
Hati yang ditunggu oleh Raila pun tiba, hari ini ia dan beberapa anggota tim-nya akan mendatangi konferensi pers yang disana nanti akan menunjukkan siapa saja visual atau pemain film photography yang di adaptasi dari novel dengan judul yang sama.
"Cantik banget sih istriku ini," ucap Farel.
"Aku bagus gak pake baju ini"? tanya Raila dengan memutar tubuhnya.
"Bagus kok, kamu kelihatan cantik, aku makin gak rela kamu keluar dari kamar rasanya pengen kunci kamu di dalam kamar," ucap Farel.
"Apasih kamu ini, inget! kamu juga ada urusan buat bonus perayaan kan," ucap Raila.
"Iya, makanya karena itu aku jadi males banget keluar apalagi kamu yang cantik banget kayak gini," ucap Farel yang merengkuh pinggang Raila.
"Udah ah sana, aku mau ketemu idola aku dulu," ucap Raila.
"Kamu beneran gak mau aku anterin?" tanya Farel.
"Isna udah di depan loh, masa aku bilang ke dia kalau gak jadi bareng sama dia," ycao Raila.
"Yaudah deh kalau gitu, inget! jaga mata, jaga hati, jangan sampai cowok deketin kamu kalau ada cowok yang deketin kamu, kamu sleding aja atau gak kamu patahin juniornya biar dia tahu rasa," ucap Farel.
Raila begitu gemas dengan suaminya ini yang sangat cerewet padahal saya menjalin hubungan, Farel tidak terlalu cerewet ya kadang sih, tapi pada situasi tertentu saja dan cerewetnya pun tidak separah yang barusan.
"Berarti aku harus pegang juniornya dia dong biar patah?" tanya Raila yang sengaja menggoda suaminya itu.
"Eh, ya jangan dong kamu itu cuma boleh pegang punyaku doang kalau punya orang jangan, kalau gitu jangan patahin juniornya patahin hidungnya aja deh," ucap Farel yang membuat Raila tersenyum misterius.
"Kenapa?" tanya Farel yang melihat senyuman Raila.
"Berarti aku boleh patahin junior kamu dong?" tanya Raila yang membuat Farel melotot.
"Jangan dong sayang, kalau kamu patahin junior aku terus gimana aku jenguk kamunya terus nanti gimana sama Farel junior," ucap Farel.
Sungguh Raila sangat bahagia dengan kehidupan rumah tangganya meskipun sampai saat ini belum ada hal-hal yang membuat rumah tangganya hancur, tapi Raila sudah merasa bahagia dan beruntung memiliki Farel, Raila tidak ingin kebahagiaannya di ambil oleh siapapun karena hidupnya sudah hancur apalagi setelah ia di usir oleh keluarganya sendiri.
"Udah sana kami berangkat kerja, kasihan Isna nunggu lama, dah," ucap Raila.
Cup
__ADS_1
Sebelum benar-benar pergi, Raila terlebih dahulu mengecup bibir suaminya dan hal itu tentunya membuat Farel terkejut dan tersenyum bahagia lalu akting layaknya orang yang sedang pingsan, "Aduh Raila guaman ini udah meleleh nih abang!" teriak Farel yang berada di atas kasur.
"Suaminya kenapa, Rai? kok teriak kenceng banget. Emangnya apanya yang meleleh?" tanya Mbak Ayu.
Raila yang mendapat pertanyaan dari Mbak Ayu hanya tersenyum merutuki suaminya itu yang teriak-teriak seenak jidatnya, "Gapapa kok Mbak, tadi Farel minta es batu buat nyemil, mungkin sekarang es batunya udah meleleh makanya kayak gitu," ucap Raila.
"Oalah ada-ada aja, nyemilin kok es batu sih kayak gak ada cemilan lain aja," ucap Mbak Ayu.
"Ya, begitulah Mbak, Mbak Ayu mau kemana kok udah rapi pagi-pagi gini?" tanya Raila.
"Saya mau ke ruang mertua saya soalnya kan suami saya lagi dinas di luar kota jadi mungkin untuk beberapa hari saya di rumah mertua saya aja soalnya rada takut kalau sendirian lagian anak saya juga udah di sana," ucap mbak Ayu dan diangguki Raila.
"Oalah, berarti saya sendiri dong nanti," ucap Raila.
"Iya, juga ya, soalnya yang lain pada ikut ziarah makam," ucap Mbak Ayu dan diangguki Raila.
Saat akan menjawab tiba-tiba suara klakson mobil mengejutkannya, "Astaga Mbak maaf ya Raila duluan, Raila lupa kalau Raila di jemput sama temen," ucap Raila.
"Yaudah, kamu susul temen kamu kasihan dia pasti dia udah lama nungguin kamu," ucap Raila.
"Iya, Mbak, kalau gitu mari mbak," ucap Raila dan diangguki Mbak Ayu.
"Gue kira lo udah di terkam binatang buas terus lo mati di dalam sana," ucap Isna.
"Hehehe maaflah," ucap Raila.
"Untung gue mau ketemu cogan, jadi gue maafin lo," ucap Isna.
Setelah menempuh perjalanan yang tidak terlalu jauh, akhirnya Raila dan Isna pun sampai di tempat konferensi pers yang berad di salah satu toko buku yang populer, "Itu Dahri udah ada di sana," ucap Isna dengan menunjuk Dahri yang berada di salah satu kursi.
Raila dan Isna pun berjalan menuju Dahri yang sedang menyiapkan kameranya, entahlah Raila pun bingung mereka ini bekerja di tempat penerbitan atau bagaimana, "Eh, kalian udah sampai," ucap Dahri.
"Udah dateng mas gantengnya?" tanya Isna.
"Katanya sih udah, sekarang dia lagi di ruangan gitu, tapi gak tahu gue di mana ruangannya," ucap Dahri.
"Nanti lo fotoin gue sama para pemainnya ya," ucap Isna.
__ADS_1
"Iya iya," ucap Dahri.
Beberapa saat kemudian, para staf pun mulai masuk ke dalam aula, "Itu sutradaranya udah masuk berarti bentar lagi pemainnya datang," ucap Isna dengan heboh.
"Astajim, santai atuh neng untung kamera gue gak jatuh," ucap Dahri yang membenarkan letak kameranya yang sempat bergeser karena terkejut dengan Isna.
"Hehehe, maaf yaw," ucap Isna.
"Tunggu, Vanya sama Dandi gak datang?" tanya Raila yang baru menyadarinya.
"Gak, Rai. kemarin Vanya chat ke Bu Lusi katanya ada urusan terus Dandi juga katanya lagi di luar kota, mungkin karena hari ini free kali ya makanya mereka lebih milih buat have fun sama kegiatan mereka sendiri," ucap Isna.
"Heh! gak boleh mikir kayak gitu, mungkin aja mereka emang sibuk, lagian kan lo seneng karena bisa ngelihat visualnya si Anggara yang selalu lo ceritain itu," ucap Dahri.
"Iya, juga sih," ucap Isna.
Acara pun di mulai dan Isna tak henti-hentinya memuji rupa penulis novel Photography yang memang tampan, "Gila, gue kira penulisnya B aja ternyata ganteng banget dong, gue gak habis pikir gimana bisa ada penulis ganteng banget kayak dia," ucap Isna.
"Gantengan juga gue," gumam Dahri. Namun, masih dapat di dengar Isna.
"Kayak gitu ganteng terus jeleknya kayak apa yang gak punya kepala gitu," gumam Isna dan masih dapat di dengar oleh Dahri.
"Ya, emang gue ganteng," ucap Dahri yang tidak terima dengan ucapan Isna.
"Lah! kenapa lo sewot? lo ngerasa padahal gue gak bilang siapa loh, ya kalau lo ngerasa itu urusan lo bukan urusan gue," ucap Isna.
Raila yang melihat kedua orang dewasa itu pun pusing karena ia merasa seperti mengajak bocah ke tempat bermain, "Kalian diem deh, itu mereka mau manggil para pemainnya," ucap Raila yang akhirnya membuat Dahri dan Isna berhenti bertengkar.
Beberapa saat kemudian, pemain novel Photography pun masuk satu persatu. Namun saat seseorang muncul dari pintu yang sama dengan pemain lain masuk mampu membuat Raila bungkam bahkan rasanya ia ingin berteriak saat ini juga.
"Dia kan........,"
.
.
.
__ADS_1
Tbc.