
Saat dalam perjalanan pulang tiba-tiba saja Raila melihat penjual koran dan saat lampu merah Raila pun menguak jendelanya, "Dek, beli semuanya ya," ucap Raila.
"Semuanya Kak," ucap penjual koran tersebut yang usianya sekitar 10 tahun.
"Iya," ucap Raila.
"Ini kak," ucapnya.
"Semuanya berapa?" tanya Raila.
"Semuanya 89 ribu Kak," ucapnya.
"Ini uangnya," ucap Raila dan memberikan uang pada anak itu.
"Loh Kak ini kebanyakan, saya gak punya kembaliannya. Ada uang pas aja gak Kak," ucapnya.
"Saat juga gak punya uang pas, yaudah kalau gitu kamu ambil aja kembaliannya," ucap Raila.
"Ini saya kembalikan 900 ribu dan uang saya tadi jualan," ucapnya.
"Gak usah kamu ambil aja dan bagi-bagi sama temen kamu," ucap Raila.
"Beneran Kak?" tanyanya.
"Iya," jawab Raila.
"Terima kasih Kak," ucapnya dan diangguki Raila.
Beberapa saat kemudian, lampu pun berubah menjadi hijau dan Pak Diki segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman Revion.
"Sayang, kamu gapapa dah pulang," ucap Mama Aurel.
"Iya, Ma. Mama lagi apa?" tanya Raila.
"Ini Mama lagi buat rangkaian bunga nanti rencananya mau Mama taruh di ruang tamu atau gak di taman belakang," ucap Mama Aurel.
"Bunga mawar ya bagus, Ma," ucap Raila dan duduk di sebelah Mama Aurel.
"Iya, soalnya bunga-bunga ini masih seger sayang," ucap Mama Aurel.
"Oh iya, kamu suka bunga apa?" tanya Mama Aurel.
"Sebenarnya Raila kalau bentukannya itu suka sama bunga mawar, tapi kalau baunya Raila suka bunga melati," ucap Raila.
"Sama dong Mama juga suka banget sama aromanya bunga melati, kayak segera gitu gak sih," ucap Mama Aurel.
"Iya bener Ma, dulu pas kuliah Raila pernah pake parfum aroma melati eh sama Farel disuruh ganti katanya dia takut padahal aromanya itu enak banget loh," ucap Raila.
"Emang Farel itu anaknya pengecut," ucap Mama Aurel.
"Lea sama Naomi udah pergi, Ma?" tanya Raila.
"Mereka ada kok di taman belakang gak tahu ngapain, kayaknya mereka ngobrol gitu," ucap Mama Aurel.
Raila pun membantu Mama Aurel untuk merangkai beberapa bunga yang tadi Mama Aurel beli.
"Bagus banget rangkaiannya sayang," puji Mama Aurel.
__ADS_1
"Masa sih, Ma. Raila kira malah agak sederhana gitu, punya Mama bagus warna warni gitu, tapi kalau punyanya Raila kayak monoton gak sih," ucap Raila.
"Gak kok, punya kamu bagus. Yaudah kalau gitu yang punya kamu ditaruh di ruang tamu aja terus yang punya mama ditaruh di taman belakang," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
Setelah Raila meletakkan rangkaian buangannya di pot yang ada di ruang tamu, Raila dan Mama Aurel pun menuju taman belakang, di sana juga ada pot kosong yang akan di gunakan untuk meletakkan rangkaian bunga dari Mama Aurel.
"Wah! bagus Tante," ucap Naomi.
"Iya dong," ucap Mama Aurel.
"Mama mau taruh itu di sini?" tanya Lea.
"Iya, soalnya yang di ruang tamu udah ada rangkaian yang dibuat sama menantu Mama, jadi yang punya Mama ditaruh di sini aja," ucap Mama Aurel.
"Kalian lagi ngapain?" tanya Raila.
"Kita lagi santai sih kak," ucap Lea.
"Kenapa gak pergi? biasanya kan kalau anak muda kayak kalian sukanya jalan-jalan kalau ketemu," tanya Raila.
"Jalan-jalannya kita nanti malam Kak, kalau sekarang kita santai dulu," ucap Naomi.
"Emang mau jalan-jalan kemana kalian?" tanya Raila.
"Hem, nanti kita mau ke pasar malam terus pokoknya tempat yang bukanya malam gitu Kak," ucap Lea.
"Tapi, inget pulangnya jangan malam-malam, kalau sampe Papa kalian berdua tahu bisa-bisa hancur dunia ini," ucap Mama Aurel.
"Iya, Ma," ucap Lea.
"Iya, Mamaku sayang ini Lea udah izin ke Mama kan," ucap Lea.
"Bukan ke Mama, tapi ke Papa," ucap Mama Aurel.
"Hehehehe, siap Mama," ucap Lea.
"Mama mau bikin kue ada yang mau ikut?" tanya Mama Aurel.
"Raila mau ikut dong, Ma. Raila pengen banget bisa bikin kue," ucap Raila.
"Yaudah ayo sayang," ucap Mama Aurel.
"Kakak pergi dulu ya," pamit Raila, pada Lea dan Naomi.
"Iya Kak," ucap Naomi.
"Mama nanti kalau kuenya udah jadi jangan lupa bawa ke sini ya," ucap Lea.
"Dasar anak tidak tahu diri malah nyuruh orangtua," ucap Mama Aurel.
"Hehehehe,".
"Mama emangnya mau buat kue apa?" tanya Raila.
"Kamu harus tahu sayang kalau keluarga Revion itu suka sama kue brownies, bahkan Mama pernah buat lebih dari 3 kue brownies, tapi dalam sehari kue itu habis," ucap Mama Aurel.
"Wah! Raila jadi gak sabar nyobain kue browniesnya," ucap Raila.
__ADS_1
"Kalau gitu sekarang kita let's go bikin," ucap Mama Aurel.
Raila pun membantu Mama Aurel meskipun hanya mengaduk adonannya dan sesekali melakukan apa yang dikatakan Mama Aurel, data sedang mengaduk adonan tiba-tiba saja Raila teringat sesuatu.
"Hem, Ma," panggil Raila.
"Iya, kenapa sayang?" tanya Mama Aurel.
"Mama ingetkan saat Raila di usir dari kos dan akhirnya Raila tidur di bawah jembatan," ucap Raila.
"Iya, Mama inget kenapa memangnya?" tanya Mama Aurel dan memberhentikan kegiatannya lalu menatap menantu kesayangannya itu.
"Hem, sebenarnya Raila mau tanya aja ke Mama apa boleh Raila bawa Bu Yeni yang udah bantu Raila saat itu karena kalau gak ada Bu Yeni mungkin Raila gak bakal bisa ketemu sama Farel dan Raila masih lontang lantung di jalanan," ucap Raila.
"Kamu mau balas kebaikannya Bu Yeni?" tanya Mama Aurel dan diangguki Raila.
"Mama sih setuju aja, Mama gak masalah justru Mama seneng karena rumah jadi rame," ucap Mama Aurel.
"Beneran Ma gapapa?" tanya Raila.
"Iya, sayang gapapa, kapan kamu mau bawa Bu Yeni ke sini?" tanya Mama Aurel.
"Raila juga belum tahu, Ma. Raila masih belum bilang ke Bu Yeni dan Raila juga belum tahu Bu Yeni mau atau gak," ucap Raila.
"Yaudah, kalau gitu nanti kamu tanyakan ya," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
.
Malam harinya Raila berada di kamar sendirian karena Farel sedang ada urusan dengan Papa Aaron, karena bosan Raila pun menuju balkon untuk menyegarkan otaknya. Banyak hal yang harus ia pikirkan "Gimana caranya gue buktiin kalua gue gak salah, semua ini salah Dandi. Dia licik gue kira dulu dia pinter gitu eh taunya di licik kayak gini," ucap Raila.
"Kenapa di luar emangnya gak dingin apa?" tanya Farel dan menghampiri Raila lalu memeluk Raila dari belakang.
Raila yang tadinya melamun pun tersentak mendengar suara Farel.
"Kenapa hem?" tanya Farel lagi karena Raila tidak menjawabnya.
"Gapapa kok," jawab Raila.
"Beneran gapapa?" tanya Farel.
"Iya," jawab Raila.
Sebenarnya Farel merasakan jika Raila memiliki banyak masalah karena Farel dapat melihat jika Raila akhir-akhir ini sering melamun. Namun Farel juga tidak bisa memaksakan Raila pun mengatakan padanya meskipun ia adalah suaminya.
Hanya keheningan yang ada di sana, baik Raila ataupun Farel enggan membuka suaranya, Raila yang merasa canggung pun akhirnya memecah keheningan tersebut.
"Rel," panggil Raila.
"Kenapa?" tanya Farel.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1