
Raila dan Mama Aurel saya ini sedang menyantap makanan dengan tenang hingga selesai, "Sayang, nanti beli beberapa bahan makanan ya soalnya kan mumpung lagi di sini, jadi nanti Mama mau beli bahan makanan yang pengen Mama beli," ucap Mama Aurel.
"Iya, Ma," ucap Raila.
"Sayang, Mama ke kamar mandi sebentar ya," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
Saat Mama Aurel sedang di kamar mandi, Raila mendengar suara ribut dari luar restoran, "Ada apa ya kok rame gitu?" tanya Raila pada dirinya sendiri.
Raila ingin menghampiri kerumunan tersebut, tapi Raila tidak bisa meninggalkan barang-barangnya di sini, apalagi Mama Aurel masih di kamar mandi hingga beberapa saat kemudian Mama Aurel pun selesai dari kamar mandi.
"Sayang, ayo kita langsung ke supermarket nya," ucap Mama Aurel.
"Iya, ma," ucap Raila.
Raila melirik kearah kerumunan tersebut hingga pandangannya menatap lekat kearah orang yang saat ini berada di kerumunan, "Kamu kenal sama orang yang lagi dilihatin banyak orang itu, sayang?" tanya Mama Aurel.
"Dia sepupu sama sahabatnya Raila, Ma. Eh ralat maksudnya mantan sepupu dan mantan sahabat," ucap Raila yang sengaja menaikkan volumenya hingga Angel dan Vanya mendengar suaranya.
Angel dan Vanya hanya menatap datar Raila begitupun dengan Raila yang tidak ingin kalah dari Angel dan Vanya, Raila menatap nyalang mereka berdua.
"Ada apa ini ya, Pak?" tanya Mama Aurel pada salah satu orang yang sedari tadi berada di kerumunan tersebut.
"Oh, ini Bu, dua orang ini tadi bentak-bentak para pelayan restoran yang ada di sana terus makanannya jatuh dan gak aku bayar padahal mereka yang jatuhin," ucap orang tersebut.
Angel dan Vanya tadi memutuskan untuk membeli makanan di restoran Italia. Namun, mereka justru memarahi pelayan karena lama dan saat pelayan membawakan makanan ke mereka Angel dan Vanya justru menarik meja hingga menjauh dan membuat makanan yang di bawa pelayan tersebut jatuh ke lantai.
Mama Aurel melihat Angel dan Vanya, "Terus ini lagi nunggu apa ya, Pak?" tanya Mama Aurel.
"Mereka bakal di bawah ke pos pengamanan Bu," ucap orang tersebut.
"Makasih, Pak," ucap Mama Aurel dan diangguki orang tersebut.
Raila menatap dua setan bersaudara itu yang seolah tidak memilih rasa malu, seharusnya saya ini mereka menunduk atau menutupi wajahnya. Tapi, mereka tidak begitu, mereka justru dengan percaya dirinya menampakkan wajah tidak bersalahnya yang membalut Raila gemas ingin memotong leher mereka berdua.
"Ayo sayang," ajak Mama Aurel dan diangguki Raila.
"Kalian semangat ya, jangan lupa kabarin keluarga tersayang kalian, dah para perempuan cari perhatian!" teriak Raila lalu pergi meninggalkan Angel dan Vanya.
Raila dan Mama Aurel berjalan dengan tenang, sesampainya di supermarket mereka berdua memilih beberapa bahan makanan yang ingin Mama Aurel beli.
"Mama suka rasa apa?" tanya Raila pada Mama Aurel yang berada di belakangnya.
__ADS_1
Namun, Raila tidak mendapat respon dari Mama Aurel dan Raila pun memutuskan untuk membalikkan tubuhnya, tapi-
CUP
Bukannya mendapati Mama Aurel yang berada di belakangnya, Raila justru terkejut karena kedatangan seorang pria yang tiba-tiba mengecup bibirnya, siapa lagi kalau bukan Farel.
"Kok kamu ada di sini? terus Mama mana?" tanya Raila.
"Mama udah pulang mungkin," ucap Farel.
"Hah! pulang! jangan bercanda deh kamu, Mama mana padahal tadi masih di belakangku loh?" tanya Raila.
"Mama udah pergi sayang, sekarang tinggal kita berdua, udah ayok kita cari apa yang mau dibeli," ucap Farel.
"Mama udah pergi, sama siapa? masa sendiri, kamu mah keterlaluan kan aku berangkatnya bareng sama Mama masa Mama pulangnya malah sendirian sih," kata Raila.
"Mama sama Papa sayang, sekarang kamu sama aku, lagian Mama gak akan marah kok kalau kamu sama aku," ucap Farel.
Mau tidak mau Raila pun berbelanja dengan Farel, sungguh belanja dengan Farel membuat otak Raila rasanya ingin mengeluarkan asap, bagaimana tidak. Farel memasukkan beberapa bahan makanan sesuka hatinya bahkan Farel memasukkan cemilan tanpa melihat harga dan rasa.
"Rel, jangan asal comot aja dong," ucap Raila, dengan kesal.
"Hehehe, kamu mau yang mana ambil aja," ucap Farel.
"Loh, sayang kok aku di tinggal sih," ucap Farel, lalu mengejar Raila.
.
Setelah berbelanja Farel dan Raila pun pulang. Namun, selama perjalanan Raila tidak mengeluarkan sepatah katapun padahal Farel sejak tadi mengajaknya berbicara, Raila hanya sesekali merespon itupun dengan deheman.
Sesampainya di rumah, Raila pun membawa beberapa bahan makanan yang ringan tentunya, sisanya biarlah Farel yang bawa, "Loh, sayang kok kamu udah pulang," ucap Mama Aurel, yang sudah mengenakan baju rumahan.
"Kenapa Mama gak bilang kalau pulang duluan, kan Raila jadi gak enak padahal Mama ke mall bareng Raila, tapi Mama pulangnya malah sendirian," ucap Raila, dengan perasaan bersalah.
"Tuh, suami kamu yang gak bolehin Mama bilang ke kamu, padahal mah dari tadi mulut Mama udah gatel mau bilang kalau Farel bakal nyusul ke mall," ucap Mama Aurel.
"Tadi Mama pulang bareng siapa? supir?" tanya Raila.
"Tadi ada Papa kok, jadi kamu gak usah khawatir ya," ucap Mama Aurel dan diangguki Raila.
"Yaudah, kalian bersih-bersih dulu," lanjut Mama Aurel.
__ADS_1
Selama berad di kamar pun Raila enggan untuk berbicara atau merespon perkataan Farel, "Sayang, kamu kenapa sih kok dari tadi gak enak gitu mukanya?" tanya Farel dengan memeluk Raila dari belakang.
"Gapapa," jawab Raila.
"Yang, kamu ingat kan kita ini suami istri kalau ada hal yang gak kamu suka dari aku kamu bilang biar gak ada masalah apapun di masa mendatang dan aku juga sebaliknya," ucap Farel.
"Huh, kalau aku bilang aku mau kita hidup kayak dulu sebelum aku tahu keluarga kamu yang sebenarnya gimana?" tanya Raila.
Farel melepaskan pelukan tersebut dan membalikkan tubuh Raila lalu menatap lekat wajah cantik istrinya itu.
"Kenapa?' tanya Farel.
"Kenapa maksudnya?" tanya Raila.
"Kenapa kamu tiba-tiba ngomong kayak gitu?" tanya Farel, dengan lembut.
"Aku gak mau karena kita udah punya segalanya, jadi apapun yang kita pengen selalu terpenuhi," ucap Raila.
"Oke, jadi apa ini karena aku tadi yang masukin cemilan dengan seenaknya aku?" tanya Farel dan diangguki Raila.
"Astaga, istriku yang paling ku sayangi ini, sayang dengerin aku, di rumah ini bukan hanya ada aku sama kamu, di rumah ini banyak orangnya, ada Mama, Papa, para pelayan yang kamu juga tahu kalau jumlah mereka lebih dari sepuluh terus juga para pengawal, supir sama satpam, jadi cemilan itu bukan hanya untuk kita, tapi juga untuk mereka. Aku gak mungkin nyimpen cemilan sebanyak itu, kamu kan tahu kalau aku gak terlalu suka nyemil," ucap Farel.
Tajam merasa bersalah karena telah menuduh Farel yang tidak-tidak, "Maaf, aku kirain kamu beli itu buat di simpen gitu," ucap Raila.
"Gapapa sayang," ucap Farel lalu memeluk Raila dan mengecup kening Raila.
"Rel," panggil Raila.
"Kenapa sayang?" tanya Farel.
"Mandi bareng yok," ajak Raila.
Ini pertama kalinya Raila menawarkan hal yang tentunya tidak akan Farel lewatkan.
"Hayok," ucap Farel, dengan semangat lalu menggendong Raila menuju kamar mandi.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.