
"Lo bisa gak sih kalau nanya tuh satu-satu jangan keroyokan," ucap Zehan kesal.
"Ya kan gue kaget Han, jadi gimana?" tanya Abrar.
Zehan menyenderkan kepalanya di bangku tamannya dan memijat pelipisnya, "Gue bingung Brar, gue pengen minta penjelasan ke dia, tapi dia selalu menghindar dari gue," ucap Zehan.
"Gue sebenarnya juga gak tau apa masalah kalian, tapi gue yakin lo sama Arin itu sebenernya masih saling suka, sekarang gue mau lo jujur sama gue Han, lo masih suka kan sama Arin?" tanya Abrar.
"Kalau lo tanya gue, masih suka apa gak sama Arin. Ya masihlah," ucap Zehan.
"Btw lo tahu gak Arin sekarang punya cowok apa gak? ya takutnya kan dia menghindar dari lo karena dia udah punya cowok gitu," tanya Abrar.
"Gak," ucap Zehan.
"Huh, sabar Brar, inget lo itu lagi ngomong sama kulkas," gumam Abrar.
"Gapapa udah lupain deh, gue mau pulang kasihan bonyok gue, bye!" pamit Abrar dan pergi meninggalkan Aska yang masih di taman.
"Dasar sahabat laknat, gue mau curhat malah ngilang," ucap Zehan lalu masuk kedalam rumah.
.
Arin mengerjapkan mata karena terganggu oleh sinar matahari yang masuk lewat jendela yang ada di rumah sakit tempat Bibi Ika dirawat.
Setelah membuka matanya ia melihat jam dan segera membersihkan tubuhnya, kemarin Arin sudah membawa baju yang akan ia gunakan untuk bekerja hari ini.
Sebelum Arin berangkat ia pamit pada Bibi Ika terlebih dahulu, "Bi, Arin berangkat kerja dulu ya, kalau ada apa-apa Bibi langsung panggil suster ya atau gak Bibi bisa langsung hubungi Arin nanti biar Arin izin," pamit Arin.
"Iya, kamu hati- ya, semangat kerjanya dan maaf Bibi masih belum bisa bantu kamu," ucap Bibi Ika.
"Bibi ini ngomong apa sih, ingat ya gak boleh ngomong gitu lagi, kalau gitu Arin pergi dulu," pamit Arin.
"Iya," ucap Bibi Ika.
Arin berjalan dengan santai sambil menyapa karyawan lain dan berhenti di resepsionis karena disana ada Vira dan juga Adel, saat ini memang belum masuk dan sekitar 30 menit lagi jam kerja jadi masih bisa ngobrol dengan karyawan lain.
"Eh ada nyonya Bos nih," ucap Vira.
"Siapa?" ucap Arin.
"Ya lo lah, Rin," ucap Adel.
"Hah, aku? kenapa aku?" tanya Arin.
"Arin sayang, lo gak usah pura-pura deh. Lo itu lagi deket kan sama Bos sampai-sampai kemarin lo diajak ngobrol empat mata gitu," ucap Vira.
"Sumpah ya aku gak paham sama pikiran kalian, kemarin itu Pak Zehan cuma ngobrol ma-masalah kartu nama, iya kartu nama aku," ucap Arin gugup.
"Emang kenapa kartu nama lo?" tanya Vira yang masih penasaran.
__ADS_1
"I-ini, Pak Zehan kemarin nemuin kartu namaku terus dia gak yakin itu punyaku apa gak, udah gitu aja gak lebih," ucap Arin.
"Oalah gue kirain lo pacaran sama Pak Zehan, padahal nih ya kalian berdua tuh cocok banget," ucap Vira.
"Iya bener, Rin. Banyak banget yang berharap lo bisa sama Pak Zehan jadian. Apalagi nih ya sih Tasya itu suka sama Pak Zehan," ucap Hani yang merupakan resepsionis yang cukup dekat dengan Arin.
"Maksud lo apa, Ni? si bebus suka sama Pak Zehan," tanya Vira.
"Iya, gila banget si bebus itu!" ucap Adel yang tidak terima.
"Bebus apaan?" tanya Arin.
"Haduh, Rin. Bebus itu betina busuk, dia itu Suak banget caper sana sini, semua orang juga tahu kalau dia itu kekurangan muka," ucap Adel dengan santainya yang membuat semua yang ada disana tertawa.
"Btw lo tau darimana Ni kalau si bebus itu suka sama Pak Zehan?" tanya Vira.
"Katanya tuh kemarin si bebus papasan sama Pak Zehan terus dia bilang ke Intan kalau Pak Zehan ngajak dia jalan katanya," ucap Hani.
"Masa sih Din?" tanya Adel.
"Gue sih katanya dari tim perencanaan si bebus itu, apalagi waktu dia tau kalau pengganti Pak Rendra cakep, ya dia yang paling semangat di tim perencaan," ucap Hani.
Saat mereka tertawa tiba-tiba Zehan berjalan dengan gagahnya dan karyawan yang ada disana juga ikut memandangi ciptaan Tuhan yang sangat sempurna itu.
"Gila cakep banget tuh manusia," ucap Hani.
"Mungkin Tuhan ciptain tuh orang sambil tersenyum makanya dia ganteng banget," ucap Adel.
Arin yang ada disana hanya geleng-geleng melihat kelakuan teman-temannya ini.
Saat Arin menoleh ke belakang ternyata yang mereka bicarakan adalah Zehan, Arin terus melihat ke arah Zehan dan tak lama Zehan pun melihat Arin dan melangkah dengan muka dingin dan cueknya seperti tak mengenal Arin.
Arin yang ditatap seperti itu sedikit sedih lantaran sikap Zehan tidak seperti biasanya, namun Arin tak mau ambil pusing toh itu yang selama ini Arin harapkan agar Zehan tidak menganggu hidupnya.
Arin melihat ke arah teman-temannya dan ternyata mereka masih mempertahankan muka kagum mereka padahal Zehan sudah masuk kedalam lift.
Saat mereka masih memandang kearah lift, Kinan datang dan menyapa mereka, hanya Arin lah yang menjawab sedang yang lain tak ada menjawabnya, "Hai guys," sapa Kinan.
Kinan yang bingung langsung memberi isyarat pada Arin bertanya ada apa dengan teman-temannya, namun Arin hanya mengangkat bahunya.
"halo guys!" teriak Kinan yang membuat mereka sadar sepenuhnya bahkan menjadi perhatian orang yang ada disana.
"Eh buset kaget gue, apa-apaan sih Nan, santai napa," ucap Vira kesel.
"Ya, lo habisnya bertiga ini ya, gue sapa bukannya jawab malah diem aja," ucap Kinan.
"Ya kita tuh habis memandangi ciptaan Tuhan yang sempurna rugi kali dilewatin," ucap Adel.
"Emangnya apaan?" tanya Kinan.
__ADS_1
"Pak Zehan," ucap Hani.
"What!" teriak Kinan kaget lalu melirik Arin yang mengangkat alisnya.
"Yaudah deh gue ke ruangan dulu ye," ucap Kinan lalu meninggalkan mereka berempat.
"Kita juga deh yuk guys, Han kita duluan ya bye," pamit Vira lalu merangkul pundak Adel dan juga Arin.
***
Hari ini, Zehan sangat sibuk setelah pagi hari tadi Panji mengabari bahwa perusahaan Zehan yang ada di negara D sedikit bermasalah sehingga ia berangkat kerja lebih pagi dari biasanya lantaran semua berkas mengenai perusahaannya ada di dalam ruang kerja di kantornya, ya perusahaan Zehan di negara D bekerjasama dengan C3 grup.
Saat Zehan berjalan di lobby ia menghiraukan semua tatapan kagum karyawannya, namun ia melihat Arin yang berdiri disana dan melihatnya dan tentu saja hal itu membuat hati Zehan semakin berdetak tak karuan, namun dengan cepat Zehan memalingkan wajahnya, ia tak mau kalau sampai masuk rumah sakit karena jantungnya yang tidak normal.
Zehan berada di ruangannya dan ia sangat kesal lantaran perusahaan yang ia dirikan di negara D terdapat masalah yang ternyata itu berasal dari direktur dan direktur itu merupakan orang kepercayaannya.
Meskipun tidak mengalami kerugian yang cukup besar, tapi Zehan sangat kesal bagaimana bisa ia memiliki kepercayaan yang besar kepada orang itu.
Saat Zehan sedang melamun tiba-tiba pintu terbuka dan ia melihat Abrar yang sedang berjalan dan duduk di sofa yang ada di ruangannya.
"Ngapain lo kesini?" tanya Zehan.
"Gue dapet kabar katanya si Willy ngambil uang perusahaan," ucap Abrar.
"Gue juga gak tau padahal gue udah percaya sama dia," ucap Zehan.
"Sabar bro, tapi lo udah nyelesain kan, gue yakin lo bisa," ucap Abrar.
"Iya udah selesai untung ada Om Niko," ucap Zehan dan diangguki oleh Abrar.
"Btw Han, gue tadi ketemu sama si Arin," ucap Abrar.
"Iya dia kerja disini," ucap Zehan.
"Apa? lo kenapa gak bilang-bilang ke gue kalau dia kerja disini sih? lo jahat banget Han, lo anggap gue sahabat apa gak sih Han? masa lo bilang ke gue aja susah amat, ya gue tau kalau lo tuh orangnya cuek, tapi untuk masalah kayak ginian tuh harusnya lo cerita ke gue, gue sebagai sahabat lo siap kok dengerin apapun cerita lo mau itu bahagia atau sedih," ucap Abrar panjang lebar.
"Nafas Brar, kemarin gue mau cerita ke lo, tapi lo pulang duluan, salah siapa coba?" tanya Zehan.
"Hehehe gue kirain lo bercanda Han, terus gimana?" tanya Abrar.
"Apanya?" tanya Zehan.
"Ck, ya lo sama Arin lah," ucap Abrar.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.