Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Cinlok?


__ADS_3

"Kan lo kerja sama gue sebagai wakil ketua tim," ucap Raila.


"Memangnya yang lo buang itu beneran, lo gak bohongkan," ucap Isna.


"Gak kok, mungkin juga lo bakal jadi ketuanya," ucap Raila.


"Hah! kok gue," ucap Isna.


"Nanti gue pikirin lagi lah, lo tenang aja lo gak bakal nganggur kok," ucap Raila.


"Kamu juga bisa kerja di Revion grup nanti akan saya sampaikan secara langsung ke HRD," ucap Farel.


"Wah! boleh juga itu, keren banget gue. belum sempat jadi pengangguran udah di tawarin kerja di Revion grup pula," ucap Isna.


"Yang lainnya Uda pergi ya kok kantor udah sepi?" tanya Raila.


"Iya, semuanya udah ambil barang masing-masing, jujur gue masih gak percaya kalau si Dandi yang udah ngelakuin semua ini. Padahal banyak dari anak-anak yang percaya sama Dandi, eh taunya dia yang ngehancurin perusahaan, tapi gue seneng sih karena gue gak terllau suka sama Dandi dari awal dia kerja di sini kayak sok berkuasa gituloh apalagi semenjak jadi ketua tim," ucap Isna.


"Emang lo pikir gue suka, enggaklah gue mah cuma diem soalnya agak takut aja dulu gitu sama dia. Lo tak tahu sendiri kalau si Dandi gak bisa di bantah kalau di bantah kita di marah-marahin terus di salahin gitu kerjaan kita," ucap Raila.


"Bener," ucap Isna.


"Hai semuanya!" sapa Dahri, yang batu saja bergabung dengan mereka bertiga.


Raila yang melihat Dahri pun melangkah mundur dan memeluk lengan kekar Farel. Sedang, Isna yang melihat Raila seolah ketakutan saat melihat Dahri pun terkejut dan menatap Raila dan Dahri bergantian.


"Lo kenapa, Rai? ini Fandi btw kalua lo lupa sama temen lo, jadi gak usah takut. Dia bukan hantu kok," ucap Isna.


Raila tidak mendengar perkataan Isna, ia takut jika Dahri berbuat nekat padanya seperti saat beberapa hari yang lalu, dimana ia hampir saja bertunangan dengannya.


"Rai, gue mau minta maaf, gue tahu gue salah. Gue gak bakal lagi ngilangin tindakan bodoh yang pernah gue lakuin ke lo, sekarang gue sadar kalau selama ini gue obsesi sama lo dan sekarang gue mau memperbaiki semuanya, gue pengen kita kayak dulu sebelum lo tahu kalau gue suka sama lo," ucap Dahri.


"Hah! tunggu dulu. Maksud lo apa Ri? lo suka sama Raila sampe ke tahap obsesi, wah? apa aja yang lo lakuin ke Raila sampe radial kayak takut gitu sama lo?" tanya Isna.


"Gue udah ngelakuin hal yang benar-benar keterlaluan, gue bener-bener minta maaf Rai, gue bakal nerima apapun hukuman yang lo kasih ke gue," ucap Dahri.


"Rai, gimana lo mau maafin gue kan, kita kayak dulu lagi ya," ucap Dahri.


"Huh, gu - gue gak tahu harus percaya sama lo atau gak, Ri. Tapi, gue bakal coba buat baikan sama lo dan nganggep gak ada apa-apa antara kita, tapi gue harap lo bener-bener pegang janji lo," ucap Raila.


"Janji! gue bakal coba berubah," ucap Dahri, dengan semangat dan menghampiri Raila ingin memeluknya.

__ADS_1


Namun, sebelum gak tersebut tercapai Farel terlebih dahulu menghadang Dahri, "Raila mau maafin lo, tapi lo gak usah nyosor," ucap Farel.


"Hehehe, siap Pak bos," ucap Dahri.


"Nanti gue ceirtain sekarang lo sama gue pergi jalan-jalan aja gimana?" tanya Dahri.


"Gue sama lo, ogah ya. Gue mau cuci mata kali," ucap Isna.


"Udah cuci matanya sama gue aja," ucap Dahri dan merangkul pundak Isna.


"No no no," ucap Isna dan pergi meninggalkan Dahri.


"Gue pergi duluan ya, dia emang kayak gitu sok nolak padahal mah seneng banget," ucap Dahri, lalu pergi meninggalkan Farel dan Raila.


"Mereka kenapa kok aneh gitu?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


"Mungkin bentar lagi ada yang cinlok," ucap Farel.


Raila yang awalnya melihat kearah Dahri dan Isna pergi pun menghadap kearah Farel dan mengerutkan keningnya, "Siapa yang cinlok?" tanya Raila.


"Kamu mungkin," ucap Farel.


"Kok aku, aku kan udah lainya kamu. Masa aku cinlok sih, kalau aku cinlok itu artinya aku selingkuhin kamu dong," ucap Raila.


"Hah! maksudnya gimana sih Rel, jangan ribet-ribet kalau jelasinnya?" tanya Raila.


"Udah lupain aja, sekarang kita ke tempat buat kantor penerbitan kamu," ucap Farel.


"Kamu mau ikut?" tanya Raila dan diangguki Farel.


"Memangnya kamu gak sibuk ya kok sampe harus ikut?" tanya Raila.


"Kau sibuknya nanti siang, sekarang masih pagi. Jadi aku bisa kok nemenin kamu," ucap Farel.


"Yaudah, kalau gitu ayo," ajak Raila.


Setelah puas melihat kantor Gantari yang sudah tidak berbentuk layaknya kantor penerbitan, Raila dan Farel pun pergi menuju tempat yang akan digunakan Raila sebagai kantornya.


Beberapa saat kemudian, mereka berdua lun sampai di tempat tersebut, saat turun dari mobil. Raila benar-benar kagum karena menurutnya bangunannya terlalu bagus bahkan dapat Raila katakan jika bangunan yang ada di hadapannya ini tidak layak dijadikan kantor penerbitan dan lebih cocok dijadikan tempat tinggal.


"Rel, ini bukannya terlalu berlebihan ya," ucap Raila.

__ADS_1


"masa ini berlebihan sih sayang, ini malah masih kurang loh," ucap Farel.


Raila pun memukul lengan suaminya itu, "Gak usah aneh-aneh ya, inget! ini kantorku, jadi biar aku yang mutusin semua barang-barang dan juga segala ha yang akan digunakan di kantorku dan aku gak butuh bantuan kamu tahu," ucap Raila.


"Yaudah, kalau gitu kamu pake kartuku yang kemarin aku kasih ke kamu loh ya," ucap Farel.


"Hem, gak janji," ucap Raila.


"Ck, awas aja kalau gak kamu pake," ucap Farel.


"Iya, Tuan Zergan Gifarel Revion," ucap Raila.


"Aneh tahu Yang, kalau kamu manggil nama lengkap kayak gitu, tapi aku pegawaiku gak masalah soalnya emang udah sepatutnya mereka manggilnya kayak gitu," ucap Farel.


"Hem, kayaknya udah gak ada masalah sih sama bangunannya, jadi nanti aku langsung nyari alat-alat kantornya," ucap Raila.


"Emangnya kamu udah punya pegawai? kecuali Isna loh ya," tanya Farel.


"Belum, tapi aku kok gak yakin ya buat bangun kantor penerbitan," ucap Raila.


"Kenapa kok gak yakin?" tanya Farel.


"Sebentar lagi kan kita bakal pindah ke Belanda, jadi otomatis semua pekerjaanku yang ada di sini bakal terbengkalai," ucap Raila.


"Kan kamu masih punya pegawai," ucap Farel.


"Tapi, aku gak terlalu percaya, aku takut nanti pegawai yang aku pilih ternyata salah," y apa Raila.


"Katanya kamu mau rekrut Isna, kamu kan bisa percaya semuanya ke Isna," ucap Farel.


"Tapi, tetep aja Rel. Isna juga pasti banyak pekerja dan gak mungkin dia yang urus semuanya dan aku malah santai-santai di Belanda," ucap Raila.


"Terus aku maunya kayak gimana? kamu mau berhenti untuk buat kantor penerbitan atau lanjut, tapi ya resikonya kamu gak bisa ada di kantor kamu?" tanya Farel.


"Aku juga gak tahu, nanti aku coba bicara sama Isna enaknya gimana," ucap Raila.


"Aku bakal selalu dukung kamu," ucap Farel dan diangguki Raila.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2