toko bunga," ucap Kinan.
"Yaudah kalau gitu besok aku mula kerja aja ya," ucap Arin.
Kinan yang mendengar mendengar perkataan Arin pun terkejut bahkan Kinan sampai menatap tajam sahabatnya itu, bagaimana dia bisa kerja besok padahal dia baru pulang dari rumah sakit hari ini.
"Lo lagi becanda ya tau gak sih Rin canda lo tuh gak mempan buat gue," ucap Kinan.
Arin pun berdiri dan menuju ke arah Kinan yang duduk di lantai lalu Arin juga duduk di lantai berhadapan dengan Kinan.
"Emang keliatan dari mukaku kalau aku lagi becanda ya Nan?" tanya Arin.
"Kinan," panggil Arin.
"Ehh iya Rin, ya sebenernya sih gue gapapa juga kalau lo besok mau kerja, tapi masalahnya lo itu baru aja pulang dari rumah sakit terus besok langsung kerja, kalau kenapa-napa gimana coba," ucap Kinan.
"Kamu gak perlu khawatir masalah itu, kamu lupa ya kalau aku ini Arin yang udah biasa kayak gitu," ucap Arin.
"Nah makanya jangan di biasain Arin," ucap Kinan.
"Gapapa kok, Nan. Beneran," ucap Arin.
"Yaudah deh terserah lo, tapi kalau besok lo ngerasa sakit langsung pulang aja ya awas aja kalau sampai lo maksa buat kerja," ucap Kinan.
"Iya Tuan putri Kinan," ucap Arin.
"Baru tahu lo kalau gue Tuan putri hehehe," ucap Kinan.
"Aduh salah bicara deh aku," ucap Arin sambil memukul pelan bibirnya dan mereka berdua pun tertawa.
"Oh ya Rin, besok pulangnya langsung ke acara reunian aja gimana?" tanya Kinan pada Arin.
__ADS_1
"Okey Nan," ucap Arin.
"Sama bawa baju ganti aja sekalian, biar gak dekil amat lah ke acara reunian," ucap Kinan.
"Ada-ada aja kamu, Nan," ucap Arin dan tersenyum.
.
Sedangkan, Zehan sendiri tahu jika Arin sudah pulang dari rumah sakit pun menemani Tara ke rumah sakit ia tidak memberitahu mengenai hal tersebut pada Tara, entahlah tapi hati Zehan berkata untuk tidak memberitahukannya pada Tara.
"Hai Rin...," sapa Tara terhenti lantaran kamar inap Arin kosong dan sudah rapi.
"Loh kok gak ada Arin, Arin mana? apa kita salah kamar ya, Han?" tanya Tara pada Zehan dan Zehan hanya mengangkat bahunya.
Setelah itu, Tara pun pergi dari kamar tersebut dan bertanya ke suster yang ada disana, "Maaf Sus, saya mau tanya pasien yang ada di kamar ini kemana ya? apa dia dipindahkan atau gimana?" tanya Tara pada Suster yang lewat di depan kamar tersebut.
"Setau saya pasien tersebut sudah pulang tadi pagi," ucap Suster tersebut.
"Apa pulang tapi kan...," ucap Tara.
"Kalau begitu saya permisi," ucap Suster tersebut lalu pergi meninggalkan Tara.
"Udah kan mending kita pulang aja, Arin juga udah pulang," ucap Zehan.
"Tapi kan kata Arin kemarin gue boleh kesini, kok sekarang dia udah pulang sih," ucap Tara lalu pergi meninggalkan Zehan dan menuju mobilnya.
Setelah itu, Zehan mengantarkan Tara pulang dan setelah mengantarkan Tara. Zehan pergi menuju ke kantornya, saat sampai di kantornya ia dikejutkan dengan kedatangan para sahabatnya Abrar, Okha dan Riko dan Andis.
"Kalian gak bilang kalau kesini," ucap Zehan lalu duduk di sofa dengan sahabatnya.
"Tuh sih Andis yang ngajakin," ucap Riko.
"Biasa Han, kita ini lagi kangen lagian kita juga kan udah lama gak ngumpul bareng," ucap Andis.
"Besok kan ada reunian SMA ikutan yuk biar gue bisa ketemu Jihan," ajak Abrar.
"Astaga Brar, lo mah urusan cewek terus," ucap Okha.
"Iya, besok gue sama Dian juga bakal dateng kok," ucap Okha.
"Tuh, ayolah lo pada ikut," ajak Abrar.
"Iya gue ikut," ucap Andis kesal lantaran Abrar dari tadi menekan lengannya.
"Lo Han?" tanya Abrar pada Zehan.
"Males gue pergi ke acara kayak gitu," ucap Zehan.
"Zehan pasti ikut kok soalnya besok kan Arin juga ikut," ucap Riko.
"Serius loh Ko?" tanya Zehan semangat.
"Hem," jawab Riko.
"Kata siapa lo kalau Arin ikut?" tanya Zehan.
"Kan Linda yang data siapa aja anak cewek yang ikut reunian besok dan katanya Arin ikut besok," ucap Riko.
"Wah kalo gitu lo ikut kan Han?" tanya Andis.
"Gue usahain deh," ucap Zehan.
Tak lama setelah itu, keempat sahabatnya pergi dan Zehan kembali melakukan pekerjaannya, saat tengah sibuk menilai hasil salah satu proyek tiba-tiba pintu ruangannya terbuka dengan kasar dan terdapat seorang pria paru baya yang menuju ke meja Zehan.
Brak Brak
"Maksud anda apa heh dengan menghancurkan perusahaan saya?" tanya pria tersebut saat memasuki ruangan Zehan dan setelah itu Yolla sekretaris Zehan pun masuk.
"Maaf Pak, tadi saya sudah mencegahnya, tapi bapak ini tetap memaksa untuk masuk," ucap Yolla sopan.
"Baik kau boleh keluar," ucap Zehan dan setelah itu Yolla lun keluar.
"Oh jadi anda Pak Rian pemilik dari H Group yang saya akuisisi," ucap Zehan santai.
"Iya itu saya, sekarang saya meminta penjelasan pada Pak Zehan kenapa anda menghancurkan perusahaan saya," tanya Pak Rian lagi.
"Saya tidak menghancurkan perusahaan anda, saya hanya mengakuisisi perusahaan anda," ucap Zehan.
"Itu sama saja dengan anda menghancurkan perusahaan yang sudah saya bangun!" teriak Pak Rian.
"Saya sudah memberikan anda waktu untuk melunasi hutang perusahaan anda, tapi nihil kan," ucap Zehan.
"Tapi, saya sudah bilang untuk menunggu," ucap Pak rioan.
"Sampai kapan? keluarga saya sudah memberikan waktu 3 tahun untuk melunasinya, namun anda selalu mengulur waktunya bukan dan satu lagi saya dengar anak anda juga sedang bermasalah," ucap Zehan yang membuat Pak Rian mulai emosi lalu pergi meninggalkan ruang kerja Zehan.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1