Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Memanfaatkan Kesempatan


__ADS_3

"Lo salah karena banyak yang lebih suka kerja lo daripada gue, padahal gue udah kerja keras," ucap Dandi.


"Hanya karena itu lo gak bisa ngelakuin semua ini ke gue, Dan," ucap Raila.


"Gue bisa bahkan gue bisa ngelakuin hal lebih dari ini, karena semua orang udah tahu semuanya, jadi gue bakal akhiri drama ini," ucap Dandi, lalu mendekat ke arah Raila.


Nun, sebelum berhasil sampai pada Raila, Farel menghadang Dandi hingga saat ini mereka berdua saling berhadapan dan Raila berada di belakang Farel.


"Gue gak bakal biarin lo ngelakuin hal lebih ke Raila," ucap Farel.


"Lo pikir gue takut, oke karena lo gak mau gue berbuat lebih sama istri lo, maka gantinya lo yang bakal gantiin dia," ucap Dandi.


"Boleh, tapi kalau lo bisa," ucap Farel.


Hal yang tak terduga pun terjadi dimana Dandi mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya dan mengarahkannya pada Farel. Namun dengan cepat Farel memegang lengan Dandi sehingga data ini pisau tersebut berada di depan wajah Farel.


"Lea, bawa Raila menjauh dari sini," ucap Farel.


"Siap, Kak," ucap Lea.


"Ayo, Kak," ajak Lea.


"Tapi, Farel masa kita tinggalin Farel sama dia, kalau Farel kenapa-napa gimana?" tanya Raila.


"Kak Farel tahu caranya jaga diri dan Lea yakin Kak Farel bakal baik-baik aja," ucap Lea.


Lea pun berhasil membujuk Raila dan saat ini mereka sudah menjauh dari Farel dan Dandi yang siap baku hantam, bukan hanya radial dan Lea. tapi, hampir semua orang yang ada di sana juga menjauh karena Dandi mengeluarkan pisau lipat tadi.


Setelah melihat semua orang menjauh, Farel pun mulai menyerang Dandi. Berkali-kali pukulannya mengenai tubuh Dandi, tapi laki-laki itu tetap bisa bertahan dan melawannya. Bahkan Dandi sempat menendang dadanya dan tentunya itu membuat Farel menjadi mundur kebelakang.


Farel dan Dandi pun maju dan serang menyerang pun tidak dapat dihindari hingga saat Farel merasa jika Dandi mulai tidak berdaya pun mendekat untuk memperingati Dandi.


"Lo jangan pernah ganggu Raila lagi," ucap Farel.


"Lo pikir gue bakal nurutin kemauan lo, jawabannya adalah gak akan pernah gue nurutin kemauan lo," ucap Dandi, yang mencoba untuk berdiri.


Tapi, berkali-kali Dandi mencoba berdiri tetap saja ia terjatuh kembali. Dandi yang melihat pisau lipat yang tadi ia bawa tergeletak saat pertarungannya tadi dan di dekat Farel pun segera meraihnya dan menusuk dada Farel.


Farel sendiri merasakan pergerakan dari Dandi dan benar saja ternyata Dandi sudah mulai berdiri dan menariknya, untung saja Farel dengan cepat menghindar dan alhasil pisau yang di bawa Dandi tadi mengenai tangan kanannya.


Darah Farel mulai bercucuran dan tentu saja hal itu membuat Raila terkejut, Raila segera berlari ke arah Farel yang masih berdiri. Jujur saja Farel tidak terllau merasakan sakit di tangannya. Namun, saat melihat Raila yang menghampirinya dan menangis membuat ide liar Farel muncul.

__ADS_1


Farel tiba-tiba saja mengaduh kesakitan di hadapan Raila dan tentu saja Raila dengan cepat meraih tangan Farel, lalu melihat tangan yang terluka tersebut.


"Pasti sakit ya hiks hiks," ucap Raila, Raila benar-benar tidak tega melihat Farel kesakitan apalagi darah yang keluar tidaklah sedikit.


"Aku gapapa sayang," ucap Farel, dengan pura-pura menahan rasa sakit.


"Ayo kita ke ruang sakit buat obati luka kamu, aku gak terima penolakan," ucap Raila dan mau tidak mau Farel pun mengikutinya.


Sebelum pergi dari tempat tersebut, Farel melihat ke arah Dandi yang sedang duduk karena tadi sebelum Raila menghampirinya, Farel sempat menendang dada Dandi karena Dandi menekan pisau lipatnya yang ada di tangan Farel.


"Van, lo urus dia. Bawa dia ke penjara kalau bisa, eh jangan ke penjara deh, mending lo bawa dia ke rumah sakit jiwa," ucap Farel.


"Siap Pak Bos," ucap Evan.


"Terus Lea sama siapa?" tanya Lea.


"Kamu pulang aja, tapi jangan kasih tahu Mama masalah ini, nanti biar Kakak yang bilang ke Mama," ucap Farel.


"Siap Kak," ucap Lea.


Farel dan Raila pun saat ini berada di rumah sakit, Raila dengan sabar menunggu sampai Farel di obati.


"Gue bukan lebay, gue cuma kaget aja orang kayak lo bisa luka kayak gini," ucap James.


Dokter James merupakan teman masa SMA Farel, sebab itu Farel bisa mengenalnya bahkan saat mereka sekolah dulu, mereka dikenal sebagai siswa yang tidak akur karena memang James merupakan anggota OSIS yang terllau disiplin. Sedang, Farel murid bakal yang selalu terkena amukan para anggota OSIS terutama James.


"Ck, cepet napa," ucap Farel.


"Sabar napa Rel, lo gak pernah berubah ya dari dulu selalu ngegas," ucap James.


"Oke, udah selesai," ucap James.


"Nanti kalau lo keluar bilang ke cewek yang lagi nungguin gue kalau gue gapapa," ucap Farel.


"Cewek? siapa tuh cewek? lo udah punya pacar? emangnya lo udah bisa ngelupain Jihan?" tanya James.


"Lo lupa kalau gue gak suka Jihan, bahkan pas dia nembak gue di tengah lapangan aja gue tolak," ucap Farel.


"Mulai sombong lo," ucap James.


"Udah sana pergi," usir Farel.

__ADS_1


"Ck, iya iya, gue jadi dokter lo gak ada Harag dirinya sama sekali," ucap James, lalu keluar dari ruangan tersebut dan benar saja kata Farel jiak ada seorang perempuan yang menunggu di depan ruangan tersebut.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?" tanya Raila.


Pertanyaan Raila membuat James yang mendengar kata suami pun terkejut, ia kira perempuan yang adakah pacar atau hanya kenalannya saja, tapi nyatanya perempuan tersebut adalah istri dari musuhnya saat sekolah dulu.


"Oh, anda istrinya pasien ya?" tanya James.


"Iya, saya istrinya pasien, kalau boleh tahu bagaimana kondisi pasien ya dok?" tanya Raila.


"Anda tidak perlu khawatir karena kondisi pasien baik-baik saja, dan pasien sudah boleh pulang," ucap James.


"Ah, kalau begitu bisa saya masuk ke dalam ruangan tersebut dok?" tanya Raila.


"Silahkan," ucap James.


Setelah dipersilahkan dokter untuk masuk ke sama ruangan tersebut, Raila pun masuk ke dalam dan minat Farel yang duduk di sofa ruangan tersebut.


"Kenapa gak tiduran di ranjang?" tanya Raila.


Farel yang awalnya menatap langit-langit ruangan tersebut pun mengalihkan pandangannya dan melihat perempuan cantik yang sangat ia cintai, "Lagu pengen duduk di sofa aja," ucap Farel dan Raila pun menganggukkan kepalanya.


"Ada yang sakit gak selain tangan?" tanya Raila.


Raila menanyakan hal tersebut karena ia melihat lebam di wajah tampan Farel dan Raila rasa itu sakit. Namun, Farel justru menggelengkan kepalanya dan menatap Raila.


"Gak ada yang sakit kok, yang sakit cuma tangan aja," ucap Farel.


Farel berbohong sebenarnya ia tidak merasa sakit di bagian manapun, tapi ia harus bisa memanfaatkan kesempatan bukan, karena itu inilah saatnya ia memanfaatkannya.


"Beneran?" tanya Raila.


"Iya sayang," ucap Farel.


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2