Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Sebagai Penyemangatku


__ADS_3

Sudah dua hari Lexa tinggal di apartemen Farel dan selama itu pula Farel tidak banyak bicara baik itu pada Raila ataupun pada Lexa.


"Kak, Kak Farel masih marah ya sama Lexa?" tanya Lexa.


"Gak kok, nanti biar Kakak yang bilang ke Farel," ucap Raila.


"Tapi, kok Kak Farel kayak kelihatan banget gak suka sama Lexa," ucap Lexa.


"Kamu gak boleh mikir kayak gitu, Farel orangnya gak kayak yang kamu pikirin kok," ucap Raila.


Saat ini Raila dan Lexa sedang berada di ruang tamu dan tiba-tiba bel pintu apartemen berbunyi, "Kamu pesen sesuatu?" tanya Raila.


"Gak, Kak. Lexa gak beli apa-apa kok," ucap Lexa.


"Yaudah, kalau gitu Kakak buka pintu dulu," ucap Raila dan membukakan pintu.


Raila terkejut saat membuka pintu, bagaimana tidak didepannya saat ini tengah berdiri seorang pria yang usianya lebih tua pria tersebut daripada Raila, "Kak Tama," ucap Raila.


"Rai, Lexa ada di dalam?' tanya Tama.


"I-iya Kak, ayo masuk," ajak Raila.


"Siapa Kak?" tanya Lexa.


Baru saja Raila akan menjawab pertanyaan dari Lexa tiba-tiba Tama berlari kearah Lexa dan memeluk adiknya itu, "Sayang, kamu kemana aja kenapa kamu pergi dari aku?" tanya Tama, yang masih memeluk Lexa.


Raila menatap tidak percaya dengan pemandangan yang ada di depannya, 'Gila, Lexa kok bisa dapetin Kak Tama. Kalau orang yang gak tahu mereka pasti bakal ngira Lexa lagi sama bapaknya, tapi Lexa cantik loh kok bisa dapet om-om kayak Kak Tama sih,' ucap Raila dalam hati


"Kok kamu ada di sini?" tanya Lexa dan melepaskan pelukan Tama.


"Aku di kasih tahu Tuan Zergan, dia bilang kalau kamu ada di sini. Makanya aku kemarin langsung pesan tiket dan tadi aku baru sampe," ucap Tama.


"Ternyata kau sudah sampai," ucap Farel, yan baru saja keluar dari kamar.


"Tuan Zergan," sapa Tama dan membungkukkan badannya.


"Rel, kamu yang udah ngasih tahu Kak Tama kalau Lexa ada di sini?" tanya Raila.


"Kita duduk dulu," ucap Farel.


"Jadi gimana?" tanya Raila, setelah mereka duduk.


"Iya, aku yang kasih tahu Tama soal Lexa yang ada di sini," ucap Farel.


"Bukannya kamu bakal pulangin Lexa, tapi kok malah ngasih tahu Lexa ke Kak Tama?" tanya Raila.


"Tama adalah ayah dari anak yang dikandung Lexa dan menurutku wajar kalau Tama tahu soal keberadaan Lexa dan aku juga gak mau Tama ataupun Lexa kayak kita dulu yang kehilangan anak kita," ucap Farel.


"Kamu bener, aku harusnya gak boleh egois. Bagaimanapun Kak Tama itu tetep ayah dari anak yang dikandung Lexa, harusnya aku hubungin Kak Tama dan bukannya nyembunyiin semuanya," ucap Raila, yang merasa bersalah karena tidak memberitahu Tama.


"Kamu gak salah sayang, gak ada yang salah dalam hal ini," ucap Farel.


"Sekali lagi saya berterima kasih pada Tuan Zergan yang memberitahukan semuanya pada saya dan juga pada Nyonya Raila, saya tidak tahu kalau tidak ada Nyonya bagaimana nasib Lexa dan anak saya," ucap Tama.

__ADS_1


"Jangan panggil Nyonya, Kak. Panggil Raila aja," ucap Raila dan diangguki Tama.


"Kau akan bawa Lexa kembali atau bagaimana?" tanya Farel.


"Saya akan bawa Lexa kembali ke besok dan untuk hari ini saya ingin membawa Lexa untuk tinggal di hotel bersama saya," ucap Tama.


"Semuanya aku serahkan ke Lexa, kalau dia mau ya silahkan kalau tidak ya kau tidak perlu memaksanya biarkan dia di sini terlebih dahulu," ucap Farel.


"Bagaimana?" tanya Raila.


"Lexa sama Tama aja Kak," ucap Lexa dan diangguki Raila.


"Kalau gitu Kakak siapin barang-barang kamu ya," ucap Raila.


Beberapa saat kemudian, Raila pun selesai menyiapkan barang-barang Lexa, saat Lexa akan pergi Raila terlebih dahulu memeluk adiknya itu, "Kamu hati-hati ya, jaga kesehatan kamu Kakak gak sabar pengen ketemu sama baby-nya," ucap Raila.


"Iya, Kak makasih ya Kak Raila udah mau bantu Lexa," ucap Lexa.


"itu udah kewajiban Kakak sebagai Kakak kamu," ucap Raila.


Lexa berada di hadapan Farel dan tersenyum, "Kak Farel terima kasih ya karena udah mau nampung Lexa di apartemen milik Kak Farel, Lexa gak tahu lagi mau kemana kecuali ke sini," ucap Lexa.


Farel diam sejenak lalu memeluk Lexa dan mengusap kepala Lexa, "Itu udah tugas Kakak sebagai Kakak ipar kamu, mulai sekarang anggap Kakak sebagai Kakak kamu kayak kamu nganggep Raila. Kalau ada apa-apa jangan sungkan buat ngasih tau Kakak ya," ucap Farel.


"Makasih Kak," ucap Lexa.


"Kami permisi," pamit Tama.


Mereka berdua pun pergi meninggalkan Farel dan Raila, "Kamu gak marah sama Lexa?" tanya Raila.


"Ya, aku kirain kamu marah sama Lexa karena sikap dai seakan ini yang kasar sama kamu," ucap Raila.


"Aku emang marah, tapi itu dulu sekarang sih udah gak," ucap Farel.


'Karena ada orangtua kamu yang jadi pelampiasan marahku,' ucap Farel dalam hati.


"Kamu mau makan apa?" tanya Raila.


"Aku masih belum lapar, gimana kalau kita ke kantorku aja?" tanya Farel.


"Aku?" tanya Raila dan diangguki Farel.


"Tapi, buat apa aku ke kantor kamu yang ada nanti aku malah ngacauin kerjaan kamu lagi?" tanya Raila.


"Kamu di sana itu sebagai penyemangatku dan bukan ngacauin kerjaanku," ucap Farel.


"Kamu makin pinter sih gombalnya sampe terpesona tau gak aku sama kamu," ucap Raila.


"Hehehe, yaudah kita ke kantorku sekarang ya," ajak Farel dan diangguki Raila.


Beberapa saat kemudian, Farel dan Raila pun sampai di kantor Farel, "Ini kantor kamu?" tanya Raila.


"Iya, gimana bagus gak?" tanya Farel.

__ADS_1


"Bagus banget designnya unik gitu beda sama yang di Indonesia yang terlihat mewah kalua di sini kelihatan anak muda banget banyak warna mencolok di designnya," ucap Raila.


"Kamu tau gak kalau anak muda di sini itu lebih suka bekerja saat tempat kerja mereka menarik untuk dilihat, makanya kenapa hampir seluruh gedung perkantoran di sini banyak yang unik dan beda dengan di Indonesia," ucap Farel.


"Oh gitu, makanya aku daritadi lihat banyak bangunan yang unik gitu, tapi bagus," ucap Raila.


"Yaudah, ayo masuk," ajak Farel.


Mereka berdua pun masuk ke dalam gedung tersebut, "Selamat siang Tuan," ucap seorang perempuan.


"Evelyn kenalkan ini Raila istriku dan Raila kenalkan ini Evelyn orang kepercayaanku," ucap Farel.


Raila tersenyum pada Evelyn dan begitupun sebaliknya, "Senang bertemu dengan anda," ucap Evelyn.


"Saya pun juga begitu," ucap Raila.


"Bagaimana dengan perkembangan di sini?" tanya Farel.


"Semuanya Saman tidak ada yang bermasalah untuk bagian keuangan, mungkin kita hanya ada beberapa kendala masalah marketing dan produksi, anda pun tahu bagaimana permasalahan yang dihadapi bukan. Sebab itu saya meminta anda secara langsung untuk memeriksanya kemarin," ucap Evelyn.


"Kemarin aku udah periksa di bagian marketing dan mulai merubah beberapa sistem dan sekarang aku akan memeriksa bagian produksi," ucap Farel.


"Baik, kalau begitu akan saya sampaikan pada tim produksi," ucap Evelyn.


"Aku akan memeriksanya sendiri dan kau temani istriku," ucap Farel.


"Baik, Tuan," ucap Evelyn.


"Sayang, aku pergi dulu ya. Kamu hari ini sama Evelyn dulu dia yang akan nemenin kamu," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Kalau boleh tahu berapa usia anda? saya lihat anda sepertinya lebih tua daripada saya" tanya Raila.


"Usia saya 32 tahun Nyonya," ucap Evelyn.


"Berarti usia kita tidak terlalu jauh," ucap Raila.


"Wah! ini lucu sekali jepit rambutnya," ucap Raila dan mengambil jepit rambut yang ada di meja kerja Evelyn.


"Itu milik putri saya, kemarin dia datang ke kantor dengan suami saya," ucap Evelyn.


Raila sontak menoleh pada Evelyn, "Anda sudah menikah?" tanya Raila.


"Iya, bahkan saya sudah memiliki 3 anak, anak pertama saya berumur 13 tahun, yang kedua berumur 10 tahun dan yang terakhir 4 tahun," ucap Evelyn.


"Wah! kapan-kapan kita harus bertemu," ucap Raila dengan tersenyum.


"Harus, sepertinya anak saya akan senang bertemu dengan anda," ucap Evelyn.


.


.


.

__ADS_1


Tbc


__ADS_2