Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Gak Tahu Malu


__ADS_3

"Tapi, dia kurang ajar karena sudah berkata kasar pada Nenek Maria," ucap Mama Sena.


"Memang pantes kok, lagi pula saya kan cuma bilang yang sebenarnya," ucap Raila.


"Tetap saja Nenek Maria itu ibu kandung Papa kamu dan sekaligus Nenek kamu, jadi kamu harus bicara yang lebih sopan," ucap Mama Sena.


"Bagi saya, saya sudah tidak punya keluarga," ucap Raila.


"Kamu benar-benar tidak sopan ya!" bentak Nenek Maria.


"Sudah saya bilang jangan bentak menantu saya!" teriak Mama Aurel.


Teriakkan Mama Aurel membuat Nenek Maria terdiam bahkan seluruh keluarga Laksani pun ikut terdiam, Farel yang melihatnya hanya tersenyum.


'Mereka belum tahu aja gimana kalau perempuan keluarga Revion marah, huuu menyeramkan,' ucap Farel dalam hati.


"Ada apa ini? kenapa Mama teriak?" tanya Papa Aaron, yang baru saja masuk ke dalam rumah.


Papa Aaron tidak sendirian, ia membawa pasukannya, siapa lagi kalau bukan sahabat-sahabat Farel, tapi kali ini bukan jaya mereka saja karena hari ini orangtua mereka juga ikut.


"Aulia!" pekik Mama Aurel, saat melihat sahabat-sahabatnya datang ke rumahnya.


"Astaga, Rel. Jangan teriak-teriak," ucap Tante Aulia, orangtua Marvel.


"Padahal kita masih satu negara, tapi kita jarang bahkan hampir gak pernah ketemu ya," ucap Mama Aurel.


"Mama kan kalau mau keluar males," ucap Marvel.


"Hush, anak kecil diam," ucap Tante Aulia.


"Kita duduk jangan berdiri," ucap Mama Aurel.


Mereka pun menuju sofa ruang tamu yang mana di sana masih ada keluarga Laksani, "Oh! ada tamu, Ma. Kenapa gak ngasih tahu Papa kalau gitu tadi Papa cepet pulang," ucap Papa Aaron.


"Gak perlu, Pa. Lagian ini tamunya mau pulang kok," ucap Farel.

__ADS_1


"Oh yaudah kalau gitu kalian pulanglah, Pitu keluar ruang ini masih terbuka bahkan sangat terbuka untuk kalian sekeluarga," ucap Papa Aaron, yang secara tidak langsung mengusir keluarga Laksani dari rumahnya.


"Tapi, kalua pintu masuknya agak susah soalnya pintu rumahnya udah mulai usang dan juga karatan, jadi kalau mau dibuka butuh usaha, buka dikit nanti roboh rumahnya," ucap Farel.


"Ck, kalian ini kalau bicara itu yang jelas dong, mana paham mereka kalau kalian bicara kayak gitu, jadi maksudnya ayah dan anak itu tadi. Kalian bisa pergi sekarang karena saat ini keluarga Revion sedang ada tamu yang lebih penting," ucap Om Zack.


"Wah! bokap gue itu, keren banget!" pekik Joven, yang ada di meja makan bersama dengan Lea dan Rafka.


"Pa, ngomong sesuatu!" pekik Rafka, yang tidak ingin kalah dari Joven.


"Papa sariawan gak bisa ngomong!" teriak Om Ferdi, orangtua Rafka.


"Ck, katanya sariawan gak bisa ngomong lah tadi malah teriak," gumam Rafka.


"Papa lo mah gak bisa ngomong kayak gitu coba lo bilang ke Mama lo pasti toa berjalan pun keluar," ucap Joven.


"Ogah ngeri gue kalau Mama gue teriak," ucap Rafka, yang membuat Lea dan Joven tertawa.


Meja makan penuh dengan tawa. Sedangkan, ruang tamu penuh dengan aura gelap terutama dari keluarga Laksani, "Kenapa kalian masih di sini, sudah sama kalian pergi hush hush," ucap Tante Mona.


"Baiklah, kalau begitu kami sekeluarga pamit dulu. Nanti kalau ada kesempatan lagi, kami akan sempatkan waktu untuk datang dan bisa mengobrol dengan santai karena bagaimanapun kita ini keluarga," ucap Kakek Daffa.


"Silahkan pergi dan untuk seterusnya kalian tidak perlu menyempatkan diri untuk datang karena saya sebagai suami dari mantan anggota keluarga kalian yaitu Raila tidak pernah menganggap kalian itu keluarga dan satu lagi saya tidak sudi untuk mengobrol bahkan satu ruangan dengan kalian, jadi kalian silahkan pergi, ucap Farel.


"Satu lagi, untuk masalah saham kalian segera urus itu. Saya akan kirimkan perwakilan dari Raila untuk mengurusnya dan jika besok semuanya belum di urus maka jangan salahkan saya jika masalah ini bisa saya urus melalui jalur hukum. Hanya itu yang ingin saya ucapakan, sekarang kalian bisa pergi dari rumah ini," lanjut Farel.


Kakek Daffa yang merasa dipermalukan pun segera keluar dari kediaman keluarga Revion yang tentunya diikuti anggota keluarga Laksani lainnya, Kakek Daffa ingin marah pada Farel dan keluarganya. Namun, lagi-lagi Kakek Daffa memikirkan perusahaannya yang sangat butuh bantuan dari keluarga Revion.


"Kakek, kita dipermalukan oleh keluarga mereka, kita harus balas dendam," ucap Henry.


"Kita memang harus balas dendam, tapi gak sekarang," ucap Kakek Daffa.


"Kenapa gak sekarang?" tanya Angel.


"Perusahaan sedang membutuhkan bantuan keluarga Revion atau tidak keluarga yang lebih berkuasa, kalian lihat di dalam tadi bukan. Hampir seluruh keluarga berkuasa sedang ada di sana, ada keluarga Dante, Afsheen, Kernel, dan Gevano. Mereka keluarga yang masuk ke dalam sepuluh besar dan mereka dekat dengan keluarga Revion, kalau kita balas dendam sekarang Kakek yakin keluarga kita kan di tendang jauh dari posisi ke sembilan bahkan saat ini posisi kita benar-benar tidak aman," ucap Kakek Daffa.

__ADS_1


Henry yan mendengar penjelasan Kakek Daffa pun setuju karena memang saat ini keadaan keluarganya mulai goyah dan jika terus menerus seperti ini maka dapat Henry pastikan jika keluarga Laksani akan bergeser posisi, seperti keluarga Lana yang saat ini sudah hancur dan tidak mendapat peringkat berapapun.


Dapat Henry simpulkan jika saat ini keluarga Lana sudah tidak ada karena seluruh aset yang mereka miliki sudah berpindahtangan dan menjadi milik keluarga Revion. Henry sebenarnya penasaran bagaimana Farel bisa mendapatkan semuanya dengan sangat mudah bahkan tidak ada yang curiga tentang hal ini.


"Kalau gitu sekarang kita pulang, kita pikirkan lagi cara lain untuk mendapatkan dukungan dari keluarga-keluarga yang berkuasa," ucap Kakek Daffa dan diangguki semua keluarga Laksani.


Mereka semua pun pergi meninggalkan rumah mewah keluarga Revion. Papa Aaron yang melihat keluarga Laksani telah pergi dari jendela ruang tamu pun langsung menuju keluarga dan sahabatnya.


"Dia udah pergi?" tanya Vano, orangtua Evan.


"Hem, mereka udah pergi," jawab Papa Aaron.


"Jadi, itu keluarga kamu, kok mereka gak tahu malu gitu ya," ucap Mia, orangtua Rafka.


"Maaf semuanya kalua seandainya keluarga Raila tadi membuat Tante, Om dan semuanya kurang nyaman," ucap Raila.


"Kamu gak perlu minta maaf, mereka yang seharusnya minta maaf karena mengganggu kamu, padahal kamu udah bukan bagian dari mereka lagi, tapi karena mereka udah tahu semuanya, jadi dengan enaknya deketin kamu lagi dan nganggep kamu keluarganya itu mah namanya keluarga gak tahu malu," ucap Tante Mona.


"Setuju, tahu gak sih daritadi aku tuh pengen banget cakar wajah mereka satu persatu," ucap Tante Ninda, orangtua Evan.


"Boleh juga tuh mumpung aku baru aja ganti warna kuku," ucap Tante Mona.


"Terus nanti aku yang narik rambutnya," ucap Mia.


"Mama," panggil Lea.


"Kamu nih panggil Mama ke siapa? inget loh ya kalau itu manggil semuanya Mama, jadi harus kamu perjelas manggil Mamanya ke siapa biar semuanya gak noleh kayak gini," ucap Mama Aurel.


" Hehehehe, lupa. Maksud Lea Mama Mia," ucap Lea dan berlari memeluk Tante Mia.


"Bernada dong manggilnya," ucap Joven, yang berada di belakang Lea dan duduk di samping Marvel.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2