
"Supaya kejahatan mereka gak ketahuan," ucap Evan.
"Maksud lo?" tanya Joven.
"Mereka berdua yang udah nyuruh tiga orang itu buat jebak radial dan ngusir Raila dari kos," ucap Evan.
"Mereka berdua harus gue kasih pelajaran," ucap Farel.
"Gue setuju, mereka berdua itu udah keterlaluan. Apalagi setelah identitas lo terbongkar, mereka berdua menutupi semua kejahatan mereka agar mereka baik di mata lo," ucap Evan.
"Ck, pencitraan," ucap Farel.
"Tapi, kenapa gak ada berita apa-apa soal kebakarannya?" tanya Joven.
"Ya, si Angel setan itu sama saudara lakinya nya lah yang udah nyogok para pemburu berita buat gak ada berita soal kebakaran tersebut," ucap Evan.
"Kayaknya gue harus cari cara buat mereka kapok dan nyerah sama hidup mereka," ucap Farel.
"Udahlah lo masukin ke kandang buaya atau harimau aja mereka berdua itu," ucap Joven.
"Gue gak bakal tenang kalau mereka langsung mati gitu aja," ucap Farel.
"Kalau gitu lo lakuin kayak ke Dandi aja," ucap Evan.
"Percuma kalau kayak Dandi, mereka bisa lolos. Lo tahukan gimana liciknya mereka berdua," ucap Farel.
"Terus mau lo apain mereka berdua?" tanya Evan.
"Gue akan buat mereka memohon," ucap Farel.
"Maksudnya?" tanya Joven.
"Nanti gue bakal beritahu semuanya ke kalian, tapi setelah urusan Tante Calista selesai. Gue mau balik dulu ya kasihan istri tercinta gue gak bisa tidur kalau gak gue peluk," ucap Farel dan keluar dari kamar Evan dan Joven.
"S****n tuh orang malah pamer lagi," umpat Joven.
"Makanya cari pacar sana biar bisa peluk-pelukkan," ucap Evan.
"Alah! situ juga cari pacar sana pake nyuruh orang cari pacar lagi," ucap Joven.
"Gimana kalau kita pacaran aja kan kita sama-sama gak punya pacar?" tanya Evan dan mengedipkan mata kanannya.
"Hiiii, ogah. Gue masih normal ya, Lo sama Rafka eh jangan dia sekarang lagi deket sama cewek kalau gitu lo sama Marvel sana," ucap Joven.
"Aelah, gue juga ogah kali sama lo. Gue sukanya cewek kali bukan sama lo," ucap Evan.
Disisi lain Farel masuk ke dalam kamar yang ia gunakan malam ini, Farel dapat melihat Raila yang sudah terlelap di kasur. Farel mendekat ke arah Raila dan mengecup pelan kening Raila.
__ADS_1
"Gue sayang banget sama, Rai. Gue gak tahu gimana hidup gue kalau lo ninggalin gue. Maafin gue selama ini gue ngecewain lo sebagai suami. I love you," ucap Farel dan pada kalimat terakhir berbisik di telinga Raila.
Raila merasa terganggu di tidurnya dan membuka matanya, "Kamu kenapa?" tanya Raila karena melihat Farel yang berada di sampingnya dan menatapnya.
"Kamu cantik, apalagi kalau baru bangun kayak gini," ucap Farel.
Raila sampai merinding mendengar pujian Farel terhadapnya, "Kenapa?" tanya Raila.
Raila tahu saat ini Farel pasti sedang menginginkan sesuatu padanya dan benar saja setelah Raila bertanya tadi, beberapa saat kemudian Farel pun mengatakan apa yang ia inginkan.
"Kamu masih kedatangan tamu ya, aku udah gak bisa nahan nih?" tanya Farel.
"Astaga! Farel ini aja baru dua hari, kamu harus sabar," ucap Raila.
"Kau harus nunggu lima hari lagi gitu?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Gak kuat," rengek Farel.
Raila sungguh gemas dengan suaminya itu, "Yaudah main sama cewek lain sana," u apa Raila.
"Boleh?" tanya Farel, dengan mata berbinar-binar.
"Boleh," ucap Raila dengan menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu aku keluar loh buat nyari," ucap Farel.
"Iya, kamu cari dana yang sesuai sama tipe kamu," ucap Raila.
"Iya, beneran kamu boleh kok cari cewek lain kalau seandainya kamu udah gak kuat. Lagian nanti aku juga cari cowok lain kalau tamu bulananku selesai kok," ucap Raila.
Pudar sudah senyum Farel, Farel kembali merebahkan tubuhnya di samping Raila dan memeluk erat Raila, "Loh! kenapa gak kelaut nyari cewek yang sesuai sama tipe kamu, katanya udah gak kuat?" tanya Raila.
"Ish, kamu mah. Mana bisa aku biarin kamu sama cowok lain, bisa gila aku kalau Snape itu terjadi," ucap Farel.
"Ya, bait impas gitu. Kamu main sama cewek lain, aku juga main sama cowok lain atau kita main bareng aja," ucap Raila.
Farel terkejut mendengar ucapan Raila dan dengan refleks Farel memukul pelan dahi Raila.
"Aws ..," rintih Raila.
"Kenapa kau dipukul?" tanya Raila, dengan mengusap dahinya.
"Ya, kamu sih kalau ngomong itu dipikirin dulu, udah aku gak mau bahas ini lagi," ucap Farel dan membalikkan tubuhnya memunggungi Raila.
Raila tahu saat ini Farel sedang antah padanya, padahal tadi ia sengaja menggoda Farel, tapi justru Farel ngambek padanya.
"Tadi katanya i love you. Eh, masalah gini aja udah ngambek," ucap Raila, dengan memeluk Farel dari belakang.
__ADS_1
Tidak ada respon dari Farel, Raila pun memikirkan cara agar Farel meresponnya, "Tapi, ya Rel. Tadi waktu aku bolehin kamu main sama cewek lain, kamu itu semangat banget loh bahkan kamu sampe mau berdiri gitu. Hem, berarti kamu beneran mau main sama cewek lain dong kalau aku bolehin dan tanpa aku bakal main sama cowok lain juga setelah tamu bulananku pergi?" tanya Raila.
Berhasil, karena Farel membalikkan badannya. Farel tidak mengatakan apapun, ia justru memeluk erat Raila.
"Jawab dong, berarti kamu tadi emang mau cari cewek lain ya?" tanya Raila kembali.
"Gak sayang," ucap Farel.
"Halah, bohong banget," ucap Raila.
"Udah tidur jangan marah-marah melulu," ucap Farel.
.
Pagi harinya beberapa orang sudah berkumpul di meja makan untuk sarapan, "Loh! Raila, Lea sama Naomi mana?" tanya Papa Aaron.
"Mereka lagi lari," ucap Mama Aurel.
"Tumben," ucap Papa Aaron.
"Tahu tuh, masa pagi-pagi udah gedor-gedor pintu kamar," ucap Farel, dengan kesal karena tidur paginya tadi terganggu.
Bagaimana tidak, Farel sedang asik tidur memeluk Raila dan tiba-tiba dua pengganggu datang mengajak Raila lari, Raila pun setuju alhasil Farel ditinggal sendirian di kamar. Dua pengganggu tersebut tahu jika Farel dan Raila pindah kamar dari Evan yang pagi-pagi sudah bangun dan membuat kopi lalu duduk di taman sendirian.
"Mama denger kamu tidur di kamar tamu, kenapa aku tidur di kamar tamu?" tanya Mama Aurel.
"Kamar Farel kotor dan Raila ngeluh hidungnya gatel terus makanya Farel lebih milih pindah kamar aja," ucap Farel dan diangguki Mama Aurel.
Untung saja Mama Aurel percaya bahan Tante Gea yang berada di samping Mama Aurel pun percaya.
Setelah sarapan, Farel pun memutuskan untuk menemani sad boy yang sedang duduk di taman belakang sendirian sejak pagi tadi, "Kenapa lo?" tanya Farel dan duduk di depan Evan.
"Gue pengen nikah, Rel," ucap Evan.
"Sama siapa?" tanya Farel.
"Gak tahu, gue cuma mikir aja kalau gue pengen nikah," ucap Evan.
"Ck, kalau lo mau nikah itu mikir pasangannya dulu, kalau gak ada pasangannya jangan mikirin nikah dulu," ucap Farel.
"Tapi, btw kenapa lo pengen nikah? bukannya dari dulu waktu Papa Vano nyuruh lo nikah, lo ogah gitu," tanya Farel.
"Gue ngelihat lo nikah kayaknya enak gitu, kayak bahagia aja gitu hidup lo," ucap Evan.
.
.
__ADS_1
.
Tbc.