Menikahi Pria Terkaya

Menikahi Pria Terkaya
Mode Ngambek


__ADS_3

"Sayang ada yang mau aku bicarain sama kamu," ucap Farel.


"Apa?" tanya Raila, yang masih fokus menonton televisi.


"Kita bicarain semuanya di kamar ya," ucap Farel.


"Kenapa harus ke kamar kan bisa kita bicarain di sini?" tanya Raila.


"Tapi, ini masalah rumah tangga kita," ucap Farel.


"Yaudah," ucap Raila.


Saat ini Farel dan Raila sudah berada di kamar mereka, "Mau ngomongin apa emangnya kamu, Rel? kok sampe harus ke kamar segala?" tanya Raila.


"Sayang, aku mau ngomong soal rencanaku," ucap Farel.


"Rencana? rencana apa?" tanya Raila.


"Aku berencana mau pindah ke Belanda dan mengurus perusahaan keluargaku yang di sana," ucap Farel.


"Jadi, kamu ma ninggalin aku sendirian di sini dan berencana pindah ke Belanda?" tanya Raila.


"Bukan begitu sayang, aku pindahnya juga dengan kamu dong, jadi kamu juga ikut pindah sama aku, lagian gak mungkinlah aku pindah ke Belanda tanpa kamu yang ada aku gak kerja di sana malahan aku stress karena jauh dari kamu," ucap Farel.


"Tapi, kamu gak perlu khawatir, aku gak maksa kamu kok. Kalau emang kamu belum mau pindah yaudah gapapa, nanti aku tetep di sini dan aku pindahnya sampai kamu mau," lanjut Farel.


"Emang rencananya kapan kamu mau pindah?" tanya Raila.


"Setelah ulangtahun pernikahan Papa dan Mama," ucap Farel.


"Emangnya kapan ulangtahun pernikahan Papa dan Mama?" tanya Raila, dengan semangat.


"Minggu depan," ucap Farel.


Raila benar-benar malu karena ia tidak tahu jika Minggu depan adalah hari yang sangat membahagiakan bagi Mama Aurel dan Papa Aaron.


"Wah! kalau gitu aku mau ngasih kado apa ya?" tanya Raila, pada dirinya sendiri.


"Terserah kamu mau ngasih hadiahnya, yang penting kamu ada pas perayaan ulang tahun pernikahan Papa dan Mama," ucap Farel.


"Kenapa gitu? pasti nanti yang datang ke perayaannya itu orang-orang penting dan terpandang," ucap Raila.


"Kamu itu menantu kesayangannya keluarga Revion kalau kamu lupa, bahkan Papa sama Mama selalu mengingatkan aku untuk membahagiakan kamu, mereka selalu marah kalau aku memilih ninggalin kamu sendirian, kamu tahu keluarga Revion itu semuanya sayang sama kamu sampe aku di lupain," ucap Farel.

__ADS_1


"Ish, lucunya sih suaminya Raila ini," ucap Raila.


"Jadi, gimana? kamu mau ikut ke Belanda atau kita di sini aja dulu?" tanya Farel.


"Hem, aku akan ikut kemanapun kamu pergi, sekarang kamu itu suamiku, Rel. Mau gak mau aku harus ikut kamu, kamu di sana juga karena kerjaan bukan dan aku gak aku egois hanya karena aku belum tahu bagaimana lingkungan di Belanda terus aku gak mau ikut kamu sih," ucap Raila.


"Makasih sayang, aku janji nanti aku bakal bikin kamu betah di sana, tapi kalau seandainya kamu masih gak betah dan susah untuk beradaptasi dengan lingkungan di Belanda, kamu bisa bilang ke aku, nanti aku akan pikirkan solusinya," ucap Farel dan diangguki Raila.


"Oh iya, tangan kamu masih sakit gak, kok kamu udah megang pake tangan kamu sih?" tanya Raila, saat melihat Farel mengambil laptopnya menggunakan tangannya yang tadi terluka.


"Astaga, sayang tanganku sakit," rengek Farel dan menaruh laptopnya ke kasur.


"Kamu beneran sakit atau pura-pura, kok sebelum aku bilang tadi kamu masih santai-santai aja tuh bawa laptopnya?" tanya Raila, dengan memicingkan matanya.


Raila mulai tahu gelagat Farel, "Kamu bohongin aku ya," ucap Raila.


"Gak sayang, ini beneran sakit. Aku juga gak kerasa tadi pas ambil laptopnya, tapi pas aku bilang kok tiba-tiba sakit di tanganku mulai kerasa," ucap Farel.


"Dasar penipu cap ulung," ucap Raila.


"Kok aku dibilang penipu sih, aku beneran Yang. Gak bohong sumpah," ucap Farel.


"Ck, iya iya, percaya," ucap Raila.


'Udahlah percaya aja mungkin Farel butuh perhatian gue,' ucap Raila, dalam hati.


"Yang jelas Dandi saat ini sedang meratapi nasibnya, dia pantas mendapatkan hukumannya saat ini," ucap Farel.


"Apa hukumannya Dandi? kamu masukin dia ke penjara?" tanya Raila.


"Kalau Dandi di penjara itu gak akan ngebuat dia jera, orang kayak Dandi harus di hukum yang lebih agar dia jera," ucap Farel.


"Terus kamu hukum dia apa? aku penasaran tahu," ucap Raila.


"Aku gak mau kamu tahu karena kau takut kalau kamu tahu nanti kamu malah kasihan sama dia dan nyelamatin dia," ucap Farel.


"Gaklah, ya kali aku selamatin orang yang udah nuduh aku sembarangan bahkan Dandi udah buat aku menderita masa aku dengan gampangnya mau maafin dia dan selamatin dia sih," ucap Raila.


"Ya kan siapa tahu aja," ucap Farel.


"Yaudah, gak usah kasih tahu biar aku cari tahu sendiri aja," ucap Raila, lalu merebahkan tubuhnya di kasur dengan memunggungi Farel.


Farel yang melihat Raila hanya tersenyum dan gemas melihat Raila karena ia yakin saat ini Raila dalam mode ngambek.

__ADS_1


"Kenapa sih sayang, ngambek ya karena aku gak ngasih tahu kamu," ucap Farel.


"Gak tuh," ucap Raila.


"Yaudah, kalau kamu gak ngambek aku mau ngurus beberapa berkas dulu ya," ucap Farel dan menuju sofa kamarnya.


Sebenarnya Farel tidak ada pekerjaan apapun karena memang ia saat ini ingin merubah jadwal kerjanya dimana ia tidak ingin bekerja saat di rumah karena bagaimanapun saat di rumah waktunya hanya untuk keluarganya. Farel mengatakan hal itu pada Raila hanya sebagai alasan saja agar Raila membalikkan tubuhnya dan melihatnya.


Raila yang merasakan pergerakan dari Farel pun mencibir kesal karena ia berharap Farel membujuknya layaknya pasangan suami istri yang sedang marah.


'Punya suami gak peka banget sih,' ucap Raila dalam hati.


Rakan ingin sekali membalikkan badannya dan melihat Farel, tapi ia terllau gengsi untuk melakukannya. Biarlah Farel yang akan membujuknya lagi, Raila pikir Farel akan berubah pikiran dan membujuknya, tapi sayang sungguh sayang ternyata hampir setengah jam Raila tidak mendengar apapun dari Farel.


Dengan kesal Raila membalikkan badannya, baru saja membalikkan badannya tiba-tiba ia sudah menabrak dada bidang Farel, bagaimana tidak ternyata Farel langsung menarik tangan Raila dan membawanya ke dalam pelukannya.


"Kamu marahnya lama banget sih sampe capek aku nungguin di sebelah kasur," ucap Farel.


"Ya, harusnya kamu bujuk aku dong. Masa kamu nunggu aku sih," ucap Raila, dengan mengerutkan bibirnya.


"Kenapa hm? itu kode mau di cium ya?" tanya Farel.


"Apa sih, aku ini lagi ngambek ya," ucap Raila.


"Oh lagi ngambek yaudah kalau gitu aku mau kerja dulu deh kalau kamu masih ngambek sama aku," ucap Farel.


Baru saja melepaskan pelukannya tiba-tiba Raila menarik bajunya dan membuatnya berada tepat di depan Raila.


"kenapa hm?" tanya Farel, dengan lembut.


Farel berharap untuk saat ini Raila yang membujuknya karena Farel tahu jika istrinya itu adalah manusia yang gengsinya tinggi.


"Jangan kerja terus, temenin aku tidur," ucap Raila.


Farel tersenyum gemas karena istrinya itu akhirnya melepaskan semua gengsinya dan membujuk Farel.


"Yaudah, ayo Tuan putri kita tidur," ucap Farel.


Padahal masih sore, tapi Raila sudah merasa lelah dan ingin tidur begitupun dengan Farel.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2