
Setelah menunggu beberapa hari, akhirnya Farel mendapat kabar gembira dari Gio. Ia mengatakan bahwa ia berhasil membuat Dandi percaya padanya dan menceritakan semuanya.
Alhasil Farel dan sahabat-sahabatnya pun dapat dengan mudah membuka segala kebusukan Dandi tepat di depan semua orang. Selain itu, Farel juga menyiapkan kejutan untuk Dandi dimana ia masuk ke dalam web tersebut dan Farel pun mungkin rela membayar harga yang cukup mahal untuk membuka penguncian tersebut dan membongkar semua kejahatan Dandi.
Namun, ternyata tidak perlu sampai membayar mahal karena saat Joven bisa memecahkan kode sandi yang diatur dalam sistem penguncian tersebut, "Dia ternyata gunain kode sandi umum, jadi gampang dibukanya," ucap Joven.
Farel dan sahabat-sahabatnya pun melihat semua isi dari web tersebut, "Wah! gila semuanya orang luar negeri, itu artinya dia jual identitas ini ke mereka," ucap Rafka, yang tidak percaya melihat semua perbuatan yang dilakukan Dandi.
"Kalau gitu kita bongkar ini semua, gue juga udah dapet bukti dari Gio soal ini," ucap Farel.
"Kita bongkar di kantornya?" tanya Evan.
"Gak, kita pancing masyarakat dulu supaya percaya dan setelah itu lo tayangin semuanya di televisi dan untuk bukti yang di kirim Gio bakal gue taruh di kantornya," ucap Farel.
"Oke, sesuai perintah lo," ucap Joven.
## Flashback Off ##
"Kenapa gak minta bantuan Papa?" tanya Papa Aaron.
"Farel bisa semuanya," ucap Farel.
"Tapi, Papa akui rencana kamu bagus juga. Buat nama Dandi jelek di masyarakat dan Papa yakin mental dia bakal hancur," ucap Papa Aaron.
"Papa tahu bukan Farel tidak suka bermain fisik, Farel lebih suka menghancurkan mental seseorang," ucap Farel.
"Iya, Papa tahu," ucap Papa Aaron.
"Terus Dandi itu kamu bawa ke penjara?" tanya Papa Aaron.
"Gak," jawab Farel.
"Terus kamu biarin dia hidup dengan tenang gitu aja," ucap Papa Aaron.
"Mana mungkin Farel biarin dia hidup tenang Pa, dia udah buat Raila menderita dengan tuduhannya. Jadi, selanjutnya Farel yang akan buat dia menderita," ucap Farel.
"Papa itu gak suka sama kebiasaan kamu yang selalu pendek jawabannya, Papa itu mau kamu jelasin langsung gitu tanpa harus Papa tanya ke kamu lagi," ucap Papa Aaron.
"Huh, jadi Farel kirim dia ke ruang sakit jiwa," ucap Farel.
Papa Aaron yang mendengarnya benar-benar terkejut, ia tidak habis pikir dengan tindakan anaknya itu, "Emangnya dia gila?" tanya Papa Aaron.
"Gak, makanya itu Farel mau buat dia gila," ucap Farel.
"Kayaknya kamu yang gak deh, Rel," ucap Papa Aaron.
"Hem, mungkin sih, Pa. Hahahaha," ucap Farel.
__ADS_1
"Kamu kalau kayak gitu malah nakutin Papa deh, Rel," ucap Papa Aaron.
"Alah padahal mah Papa lebih kejam daripada Farel, masa kayak gini aja langsung takut sih Papa," ucap Farel.
"Ya kan Papa udah tobat, Papa udah gak mau kayak masa muda Papa yang ngelakuin hal-hal aneh," ucap Papa Aaron.
"Karena Farel masih muda jadi biar Farel aja yang gantiin Papa," ucap Farel.
"Ck, kamu itu. Ini tangan kamu kenapa kok pake perban?" tanya Papa Aaron.
Papa Aaron batu menyadari Jiak tangan Farel terluka, padahal tangan Farel sejak tadi tidak di tutupi apapun, tapi Papa Aaron justru baru melihatnya.
"Tadi Dandi yang nusuk," ucap Farel.
"Kamu sampe di tusuk sama dia, wah! kayaknya dia memang gila bahkan kamu aja sampe di tusuk. Kenapa kamu gak ngehindar Papa yakin kamu pasti bisa ngehindar dengan kemampuan bela diri kamu?" tanya Papa Aaron.
"Papa tahulah kenapa Farel gak ngehindar," ucap Farel.
"Ck, pasti karena menantu Papa," ucap Papa Aaron.
"Papa memang tahu segalanya," ucap Farel.
"Terus menantu Papa tahu gak kalau kamu pura-pura sakit?" tanya Papa Aaron.
"Ya gaklah Pa, kalau Raila tahu bisa-bisa dia malah ogah sama Farel," ucap Farel.
"Raila gak pernah bersikap buruk ke Farel, Pa. Tapi, Farel selalu ngerasa Raila masih ragu dengan Farel, karena itu Farel berusaha supaya mengembalikan kepercayaan Raila seperti saat awal pernikahan Farel dan Raila dulu," ucap Farel.
"Papa akan selalu dukung kamu, kamu bahagian Raila, jangan buat dia terbuka lagi. Selama ini Raila sering terluka itu juga karena kamu dan keluarga kita, jadi Papa juga akan berusaha buat ngembaliin kepercayaan menantu Papa," ucap Papa.
"Iya, Pa," ucap ucap Farel.
"Kalau kamu gak ada urusan lagi kamu pergi sana Papa mau kerja lagi," usir Papa Aaron.
"Papa ngusir Farel," ucap Farel.
"Hem," jawab Papa Aaron.
"Farel ke sini tuh mau bahas soal hotel yang di Bali, tapi Papa justru tanya-tanya ke Farel, kan Farel jadi lupa, eh Papa malah ngusir Farel," ucap Farel.
"Kenapa emangnya hotel yang di Bali? bukannya itu sudah selesai anggarannya dan tinggal pembangunannya lagian designnya juga udah ada kan?" tanya Papa Aaron.
"Farel belum bilang apa-apa padahal ke Papa," ucap Farel.
"Yaudah, apa?" tanya Papa.
"Farel mau ngasih proyek itu ke Papa," ucap Farel.
__ADS_1
"Kenapa kamu mau ngasih proyek itu ke Papa? bukannya itu proyek kamu," tanya Papa Aaron.
"Farel mau pindah," ucap Farel.
"Pindah? maksud kamu pindah gimana?" tanya Papa Aaron.
"Farel ada rencana buat pindah ke Belanda dan ngurus perusahaan Revion yang ada di sana," ucap Farel.
"Kenapa kamu mau pindah ke sana? bukannya dulu Papa pernah nawarin kamu, tapi kamu justru nolak dan bilang gak akan mau pindah ke sana setelah nikah?" tanya Papa Aaron.
"Farel juga gak tahu, tapi tiba-tiba aja Farel pengen pindah ke sana, lagian masalah Raila juga udah selesai bukan," ucap Farel.
"Papa terserah kamu aja yang penting kamu tidak menyesal dengan keputusan yang udah kamu ambil, tapi Raila udah tahu rencana kamu?" tanya Papa Aaron dan Farel pun menggelengkan kepalanya.
"Belum," ucap Farel.
"Harusnya kamu bilang ke Raila dulu baru ke Papa," ucap Papa Aaron.
"Tapi, Farel juga butuh kepastian Papa supaya besok Farel bisa urus berkasnya," ucap Farel.
"Yaudah kalau gitu kamu nanti bilang ke Raila dan kalau Raila setuju, kamu besok urus semuanya. Tapi, Papa gak yakin Raila bakal setuju," ucap Papa Aaron.
"Kenapa gitu?" tanya Farel.
"Hanya perasaan Papa aja sih, tapi kalau seandainya Raila tidak setuju dengan rencana kamu, kamu jangan paksa dia. Jangan buat dia gak nyaman dan terluka, paham," ucap Papa Aaron.
"Iya, Pa. Farel akan coba untuk membujuk Raila dengan sabar dan lembut, Farel juga akan mencoba menerima jawaban Raila," ucap Farel.
"Bagus," ucap Papa Aaron.
Papa Aaron sebagai orangtua hanya mendukung segala keputusan yang akan diambil anak dan menantunya karena bagaimanapun mereka sudah menikah dan itu bukan lagi tanggungjawab Papa Aaron untuk ikut campur. Papa Aaron juga setuju dengan rencana pindah Farel karena memang perusahaan di Belanda butuh evaluasi secara rutin.
"Yaudah, cuma itu sih yang mau Farel bilang ke Papa, kalau gitu Farel keluar," ucap Farel dan diangguki Papa Aaron.
Farel pun keluar dari ruang kerja Papa Aaron dan saya melewati ruang tamu, Farel hanya melihat Raila sendirian tidak ada Mama Aurel.
"Loh sayang, Mama kemana?" tanya Farel dan memeluk Raila dari samping.
"Mama lagi ke kamar mandi," ucap Raila dan diangguki Farel.
.
.
.
Tbc.
__ADS_1