Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Kamunya Jangan


__ADS_3

"Gue bersikap seolah-olah gue gak suka sama lo karena Vanya," ucap Isna.


"Hah! maksudnya?" tanya Raila.


"Vanya pernah tanya ke gue soal kejadian yang buat lo di pecat dari kantor, ya gue jawab apa adanya yang ada di pikiran gue, tapi ternyata Vanya gak suka dan dia nyuruh gue buat benci sama lo, kalau gak dia bakal hancurin toko Kakak gue," ucap Isna.


"Emang lo jawab apa ke Vanya?" tanya Raila.


"Gue bilang, 'gue percaya sama Raila karena bisa jadi itu tindakan orang lain yang tidak ingin ketahuan akhirnya dia menaruh uang tersebut ke loker Raila, lagi pula gue tahu Raila gimana. Dia gak mungkin kayak gitu, pasti ada yang sebagian jebak radial,'. Udah gue jawab gitu ke Vanya, tapi malah dia sama Dandi marah terus juga ada cewek gak tahu gue, tapi kalau gak salah namanya Angel deh dia juga marah-marah dan ngancem gue makanya tadi gue kayak benci sama lo, sorry ya," ucap Isna.


"Gapapa, thanks ya karena udah percaya sama gue," ucap Raila.


"Ngomong-ngomong yang bilang itu bener?" tanya Isna.


"Biang apa?" tanya Raila.


"Kalau Dandi yang nyuri uangnya," ucap Isna.


"Bener, gue sendiri yang lihat Dandi ngambil uangnya pas pagi-pagi belum ada yang berangkat," ucap Raila.


"Terus lo kenapa ada di sini?" tanya Isna.


"Gue mau lihat cctv siapa tahu masih ada," ucap Raila.


"Lo gak bakal bisa masuk Rai, gimana kali gue bantu lo buat cek cctv," ucap Isna.


"Gapapa emangnya? gue takutnya malah ngerepotin lo lagi," tanya Raila.


"Gapapa kali, kayak ama siapa aja, gue masih temen lo kan," ucap Isna.


"Masih dong, gue pergi dulu deh takutnya ada yang ngelihat," ucap Raila dan diangguki Isna.


Raila menaiki taksi dan segera pulang karena ia belum mengatakan pada Farel jika dia ke kantornya dulu, "Semoga Farel belum pulang," gumam Raila.


Raila dapat pergi dari rumah karena memang tadi dulu ruang sepi dan dia juga pergi secara diam-diam bahkan tadi Raila sampai melepaskan high heels-nya dan berjinjit agar tidak mengeluarkan suara saat keluar rumah.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Raila pun sampai di kediaman Revion yang sangat megah baginya, sejujurnya Raila masih tidak menyangka karena ia menikah dengan seorang pria terkaya di negerinya, bahkan banyak pebisnis yang ingin bekerjasama dengan Farel.


Justru Farel sering menolak tentunya melalui bawahannya, Raila hanya tahu Evan karena memang orang yang sering mewakili Farel dan juga mengurus segala hal saat di publik adalah Evan. Selanya Raila tidak percaya saat mengetahui jika Farel adalah Tuan Zergan dan Papa Aaron adalah Tuan Revion.


Bagaimana tidak, dua pria yang sangat di hormati di negeri ini bahkan Raila pernah mendengar jika seseorang berhasil bertemu dan berbicara langsung dengan Tuan Zergan dan Tuan Revion, maka mereka jamin hidup orang tersebut akan aman dan makmur.


Hal itulah yang di pikirkan Raila saat ini, Raila berpikir mungkin inilah yang dimaksud oleh orang-orang di luar sana, Raila tidak perlu takut menghadapi kejamnya dunia.


Raila masuk ke dalam rumah karena tidak melihat siapapun di ruang tamu ataupun dapur akhirnya Raila memutuskan untuk masuk ke dalam kamar. Namun, Raila dikejutkan saat melihat Farel yang tengah duduk manis di sofa kamar mereka, Farel menatap kearah Raila dengan tatapan yang super duper tajam.


"Kemana aja?" tanya Farel.


"Hem, aku ada urusan, kenapa kamu udah pulang? bahkan ini masih belum jam istirahat, ada yang ketinggalan ya?" tanya Raila, yang meletakkan tas dan sepatu.


Raila berusaha agar menghindari tatapan tajam dari Farel, meksipun Raila masih marah pada Farel. Tapi, ia tidak berani jika harus marah saat Farel marah karena sebenarnya bagi Raila, Farel itu orang yang cukup menakutkan.


"Urusan apa sampai gak ngabarin?" tanya Farel.


Raila meneguk ludahnya kasar, ia benar-benar takut saat mendengar pertanyaan Farel apalagi dengan suara serak Farel yang tersirat kemarahan di dalamnya.


"I - itu a - aku ada urusan u - urusan-," ucap Raila gugup.


"Huh, a - aku tadi ke kantor," ucap Raila.


Raila memilih jujur karena ia tidak memilih alasan lain, Raila bukan tipe orang yang suka mencari alasan apalagi alasan yang klise karena akan ketahuan bukan, tapi bukan berarti Raila tidak suka berbohong. Sering, Raila sering berbohong, tapi untuk kali ini ia tidak berbohong karena ia tidak menemukan alasan yang tepat.


"Ngapain ke kantor?" tanya Farel, yang masih dalam posisi yang sama seperti tadi.


"Aku mau cari bukti kalau aku itu gak salah, aku gak nyuri uang itu. Tapi, gak ada yang percaya semuanya bilang kalau aku pencuri padahal aku gak ngambil uang itu, yang ngambil uang itu Dandi. Dia nuduh aku, dia kerjasama sama Angel, aku yakin itu. Maaf, karena gak ngabarin kamu, tapi aku gak mau ngerepotin kamu, aku yakin aku bisa ngatasin semuanya, jangan marah aku takut kalau lihat kamu marah, cukup aku aja yang sering marah ke kamu, kamunya jangan! Hiks hiks hiks," ucapan Raila.


Gagal sudah pertahanan Raila, ia pun menangis setelah mengatakan hal tersebut. Raila merasa segala unek-uneknya tersampaikan. Raila malu setelah mengatakannya apalagi kalimat terakhir yang sangat absurd bagi Raila.


Sementara Farel yang melihat istrinya duduk di ranjang dengan tangisan yang cukup kencang pun segera berjalan menghampiri istrinya itu.


"Aku gak marah, aku cuma tanya aja," ucap Farel, dengan lembut.

__ADS_1


"Gak marah apanya, orang tadi kamu tanyanya gak bisa santai," omel Raila.


"Masa sih, mungkin aku tadi cuma khawatir aja sama kamu, mana kamu gak ngabarin aku lagi kalau mau pergi," ucap Farel.


"Maaf," ucap lirih Raila.


"Iya gapapa," ucap Farel.


"Kenapa kamu bisa pulang jam segini?" tanya Raila.


"Aku pemiliknya, jadi terserah aku dong," ucap Farel.


"Ck, aku serius, Rel," ucap Raila.


"Hehehe, iya Yang. Gitu aja marah, jadi sebenarnya aku tadi udah kirim pesan ke kamu, tapi gak kamu balas-balas yaudah aku telpon, tapi gak kamu angkat akhirnya aku pulang aja dan gak lihat kamu dimanapun aku tanya ke pelayan gak ada yang tahu. Aku tanya pengawal katanya kamu keluar mau ke kantorku dan pas aku tanya ke Evan kamu gak ke kantor. Jadi aku nungguin kamu," ucap Farel.


"Udah berapa lama kamu nungguin aku?" tanya Raila.


"Hampir dua jam," ucap Farel.


"Hah! lama banget," ucap Raila.


"Nah makanya itu, gimana kalau sekarang kamu aku kasih hukuman," ucap Farel.


"Hukuman apa? jangan berat-berat loh ya hukumannya," ucap Raila.


"Gak akan sayang," ucap Farel, dengan suara seraknya.


Raila yang mendengar suara Farel pun mulai paham dan tubuhnya tiba-tiba saja merinding. Baru saja Farel akan menyatukan bibirnya tiba-tiba pintu kamar terbuka dengan lebar bahkan suara pintu tersebut saat terbuka cukup keras.


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


*Masih banyak kesalahan dalam penulisan, nanti akan author review kembali.


__ADS_2